Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Jalan Ala Kaum Muda


__ADS_3

Hans, pamit kepada Anas untuk pulang terlebih dahulu karena alasan Ale yang sudah mengantuk, sebenarnya membawa Ale adalah Alasan Hans agar tidak terlalu lama di pesta, dia tahu Zoya tidak akan merasa nyaman di sana.


Hans melajukan mobilnya, menjauh dari arah rumah. Lelaki itu masih melirik Zoya yang masih terdiam menatap keluar jendela. Meskipun begitu, Zoya tidak menyadari kemana suaminya akan membawa dirinya pergi.


Mobil berhenti di suatu tempat, tepatnya di pinggir jalan, suasana cukup ramai meski penerangan tidak terlalu terang, hanya mengandalkan satu lampu dari gerobak masing masing si penjual dan cahaya temaram lampu jalan. Zoya menatap Hans, karena ternyata mereka tidak sampai di rumah, sedangkan Hans terlihat membuka blazernya dan menyisakan kemeja yang sedang dilipat lengannya hingga ke siku.


"Kita akan makan di sini. Kamu belum makan kan? " Di pesta, Hans sempat melirik Zoya lebih banyak menyuapkan makanan ke Ale dari pada di masukkan ke mulutnya.


"Ayo, keluar! " titah Hans saat melihat Zoya ragu.


Zoya pun keluar, dia merasa sedikit aneh saat keluar dari mobil. Nampak suasana memang cukup ramai tapi mayoritas mereka adalah anak muda dengan pakaian casual, mungkin para mahasiswa yang sedang mencari makan malam.


"Duduklah...! " ucap Hans dengan menunjuk cup mobil depan dengan dagunya. Tapi, Zoya masih terlihat ragu, lelaki dengan tampang datar itu mengangkat tubuh mungil istrinya dan mendudukkan di bamper mobil bagian depan.


"Mas ...! "


"Tenanglah! Kita akan makan malam di sini. " Nampak beberapa warung lesehan berjejer, berhubung semua tikar sudah penuh oleh pengunjung. Hans memilih mendudukan Zoya di bamper mobil depan, setidaknya juga bisa menjaga Ale yang tertidur di jok belakang.


Hans berjalan menghampiri salah satu penjual, lelaki itu memilih menghampiri gerobak sate ayam. Semua mata menatap heran ke arah lelaki dengan tampilan elegant itu. Kemeja Brandid, rambut klimis, dan parfum mahalnya yang menguar, belum lagi memang pada dasarnya pembawaan sikap Hans memang sudah terlihat elegant sehingga akan terkesan aneh jika masuk ke warung lesehan tempat makan sekelas dompet Mahasiswa.


Wajah Hans tetap saja terlihat datar, lelaki itu kembali berjalan menghampiri Zoya yang dari tadi memperhatikannya.


"Drt.. drt... drt... " Hans kini berdiri di samping Zoya, kemudian membuka panggilan vcall dari Ryan.


"Halo...!" jawab Hans menjawab panggilan.


"Sialan... kenapa pulang duluan? " tanya Ryan diiringi umpatan terlebih dahulu.


"Ale ngantuk, bahkan dia sudah tertidur sejak tadi! "


"Eh tunggu... tapi, lo lagi dimana? Nggak di rumah, kan? Gila lo, kencan kayak anak muda saja! " cecar Ryan dengan pertanyaan yang hanya di balas dengan senyum sinis Hans.


"Ngajak Zoya makan malam, biar tahu suasana kota ini saat malam. " jawab Hans masih dengan datar.


"Beeeghhh.... dasar, tongkrongannya kayak anak muda saja. Ya sudah selamat berkencan. "

__ADS_1


Hans mengunci kembali layar ponselnya dan memasukan ke saku. Kemudian disusul pemilik warung yang membawakan meja kecil dan pesanan mereka. Hans sebenarnya tidak pernah makan di tempat seperti ini meskipun saat dia masih muda.


Situasi yang cukup mengundang perhatian sekitar. Ya, mereka seolah akan melakukan foto candid dengan pakaian dan posisi Zoya duduk di bamper depan mobil.


"Sate ayam, suka kan? "tanya Hans.


"Suka." jawab Zoya.


"Kalau aku pesan penyetan kamu akan susah makannya. "


"Nggak apa apa, Mas. aku suka kok! Tapi kenapa pesannya cuma satu? " tanya Zoya saat melihat Hans yang meminum es teh kemudian mengeluarkan bungkus rokoknya.


"Aku sudah kenyang makan di pesta tadi. Lagian, nggak maulah aku terlihat tua gara gara perut buncit. Meskipun sudah bapak bapak! " ujar Hans sambil tertawa menggoda Zoya. Ntah sudah berapa lama dia tidak pernah tertawa seluwes itu.


"Cepat makanlah! " ucap Hans sambil menikmati rokoknya. Tatapannya kini tertuju kepada anak muda yang sedang menikmati suasana malam, mereka terlihat hilir mudik bergerombol dan ada juga yang cuma sepasang.


"Enak, Zoy? "


"Enak, Mas. Dari mana Mas Hans tau jika di sini makanannya enak. "


"Nggak ada, cuma kelihatan ramai saja! Cobain satu tusuk. " Zoya mengulurkan satu tusukan satenya yang disambut Hans dengan menggenggam tangan mungil itu dan mengarahkan ke mulutnya.


"Ayo dihabiskan! Biar cepat besar kamu. " ucap Hans sambil tertawa menggoda Zoya, saat melihat Zoya makannya begitu lamban.


"Aku sudah kenyang, Mas! "


"Ayo aku bantuin! Tapi dihabiskan. " ucap Hans kemudian menggenggam tangan Zoya yang memegang tusuk sate dan menuntunnya ke arah mulutnya lagi.


"Ayo habiskan Zoy, tinggal dua tusuk lagi. " Zoya hanya tersenyum saat melihat raut wajah Hans yang berbeda. Mulutnya yang penuh itu bergerak mengunyah membuat lelaki yang biasa cool itu lebih terlihat humble.


"Kenapa senyum senyum? " tanya Hans kemudian, setelah mendorong makanan di mulutnya dengan es teh.


"Mas Hans tidak pernah ya makan di pinggir jalan? "


"Ini pertama kalinya, dan ternyata asyikkk, ya? " ucap Hans dengan menghisap rokoknya dan membuang puntungnya ke sembarang arah.

__ADS_1


Zoya menghabiskan satenya dan meninggalkan beberapa potong lontong karena dia memang sudah merasa sangat kenyang.


Setelah Hans membayar makanannya, mereka kembali masuk mobil. Untung saja selama makan malam di pinggir jalan Ale tidak terbangun.


"Murah banget, ya! " ucap Hans penuh heran kemudian melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


####


Setelah menyelesaikan sidang siang ini, Hans kembali ke kantornya. Diana mengabari Jika seseorang wanita mencarinya untuk berkonsultasi perihal tentang gugatan cerai terhadap suaminya.


Cuaca panas membuat Hans bergegas masuk ke kantor. Ryan yang mengetahui kedatangan Hans pun kini berusaha mengejar temannya itu.


"Wuihhh... Semalam kencan ya? " goda Ryan dengan menyamai langkah Hans yang saat ini akan masuk ke dalam ruangan.


Lelaki berkulit putih itu masuk ke dalam ruangan, meletakkan beberapa map yang dibawanya dari persidangan tadi.


"Kalau model kencanmu kayak gitu,gua jamin awet muda dirimu, Bos! " Masih dengan nada menggoda, Ryan pun duduk di kursi yang ada depan meja kerja Hans.


"Kencan apaan sih yang lo maksud? " Dengan santainya Hans balik bertanya kepada Ryan.


"Gaya amat, nggak usah gengsilah! Akui saja jika lo udah ada hati sama Zoya. Setahuku ketika masih muda pun kamu sangat pasif, nggak ada kencan ala ala pasanganmu. " desak Ryan yang masih penasaran dengan perasaan sahabatnya itu. Menurutnya, Hans mulai jatuh cinta dengan Zoya. selama menduda sahabatnya itu menutup diri dari hubungan asmara. Bahkan, Hans bisa dibilang workholic.


Hans menyandarkan punggungnya di kursi, pandangannya menatap sahabatnya. Dia tahu Ryan begitu penasaran tentang hubungannya dengan Zoya.


"Kamu tahu, Zoya gadis yang baik. Dia juga tahu, jika aku masih mencintai Renita. Pernikahan ini? Dia tidak mendapatkan apa apa. Sedangkan aku, dia sudah menjadi ibu yang baik untuk Ale. Apa salah jika aku membalas pengabdiannya dengan memperlakukannya dengan baik? Menganggapnya sebagai teman." jelas Hans tentang apa yang ada di pikirannya.


"Oke-okey... Mungkin persepsiku salah. Tapi dengarkan aku Hans. Seperti katamu, Zoya gadis yang baik. Laki laki yang normal dia pasti akan tertarik dengan Zoya. Jangan sampai kamu menyesal Jika suatu saat seseorang mengambilnya darimu! "


"Bullshit... lo, sengaja ngomporin? " ucap Hans dengan nada kesal, matanya menatap tajam Ryan.


"Realistis saja, Bro.... Lo nggak tau kan, perasaan Zoya? Bisa jadi dia punya kekasih di kampungnya? Secara dia cantik, baik, perhatian dan dia juga masih muda kan? "


"Sialannn...Jangan memaksaku untuk menendangmu dari sini ya? " Hans mencondongkan tubuhnya ke arah Ryan. mendengar rentetan opini sahabatnya benar benar membuatnya begitu kesal.


Melihat reaksi Hans, Ryan hanya tergelak. Tawanya memenuhi seluruh ruangan. Ya, menurut Ryan, Hans tidak pernah mempedulikan perempuan sebegitu detailnya termasuk ketika bersama Renita. Tapi bisa juga karena Renita adalah perempuan yang sangat mandiri dan aktif hingga dia tidak terlalu melibatkan Hans dengan banyak hal, Bahkan Renita lebih mendominasi diantara hubungan mereka dulu.

__ADS_1


Bersambung...


Hae Readers tercinta akuuuhhhh.... mungkin tidak banyak ya readers karya aku.... tapi percayalah appresiasi kalian sudah membuat author semangat.


__ADS_2