Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Pencuci otak yang Handal


__ADS_3

Saat ini tinggal Zoya yang masih ada di dalam kamar menemani Hans, ketika dokter Anas memeriksa kondisi kesehatan suaminya. Lelaki gagah dengan wajah garang itu, kini begitu manja saat harus terkapar tidak berdaya.


"Bagaimana, Dok?" tanya Zoya saat dokter Anas memasukkan kembali stetoskop ke dalam tasnya, seusai memeriksa kondisi Hans. Dia juga sudah menuliskan resep untuk Hans.


"Jangan khawatir, Zoy. Dia hanya kecapekan dan bisa jadi pengaruh luka di lengannya." ujar Anas saat melihat wajah Zoya yang masih menegang. Selama menjadi istri Hans, Zoya belum pernah melihat Hans sakit seperti ini. Paling banter, lelaki itu mengeluh sakit kepala.


"Usahakan minum obat yang teratur, dan istirahat yang cukup. Tapi, nggak manja manja jugalah!" sindir Anas. Saat datang, dia sempat memergoki Zoya menyuapi sahabatnya itu.


"Namanya juga sakit, Nas!" bantah Hans. Dia masih membela diri.


"Lebay kamu Hans. Baiklah, aku pamit dulu, sebentar lagi aku visit rumah sakit."


"Terima kasih, Dok!" ucap Zoya dengan mengiringi langkah Anas saat keluar dari kamar Hans. Sudah lama menghilang dari siklus pertemanan, gadis itu mendadak terlihat lebih kalem.


"Hallo Aunty dokter. Ale sekarang sudah bisa bilang 'R'." pamer Ale saat melihat Anas dan Zoya berada di lantai bawah.


"Wah, peri kecil Aunty yang cantik, udah tambah pinter ternyata." sambut Anas dengan menoel pipi gembul Ale.


"Aunty pamit dulu, ya."


"Iyo, Aunty hati-hati di jalan." jawab Zoya seolah dia mewakili Ale untuk menjawab Anas. Gadis tinggi semampai itu melangkah dengan sangat tergesa keluar dari rumah mewah yang di dominasi warna putih dan coklat plitur.


Zoya sendiri berjalan menuju dapur meninggalkan Ale yang masih bermain di depan TV. Dia akan membuatkan pepes salmon kesukaan Hans. Lelaki itu memang lebih menyukainya masakan Jawa.


"Zoy, masak apa?" tanya Mama Shanti yang keluar dari kamar.


"Mau bikin pepes salmon, kesukaannya Mas Hans. Tadi, Mas Hans seperti tidak berselera makan, Ma." jelas Zoya.


"Ohhh... " Meskipun hanya satu kata itu, tapi Mama Shanti yakin jika menantunya memang seorang istri dan ibu yang luar biasa.


"Mama mau dibikinin apa?" lanjut Zoya, mungkin saja Mama mertuanya menginginkan sesuatu.


"Ngga usah, Zoy. Mama Makan apa saja yang ada!" jawab Shanti. Beliau mengamati segala tingkah polah menantunya di dapur. Hatinya sangat terenyuh jika mengingat semua yang sudah dilalui putri sahabatnya itu. Dan semua karena dirinya.


Shanti Pov

__ADS_1


Maafkan Mama, zoy. Mama pernah membuatmu berada pada titik sulit dalam hidupmu. Saat meminta dirimu dari Nurma, sebenarnya Mama sudah tahu jika kamu menyukai seseorang, hanya saja Mama tidak tahu jika yang berada dalam hatimu itu Ustad ganteng itu. Saat itu, Nurma hanya bercerita jika kamu sepertinya menyukai seseorang. Tapi Mama sudah tidak peduli, Mama sudah menyukai dirimu.


Saat itu Mama memang egois, karena Mama memaksa Nurma untuk menikahkanmu pada putra Mama yang berstatus Duda beranak satu. Mama merasa bersalah, sungguh saat Hans memperlakukan dirimu kurang baik. Banyak yang sudah kamu korbankan karena keegoisan Mama yang menginginkanmu sebagai menantu Mama. Tapi, Mama rasa wajar jika seorang Ibu dan seorang Oma menginginkan yang terbaik untuk anak dan cucunya.


Mama menyayangimu seperti putriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukai perasaanmu termasuk putra Mama. Selain memang menebus rasa bersalah Mama, Mama juga sudah merasakan perhatian dan kasih sayangmu. Zoya Kamila, Mama hanya berdoa semoga kamu akan selalu diberi kebahagiaan.


Shanti mengerjapkan matanya yang sudah memanas, dia tidak ingin terlihat menangis di rumah ini.


"Mama ngapain melamun di sini? Jangan bilang sedang mencari cara untuk mencuci otak menantu Mama." suara bariton itu membuyarkan lamunannya.


"Kamu kalau masih merasa sakit sebaiknya istirahat di kamar, Hans." usir Mama Shanti saat melihat Hans mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.


"Bosan, nggak ada yang nemenin." jawab Hans membuat Shanti mencebikkan bibirnya. Dia tidak menjawab lagi kode putranya yang ditujukan pada Zoya.


###


Setelah merasa lebih baik, Hans memutuskan untuk melakukan kegiatan seperti biasa. Seusai melakukan kunjungan di lapas. Hans kembali ke kantor. Selain memberikan banyak himbauan pada Antonio untuk persidangan terakhir nanti, dia juga berusaha memberi dorongan motivasi agar tetap mempunyai sugesti yang baik. Campur tangan Rey memang sedikit mengontrol berita yang cenderung membuat kontra.


Hans keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam kantor. Tapi, baru sampai di depan lobi, dia bertemu Kyara dan Ryan.


"Iya, hari ini aku juga belum terlalu banyak schedule. Oh ya, bagaimana perkembangan Ibu Arini?" Mereka kemudian memilih duduk di sofa yang terdapat di loby kantor.


"Bagus, Bang. Tadi pagi aku mengantar Arum membuat laporan yang ditujukan untuk Deny. Sebenarnya, dia tidak berani. Tapi, aku dan papa sedikit memaksanya." jelas Kyara.


"Kata Kyara kemarin ceritanya cukup ramai ya, Bro. Terus ada perang dunia ketiga antara kamu dan Zoya gara-gara Arum." kali ini Ryan ikut menyela.


"Terus ada yang bikin cemburu juga?" Kalimat terakhir Ryan bernada mengejek, membuat Hans melirik tajam Kyara. Memang, bagaimana pun Kyara memang cewek, apapun itu pasti signal ngegosip pasti akan cepat beredar.


"Nggak tau juga, Zoya jadi berubah seperti itu, sepertinya Mama berhasil mencuci otak anak dan istriku. Semuanya seperti sepakat untuk menyerangku." Mendengar pernyataan Hans Ryan pun tergelak. Hans merasa sikap Zoya yang lebih opensive adalah pengaruh dari mamanya. Jangan di tanya lagi jika tentang Ale mereka seperti satu seperguruan.


"Di laut kita jaya, di darat kita buaya dan di rumah kita tak berdaya. Hahaha." Ryan seperti tak ada habisnya menertawakan temannya itu.


"Paling sudah lama tidak di sayang sayang dan di manja manja, jadi effeknya jadi galak gitu." goda Ryan. Bicaranya sedikit kacau.


"Ihh... Bang Ryan apaan. Lo kira otak cewek kayak otak kalian?" Kyara seolah tidak terima dengan ledekan Ryan.

__ADS_1


"Masih nunggu dua bulan." jawab Hans terlontar dengan tenang.


"Ngapain Nunggu. menyiksa diri saja!" lanjut Ryan.


"Kan boleh program lagi setelah tiga bulan pasca keguguran." sahut Hans.


"Program! Tapi, bukan larangan mencurahkan kasih sayang dan hasrat kan?"


"Apaan Bang Ryan ini, sepertinya sudah sangat berpengalaman." sela Kyara dengan tatapan penuh curiga.


"Enak saja, tahu bukan berarti mengalami. Aku ngejar Diana saja masih belum ada kejelasan." elak Ryan.


"Iyes, berarti bisa melakukan tapi jangan sampai dibuahi terlebih dahulu." ujar Hans yang baru paham, raut sumringah terlihat di wajah Hans saat dia mencerna obrolan mereka. Tingkah absurd lelaki yang biasanya cool itu membuat dua orang di depannya menggeleng dengan helaan nafas berat mereka.


"Tapi, sepertinya Zoya memang istri yang baik ya, Bos." tiba tiba saja, kalimat Kyara membuat dua laki laki itu mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang sedang menatap keluar.


"Meskipun dikasarin, sering melihat suaminya dipeluk perempuan dia masih saja baik sama Pak Bos." Gadis itu bisa mengerti jika Zoya marah, karena dia sendiri melihat saat Hans membentaknya di depan banyak orang termasuk dirinya.


"Dia masih mau ngantar makan siang untuk suaminya." Kedua lelaki itu kemudian mengalihkan pandangannya keluar. Terlihat Zoya berjalan tergesa dengan membawa rantang makanan yang di bungkus kantong tas.


"Iya, dia surgaku!" gumam Hans dengan mengamati istrinya yang berjalan semakin mendekat.


"Ayo ra kita nyari makan sendiri dari pada hanya gigit jari." Ajak Ryan ketika melihat Zoya membuka pintu utama kantor. Saat berpapasan Zoya pun mengangguk menyapa dua orang yang akan keluar itu.


"Ayo, Masuk!" Hans langsung menggandeng lengan tangan Zoya menuju ruangannya.


Saat mengunci ruangannya, Zoya pun menoleh ke arah Hans. Dia kemudian menatap aneh karena sudah mengunci ruangan.


"Biar tidak ada yang mengganggu!" ucap Hans dengan membawa Zoya ke sofa.


"Kita cuma makan siang, tidak masalah jika ada yang datang, Mas." jawab Zoya dengan wajah penasaran.


"Tapi, aku tidak suka jika ada yang mengganggu jam makan siangku." gumam Hans, matanya menatap tajam Istrinya yang mulai memundurkan langkah hingga membentur sofa. Tangannya pun mengambil bawaan Zoya dan meletakkannya di sofa. Tanpa melepaskan tatapan matanya pada wajah ayu istrinya, wajah tampan itu mulai mengikis jarak diantara mereka. Sebuah kecupan lembut kini mendarat di bibir mungil istri.


"Mas, Ini di kantor! " protes Zoya dengan mendorong dada bidang yang tak bergeming sama sekali.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2