
Mohon maaf yang namanya belum pernah tertera di buku Nikah, Harap Di skip cukup tinggalkan like, hadiah atau vote karena tidak mungkin meninggalkan komen. ðððððĪŠ
Di dalam sebuah ruangan pribadinya yang bernuansa maskulin, lelaki yang masih berperang batin itu tengah jengah dengan perasaannya sendiri. Diambilnya sebuah lensa foto yang menyimpan banyak gambar perempuan berkerudung yang telah menduduki tempat teristimewa di hatinya. Sejak kapan? Rey tidak bisa memperkirakannya. Dengan bersandar pada salah satu sisi dinding kamarnya, Rey terus menggeser satu persatu layar lensa menikmati pahatan ayu yang sudah Tuhan ciptakan.
Dia melihat Zoya yang begitu ayu, jiwanya memantulkan kelembutan, dan kesederhaan yang melekat pada pribadinya memberikan sebuah aura yang begitu kuat untuk menarik simpatiknya. Berawal dari sebuah kekaguman yang tak bisa dikendalikan, berlanjut dengan rasa simpatik yang sudah berkembang kian liar hingga membuat sebuah cinta yang dia sendiri tidak menyangka akan sampai sejauh ini.
Senyum tipis kini menghias di bibirnya, kala hatinya sudah memantapkan sebuah keputusan. Kesimpulannya, Reynaldy sudah kehilangan akal sehat.
Rey's Pov
Well- Apapun akan adil dalam perang dan cinta.
Aku merasa tidak mampu lagi memendam perasaan yang semakin bergelora untuknya. Dia adalah Zoya Kamila. Perempuan Sederhana dengan paras yang begitu ayu. Ayu. Aku akan mendefinisikan kecantikannya dalam versi Ayu. Bagiku, Ayu itu lebih dari sekedar cantik. Tapi juga sebuah kelembutan, kesederhaan yang membuat seseorang betah dan nyaman untuk memandangnya.
Gila...
Aku sudah dibuat gila oleh perempuan ayu itu. Dia bagai permata yang baru aku temukan setelah pencarianku selama bertahun-tahun untuk gadis yang akan menjadi labuhan cintaku. Zoya selalu menyita hati dan pikiranku.
Dan keputusanku mungkin akan dibilang lebih gila, karena aku mengejar cinta istri laki-laki lain. Tentu saja,itu tidak mudah bagiku untuk memilih keputusan ini.
Sakit. Itu yang sebenarnya aku rasakan. Aku jatuh cinta sekaligus patah hati dalam waktu bersamaan. Tidak ada salahnya jika aku memperjuangkan perasaanku dan tidak akan ada yang tahu di mana perempuan itu akan memilih untuk melabuhkan cintanya terakhirnya.
###
Hans keluar dari ruang kerja. Rumah besar berlantai dua itu sudah terasa sunyi. Dia yakin jika Ale sudah tidur, kemudian diliriknya jam yang menggantung di dinding ruangan TV yang terhubung dengan balkon, sebelum melewatinya untuk sampai di kamar, masih pukul delapan, langkahnya terhenti sejenak. Terlihat Zoya masih menelpon seseorang di balkon. Hanya sesaat, hingga dia memutuskan untuk sampai di kamar tanpa menunggu istrinya.
Tidak ada yang istimewa untuk hari ini, hanya menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Sekilas, terlintas beberapa kegiatan yang harus dia kerjakan besok. Tapi, ada ingatan yang membuatnya beranjak untuk melihat isi lemari pakaian istrinya.
"Mas Hans, sedang apa?" tanya Zoya. Perempuan yang baru saja masuk ke kamar dengan membawa buku, dia terlihat heran saat suaminya berada di walk in closset.
"Mencari sesuatu!" ujar Hans singkat tanpa menoleh.
"Iya, apa? Biar aku yang mencarikan." tawar Zoya dengan mendekat ke arah suaminya. Lelaki itu ragu untuk mengatakannya, tapi semua hal di rumah ini memang sudah menjadi kekuasaan istrinya.
"Baju yang kemarin malam dimana?" akhirnya Hans menyerah. Sadar, tidak mudah mencari sesuatu di luar jangkauan wilayahnya.
__ADS_1
"Hmmm... tidak ada!" Zoya, memang enggan mengenakannya. Lebih tepatnya, dia merasa risih saat Hans menatapnya nakal. Zoya kembali tersenyum merasa dirinya begitu aneh saja, meskipun suaminya sudah sering melihat sisi terdalam yang lain, tapi masih aja dia merasa malu.
"Kenapa senyum-senyum?" Tatapan curiga dilayangkan Hans dengan berjalan mendekat ke arah istrinya. Tak berkedip, Hans menatapnya tajam seolah menuntut sebuah jawaban.
"Tidak ada apa pun, Mas." jawab Zoya masih dengan menyingkirkan tangannya ke belakang. Berlahan dia memundurkan langkah, hingga tubuhnya membentur pada sebuah dinding. Mata indah itu menatap wajah yang semakin mendekat, memangkas jarak yang ada diantara keduanya.
"Jika belum mau jujur, aku akan benar-benar menciummu." Suara bariton itu mengeram pelan, memberi sebuah penekanan pada kalimatnya agar Zoya patuh pada perintahnya.
Hembusan nafasnya menyapu wajah Zoya, bahkan kedua tangannya sudah bertumpu pada dinding untuk mengunci tubuh kaku yang saat ini hanya bisa mematung menatapnya. Setiap kali mereka berdekatan, setiap kali itu juga Zoya merasa dadanya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"I-iya...aku akan menunjukkannya pada Mas Hans." Suaranya sedikit bergetar bukan karena dia takut, tapi rasa yang berdesir di seluruh urat syarafnya sudah tidak bisa di kendalikan. Gejolak yang selalu sama dari sebelumnya.
Zoya mengeluarkan lingerie seksi yang sempat dia sambar dari gantungan. Dengan tatapan memalu, dia menatap wajah datar di depannya. Sok cool. Kalimat yang tepat untuk lelaki yang sudah memendam hasratnya.
"Apa aku bilang, kamu tidak akan bisa membohongiku, Zoy." Hans merasa di atas awan karena Zoya memang tidak pandai menyembunyikan sesuatu.
"Kalau begitu, kamu kenakan sekarang!" titah Hans.
"Tapi..." Zoya masih berusaha mengelak.
"Dua ronde, bersiap saja untuk bergadang!" ucap Hans.
"Emang kuat?" celetuk Zoya bermaksud mengingatkan.
"Baiklah kalau begitu tiga ronde. Cepetan ganti baju saja!"
Tidak sabar menunggu istrinya keluar dari kamar mandi, Hans kini berdiri di depan pintu. Saat akan menerobos masuk, "Hans, Zoya." panggil Mama Shanti berulang, seketika Hans melongok, kemudian mengeram kesal sambil berjalan mendekat membukakan pintu kamarnya.
"Kesayangannya Mama!" ujar Shanti dengan memeluk putranya. Dia baru melihat jelas peristiwa kecelakaan yang meremukkan mobil putranya dari berita.
"Ada apa, Ma? Macam jaelangkung saja." ujar Hans merasa sewot karena merasa rencananya selalu saja digagalkan, jika bukan mamanya ya si gembul Ale.
"Eh jangan kurang ajar ngatain Mama mirip jaelangkung. Kamu nggak tahu khawatirnya Mama saat melihat berita kecelakaan itu." Semprot Mama Shanti yang kemudian malah meletakkan bokongnya di sofa.
"Mama telat, tadi pagi kan sudah ditelpon." jawab Hans dengan menampilkan wajah tak kalah sewotnya. Rasanya dia ingin sekali mengusir mamanya.
__ADS_1
"Eh... " Suara Zoya yang baru saja membuka pintu membuat wanita paruh baya itu menoleh ke arah kamar mandi. Tapi dengan cepat Zoya menutupnya kembali.
"Ohhh, mau ritual ya? Pantesan lihat Mama datang mukanya masam begitu." goda Shanti dengan tersenyum genit ke arah putranya.
"Ya sudah, Mama akan ke bawah. Buatkan Mama dua cucu sekaligus." Tanpa menunggu jawaban putranya Shanti pun melenggang keluar menuju kamar yang biasa dia gunakan untuk menginap.
Setelah kepergian mamanya, Hans mengunci pintu kamar dan membantingkan tubuhnya ke kasur. Dan benar saja, Zoya keluar dengan piyama kimono tertutup, bahkan itu sudah dia ramalkan. Rasanya, dia sudah tidak berselera membujuk istrinya, belum lagi, ada pengganggu lain saat pekerjaannya nanggung.
"Mama kemana, Mas?" tanya Zoya dengan mencari keberadaan Mama Shanti.
"Turun!" sahutnya datar, wajahnya masih menatap langit-langit kamar membuat Zoya mengerti jika suaminya sedang kesal.
Dia yang bermaksud mencari Mama Shanti pun mengurungkan niatnya, berbalik mendekat di mana suaminya berbaring.
"Kenapa jadi sewot begitu?" suaranya terdengar lembut, dengan tangan mengelus rahang lelaki yang saat ini hanya meliriknya.
"Beneran, tidak berselera?" lanjut Zoya dengan tersenyum menggoda, dia memang tidak pandai menggoda lelaki, tapi yang dia tahu Hans akan begitu luluh saat dia mengulas senyum termanisnya.
"Yakin, tidak hanya menggoda?" Masih tidak bergeming. Berpura-pura tak peduli, tapi lirikannya jatuh pada sosok di sampingnya lebih lama dari sebelumnya. Tidak menjawab pertanyaan suaminya, Zoya hanya tersenyum, jari lentiknya masih mengelus lembut rahang tegas suaminya.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi!"
"Arrrggghh... " pekik Zoya saat Hans langsung membalikkan tubuhnya dan kemudian menindihnya.
"Dari mana kamu belajar nakal, Sayang." Kalimat terakhir Hans tidak memberikan Zoya kesempatan untuk menjawab. Dia terus saja menghujani istrinya dengan ciu*an dan lu***an tanpa henti, meskipun tangan kecil itu berusaha mendorongnya untuk memberikan jeda tapi tetap saja usaha Zoya sia-sia.
Beberapa tanpa merah berhasil dicetaknya diantara leher dan tulang selangka. Sejenak, Hans menghentikan aksinya, masih berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya yang mengkunci dua paha Zoya hingga tubuh mungil itu bisa bergerak lagi.
Meski Zoya sempat menggodanya, tapi tetap saja Hans yang lebih dominan di atas ranjang. Pandangannya menatap wajah istrinya, rambut yang mulai acak-acakan, dan bibir yang sedikit membengkak, di matanya Zoya semakin terlihat seksi. Masih dengan menatap lekat Zoya, jari jari besar itu mulai mengurai tali kimono hingga terlepas, "You're so sexy, Honey." gumamnya saat pandangannya beralih pada gundukan dada yang membubung tinggi. Dan itu sangat membuatnya tidak tahan untuk segera mencu*buinya.
Pelepasan nikmat mereka diiringi dengan lenguhan panjang suara kecil Zoya, kemudian disusul dengan melemasnya tubuh mungil itu. Satu pelepasan saja membuat Zoya sulit menggerakkan tubuhnya, mata indah itu masih terpejam, "Satu rondenya lagi besok malam!" lirih Hans dengan mencium bahu putih istrinya dan tidak lupa meninggalkan jejak merah di sana.
Bersambung....
hahaha Jadi bulan madu nggak ya? kok udah dicicil begini ððððð
__ADS_1