
"Opa..." teriak gadis kecil berlari ke arah opanya yang sedang menikmati suasana malam bersama omanya di gazebo yang ada di belakang rumah.
"Opa, Naya kangen." ucap Kananya setelah melompat dalam pelukan Hans.
Kanaya si cerewet itu langsung duduk di pangkuan Hans. Sejak dari rumah, Naya yang paling heboh saat Hanum mengatakan akan berkunjung ke rumah Opa. Bahkan, dia tidak memberi kesempatan papanya untuk makan terlebih dahulu setelah pulang kerja.
"Naya, salim dulu dong sama Oma." titah Hanum saat sampai di depan Hans dan Zoya. Kanaya pun turun dari pangkuan Hans dan langsung menghampiri Zoya untuk salim.
Dengan perut yang mulai terlihat membuncit, Hanum kewalahan mengimbangi gerakan Naya yang begitu gesit. Dia bersama Arkha tertinggal di belakang saat keluar dari mobil.
"Kak Ale, katanya ke sini, Ma?" tanya Hanum setelah memeluk Zoya. Hanum memang melihat mobil Shakti tapi tidak melihat keberadaan Alexa.
"Kak Ale lagi nggak enak badan. Sepertinya kecapekan dan masuk angin. Sedangkan Bima ada di kamar Alex." jelas Zoya. Dia yang yang memaksa Alexa untuk istirahat di kamar karena wajah putrinya terlihat begitu pucat.
"Kamu sendiri apa kabar? Kandunganmu gimana, Sayang?" tanya Zoya sambil mengelus perut Hanum yang memilih duduk di sebelahnya.
Diusia pernikahan yang menginjak empat tahun, wanita itu kini sedang hamil anak keduanya.
"Alhamdulillah, Ma. Sehat semua, babynya aktif banget, Ma." jelas Hanum, mereka memang baru saja mampir untuk pemeriksaan rutin setiap bulannya.
"Oh ya, bagaimana ceritanya Alex kemarin Arkh?" sela Hans yang masih belum jelas mengenai kecelakaan yang dialami putranya yang pendiam itu.
"Kata orang-orang, Alex sedang menolong seorang gadis, gadis itu sedang di ganggu preman di sana, Pa." terang Arkha. Dia sendiri tidak terlalu faham, cuma salah satu dari orang yang menolong Alex tahu jika pemuda yang sedang di keroyok lima preman itu masih keluarga Arkha. Hingga, orang pertama yang tahu adalah Arkha.
"Opa, katanya uncle sakit ya? Naya ingin ketemu uncle." sela Kanaya sedikit tahu yang dibicarakan adalah uncle-nya.
"Iya, uncle lagi sakit dan ditemani Kak Bima di kamar." jawab Hans.
Mendengar jawaban opanya Kanaya langsung melorot dari pangkuan opanya, "Nanya akan menjenguk, Uncle." ucap Kanaya.
"Naya.. ayo, sama Papa." panggil Arkha. Dia tidak ingin Kanaya naik tangga sendirian. Lelaki yang begitu sabar itu pun beranjak menghampiri putrinya yang sulit untuk anteng.
Melihat Kanaya masuk rumah bersama Arkha, Hanum, Hans dan Zoya pun akhirnya membuntut di belakang. Hanum juga ingin melihat keadaan kembarannya Alex.
Kanaya berjalan dengan melompat-lompat. Meskipun begitu, Arkha tidak melepaskan tangan mungil putrinya agar tidak terjadi sesuatu yang berbahaya pada putrinya.
__ADS_1
"Uncle..." panggil Kanaya, saat Arkha membuka pintu kamar Alex setelah mengetuknya beberapa kali.
Melihat Kanaya yang berlari menghambur ke arahnya, Alex meletakkan bukunya. Dan menangkap bocah kecil yang berlari ke arahnya.
Melihat kedatangan Kanaya, Bima hanya menoleh. Bocah lelaki yang tidak punya ekspresi itu pun melanjutkan bermain game di laptop unclenya.
"Uncle, katanya sakit ya?" tanya Kanaya begitu berada dalam pelukan Alex. Bocah itu bicaranya begitu jelas meskipun baru berusia tiga tahunan lebih.
"Iya, perut Uncle sakit. Kanaya sama Papa saja?" tanya Alex dengan menatap Arkha yang duduk di ranjang miliknya.
"Sama Mama. Tadi juga mau ngajak Aunty Key, tapi katanya Aunty lagi banyak kerjaan." Sedikit saja Kanaya di tanya jawabnya pasti melebar. Bocah itu benar -benar cerewet.
"Aunty Key ke rumah Kanaya?" selidik Alex. Dia merasa Kirey seperti menghindar darinya.
"Iya, tadi Aunty bawain baju frozen ini. Aunty kangen sama Kanaya katanya." Kanaya masih berceloteh sesukanya sambil tangannya memegangi baju barunya.
"Dibilangin akan dicuci dulu, dia nggak mau, itu baju barunya akan dipakai ke rumah Opa, katanya." sahut Hanum begitu greget jika Kanaya sudah keluar keras kepalanya.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." celetuk Alex sambil melirik Hanum. Wanita dengan perut membuncit itu hanya mengerucutkan bibir, merasa kesal dengan apa yang dikatakan kembarannya.
Melihat kehebohan keluarganya Hans pun tersenyum. Kesabaran Arkha membuatnya merasa bangga, tuntutannya menikahkan Hanum pada lelaki dewasa yang terkesan ngemong itu sangatlah tepat. Terlihat putrinya Hanum sangat bahagia.
"Naya udah bilang terima kasih sama Aunty Key?" tanya Zoya mengingatkan cucunya. Tanpa menjawab Kanaya melepaskan diri dari dekapan Alex. Gadis itu berjalan menghampiri mamanya.
"Mama- Mama, Naya pinjem ponsel Mama dong." ucap Naya.
"Buat apa, Nay?" tanya Hanum tidak begitu saja menyerahkan ponselnya.
"Hanum ingin telpon Aunty Key." ujar Kanaya masih dengan menengadahkan tangannya. Gadis itu terus merengek hingga Hanum membuat panggilan pada sahabatnya itu.
"Assalamu'alaikum... " Suara di sebrang membuat Alex melirik Kanaya yang sedang menatap ponsel mamanya.
" Aunty Key, tadi Naya lupa bilang terima kasih sama Aunty. Terima kasih, Aunty!" ucap Kanaya sambil menggerak- gerakkan tubuhnya.
"Naya sayang, jawab dulu donk salamnya Aunty."
__ADS_1
Ponsel yang terus saja bergerak- gerak membuat Alex sekilas melihat wajah Kirey dengan tidak jelas.
"Waalaikum salam, Aunty."
"Sama-sama untuk ucapan terima kasih dari Naya."
"Oh ya, salam ya buat Opa sama Oma dari Aunty Key." lanjut Kirey.
"Iya Aunty."
"Ayo Nay, sini! Aunty Key, pasti mau istirahat." Hanum memanggil putrinya. Hanum sudah beberapa kali melihat Kirey menguap.
"Assalamu'alaikum Aunty cantik." ucap Naya mengakhiri begitu saja panggilannya.
Semua tertawa karena Kanaya. Bocah itu benar- benar tidak mau diam. Setelah menelpon Kirey dia memilih mengganggu kakaknya Bima hingga bocah itu tertidur di dekat Bima.
###
"Kapan kamu menikah, Key? Lihatlah Hanum hampir punya dua anak, tapi kamu pacar saja tidak punya." Kyara terus saja mengomeli putri tunggalnya. Dia sering kesal saat teman- temannya menanyakan kapan ngunduh mantu.
Kirey tidak menjawab omelan mamanya karena hal itu sudah biasa dia dengar. Gadis itu hanya mengangkat pandangannya ke arah mamanya. Kemudian kembali menutup laptop yang ada di depannya.
"Ma, Key besok akan pergi ke rumah Nita." ucap Kyrey membuat Kyara meloto ke arah putrinya. Dia bertambah kesal setiap kali membahas pernikahan, Kirey selalu saja menghindar.
"Key, kamu tidak perlu bekeja. Mama masih bisa mencukupi kebutuhanmu!" teriak Kyara saat melihat putrinya menaiki tangga.
"Ma, sudahlah, Key sudah cukup besar untu menentukan pilihannya. Jangan terus menekannya." ucap Rey mencoba menenangkan istrinya. Tidak sering mereka bertemu, Reyhan hanya ingin memanfaatkan waktu untuk saling bercengkerama bukan berdebat.
"Pa, aku takut dia nggak mau menikah." jawab Kyara dengan meletakkan kepalanya di dada suaminya.
"Emang Mama tidak ingat dikejar- kejar terus sama Papa untuk cepat menikah? Coba berada di posisi Key, Ma." ucap Reyhan mencoba memberi pengartian pada Kyara.
"Coba Papa jodohkan saja Key pada anak teman Papa. Siapa tahu mereka berjodoh." lanjut Kyara yang tidak pernah putus asa.
Reyhan hanya menghela nafas panjang. Dia juga tidak mau memaksa putrinya sebelum tahu alasan Kirey yang belum memutuskan untuk menikah.
__ADS_1