Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Bukan Tukang Masak


__ADS_3

"Papaaaa....! " teriak Ale saat Hans mengambil putrinya dari pelukan Zoya, bocah itu terlihat begitu ketakutan hingga tangisnya terdengar histeris.


"Nggak apa-apa, sayang. Ada Papa bersama kalian. " ujar Hans kemudian merangkul bahu kecil Zoya untuk cepat cepat menghambur keluar bersama orang orang sebelum kebakaran merambat kemana mana.


Tangan kirinya masih menggendong Ale dan satu lengannya merengkuh tubuh Zoya agar terlindungi dari desakan orang orang yang berhamburan keluar.


Seolah terus menarik tubuh zoya untuk menjauh dari huru hara, Hans akhirnya berhasil membawa Zoya dan Ale keluar dari desak desakan.


Suasana menjadi semakin ricuh akibat kebakaran yang semakin meluas. Tangan Hans enggan melepaskan rengkuhannya dari tubuh istrinya karena takut tubuh kecil itu akan terjatuh. Kini, Hans membawa Zoya dan Ale masuk ke resto yang berada tepat di depan tempat kejadian agar lebih aman.


Hans membawa dua perempuannya ke kursi yang ada di pojokan, Ale masih memeluk leher Papanya dengan erat, bocah itu jelas sekali masih merasa ketakutan.


"Ale, duduk dulu ya, kita sekarang sudah aman. " Hans mendudukkan tubuh gembul itu satu sofa dengan Zoya. Spontan Zoya memeluk anak sambungnya, membuat Hans menolehi wajah Zoya. Lelaki itu baru menyadari jika keringat yang mengucur di wajah putih itu bercampur warna merah.


"Zoya...! " Hans mulai memfokuskan tatapannya pada wajah lembab Zoya. Mata mereka saling beradu, Hans melihat ada rasa mengiba dari mata indah di depannya.


Tangan kekar itu menjulur ke wajah itu, spontan saja Zoya menahannya. Tapi saat tersadar jika Hans adalah suaminya, jari jari dingin itupun meluruh membuat Hans mengerti betapa sensitivenya Zoya terhadap sentuhan laki laki, gadis yang sangat naif untuk ukuran remaja jaman sekarang.


"Kamu terluka? " Hans meneliti kulit di balik jilbab zoya, dan ternyata kulit di atas pelipis istrinya sedang terluka.


"Aku tidak apa-apa, Mas! " lirih Zoya dengan suara bergetar. Dari situlah Hans mengerti jika Zoya masih merasa ketakutan. Apalagi saat dia merasakan tangan Zoya yang terasa dingin, membuat Hans semakin yakin, jika Zoya shock dengan tragedi kebakaran itu.


"Tunggu sebentar! " keadaan resto yang kurang kondusif akibat kebakaran membuat Hans harus menghampiri kasir hanya untuk memesan air putih dan teh hangat.


Sambil menunggu pesanan datang, Hans menatap penuh selidik ke arah Zoya. Gadis itu seperti teka teki baginya, Zoya terlalu pandai menjaga sikap. Pernahkan dia mempunyai rasa cinta layaknya remaja pada umumnya? Atau dia sudah pernah pacaran? Tapi kenapa dia begitu sensitive dengan lawan jenis? lagi lagi Hans dibuat penasaran akan sosok Zoya.


"Silahkan...!" Seorang pelayan meletakkan pesanan Hans di meja, kemudian dia kembali setelahnya.


" Zoya minum dulu! " titah Hans, sementara Hans membantu Ale meminum air putih. Ale terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Wajah pucatnya kini sudah semakin memerah.

__ADS_1


"Papa, kepala Mama Zoya kejatuhan besi saat menolong Ale! " Ale baru bisa bersuara saat keadaannya mulai tenang.


"Benarkah, Zoy? " Zoya hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Ale.


"Kenapa nggak bilang, Zoya! " Hans mendengus kesal. Hingga dia terluka pun dia tidak mengatakan apapun, membuat Hans semakin heran.


"Ayo kita periksa! " Hans mengambil dompetnya, meletakkan uang ratusan di meja.


"Mas, aku tidak ingin periksa. Aku baik baik saja! " ucap Zoya memberanikan diri menahan tangan Hans. Dia tidak ingin bertemu Anastasya lagi.


"Kenapa?" selidik Hans, dia menatap tajam gadis di depannya. Nampak sorot Mata mengiba dari Zoya membuat Hans tak tega untuk menolak permintaannya. Zoya, sorot mata sendu yang selalu menyentuh sisi keras hati Hans.


"Baiklah, sebaiknya kita langsung pulang saja. " Hans menunggu zoya beranjak dari duduknya, sementara Ale sudah berada dalam gendongannya. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari bangunan resto.


Nampak suasana mulai teratur, petugas pemadam pun sudah menunjukkan aksinya. Hans melajukan mobil meninggalkan lokasi tragedi pasar malam.


Mercy hitam itu berbelok di halaman rumah berlantai dua yang di dominasi dengan warna putih. Gegas, Hans Keluar dari mobil menuju pintu sebelah, dengan penuh hati hati dia mengambil Ale yang tertidur di pangkuan zoya.


"Zoy, ikut aku! " ujar Hans Keluar dari kamar Ale Dan masuk ke dalam kamarnya.


"Duduklah! " titah Hans dengan dagu menunjuk ke arah tempat tidur. Dengan ragu Zoya mengikuti perintah Hans, sementara lelaki bertubuh tinggi maksimal itu berjalan ke Arah rak yang ada di pojok kamar.


Hans kembali dengan membawa sebuah kotak obat, Membuat perasaan Zoya yang sempat menegang itu pun sedikit lega.


"Buka saja jilbabmu! Kamu tidak akan berdosa jika aku melihat rambutmu! " ucap Hans dengan menekuk lutut agar tingginya bisa sejajar dengan Zoya.


Jari-jari mungil Zoya mulai melepas jilbab, nampak rambut hitam panjang itu terurai begitu indah. Hans begitu terkesima, rambut panjang itu seolah membingkai pipi cabi Zoya, membuat gadis itu terlihat lebih menggemaskan. Rasanya Hans begitu enggan mengalihkan tatapannya dari pahatan wajah ayu di depannya.


"Mas... " panggil Zoya menyadarkan Hans dari kekaguman akan wajah ayunya. Tak bisa dipungkiri oleh Hans, jika Zoya memiliki kecantikan yang lebih.

__ADS_1


Hans mengobati kening Zoya yang terluka, ada sebuah goresan yang lumayan dalam hingga menembus kain jilbabnya.


"Tahan sebentar, ya! " Hans memberikan obat merah, sebelum membalutnya dengan kain kasa.


Mata tajam Hans kini bertaut pada mata indah di depannya. Sementara itu, Zoya menundukkan wajah, mencoba menyembunyikan rona merah di pipi cabinya. Melihat zoya tersipu, membuat Hans semakin mendekat, seolah mengejar guratan wajah yang sedang memalu. Wajah tampan Hans ini semakin mengikis jarak diantara keduanya.


" Tok...tok ...tok....! " suara ketukan pintu menyadarkan Hans dari situasi yang hampir membuatnya terlena.


"Iya...! " jawab Hans, kemudian menghela nafas panjang seolah dirinya baru tersadar. Hampir saja dia terlena dengan rasa kagum akan kecantikan Zoya.


Hans membuka pintu kamar, nampak Bi Muna sudah berdiri di depan pintu.


"Bapak, tadi Ibu berpesan jika makanan yang ada di meja dibawa pulang. Dan besok, Mbak Zoya di minta membuat masakan yang sama untuk diantara ke rumah Bu Santi! "


"Baiklah! " jawab Hans dengan datar, padahal dia begitu greget dengan kelakuan mamanya yang lebay.


"Dikira istriku Tukang Masak apa? " gerutu Hans dengan mencari ponselnya untuk menelpon mamanya.


"Sial .... Kebiasaan, Mama! " umpat Hans yang sudah tahu akal akalan mamanya mematikan ponselnya untuk menghindari penolakan.


"Ada apa, Mas? " tanya Zoya saat melihat Hans melempar ponselnya.


Bukannya langsung menjawab, Hans malah membanting tubuhnya di samping Zoya yang masih menatapnya bingung.


visual Hans



visual Zoya

__ADS_1



Bersambung.....


__ADS_2