
"Aaaarrrghhhhhh..... " teriakan Arum membuat Hans terkaget dan beranjak, berniat akan melihat apa yang terjadi dengan gadis itu. Sementara, Zoya berlahan mengikutinya karena takut terjadi hal buruk pada Arum karena suara Arum yang cukup menggema itu memecahkan keheningan rumah.
Dengan sedikit berlari Hans memasuki kamar Arum yang terbuka. Gadis itu sudah terduduk di lantai di depan kamar mandi. "Kakiku terkilir, Mas! Tolong bawa aku ke tempat tidur." ucap Arum membuat Hans terpaksa menggendong Arum sampai ke tempat tidur.
Zoya berdiri di depan pintu, menatap suaminya menggendong madunya . Dia hanya manusia biasa, rasa ibanya tiba tiba menghilangkan berganti rasa nyeri di dalam hatinya tatkala gadis itu mengalungkan tangannya di leher Hans. Gawn malam yang sangat terbuka dan hanya menutup bagian minim tubuhnya membuat wajah Zoya memanas. Laki laki mana yang tidak akan tergoda dengan pemandangan yang seperti itu. Seperti itu yang terdapat dalam pikiran Zoya.
"Temani aku, Mas! Kakiku masih sakit." ujar Arum dengan menahan tangan Hans. Sementara Hans malah melirik Zoya meminta persetujuan.
"Bukankah aku juga istrimu, Mas? Aku juga berhak mendapat perhatianmu." ujar Arum membuat Hans menunggu jawaban dari Zoya. Zoya sendiri tak mampu menjawab. Kakinya berlahan mundur, dia memilih untuk meninggalkan tempat itu.
Diantara lelehan air mata yang sudah menganak sungai. Zoya terus melangkah menuju kamar, hatinya rasanya seperti di remas begitu hebat, saat Arum meminta haknya. Direbahkan tubuhnya yang tiba- tiba terasa lemas. Perasaan cemburu yang tidak bisa dikendalikan seakan membuat seluruh tulangnya pun berlahan lepas.
"Ya Allah, rasanya sakit sekali. " gumamnya diantara isak tangis yang sudah tergugu. Tubuh kecilnya meringkuk di atas tempat tidur berukuran king size, kamar mewah yang tidak lagi terasa nyaman. Kelebatan bayangan suaminya yang bercumbu dengan perempuan lain seakan membuat perasaannya kini menjadi sekarat.
Hatinya tidak bisa lelah untuk merasa, meski tubuhnya sudah tak berdaya. Dia mencoba terlelap tapi hanya kegelisahan yang dia rasa. Waktu tak terasa bergulir, membuat niatnya ingin melihat waktu. Zoya mengerjapkan mata menatap ponsel yang dia peluk. Iya, diantara rasa sakitnya dia juga merindukan Hans. Dia hanya memeluk foto suaminya di ponsel. Kehamilan membuatnya sering merindukan lelaki itu.
Dia mulai beringsut pukul dua malam, lebih baik dia melepas segala ujian di dunia ini. Meski tidaklah mudah dengan menghadap pada yang mengatur hidup. Zoya mengambil air wudhu. Jika Salat lima waktu mereka membiasakan diri di musala, tapi untuk salat malam dia memilih melakukannya di sudut kamar.
Diantara hampir sepertiga malam dia menengadahkan tangan meminta segala yang dia inginkan baik di dunia maupun akhirat. meskipun tangisnya masih meleleh, tapi ada sedikit ketenangan di sudut hatinya. "Ya allah, zat yang Maha pengasih dan penyayang, jika Engkau datangkan segala ujian atas hamba- Mu maka berikanlah kekuatan untukku menghadapinya. Hanya engkau zat yang maha kuasa dan terkuat diantara zat yang engkau ciptakan. Tidak ada tempat bersandar yang kuat kecuali Hanya Padamu. Dengan segenap rasa dan keikhlasan hamba berserah diri pada-Mu. " akhir dari doanya membuat Zoya kembali terisak hingga beberapa saat.
"Ceklek... " Suara pintu terbuka saat Zoya meletakkan kembali mukenanya setelah selesai salat tahajud. Ternyata, Hans kembali ke kamar setelah jam tiga malam.
"Zoy, tolong kali ini jangan menolak. Aku hanya ingin tidur memelukmu. Aku mohon! "
"Hanya memeluk saja! " lanjut Hans penuh permohonan dengan melipat tangannya di depan dada.
Zoya tidak bisa berbuat apa-apa, dia juga memang masih istrinya. Meskipun, berusaha menghindar tapi dia tidak bisa menghindar dari kewajiban yang masih dia sandang. Zoya hanya mengangguk membuat Hans langsung menarik tubuh kecil itu ke atas tempat tidur.
Dia memeluk erat tubuh istrinya, bahkan kakinya juga mengunci tubuh mungil itu hingga tubuh mereka benar-benar menempel.
"Mas..." Zoya merasakan ada sesuatu yang mengganjal tapi dia tak berani untuk melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Sudahlah, aku ingin tidur sebentar, Zoy. Aku ngantuk banget. " kalimat Hans mengakhiri percakapan mereka.
Zoya hanya memejamkan mata tanpa bisa terlelap, dia juga semalam tidak bisa tidur. itu karena, hatinya yang gelisah seolah mengunci syarafnya untuk tidak mengantuk.
Hanya sejenak jeda waktu dari obrolan mereka, sudah itu terdengar dengkuran halus dari suaminya. Dia memang merindukan pelukan seperti ini. Tapi bukan dengan berbagi dengan perempuan lain. Pikirannya dipenuhi dengan ribuan pertanyaan dari rasa penasaran dengan sikap suaminya.
Suara Azdan subuh terdengar berkumandang dari kejauhan. Zoya mencoba melepaskan pelukan suaminya secara berlahan agar tidak terbangun.
"Zoy, mau kemana? " tanya Hans masih dengan memejamkan mata meski tangannya menahan Zoya saat akan bangkit.
"Sudah subuh, Mas. Aku akan membangunkan Ale untuk Salat Subuh." jawab Zoya dengan lirih. Hans membuka matanya dan meregangkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Tunggu, aku akan mandi sebentar?" Zoya tidak menjawab ucapan suaminya, dia langsung melangkah keluar ke kamar putrinya.
Ale memang sudah terbiasa dibangunkan untuk Salat Subuh. Meski awalnya sangat susah, bahkan dia pernah sampai di gendong Hans untuk mengambil wudhu.
"Sayang, Ale ke musala dulu. Mama akan menyiapkan pakaian untuk Papa." ujarnya kemudian kembali ke kamar Hans.
Zoya mengambilkan baju koko dan sarung. "Aku akan memakainya di sini! " suara Hans saat keluar dari kamar mandi menghentikan Zoya yang akan keluar dari walk in closset.
"Kenapa harus keramas? Aku kan cuma memelukmu terus nggak jadi keluar spe***nya karena juniorku tidur lagi." Sebenarnya Zoya malu membahasnya apalagi bahasa yang di gunakan Hans sangatlah vulgar di dengar di telinganya.
"Semalam sama Mbak Arum?" Zoya menunduk , dia sedikit menyesal melontarkan kalimat itu. Dia takut akan mendengar jawaban yang sangat menyakitkan. Tapi rasa penasarannya juga sangat tinggi.
Hans mendekat ke arah Zoya mengikis jarak diantara mereka. "Kamu cemburu, Zoy. Kamu menangis karena cemburu hingga matamu bengkak seperti ini? " tanya Hans membuat pandangan Zoya menunduk. Tapi wajah itu masih menengadah dan menatap Hans yang sudah membingkai wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku hampir tiga jam bersama Arum hanya untuk memberikan Arum pertanyaan bukan ciuman atau cumbuan. " Hans mencium kening Zoya. Mungkin jahat menurut Zoya karena dia merasa lega saat kalimat itu terlontar dari mulut suaminya.
"Percayalah padaku! Kita sudah melewatinya satu bulan lebih." ciuman itu berpindah di bibir mungil Zoya.
"Mas, kita akan subuhan." Zoya mengingatkan biasanya Hans sudah mengambil wudhu sekalian setelah mandi.
__ADS_1
"Aku akan berwudhu lagi. Pergilah ke bawah terlebih dahulu! " titah Hans dia memang sengaja memberi jeda ke musala untuk menghindari, jika Arum terbangun dan memergoki mereka berdua. Tapi, Arum memang terbiasa bangun sedikit siang.
###
"Pak Bos, aku lawyer bukan detektif! " ucap Kyara dengan memajukan bibirnya dan menghentakkan kakinya. Hans hanya menanggapi dengan tersenyum tipis.
"Kali ini kamu boleh berpakaian seksi! " titah Hans.
"Puuuufhhhht... " Ryan menahan tawanya tugas untuk Kyara saat makan malam memang sedikit ribet.
"Pak Bos, kenapa mengambil kasus kriminal? Enakan perdata atau korupsi gitu, duitnya banyak nggak terlalu ribet." gerutu Kyara dengan membereskan beberapa catatan. Tapi pertanyaan Kyara teracuhkan.
"Bro, lesu amat? Punya istri dua seharusnya kan segar bugar, nggak lungset gitu ya." goda Ryan membuat Hans berdecih kesal.
"Semalam Arum berulah. Tapi kebetulan bagiku, aku malah bisa leluasa menanyai banyak hal termasuk orang gila di dekat lokasi, latar belakang Kinanti( korban) dan segala sesuatu tentang Dandy dan Deny. Tapi ya gitu, enam bulan ini Zoya nggak bakal ngasih jatah." jelasnya dengan tidak bersemangat.
"Hahahaha" tawa Kyara langsung meledak seketika mendengar cerita Hans.
"Nahan nih, ceritanya? hahahhaa " Ryan tak kalah sigap untuk melontarkan kalimat ledekan yang cukup menyedihkan.
"Anggap saja libur trisemester kehamilan Zoya!" sahut Hans dengan acuh.
"Yang penting Zoya masih mau bersamaku sudah cukup bagiku untuk saat ini. Sumpah kasus ini penuh perjuangan, semuanya berjuang. Terutama Zoya, dia sering menangis." lanjut Hans di akhir pembicaraan mereka. Rasanya dia ingin sekali cepat mengakhiri kasus ini. Sudah tidak tega dengan Zoya.
Pembicaraan mereka selesai karena waktu yang sudah cukup sore. Ryan dan Kyara kemudian keluar dari ruangan Hans. Sementara Hans mencoba menghubungi Mbak Niar untuk bisa menahan mamanya di sana. Hans tidak ingin Mama Shanti terganggu kesehatannya karena mengetahui masalah rumah tangganya. Seperti sebelumnya dia tidak akan terima jika Zoya tersakiti.
TBC....
Hai kakak readers tercintah hahahha beberapa hari aku ngumpet di gua cermai menghindari serangan reader's aku yang kritis dan kecewa (Save Zoya) hehehe semoga yang sudah meninggalkan cerita ini bisa balik lagi untuk nengokin Zoya.
Yang masih bersabar Terima kasih masih setiya menunggu detik detik perjuangan Zoya...
__ADS_1
Happy reading gaes semoga selalu sehat.... jangan lupa makan teratur dan jaga imun... emosi juga butuh energy...
Maafff kemarin nggak jawab komen hahahah sumpah ngeri author receh ini hahaha. tapi, author sayang kalianπππππ