
Makan malam berlangsung dengan santai. Hans sengaja menggelar acara tersebut di belakang rumah tepatnya di dekat kolam renang. Hanya beberapa orang sebenarnya yang dia undang karena memang hanya rencana dadakan, Dandy datang bersama dua temannya dari kampung, Deny bersama beberapa orang yang terlihat lebih seperti pengawal, dan beberapa lawyer dan staf yang ada di kantornya.
"Bang, kalau suruh milih, lo milih yang mana istri tua apa istri muda?" tanya Kyara dengan memperhatikan kedua istri Hans secara bergantian.
"Yang tualah, meskipun istri tua tapi lebih muda lebih segar." jawab Ryan dengan menahan tawanya.
"Kalau soal fisik, istri muda lebih seksi, terus nggak kalah cantik juga, apalagi wajah polosnya itu kan tipe Pak Bos banget. " sahut Kyara tanpa melepas tatapannya ke arah Arum yang masih asyik mengobrol dengan Deny.
"Nggaklah, seksian istri tua. Mungil tapi model model berisi, memang nggak terlihat jelas bodinya karena baju di kenakan sedikit longgar tapi kalau mata lelaki pasti akan melihatnya karena jangkauan lebih dalam jika tentang anatomy tubuh perempuan. " jelas Ryan saat ini dia mengamati Zoya dengan seksama.
"Ihhhh.... bukanya yang keliatan yang langsung menarik perhatian? " Kyara mencoba menyanggah pendapat Ryan.
"Nggaklah, yang tertutup malah bikin penasaran. Kalau diobral obral baru lirik saja udah faham ukurannya." jelas Ryan dengan mengarahkan dagu dan tatapannya ke arah Kyara.
"Ihh... Bang Ryan, nebak ukuranku ya?" Kyara langsung menutup bagian dadanya yang memang memperlihatkan setengah dari kedua gunung kembarnya.
"Eh misi susah berhasil apa belum kok kalian ngobrol di sini? " Tanya Hans yang tiba tiba datang.
"Siap sudah, Pak Bos." jawab Kyara.
"Kalau begitu ambil tadi blazermu! " Hans meminta Kyara mengambil blazer yang pada awalnya dia bawa. Gadis itu menurut saja, dia memang pernah merasakan kena marah Hans, tapi lama lama dia merasa Hans memperhatikannya seperti layaknya Abang, membuat gadis yang memang anak tunggal itu merasa ada yang melindungi.
Langkahnya berlahan saat menuju ruang tamu, membuat sepatu heelsnya tidak terlalu terdengar. Saat melihat Arum dan Dandy berbicara empat mata, timbul niatnya untuk mencari tahu. Berlahan dia berhenti di balik tembok.
"Kamu harus bisa membuat Hans menjadi milikmu! " tegas lelaki berkulit sawo matang itu memberi penekanan pada Arum.
"Tapi Bang, Mas Hans ternyata berbeda."
"Kamu cantik, kamu seksi seharusnya dengan sedikit trik kamu bisa membuat Hans menjadi milikmu. Seperti kesepakatan yang ada, jika enam bulan kamu tidak bisa membuat Hans menjadi milikmu. Itu artinya dia akan mentalakmu. Pernikahan ini kan hanya untuk menyelamatkan kalian dari amukan warga yang tidak memberi kalian kesempatan untuk membela diri." jelas Deny kembali mengingatkan adiknya.
"Aku tidak mau berpisah dengan Mas Hans, Bang. Aku mencintainya." cara Deny memanjakan Arum membuat gadis itu menjadi seorang yang ambisius dan egois.
"Kalau begitu, berusahalah! Ingat pada dasarnya sifat laki laki itu rakus." ujar Deny kemudian meninggalkan Arum menuju ke tempat orang orang berkumpul.
Mendengar pembicaraan itu Kyara semakin curiga dengan Deny. Menurut Kyara lelaki itu terlalu culas saat melihat perempuan. Seperti ucapannya barusan, seperti itulah kepribadiannya.
Han's Pov
__ADS_1
Semua sesuai rencanaku. Di sini, aku memang yang paling banyak salah karena menggunakan cara yang sedikit salah. Tapi, aku tidak punya pilihan lain.
"Mas kenapa harus membuat acara makan malam dengan mendadak?" protes Zoya saat tadi pagi aku memberitahu dirinya jika nanti malam aku mengundang beberapa tamu untuk makan malam. Ada cemburu di matanya, meskipun dia berusaha menutupinya. Aku sangat hafal dengan bahasa perasaannya.
Berbeda dengan Zoya, Arum terlihat bahagia, karena alasanku membuat acara ini adalah untuk mengenalkannya sebagai istri keduaku. Memalukan sekali kedengarannya, seperti seorang laki laki yang tak cukup dengan satu perempuan.
Aku masih memperhatikan perempuan anggun yang sedang mengandung benihku itu sedang menyuapi putri cantikku dengan secawan puding. Malam ini Zoya terlihat sangat cantik dengan balutan dress hitam yang mengembang di ujung bawahnya dan bagian lengan yang sedikit menggelembung di padukan dengan jilbab segitiga yang yang di buat setengah menjuntai dengan menyematkan broos untuk menahannya. Dia terlihat begitu elegant, rasanya aku ingin sekali menerkamnya saat ini juga. Tapi, lagi-lagi aku harus bersabar dan menahannya. Enam bulan sangatlah berat bagiku dibanding tiga tahun aku menduda. Karena saat ini wanitaku semakin terlihat menggoda bagiku. 'Sial' rasanya aku selalu ingin mengumpat saat aku menginginkannya.
"Mas, aku ambilkan salad untuk Mas Hans." ucapan Arum membuyarkan lamunan Hans. Gadis itu menyerahkan semangkuk salad yang di terima oleh Hans. Mereka masih berdiri di dekat kolam renang.
"Mas, kapan kasus pembunuhan Kinanty selesai? " tanya Arum.
"Sebentar lagi, bersabarlah! " jawab Hans seperlunya, saat ini Hans memang tidak percaya dengan siapa pun kecuali teamnya.
"Apa kemungkinan pembunuhnya akan bebas?" lanjut Arum dengan menyandarkan kepalanya di lengan bahu kekar Hans. Tangannya kemudian melingkari pinggang Hans bagian belakang.
"Aku tidak yakin. Tapi, setidaknya aku sudah berusaha." Padahal setelah penyelidikan ini, dia yakin akan memang kan kasus ini.
"Setelah itu, aku ingin kita berbulan madu. " Saat ini Arum memang merasa sudah mulai menguasai Hans. Permulaan baginya saat dia diperkenalkan sebagai istri kedua Hans Satrya Jagad.
Flashback
"Aku kecewa dengan kamu, Mas. Kamu tidak adil, seharusnya mas Hans tidak hanya memperhatikan Zoya. Aku juga istri Mas Hans, dan aku mempunyai hak untuk itu " cecar Arum yang sudah merasa teracuhkan. Dia merasa cukup bersabar tapi tidak ada perkembangan hubungannya dengan Hans.
"Bukankah kamu tahu aku sedang sibuk menangani kasus Antonio?" Hans balik bertanya.
"Aku tahu, tapi Mas Hans masih tidur bersama Zoya, kan? " tebak Arum membuat Hans tersenyum.
"Zoya menentang poligami, dia meminta cerai setelah kesepakatan pernikahan kita. Dia memilih mundur. Kamu bisa melihat sikap dinginnya denganku atau kamu bisa menanyai Ale jika dia tidur di kamar Ale. Ale anak kecil dia juga tidak bisa berbohong." Hans kembali meyakinkan Arum. Gadis itu merasa lega, jika dia tidak bisa bersama Hans, Zoya pun tidak boleh bersama lelaki yang membuatnya jatuh cinta itu. Arum mulai memeluk Hans membuat lelaki itu semakin gerah saat wajah gadis itu mendekat ke arahnya.
"Bersabarlah, saat ini aku tidak fokus untuk melakukan itu. Nanti kamu malah akan kecewa." jawab Hans kemudian membungkukkan tubuhnya ke depan dan mulai memainkan ponselnya.
"Baiklah, asal Zoya juga tidak mendapatkannya. " ucap Arum, sifat manjanya membuat egonya juga tinggi.
Setelah meredakan Arum, Hans mulai menanyai banyak hal tentang kampungnya, Kinanti, Deny bahkan Dandy.
Flashback On
__ADS_1
Hans menangkap sepasang mata yang menatapnya penuh kecewa. Zoya menatapnya bersama Arum saat dia menggandeng lengan Ale untuk masuk ke dalam rumah. Ale yang sudah mengantuk, meminta Zoya untuk menemaninya tidur.
Malam memang semakin larut membuat tamu satu persatu meninggalkan rumahnya, termasuk rombongan Deny dan Dandy yang dimintanya bermalam itu pun menolak.
"Sebaiknya kamu tidur dulu! Aku akan ke ruang kerja." ucap Hans meninggalkan Arum. Gadis itu tidak yakin jika Hans benar benar berada di ruang kerja, hingga membuatnya mengikuti Hans dari belakang.
Hans memang berjalan ke ruang kerja dan menutup kembali pintu ruangan setelah dia masuk ke dalam. Arum tersenyum lega, dia sendiri memilih masuk ke kamarnya karena sebenarnya tubuhnya sudah mulai lelah.
Setelah setengah jam berada di ruang kerja, Hans keluar dengan langkah mengendap seperti pencuri. Dia masuk ke kemar Ale dengan menyekap mulut Zoya agar tidak berteriak. tangannya menarik Zoya ke kamar seberang miliknya.
"Mas Hans ini apa-apaan? " ucap Zoya dengan sewot ke cemburuan membuatnya semakin kesal dengan suaminya.
"Please pakai ini, ya!" pinta Hans dengan mengeluarkan lingerie dari dalam paper bag yang susah dia siapkan di meja rias.
"Baju apaan ini? Aku tidak mau Mas Hans menyamakanku dengan Mbak Arum. Kalau mau, Mas Hans sama Mbak Arum saja! " Kali ini Zoya terlihat kesal, kalimatnya terdengar sangat sewot.
"Rela?" goda Hans membuat Zoya terdiam, bibirnya mengatup untuk menahan tangis.
"Please Zoya, ini sebenarnya sudah lama aku beli. Ini bill pembayarannya, cuma aku belum berani memberikannya padamu." Hans menunjukkan tanggal di kertas kecil itu.
Zoya tidak menjawab Hans, tapi dia hanya mengambil paper bag di tangan suaminya. Hans, tersenyum penuh kemenangan. Dia berharap Zoya tidak berubah pikiran setelah keluar dari kamar mandi.
"Mas, aku malu!" ucap Zoya dengan menyembulkan Kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
"Keluarlah, Zoy! Aku sudah pernah melihat semua sampai ke dalamnya juga." ujar Hans dengan mendekati kamar mandi. Dia membuka penuh pintu kamar mandi, di sana Zoya sudah berdiri kaku dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Meskipun, sudah pernah melihatnya tapi tetap saja di matanya Zoya terlihat lebih menggoda dengan lengerie tipis yang baru saja dia berikan.
Hans menggendong tubuh istrinya membuat wajah Zoya tersipu. Dengan memangku istrinya dia mendaratkan tubuhnya di sofa. Dia mulai memeluk tubuh yang saat ini berada di pangukuannya. Dagunya mendarat di bahu mungil membuat si pemilik sedikit berjingkat.
"Mas, aku tidak ingin keterusan. Mas Hans berdosa jika tidak berlaku adil pada Mbak Arum." ucap Zoya dengan merasakan geli saat ciuman itu sedikit bergeser di bahunya yang terbuka
"Aku tahu, lebih baik berdosa dalam waktu enam bulan dari pada seumur hidupku."
"Mas, jangan menantang dosa! " ujar Zoya mengingatkan.
"Diamlah! " Hans sangat terganggu dengan ocehan Zoya. Dia hanya ingin memeluknya saja tidak akan lebih. Beberapa jam Hans menikmati kebersamaan bersamaan istrinya, seperti ini sepertinya sudah cukup. Hingga beberapa jam.
"Zoy, aku akan mandi saja. Aku sudah tidak tahan dengan yang di bawah." ujarnya dengan meletakkan Zoya di sofa, membuat Zoya tersenyum tipis. Padahal Zoya sendiri sebenarnya juga menginginkannya, tapi dia tidak ingin melanggar permintaannya pada Hans untuk tidak melayaninya selama enam bulan.
__ADS_1
Bersambung.....