Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Pulang Kampung 02


__ADS_3

Setelah menghabiskan rokoknya di teras. Hans masuk ke dalam kamar. Pandangannya mengedar di sebuah kamar sempit tanpa kamar mandi dan di hiasi furniture yang sebagian sudah lapuk. Saat ini matanya fokus pada dipan yang berukuran separo dari tempat tidurnya. Seperti apa yang dia katakan sebelumnya, Ale sudah terlelap, bocah itu yang paling cepat tidur apalagi saat bersama Zoya. Hans memilih duduk di dekat Zoya yang masih meringkuk di dekat putrinya. Matanya kini terfokus pada sebuah rak buku


sederhana tapi buku buku itu di tata rapi.


"Kamu suka membaca, Zoy? " tanya Hans masih mengamati sampul buku yang berwarna warni.


"Iya, Mas... " jawab Zoya dengan pelan kemudian dia beringsut bangun. Sedangkan, Hans teringat kembali pada ustad yang sering membuatnya kesal. Ustad itu sepertinya sangat mengenal istrinya dengan cukup baik. Tidak mungkin dia hanya sebatas kenal. Dia yakin ada sesuatu diantara mereka.


"Mas...! " panggilan Zoya menyadarkan Hans dari lamunan.


"Ada apa? Mau? " Hans kembali menggoda Zoya dengan kalimat ambigunya.


"Ya Allah, Mas ini! " protes Zoya dengan tersipu malu. Zoya merasa suaminya berbeda dengan pertama kali dia lihat. Genit, karakter itu yang akhir akhir ini dia rasa.


"Mas... jika suatu saat Mas Hans bersama Mbak Naura, tolong lepaskan aku dulu! " lirih Zoya memberanikan diri mengatakan itu lagi.


"Aku tidak sebaik wanita lain yang bisa menerima jika di madu, Mas. " lanjut Zoya dengan suara parau. Jari jemarinya saling meremas di atas pangkuan. Sementara Hans menatap tajam ke arahnya, mencari celah dari mana keberanian itu berada.


"Jika aku memaksa? Apa kamu bisa melawanku. " tanya Hans membuat Zoya mendongak menatap mata tajam sosok di depannya untuk mencari maksud dari ucapan Hans.


"Seorang istri adalah tulang rusuk dari suaminya. Mas Hans bisa membayangkan jika tubuh seseorang tanpa tulang rusuk? Bukankah dia tidak akan bisa berbuat apapun. Jangan mengira seorang istri tidak bisa berbuat apapun. " jawab Zoya, hatinya sangat sedih, jika suatu saat dia harus pergi dari kehidupan lelaki itu. Itu artinya dia juga akan meninggalkan Ale dan Mama Shanti.


Sejenak Hans terdiam, tapi dia kembali tersenyum ke arah Zoya. "Aku tidak akan khawatir jika suatu saat aku pergi." Hans membingkai wajah ayu di depannya. Jari jempolnya mengelus lembut pipi kencang dan halus milik istrinya. Tapi bagi Zoya jawaban itu sangat menyakitkan.


"Geser sedikit. Ayo kita tidur! " mereka beringsut mencari posisi yang nyaman dengan kondisi tempat tidur yang sangat sempit. Zoya terlihat terjepit, diantara tubuh gembul Ale dan tubuh besar Hans. Gadis itu berbaring miring memunggungi suaminya sementara Hans memeluknya dari belakang dengan kaki yang ditekuk membuat dengkulnya sedikit bertumpu di atas kaki istrinya.


"Mas... "


"Hmmm.... " jawab Hans masih menikmati wangi rambut zoya yang berada tepat pada wajahnya.


"Jika kamu pergi. Tolong, lepaskan aku dulu. Aku tidak akan mau, jika di madu! " Mendengar kalimat itu kembali membuat Hans seketika mengeratkan pelukannya di tubuh zoya.


"Aku sudah bilang, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan dirimu! Jadi jangan mimpi kamu bisa menjauh dariku untuk bersama laki laki lain. Sudah jangan mikir aneh-aneh! Pergi itu bisa saja aku dipanggil Tuhan, jadi aku percaya kamu bisa menjaga Ale jika kamu merasa kuat. " bisik Hans dengan lirih. Dia sendiri masih memejamkan mata berharap dia cepat tertidur dengan merasakan hangatnya memeluk tubuh istrinya. Saat ini hanya itu yang bisa dia lakukan karena dia merasa Zoya belum siap untuk dimintai haknya. Meskipun saat ini, dia harus menahan si junior harus menegang saat bergesekan dengan bongkahan seksi bagian belakang dari tubuh Zoya.


###


Setelah dia merasa cukup mengambil daun singkong di belakang rumah, Zoya pun kembali masuk. Udara masih terasa dingin. Musim penghujan memang membuat hawa dingin dan lembab.

__ADS_1


"Bu, ini sudah cukup? " tanya Zoya saat mendapati ibunya di dapur.


"Iya sudah banyak. Oh ya, belikan ibu ikan Asin di tempat Mak Nung. "


"Iya, Bu. Tapi, kenapa Zoya tidak melihat Ale dan Mas Hans? " tanya Zoya pada ibunya.


"Ale pergi keliling kampung bersama Zahra. Kalau suamimu, katanya mau olahraga dulu, mumpung udaranya segar. " jawab Nurma masih mengulek bumbu untuk membuat Sayur daun singkong.


"Baiklah, Zoya pergi dulu, Bu!"


"Iya, hati-hati. Kalau ada yang ngomong nggak enak tidak usah di dengerin. "


Zoya tidak menjawab kalimat ibunya. Dia mulai berjalan menuju warung Mak Nung yang lumayan jauh. Sepeda yang di miliki ibunya hanya satu dan itu pun di pakai Zahra.


Zoya merapatkan sweeternya karena pagi yang memberikan hawa dingin dan embun pun masih menggantung di ujung jari-jari dedaunan. Zoya masih berjalan, sesekali dia menunduk untuk menyapa orang orang yang berpapasan dengannya. Pagi di kampung memang sudah terlihat ramai karena orang-orang harus berbondong-bondong pergi ke sawah, sedangkan banyak para istri yang sudah menyapu halaman atau belanja bahan yang akan di masak.


"Oh, Mbak Zoya... lama nggak pulang, Makin tambah cantik saja. " ucap salah satu diantara mereka yang melihat Zoya mendekat ke sebuah lapak tukang sayur.


"Harus cantiklah, Bu Heni. Dibela-belain nikah sama duda beranak." jawab Bu Martha.


"Jika tidak mencari kehidupan yang lebih enak, ya...rugilah, karena harus mau dikelonin sama laki-laki yang sudah bau tanah. " Kalimat tajam Bu Rindu sungguh sangat menusuk hati Zoya. Tapi, gadis itu hanya terdiam mendengarnya. Mereka sengaja mengeraskan suaranya untuk memprovokasi ibu-bu lainya agar tahu jika putri Bu Nurma menikah dengan seorang duda. Tapi, ada sebagian ibu-ibu yang tidak peduli dengan propaganda mereka.


"Nggak usah di dengerin, Mbak. Kalau kita boleh memilih jodoh, kita akan memilih yang terbaik diantara yang baik. Terkadang sifat iri seseorang bisa memutar balikan sebuah penilaian." ucap seorang wanita yang sangat dia kenal. Umminya Wildan sudah berdiri di dekat Zoya untuk membayar belanjaannya. Wanita paruh baya itu memang sangat mengenal Zoya. Dia tahu, Zoya gadis yang baik.


"Bu Nyai...! " sapa Zoya dengan mencium punggung wanita paruh baya itu.


"Ummi duluan, Mbak Zoya! " Umminya Wildan pun pergi. Sekarang tinggal Zoya yang membayar belanjaannya.


Langkah gadis mungil itu terlihat tergesa untuk sampai rumah. Dia juga masih sibuk menyeka air matanya dan menenangkan hatinya. Dia tidak ingin ibunya curiga jika sampai rumah.


"Bughhh.... " Zoya hampir terjatuh saat menabrak tubuh besar yang tiba-tiba menghadangnya.


"Ya Allah, Mas kenapa menghadangku? " gerutu Zoya.


"Dan kenapa pula tidak melihat jalan? " balas Hans, dia masih memegang bahu kecil Zoya. Iris matanya menatap mata lembab dan sedikit memerah di depannya.


"Aku - aku... " Zoya tergagap.

__ADS_1


"Kamu menangis. Kenapa menangis? Kenapa tidak membalasnya. Kamu senang suamimu di katain bau tanah? " Kalimat Hans terdengar tajam, dia memang masih menahan emosi karena mendengar ucapan orang orang di lapak sayur tersebut.


" Aku tahu, kamu tidak bodoh. Kenapa mau diperlakukan seperti itu? " lanjut Hans. Bukannya menjawab, Zoya malah memeluk tubuh tinggi atletis di depannya. Menumpahkan tangisnya yang sudah dia tahan karena sakit hati. Hans kembali terdiam saat terdengar isakan lirih Zoya. Bahkan dadanya pun terasa basah karena air mata yang meleleh.


"Ya Allah, kalian tidak tahu malu! Ingat ini di kampung. " Zahra turun dari sepeda bututnya, Ale yang membonceng di belakang pun heran bertemu Papa dan Mamanya di tepi jalan.


"Papa kenapa peluk-peluk mama? Jadinya mama nangis deh, nggak bisa belnafas. " bocah itu hanya bisa mengoceh. Kakinya diikat Zahra karena takut terkena ruji sepeda.


"Kamu bawa pulang titipan Ibu! Aku sama Mbakmu mau jalan-jalan dulu! " Hans mengambil kresek hitam di tangan Zoya dan menaruh di keranjang sepeda Zahra.


"Ada ongkos delivery, kan? " tanya Zahra. Gadis kelas satu Aliyah itu memang sangat berbeda dengan Zoya. Bahkan, sifat mereka bertolak belakang


"Seratus ribu. " jawab Hans.


"Dua ratus ribu. " tawar Zahra.


"Lima ratus ribu! " Hans menaikan tawarannya.


"Siap bos. Siap delivery. "


"Papa, Ale ikut Papa. " ucap Ale, saat tahu papa dan mamanya akan pergi.


"Kamu sama Tante Zahra! " bujuk Hans pada Ale.


"Berani berapa? " tantang zahra mendengar kalimat kakak iparnya.


"Satu juta dengan delivery! "


"Siaaapp... " jawab Zahra.


"Ale, ayo kita lihat air terjun. " bujuk Zahra membuat Ale berhenti merengek dan memilih ikut Zahra untuk melihat air terjun.


Zahra pun meluncur, dengan iming-iming uang satu juta untuk menjadi kurir merangkap baby sitter.


"Mas jangan memanjakan Zahra. " ucap Zoya merasa tidak enak karena adiknya seperti mencari kesempatan morotin kakak iparnya.


"Nggak apa-apa. Kan, baru kali ini. " jawab Hans. Mereka menikmati pagi dengan berjalan kaki menuju tempat yang dimaksud Hans.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2