
Hus hus cantik... yang belum cukup umur mohon menyingkir !
"Loh kok, kita ke apartemen? " tanya Zoya, Saat Hans menghentikan mobilnya di basemen sebuah apartemen di kota itu.
"Aku akan mengajakmu ke apartemenku. Ayo, keluar! " jawab Hans dengan mengajak Zoya untuk keluar. Sejenak Zoya terdiam, dia sebenarnya sudah sangat merindukan Ale.
"Zoya." panggil Hans dengan membuka pintu mobil untuk Zoya.
Zoya pun keluar. Tangan Besar itu menggenggam dan menggandeng tangan Zoya untuk masuk ke dalam lift menuju unit apartemennya. Tapi, sebelum lift tertutup ada dua lelaki muda dengan tampilan metropolis juga masuk ke dalam.
Sekilas, mata tajam milik Hans menangkap salah satu pemuda itu menatap istrinya dengan intens, membuat Hans yang sudah menampilkan wajah datar itu pun langsung menarik tubuh Zoya dalam rengkuhan lengannya. Zoya hanya mendongak, irish mata cantik itu menatap penuh tanya pada wajah yang sudah terlihat datar dengan pandangan lurus ke depan.
"Ada apa, Mas? " Pertanyaan itu akhirnya terlontar saat mereka berjalan menelusuri lorong menuju unit apartemen milik Hans.
"Aku nggak suka jika ada laki laki menatapmu seperti itu." jawab Hans dengan membuka pintu ruangan mewah yang hanya mempunyai satu kamar itu.
"Ya Allah, Mas. Orang punya mata, wajar saja jika dia melihat di sekitarnya." keluh Zoya dengan sikap Hans yang dirasa cukup aneh.
" Zoy, sudahlah. Aku nggak suka saja." dengus Hans dengan menarik tangan Zoya untuk lebih merapat. Lelaki yang kini sudah duduk di sofa itu pun merengkuh pinggang Zoya yang masih berdiri mengamati isi apartemen miliknya.
"Mas, kita pulang jam berapa? " tanya Zoya masih dengan semburat rona malu di wajahnya saat Hans menariknya untuk duduk di salah satu pahanya.
"Kita akan pulang besok. "
"Aku kangen Ale, Mas! " rengek Zoya membuat Hans seketika berdecih.
"Kenapa Ale terus? Kenapa kamu nggak pernah kangen aku, Zoy? " sungut Hans dengan mencium tangan Zoya yang sedari tadi di genggamnya. Seulas senyum manis itu terbit di bibir Zoya menanggapi sikap kekanak- kanakkan suaminya. Astaga, kali ini Hans tak jauh beda dengan remaja yang sedang jatuh cinta.
Zoya Pov
Aku melihat Mas Hans menjadi sosok yang berbeda. Sebelumnya, aku merasa Mas Hans tidak akan bisa menerimaku sebagai istrinya. Sikapnya selalu membuatku takut jika berhadapan dengannya. Tapi lambat laun, setelah aku mulai mengenalnya, dia memiliki karakter hangat di balik sikap emosionalnya. Bahkan, aku tidak pernah menyangka jika dia bisa bersikap genit.
Kebersamaan kami, naik turunnya rasa yang mengaitkan hubungan kami. Membuat aku terbiasa dan sedikit mengerti dirinya. Awalnya Aku juga takut, menikah dengan duda akan menjadi dilema di sepanjang hidupku, apalagi Mas Hans membawa satu anak hasil pernikahannya yang pertama. Tapi, justru gadis kecil itu membuatku jatuh cinta terlebih dahulu. Putri kecilku yang lucu, aku merasakan dia sudah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Aku tidak pernah menyangka jika aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan laki laki pilihan Ibu.
Hans mengeluarkan ponselnya memencet nama 'Mama'. Dia bermaksud ingin bicara dengan Ale .
"Mas aku duduk sendiri, malu dilihat Mama seperti ini. " tampik Zoya yang merasa enggan jika Mama Shanti atau Ale melihatnya duduk di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Diamlah! Aku akan menggoda si gembul." jawab Hans dengan menahan pinggul Zoya agar tidak merubah posisinya.
"Assalamualaikum, " Wajah Mama Shanti terlihat penuh di layar ponsel.
"'Waalaikum salam, Ma! " jawab Zoya.
"Ma, Ale mana? Zoya ingin bicara sama si gembul! " sela Hans dengan menongolkan sedikit wajahnya.
"Mamaaaa...!" pekik Ale langsung menggeser posisi omanya. Wajah bocah itu langsung terlihat menguasai layar ponsel omanya.
"Mama kangen Ale. " ucap Zoya.
"Mama kapan pulang? " tanya bocah itu.
"Ale, sudah diberi tahu Oma belum, kalau Papa sama Mama tidak pulang? " tanya Hans.
"Papa, jangan peluk-peluk Mama! Mama Zoya, cuma milik Ale. Hua...ha...ha...ha...hik...hik..hik." Ale mulai merengek dengan tangisan yang dibuat-buat.
"Loh, katanya mau adik bayi? " goda Hans.
"Ale, mau adek bayi. Tapi, jangan peluk-peluk Mama Zoya, Mama Zoya cuma milik Ale." teriak Ale dengan wajah manyun, membuat Hans tergelak melihat wajah lucu putrinya yang sedang merajuk.
"Ale, Mama sudah tidak dipeluk Papa. Ale jangan nangis lagi, ya? " bujuk Zoya. Zoya berjalan menyingkirkan dari Hans. Lelaki berhidung mancung itu masih tersenyum membayangkan wajah kesal putrinya.
"Ale, nanti bobo sama Oma, ya? Besok Mama sama Papa baru pulang. " ucap Zoya masih membujuk Ale.
"Iya, Ma. Tapi, pulang bawa dedek bayi, ya? "" pinta Ale membuat Zoya menautkan kedua alisnya, bingung harus menjawab apa.
"Sayang, Mama tutup dulu ya. Assalamulaikum" Zoya langsung menutup telpon takut bocah itu meminta yang aneh-aneh lagi. Setelah mengakhiri percakapan dengan putrinya, Zoya menyerahkan kembali ponsel milik Hans.
"Zoy, mau makan apa? " Hans bermaksud akan memesan makanan.
"Aku lagi malas makan, Mas! "
"Zoya, siang tadi kamu belum makan! " Hans menatap tajam ke arah istrinya.
"Terserah Mas Hans mau pesan apa. " sahut Zoya, kemudian masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Setelah solat magrib bersama, Zoya merasa sangat lelah dan ingin merebahkan tubuhnya untuk sejenak. Sedangkan, Hans keluar untuk menunggu pesanan makanan
Hanya sejenak dia membaringkan tubuhnya, Rasa gerah membuat Zoya kembali bangkit. Di luar, hujan mulai turun dan kilatan petir membuat suasana sedikit mencekam. Meski begitu, dia memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Setelah menerima makanan yang dia pesan, Hans mencari Zoya. Hans membuka pintu kamarnya dengan tergesa, seketika pula Zoya terjingkat kaget saat membuka lemari pakaian untuk mencari kemeja Hans yang akan dia kenakan untuk ganti.
Wajah Zoya seketika memerah, saat tatapan tajam itu enggan beralih dari dirinya. Hans melangkah mendekati tubuh yang mengeksplore kulit bahu dan paha mulus Zoya.
Tubuh Zoya semakin gemeteran, saat tangan besar Hans menyentuh lengan bahunya. Ada ketakutan, saat tubuh besar itu memojokkan nya hingga terhimpit dengan badan lemari.
"Mas... " lirih Zoya dengan suara parau. Ada rasa takut yang kembali hinggap karena mengingat kejadian tragis malam itu.
"Kumohon, Zoy! Aku akan melakukannya dengan lembut." Hans kembali meyakinkan Zoya. Jari-jari besarnya mengusap keringat di wajah Zoya. Berlahan, sentuhan sensual itu membuat Zoya merinding. Saat rasa takut melanda hatinya, rangsangan dan rasa berdosa jika menolak untuk melakukan kewajibannya membuat Zoya membiarkan Hans memainkan jari jarinya di setiap inci kulit tubuhnya.
"Percayalah, Aku tidak akan menyakitimu. " Suara berat Hans kembali meyakinkan Zoya sebelum melabuhkan ciumannya di bibir istrinya. Ciuman lembut hingga berganti ******* itu di lakukan Hans bersamaan dengan menggendong Zoya menuju tempat tidur.
Dengan semua rasa yang membuncah dalam hatinya, Zoya berusaha menerima apa yang dilakukan suaminya. Hans menanamkan wajahnya di ceruk putih itu, menimbulkan sebuah ******* yang tertahan.
"Jangan menahannya, Sayang. " bisik Hans, sedikit mengomando tatkala dia tau jika Zoya sudah terhanyut dalam permainannya. Aroma vanila yang menguar dari tubuh Zoya membuatnya semakin mabuk kebayang.
Ciuman itu berlahan turun di leher kemudian tengkuk putih itu, beberapa tanda merah berhasil dia tinggalkan di antara tengkuk dan tulang selangka istrinya. Lelaki yang sudah dikuasai hasratnya itu merasa gemas dengan setiap inci dari tubuh istrinya.
"Aaaakkkhhh... " Zoya mendesah lepas saat bibir tipis itu menggigit pelan tulang selangkanya bersamaan remasan lembut di gundukan dada kenyal yang membusung indah. Meski, sempat merasa ngilu di dadanya tapi rasa nikmat itu sudah membalur lebih sempurna.
Permainan yang di lakukan Hans memang cukup lembut, melupakan rasa trauma yang pernah ada. ******* dan lenguhan yang saling bersahutan menyambut petang mereka untuk saling bertukar kenikmatan.
Hans memeluk tubuh mungil yang terkulai lemas itu dengan posesive. Sebenarnya, sejak malam pertama yang tragis itu. Hans selalu tersulut hasrat saat harus berdekatan dengan Zoya, kilatan kenikmatan yang pernah dia rasakan membuat otaknya selalu traveling saat bersentuhan dengan tubuh yang selalu dia damba itu. Tapi sore ini dia sudah tidak bisa menahannya hingga dia mengesampingkan trauma psikologis istrinya untuk berhubungan intim.
"Terima kasih, Sayang. " bisiknya sembari mencium puncak kepala Zoya setelah mengakhiri kegiatan panas mereka. Hans merasa lega saat berhasil memberi rasa nikmat pada istrinya. "Itu artinya aku sudah tidak harus menahannya lagi. " gumamnya dalam hati dengan smilrk licik di sudut bibirnya.
Sebuah notifikasi ponselnya terdengar, membuat lengan panjangnya terjulur mengambil benda pipih itu di atas nakas.
Berhentilah menangani kasus pemerkosaan dan pembunuhan yang di lakukan Mahasiswa KKN itu.
Sebuah pesan dari nomer yang tak dikenal membuat Hans terdiam. Dia kemudian mencoba menghubungi nomer tersebut tapi ternyata sudah tidak aktif lagi.
Helaan nafas kasar dari Hans membuat Zoya membuka matanya. Dia mendongak menatap wajah serius suaminya.
__ADS_1
"Tidak ada masalah, istirahatlah sejenak." ucap Hans kemudian mengenakan boxernya dan menghilang dari balik pintu kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bersambung....