Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Cinta Menolak Tua(Extra Part)


__ADS_3

"Gus, kemana Nilla? Kenapa kamu yang membersihkan ruangan?" tanya Ummy Maryam saat mendapati putranya menyapu ruang tamu. Raut wajah tidak senang bisa terlihat jelas di wajah wanita berumur itu ketika putra kesayangannya melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Mungkin Nilla masih merapikan kamar, Ummi." jawab Wildan mengakhiri kegiatan. Padahal, dia tahu Nilla sedang mengerjakan tugas kuliah.


"Baiklah, biar Ummi yang akan membuat sarapan. Jam segini seharusnya Nilla mengurus dapur terlebih dahulu, biar kalian tidak telat sarapan." Nilla yang mendengar kalimat Ummi Maryam pun secepatnya menyelesaikan tugasnya yang akan dikirim ke dosen lewat email.


Pagi ini berbeda bagi Wildan dan Nilla. Situasi menegang. Kedatangan Ummi Maryam menghilangkan kesan santai di rumah Minimalis milik lelaki yang selalu memanjakan istrinya itu. Bagi Wildan, pada hakikatnya semua memang tugas suami, hal itulah yang membuat Wildan tidak terlalu menuntut Nilla.


"Gus, seandainya kamu nurut untuk kami jodohkan dengan Mayra, mungkin kamu tidak perlu memegang sapu!" Kalimat Ummi Maryam membuat Nilla berhenti di depan kamarnya. Dia mencoba mendengarkan kembali obrolan Ummi dan suaminya secara utuh.


"Jangan begitu, Ummi! Mungkin kita saja yang tidak berjodoh." sahut Wildan yang sedang menunggui umminya memasak.


"Mayra, gadis yang cantik, hafizdoh pula. Abahnya juga punya pondok pesantren. Bahkan, dia selalu sikapnya selalu lembut dan sopan. Bagi Ummi, Mayra seperti titisan bidadari surga." Ummi Maryam seolah mengungkapkan kekecewaan karena batal menjadikan Mayra menantu.


Wildan berdiri dari duduknya, dia tahu sudah mengecewakan ummi dan abahnya karena menolak akan dijodohkan dengan Mayra.


"Ummy, itu artinya Mayra bukan jodoh Wildan." ucap Wildan pada Ummi Maryam, kedua tangannya memegang bahu Ummi dengan begitu lembut, seolah memberikan pengertian yang menenangkan.


"Putri Ummi sekarang Nilla. Apapun kekurangan Nilla, Wildan harap Ummi bisa membimbingnya dengan kasih sayang." Wildan memang lelaki yang lembut, dia juga tidak bisa berpihak jika keduanya punya perbedaan, karena satu sisi ibunya dan satu sisi istrinya.


"Iya, Ummi bilang, kan, seandainya." Sebagai seorang ibu, Ummi Maryam sudah sangat mengenal putranya, Wildan yang lembut tapi selalu kokoh dengan pendirian dan selalu mempertanggung jawabkan segala keputusannya.


Nilla hanya bisa meremas gamis bagian samping, Matanya pun sudah memanas menahan tangis yang masih saja dia tahan. Rasanya cukup menyakitkan jika harus diperbandingkan dengan orang lain. Dia kembali berfikir jika pernikahan ini seperti sesuatu yang sangat dipaksakan.


Nilla kembali ke kamar saat dia tidak bisa menghentikan air matanya yang berlahan menetes. Hatinya seolah seolah tertusuk ribuan sembilu yang sangat menyayat.


"Aku ini memang buruk, bapakku memang hanya sekretaris desa, bukan seorang kyai. Tapi, hatiku sakit jika diperbandingkan seperti ini." gumam Nilla dalam hati. Wajahnya menunduk, matanya terus saja meneteskan butiran air yang sulit untuk dia hentikan. Dadanya terasa sesak.


"Nil... " panggil Wildan. Nilla langsung saja mengusap air matanya. lelaki yang masih merasa heran itu pun berjalan mendekati istrinya. Wildan tidak mengerti kenapa istrinya sampai menangis.


"Nil, kenapa?" tanya Wildan saat berada di samping Nilla. Perempuan, itu menggeleng menahan nafas agar tidak terisak.


"Katakan pada Abang, Nil? Kamu boleh marah sama Abang, tapi jangan sembunyikan apapun pada Abang." Mendengar kalimat itu membuat tangisnya malah semakin tergugu. Begitu baiknya suaminya, tapi dia tidak pernah berbuat baik padanya.


Perasaan yang bercampur aduk membuat Nilla, tidak bisa lagi membendung ledakan tangisnya.


"Sayang...!" Wildan memberanikan diri menggumamkan panggilan sayang. Dia memeluk istrinya yang masih tergugu, serta mengusap bahu yang masih masih terguncang.


"Pernikahan kita sepertinya salah." ujar Nilla saat berada dalam rengkuhan lengan kekar itu. Tentu saja itu membuat Wildan terkaget, meskipun begitu, dia masih berusaha tenang.


"Abang, merasa kamu pilihan yang tepat buat Abang. Dan, Abang sudah meyakinkan itu dengan petunjuk Allah. Ya, semoga itu memang petunjuk dari Allah." Wildan mulai mengerti kemana arah pembicaraan Nilla. Tapi, dia ingin Nilla sendiri yang bercerita.


"Ummi tidak menyukaiku, Bang. Aku tadi sudah mendengar pembicaraan Ummi dengan Abang." lirih Nilla.


"Nil, Ummi belum mengenalmu saja, makanya Ummi bicara seperti itu."


"Bukankah yang penting aku yakin jika kamu yang terbaik buat, Abang." Wildan menghapus air mata Nilla. Dia merasa kasihan karena mungkin ucapan umminya yang tidak sengaja sudah melukai hati istrinya.

__ADS_1


Mendengar kalimat Wildan membuat Nilla menatap ke arah suaminya. Lelaki itu seolah membuat Nilla kembali yakin akan keputusannya menikah dengan sosok di depannya.


"Ayo kita keluar! Nggak enak sama Ummi." setelah menghapus air mata istrinya, Wildan menggandeng Nilla keluar dari kamar. Mereka menghampiri ummi Maryam yang sudah menatap hidangan di meja makan.


"Ayo, sarapannya sudah matang. Biasakan sarapan, sebelum kalian beraktifitas." ucap Ummi Maryam saat melihat kehadiran anak dan menantunya di dekatnya.


"Maaf, jadi merepotkan Ummi." ucap Nilla saat mereka sudah duduk di meja makan.


"Kalau ada Ummi tidak apa apa. Tapi, Ummi harap kamu bisa membiasakan diri menyiapkan sarapan dengan tepat waktu." Wejangan Ummi Maryam membuat Nilla mengangguk, meski dia merasa tersentil dengan ucapan mertuanya.


Setelah membaca doa mereka melanjutkan sarapan bersama, mood Nilla yang sudah tidak bagus membuat gadis itu enggan menelan makanannya.


"Nil, banyak makan protein biar kamu cepat isi." Ummi Maryam meletakkan daging dan beberapa udang di piring menantunya kala melihat Nilla hanya mengaduk nasinya.


Ummi Maryam sendiri, memang orang yang tegas, dia selalu bicara apa adanya. Bahkan, beliau juga punya karakter yang otoriter, tapi karena Wildan memang sudah tidak bisa di bujuknya untuk menikahi Mayra, Beliau memilih mengalah.


"Terima kasih, Ummi." jawab Nilla.


Setelah itu suasana hening kembali. Hanya dentingan sendok dan piring yang saling beradu yang terdengar di ruangan itu.


"Nil, Ummi tahu kamu juga sibuk kuliah. tapi Ummi pesan, kamu tidak akan melupakan jika saat ini kamu sudah mempunyai suami." Ummi Maryam meletakkan kembali sendoknya, setelah dia menyelesaikan sarapannya. Lagi lagi, Nilla hanya mengangguk.


"Oh ya, jangan menunda kehamilan dengan alasan kamu masih kuliah, Kalau sudah memutuskan menikah berarti kalian sudah berfikir dengan konsekuensinya." Kalimat kalimat tajam Ummi Maryam membuat Wildan meraih tangan Nilla. Di balik meja makan, Wildan menggenggam tangan istrinya, berharap kalimat Umminyya tidak dimasukkan ke dalam hati.


"Ummi, jangan khawatir. Insyallah jika rejeki pasti akan kami terima." sebelah tangannya menggenggam tangan istrinya dan satunya menjulur menggenggam lengan kriput itu. Wildan bisa mengerti, mungkin ini ungkapan rasa kecewa umminya karena dia sudah menolak untuk dijodohkan dengan Mayra. Padahal, keluarga Arsyad ( Keluarga besar Wildan) Sudah menggadang gadang ingin mengambil menantu putri dari pemilik pesantren tahfizdul Qur'an itu. Pendekatan mereka sebenarnya sudah lama, hanya saja saat itu Wildan terlihat belum tertarik untuk menikah, dia masih sibuk dengan pendidikan dan urusannya.


"Maafkan Wildan, Ummi! Wildan sudah banyak mengecewakan Ummi." Pemilik wajah teduh itu berusaha untuk tidak membuat umminya semakin kecewa dengan mengakui semua kesalahannya.


Sarapan kali ini seperti penghakiman untuk Wildan. Dia memang memutuskan pergi ke kota ini hanya untuk mengobati luka hatinya, saat ditinggal menikah oleh Zoya. Tapi, kenyataannya, semesta bicara lain. Dia bertemu kembali dengan Zoya dan Nilla di kota ini.


###


Sedari tadi Zoya hanya cemberut saja saat mendengar keputusan suaminya akan pergi pergi ke Bali. Dia hanya duduk selonjoran dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Sejak hamil Zoya merasa tidak bisa terlalu lama jauh dari suaminya. Setiap kali, dia ingin selalu melihat wajah Hans. Belum lagi, setiap malam dia tidak bisa tidur, sebelum Hans memijit kakinya.


"Sayang, please deh. Hanya dua malam saja aku di bali."


"Aku juga butuh bertukar wawasan juga dengan perkembangan hukum saat ini." bujuk Hans saat berbaring melintang dan meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya. Setiap kali, dia mencium perut yang sedikit menonjol di sebelah wajahnya, seolah menyapa kedua Hans junior di sana.


" Apa Mas Hans akan pergi dengan Sekretaris itu?" tanya Zoya dengan menunduk, rambutnya yang tergerai pun sebagian terjatuh di wajah suaminya.


"Boleh?" goda Hans dengan mencium wangi aroma rambut panjang dan lurus milik istrinya.


"Apa Mas Hans tega meninggalkan istri hamil bersama perempuan lain untuk pergi ke Bali?"


"Kalau istrinya mengizinkan, tentu akan aku lakukan dengan senang hati!" jawab Hans dengan senyum samar.

__ADS_1


"Mulai deh, menyebalkan!" sungut Zoya membuat Hans terkekeh, dia memang paling suka membuat istrinya cemberut. Hans tau, jawabannya akan membuat Zoya merasa kesal. Dan itu sangat menyenangkan baginya.


"Cemburu, ya?" ledeknya dengan mencubit pipi cabi istrinya.


Zoya terdiam, dia tidak tahu lagi bagaimana mengungkapkan isi pikirannya saat ini. Tentu saja dia sangat cemburu, tapi Zoya tidak ingin di bilang terlalu posesif.


"Tok... tok...tok... "


"Ma, Ale mau tidur di sini saja, dengan adek bayi." ucap Ale saat masuk ke dalam kamar mereka. Hans hanya menoleh ke arah Ale yang berjalan mendekat.


"Permisi Papa! Dengan gaya santainya Ale berucap permisi saat melompati tubuh papanya yang sedang berbaring melintang. Kemudian mendorong tubuh besar itu menjauh dari perut Zoya.


"Apa apaan kamu, Al." ucap Hans sewot saat posisinya di rebut Ale. Bocah yang saat ini berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan Zoya, lalu mencium perut Zoya dan melingkarkan tangannya di pinggang mamanya.


Melihat tingkah putrinya Hans mengambil bantal dan meletakkannya di atas tulang kaki istrinya untuk berbaring. Tidak mau kalah dengan Ale keduanya tidur berjajar dengan kepala di atas kaki Zoya.


"Sayang, kalau permisi itu juga nggak hanya di ucapan. Tapi, Kak Ale harus menunggu Papa untuk geser." jelas Zoya dengan mengusap rambut putrinya.


"Iya, Mama!"


"Maaf, Papa!" ucap bocah itu menoleh sekilas ke arah papanya, tapi kemudian memeluk kembali perut Zoya.


"Ale di belai, akunya kok nggak?" protes Hans membuat Zoya tersenyum. Terkadang suaminya memang bertindak layaknya anak kecil.


"Mas Hans, kan, sudah tua." lirih Zoya.


"Please deh, Zoy. Hindari kata itu! Lagian cintaku, cinta kita akan menolak tua." elak Hans, bagi lelaki itu tidak akan ada batasan usia untuk mencurahkan cinta. Meskipun itu akan tersampaikan dengan cara yang berbeda.


"Tidak ada kata tua untuk cinta." lanjutan ya lagi untuk lebih meyakinkan istrinya.


"Ma, Ale ingin adik cewek dan cowok." ucap Ale menghentikan perdebatan kedua orang tuanya. Bocah itu masih berimajinasi dengan kedua adiknya yang akan lahir.


"Mau cowok atau cewek sama saja. Kak Ale harus tetap sayang sama kedua adiknya nanti ya?" Zoya memang mulai memasukkan pemikiran pemikiran bagaimana hubungan sebuah persaudaraan. Meskipun, mereka beda Ibu, tapi Zoya berharap mereka akan selalu menjadi saudara yang saling menyayangi tanpa pembeda.


"Ya ampun, apaan apaan kalian ini!" teriak Mama Shanti, saat melihat pemandangan yang baginya tidak wajar.


"Mana bisa seperti ini. Ya Allah, Zoya itu kecil, di perut ada dua bocah, yang dua malah tiduran di kaki mana kalian besar besar."


"Apalagi kamu Hans, nggak kasian apa sama istrimu?" Mama Shanti kembali mengomel. Dia begitu kesal saat melihat putranya tidak mau kalah merebutkan Zoya.


Wanita Paruh baya itu pun duduk di samping Zoya. Mengelus perut menantunya. Beliau tersenyum, beliau memang merasakan ada sensasi tersendiri saat menyentuhnya.


"Ihhh Oma, pegang adeknya jangan lama lama." Protes Ale yang merasa terganggu saat posisinya tidak nyaman dengan keberadaan tangan omanya.


Biasanya mereka menghabiskan waktu sebelum tidur di depan televisi, tapi kali ini mereka sedang menikmati dengan pendeteksian calon anggota baru keluarga jagad.


TBC

__ADS_1


Thanks u kak yang masih nunggu RCZ. Kita selesaikan sampai akhir bulan ya... hehehe Semoga tidak bosan.


__ADS_2