
"Brrraaangghh... " Hans berjingkat kaget, saat terdengar suara barang pecah. Lelaki itu lari tunggang langgang menuju kamar lamanya yang menjadi terjadinya sumber suara tersebut.
Hans membuka pintu kamar. Terlihat, Zoya sudah berjongkok, dia akan memunguti pecahan gelas yang terjatuh dari nakas.
"Awas, Zoy! " pekik Hans saat tangan Zoya akan menyentuh kabel lampu tidur yang sudah terguling ke bawah. Zoya pun mematung sejenak dengan menoleh ke arah suaminya. Tubuhnya gemetaran dengan keringat yang membasahi sebagian wajahnya.
Hans mendekat, dia mengembalikan posisi lampu. Dan mengumpulkan pecahan gelas untuk di buang.
"Sayang, ...! " Shanti membantu Zoya berdiri. Tangan Zoya masih dingin dan lembab. Hans kembali memperhatikan raut tegang di wajah Zoya.
"Hans, ambilkan Zoya air Putih! " titah Shanti menghentikan putranya yang sedang membereskan pecahan kaca.
Hans menyerahkan gelas berisi air putih pada mamanya. Dia juga melihat Zoya sedang mengusap keringat yang membasahi dahinya.
"Kenapa, Zoy? " tanya Mama Shanti.
"Zoya mimpi buruk, Ma. Maaf, aku tidak sengaja menyenggol gelas dan lampu. " jawab Zoya dengan menyerahkan kembali gelas yang isinya tinggal separo.
"Hanya mimpi, Zoy. Mungkin karena pikiranmu sedang tertekan. " jawab Shanti, dia takut mimpi Zoya akibat dari perasaan yang tertekan dan stress.
Zoya terdiam, mimpi itu seperti melekat di otaknya (orang jawa bilang tindihen). Tapi, mungkin saja itu hanya bunga tidur. Zoya menatap jam yang menggantung di dinding. Baru Jam Sepuluh itu artinya belum lama dia tertidur.
Suara ponsel Zoya berbunyi, membuat semuanya menoleh ke arah meja yang ada di dekat jendela. Zoya memang menaruh ponselnya di meja tersebut. Shanti pun keluar dari kamar dengan membawa kembali gelas air putih.
"Aku akan mengambilkannya. " Hans berjalan untuk mengambilkan ponsel untuk Zoya. 'Gus Wildan' nama yang tertera di layar ponsel Zoya, membuat hati Hans kembali gusar. Tapi, dia sudah berjanji untuk menahan perasaan yang bisa menyulut emosinya.
"Assalamualaikum, Bang? "
"Waalaikum salam. Maaf, mengganggu Zoy. Aku boleh minta tolong? " tanya Wildan dari seberang.
"Iya, apa yang bisa aku lakukan? " tanya Zoya.
"Aku tahu kamu sangat pandai membuat kaligrafi. Bolehkah, aku minta dibuatkan satu? "
__ADS_1
"Insyallah, maaf besok kita sambung lagi ya. Assalamualaikum. " Zoya langsung menutup panggilan Wildan. Dia langsung menyandarkan tubuhnya yang masih terasa lemas. Mimpi buruk seperti masih mempengaruhinya.
Hans menyandarkan kepalanya di badan sofa. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Dia merasakan nyeri di bagian hatinya, ternyata Zoya masih berhubungan baik dengan lelaki yang menaruh hati padanya. Mungkinkah, Zoya memang merasa nyaman dengan lelaki itu? Hans menghela nafas kasar. Dia hanya bisa berpasrah pada keberuntungannya.
"Sebaiknya, kamu tidur lagi. Ini sudah mulai larut. " ucap Hans saat melihat Zoya bersandar di kepala ranjang. Zoya pun melorotkan tubuh dan menarik selimutnya, setelah apa yang diucapkan suaminya.
Sementara, Hans merebahkan tubuhnya di sofa. Dia tidak tega meninggalkan Zoya sendiri. Meskipun, dia sendiri merasa gelisah dengan kedekatan Zoya dan ustad muda itu. Ternyata, sesakit ini cemburu? Merasa orang yang kita sayangi merasa nyaman dengan orang lain.
###
Seperti apa yang sudah di sepakati. Sore itu, Setelah kursus memasak, Zoya pergi ke sebuah kafe untuk bertemu dengan wildan. Cuaca tak menentu membuat sore ini terlihat mendung. Gadis berkerudung ungu itu masuk ke dalam kafe. Pandangannya mengedar, mencari sosok yang pernah dia kenal baik itu. Bahkan, mungkin pernah menghuni hatinya.
Dengan seulas senyum tipis yang melekat di bibirnya, dia tersenyum ke arah lelaki yang melambaikan tangan ke arahnya. Langkahnya mendekati meja yang ada di sudut pojok. Di sana, Wildan sudah duduk menunggunya.
"Assalamualaikum, Bang. " sapa Zoya.
"Waalaikumsalam. Silahkan duduk. " jawab Wildan. Lelaki itu tetaplah sosok santun yang dulu sempat menarik perhatiannya.
"Baik, Bang. Mana Nelli? " tanya Zoya merasa tidak enak karena harus bertemu Wildan berdua saja.
"Bang, lain kali jika kita bertemu sebaiknya ajak teman. Aku tidak ingin menimbulkan Fitnah. " ucap Zoya.
"Maaf, Zoy. Aku memang sengaja. Selain menyerahkan bahan untuk membuat kaligrafi. Aku juga ingin membicarakan sesuatu yang lebih pribadi." jelas Wildan. Lelaki itu menyerahkan kantong plastik berisi peralatan untuk membuat kaligrafi.
"Zoy, apa suamimu selalu bersikap kasar padamu? " tanya Wildan langsung ke inti.
"Dia memang emosional. Tapi Mas Hans tidak pernah memukulku. Dia lelaki yang cukup baik. " jawab Zoya. Seketika uraian tentang sosok yang pernah dia impikan kembali menghampiri. Hans memang bukan lelaki impiannya. Tapi, ada sebuah rasa yang dia tidak mengerti telah mengikatnya dengan lelaki yang saat ini menjadi suaminya.
"Kamu bahagia, Zoy ?" tanyanya lagi. Zoya rasanya semakin dilema dengan perasaannya.
"Bang, jangan teruskan pertanyaan itu. Aku takut kita akan menjurus ke perselingkuhan. " Zoya seperti menstop perasaan dan impian yang dulu pernah ada.
"Aku hanya memastikan dirimu bahagia. Aku hanya ingin kamu hidup dengan lelaki yang sepantasnya. Lelaki yang bisa menerima dan memperlakukanmu dengan baik. "
__ADS_1
"Stop, Bang. Sekarang, aku mau tanya. Apa definisi selingkuh?"
"Ada beberapa versi orang mendefinisikannya. Ada mendefinisikan, hanya dengan memikirkan laki laki lain lebih intens bisa di katakan selingkuh. Ada pula yang mendefinisikan, mereka yang hanya menjalin silaturahmi secara intens yang bubuhi rasa suka bisa dikatakan selingkuh. Ada pula yang setelah kontak fisik baru di katakan selingkuh. " jelas wildan.
"Aku tidak ingin masuk ketiganya, Bang. " sela Zoya dengan tegas membuat Wildan terbungkam. Zoya hanya tidak ingin ada sosok lain mengusik ketenangan hati dan rumah tangganya meski itu hanya masa lalu.
"Apa itu artinya?.... "
"Iya, Bang. Aku menerima pernikahanku dengan tulus. Mas Hans, lelaki terbaik yang diberikan Allah padaku. Mungkin, dia memang jodohku. Jadi, aku tidak ingin kita menempatkan perasaan yang salah. " Seketika bahu bidang lelaki kalem itu pun meluruh.Terlihat raut wajah kecewa di antara guratan garis wajah ganteng sang ustad. Dia tidak pernah menyangka, secepat itu Zoya bisa menerima pernikahan itu. Sementara, dia tahu perempuan di depannya mampu menyimpan perasaan cinta selama bertahun tahun untuknya.
"Maaf, Bang. Perasaan dan impian itu hanya masa lalu. Dan salah, jika itu masih ada untuk saat ini. " lirih Zoya dengan tegas.
"Baiklah, Zoy. Aku faham. Semoga kamu selalu bahagia. Karena, itu pantas untukmu." Saat ini, Wildan sudah kehilangan semua harapannya.
"Zoy, bolehkah aku menyanyikan satu lagu untukmu? untuk terakhir kalinya. " pinta Wildan.
"Memang boleh? Katanya haram bermain musik atau menyanyi. " sela Zoya.
"Bagi sebagian orang. Sementara, aku tidak mengikuti faham itu." jawab Wildan kemudian berjalan menuju panggung. Mengambil sebuah gitar dan mempersembahkan sebuah lagi yang diciptakan oleh Melly goeslow 'Ketika Cinta Bertasbih'.
Mungkin mereka tidak menyadari jika sedari tadi sepasang mata tajam sudah memperhatikan mereka dari pojok yang berbeda. Terlebih gadis berkerudung ungu yang duduk memunggunginya.
Beberapa kali Hans menghela nafas panjang, untuk mengendalikan emosinya. Dia sedang menyadari jika hubungannya bersama Zoya sangatlah buruk. Biasanya istrinya akan meminta izin saat akan pergi ke mana pun. Sekarang, Zoya tidak lagi melakukannya. Hal itu pula yang membuatnya miris selain mendengar lagu yang sedang di nyanyikan ustad itu untuk istrinya.
"Bagaimana, Hans? " pertanyaan Pak Indrawan menyadarkan lamunan lelaki berwajah cool itu.
"Boleh, Kyara bisa masuk ke kantorku kapan pun yang dia inginkan." jawab Hans. Pak Indrawan menitipkan putrinya yang baru saja lulus fakultas hukum dari University of Oxford. Beliau berharap, Kyara mencari pengalaman sebanyak banyaknya terlebih dahulu untuk menggantikan posisinya mengurus kantor firma hukum miliknya.
Bersambung....
liriknya di tempel sebab othor males ngetik
__ADS_1