Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Rahasia Cinta Zoya


__ADS_3

"Aku khawatir saat tahu kamu menghilang. " Hans menjatuhkan wajahnya pada wajah putih di bawahnya. Kulit wajah keduanya pun menempel dengan sedikit kecupan lembut dari bibir Hans di kelopak mata Zoya.


"Papa, kenapa mencium mata Mama? " suara Ale mengagetkan keduanya. Bocah itu menatap Zoya dan Hans penuh tanda tanya, yang dia tahu mencium itu di pipi atau di kening. Dua orang dewasa itu dibuat gelagapan saat bocah gembul yang tiba tiba terbangun itu menatapnya.


"Biar Mama nggak jadi nangis! " seloroh Hans asal-asalan. Terlihat wajah Zoya langsung merona, dia seperti orang yang kepergok me**m.


"Pasti Papa yang bikin Mama nangis? " Ale langsung bangun dan tangannya memisahkan pelukan lengan Hans dari pinggang Zoya. Bocah itu selalu beranggapan Hans akan menyakiti mamanya.


"Ale ini anak siapa, ya? " Hans mulai sewot karena sejak kejadian kemarin, putrinya itu selalu menganggap dirinya buruk jika berkaitan dengan Zoya. Dia kembali melingkarkan lengannya di pinggang Zoya, sedangkan Ale juga tak mau kalah, dia memeluk Zoya dengan posesive.


"Huuufffhh dasar gembul! " Hans mencubit gemas pipi Ale, kemudian bangkit dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Zoya melirik jam yang ada di dinding kamar, sudah pukul empat sore, dia akan memandikan Ale di kamar mandi belakang saja.


"Sayang, Ale mandi di belakang ya? Kamar mandinya lagi di gunakan papa. " tawar Zoya yang langsung diiyakan Ale. Zoya dan Ale keluar dari kamar, nampak mama mertuanya sedang duduk di sofa sambil memijat kepalanya.


"Mama kenapa? " tanya Zoya kemudian menghampirinya bersama Ale.


"Oma sakit? " bocah itu pun ikut menanyakan keadaan omanya. Tampak rasa cemas di raut wajah Ale.


"Kepala Oma pusing, Sayang. " Mendengar kalimat mertuanya Zoya mengambil duduk di samping Shanti.


"Mama, butuh apa? Zoya buatkan jahe anget, ya? " tawar Zoya.


"Nggak usah, Zoy. Mama hanya ingin kamu tetap jadi mantu Mama, apapun yang terjadi. " Shanti memeluk Zoya sambil menangis, dia takut Zoya akan meninggalkan Hans karena dia mengira anak dan menantunya sedang bertengkar karena perselingkuhan putranya. Ale masih memandang bingung Omanya yang sedang memeluk Zoya sambil menangis.


"Ada apa ini? Kenapa ada drama nangis-nangis segala? " Suara bariton Hans membuat Shanti meregangkan pelukannya. Dia menatap putranya penuh dengan rasa kesal. Hans yang masih berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana pendeknya itu menatap aneh mamanya yang terlihat galau.


"Mama hanya ingin Zoya yang jadi menantu Mama! " ucap Shanti, tangannya kembali memeluk Zoya. Seperti takut Zoya akan meninggalkannya.

__ADS_1


"Mama ini jangan hiperbole, deh! " Hans mendekat ke arah Zoya, dari belakang tangan besar Hans membingkai wajah Zoya, kemudian menyandarkan kepala Zoya di pinggangnya.


"Zoya akan tetap jadi mantu Mama. Iya, kan Zoy? " Hans mendongakkan sedikit wajah yang terbingkai dengan kedua telapak tangannya. kemudian dia menundukkan tubuhnya untuk memberikan kecupan lembut di hidung mungil Zoya agar mamanya percaya jika hubungan mereka baik baik saja.


"Mama Zoya hanya punyanya Ale! " Bocah gembul itu langsung menghambur di pangkuan Zoya. Tatapan tajam tertuju pada Hans.


"Papa jangan mencium Mama telus! " lanjut Ale melayangkan protes dengan memeluk Zoya. Wajah Zoya yang memerah pun langsung tertunduk menahan malu.


"Benarkah?" tanya Shanti dengan senyum di wajahnya. Kata 'telus' yang terucap dari mulut Ale membuat Shanti berfikir jika tidak ada pertengkaran atau permintaan berpisah dari Zoya.


Hans melihat senyum di wajah Mamanya, dia membiarkan mamanya berasumsi sendiri. Lelaki yang berdiri di dekat Zoya itu pun mengambil Ale dan menggendongnya.


"Ale, mandi sama Papa, ya? Kasian, Mama sedang puasa. " ucap Hans.


"Ale mandi sendiri." tolak Ale.


"Iya, kamu mandi sendiri. Tapi Papa yang siapkan." bujuk Hans, dia sangat mengerti sifat Ale yang tidak mau dipaksa.


"Betapa pandainya kamu berpura-pura , Mas! Tapi, aku akan menjaga hatiku untuk selalu tahu diri, Mas! " gumam Zoya dalam hati.


Zoya's Pov


Ternyata perasaanku padamu mulai tumbuh, Mas Hans. Aku menyadarinya ketika hatiku merasakan sakit saat aku melihat perempuan itu memelukmu begitu erat, bahkan kamu tidak menyadari sudah meninggalkanku karena rasa cemasmu padanya. Siapa dia? Aku tidak tahu, tapi aku masih melihat perasaan yang berbeda dari matamu untuk wanita itu. Dia pasti orang spesial, bukan sekedar klien seperti biasanya.


Statusku memang istrimu, tapi aku tahu diri, Mas. Tidak seharusnya aku mengharapkan cinta darimu. Aku bukan seseorang dengan pendidikan yang memadahi, aku juga bukan perempuan dari kelas yang sama dengan lingkunganmu. Jadi, aku tidak akan membebanimu dengan perasaanku.


Rasanya aku tidak pernah berhak atas perasaan ini. Mungkin takdir ini harus selalu membuat diriku merahasiakan cinta dan perasaanku. Tidak hanya dulu, tapi saat ini dengan orang yang berbeda pun aku masih tetap menyimpan perasaanku.


Author Pov

__ADS_1


"Zoy, untuk malam ini, Mama meminta kita menginap di sini." Hans mendekati Zoya yang sedang membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. Rencana awal setelah solat magrib dan Zoya buka puasa mereka akan kembali ke rumah.


"Tapi, aku tidak membawa seragam dan peralatan sekolah Ale." jawab Zoya masih tak bergeming dari posisinya, meski Hans sudah berdiri sangat dekat di belakangnya.


"Kamu masih marah, Zoy? " Hans, masih merasa Zoya seperti menjauh darinya. Jika tidak di depan mamanya, Zoya selalu menghindari tatapannya.


"Tidak ada Alasan untukku untuk marah denganmu, Mas! "


"Ada, kamu istriku kamu berhak marah, Zoya! "


"Istri hanya statusku, Mas. Aku selalu tahu itu! " Cemburu ternyata membuat seseorang bisa mengeluarkan banyak kosa kata yang bisa mewakili apa kata hatinya.


Hans memutar tubuh Zoya untuk menghadap ke arahnya. Dan ternyata manik mata coklat itu sudah berkaca kaca. Karena itu juga, Zoya tidak ingin menatap Hans. Dia tidak ingin terlihat menangis di depan suaminya.


"Mama, Ale Ingin mendengar dongeng!" Kedatangan Ale yang tiba tiba membuat Zoya segera menghapus air matanya.


"Ayo, Mama akan menceritakan wanita muslim yang sangat cerdas dan pemberani." Mendengar jawaban Zoya membuat Ale langsung melompat ke atas tempat tidur bersiap mendengarkan dongeng.


Zoya merangkak naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya di samping Ale. Hans mendengus kesal dengan kehadiran Ale, tapi lelaki itu memilih menyusul merebahkan diri di belakang Zoya saat melihat masih ada tempat yang tersisa.


Zoya menceritakan tentang keberanian dan kecerdasaan Sayyidah Aisyah. Suara Zoya yang enak saat bercerita membuat Hans juga ikut mendengarnya.


"Apa dia juga sangat cantik? " tanya Hans begitu penasaran dengan sosok yang di gambarkan Zoya.


"Tentu saja, bahkan beliau mendapatkan sebutan Humairah dari Rasul, karena kecantikan dan kulitnya yang putih dan kemerah- merahan saat tersenyum. " jelas Zoya menanggapi pertanyaan suaminya. Sedangkan, Ale seolah membayangkan sosok itu.


"Seperti Mama Zoya, dong? " goda Hans dengan memeluk pinggang Zoya.


"Tentu saja masih cantikan Sayyidah Aisyah. " jawab Zoya berusaha memindahkan tangan besar itu dari pinggangnya. Tapi Hans memang sengaja tidak ingin beralih. Bahkan, dia malah mempererat pelukannya. Wangi rambut hitam Zoya memberikan sensasi tersendiri baginya.

__ADS_1


"Mama, besok Ale akan jadi pembelani sepelti Sayyidah Aisyah. " Ale masih terlihat berimajinasi tentang sosok Ummul Mukminin itu.


Bersambung....


__ADS_2