
Hans hanya mengenakan handuk saat mencari istrinya di kamar Ale, lantaran Zoya belum menyiapkan baju kerjanya. Ketergantungannya pada istrinya semakin menjadi.
"Ceklek..." Saat membuka pintu, dia melihat Zoya sedang membantu Ale menjadwal buku pelajaran. Semalam, Ale sudah tertidur setelah mengerjakan tugas. Jadwalnya sedikit kacau karena akhir akhir ini Hans menjelma menjadi bayi tua yang tidak kalah merepotkan Zoya.
"Siluman mana yang sudah merasukimu, Hans. Kelakuanmu tidak jauh dari Ale." celetuk Mama Shanti suatu ketika, saat merasa sewot dengan kelakuan putranya. Melihat Hans yang, sedikit sedikit Zoya, apa apa Zoya, padahal menantunya sedang hamil. Beliau juga tidak kalah sewot dengan Zoya yang selalu menuruti semua keinginan suaminya. Tapi apa yang bisa dilakukanya, menantunya itu terlihat begitu senang melayani suaminya. Beliau hanya bisa memperingatkan Zoya agar tidak terlalu lelah, Mama Shanti sangat memperhatikan kondisi Zoya, setelah kecelakaan yang dialami Zoya pada kehamilan pertama.
"Zoy, bajuku mana? Aku nanti ada pertemuan dengan klien. Pilihkan yang pantas, biar aku terlihat ganteng!" ucap Hans kala dia berada di tengah pintu kamar Ale.
"Iya, sebentar lagi Ale selesai, Mas." jawab Zoya dengan mempercepat gerakannya.
"Papa sudah gede, tapi milih baju sendiri tidak bisa." cela Ale saat mendengar permintaan papanya. Lelaki itu hanya berdecih saat mendengar protes putrinya yang cerewetannya di atas rata rata. Sebenarnya, dia ingin Ale menjadi lawyer seperti dirinya, tapi bocah itu sendiri sepertinya tidak tertarik. Yang selalu dia katakan, jika dia akan menjadi dokter seperti Aunty Anastasya, ditambah lagi Zoya yang selalu membebaskan putrinya untuk memilih, Hans semakin tidak bisa mengarahkan putrinya untuk masuk dalam dunia yang sedang dia geluti.
"Ayo, Zoy!" Hans masih tidak bergeming sebelum melihat istrinya beranjak.
"Iya- ya, Mas." Setelah selesai menata Ale dan meminta putrinya untuk segera turun ke bawah Zoya langsung menghampiri Hans, "Mbok ya memakai kaos dulu! " Zoya mencubit Kulit pinggang suaminya, membuat Hans terkekeh saat mengikutinya masuk ke kamar.
"Sayang, minggu depan Mbak Niar datang saat kita mengadakan acara empat bulanan."
"Mbak Niar, mungkin akan tinggal sementara di rumah Mama. Tapi, kamu siapkan saja kamar untuk mereka. Oh ya, siapkan juga kado buat si kembar, ya! Dulu saat dia lahir kita belum memberi bingkisan apa pun." ucap Hans sambil mengenakan pakaiannya. Saat keponakan kembarnya lahir, mereka disibukkan dengan masalah Antonio dan Arum, hingga belum sempat memberikan sesuatu pada si kembar.
"Iya, Mas." Jawab Zoya Masih memperhatikan suaminya. Lelaki di depannya itu masih saja terlihat gagah, tidak ada yang berubah dari wajahnya. Dia masih terlihat segar layaknya pemuda berumur dua puluh tujuh tahun.
"Mas kenapa berangkat ke kantornya pagi sekali?" tanya Zoya saat melihat jam yang menurutnya terlalu pagi untuk suaminya berangkat ke kantor.
"Pagi ini ada interview untuk asisten baru. Dia yang akan menggantikan Diana." jawab Hans masih dengan mengancingkan lengan bajunya. Dia hanya memperhatikan dirinya sendiri tanpa memperhatikan Zoya yang sudah kehilangan senyuman.
Sejenak saat mereka terdiam, Hans baru menoleh ke arah istrinya yang sudah cemberut.
"Kenapa?" tanya Hans dengan mencubit pipi cabi Zoya.
"Apa karena asisten baru, hingga mas Hans ingin tampil ganteng? Pasti cewek?" cecar Zoya dengan menatap Hans untuk menunggu jawaban.
"Iya cewek."
"Pasti cantik?" Hans yang sedang menyisir rambutnya pun berhenti, kala mendengar pertanyaan istrinya.
"Lumayan kalau dilihat dari kurikulum vitae."
"Kenapa harus cewek?" Entah karena kehamilannya, hingga Zoya terkesan sangat posesive.
__ADS_1
"Biar semangat ke kantornya." Balas Hans dengan asal asalan, dia masih memperhatikan wajahnya di cermin. Hans tidak menyadari Jika mata istrinya sudah berkaca-kaca.
"Oh... sayang. Aku kan, cuma becanda! Jika aku macam macam itu artinya aku harus bersiap menjadi kere." ujar Hans dengan merengkuh kepala istrinya dalam lekukan dada bidangnya. Dia tidak menyangka jika ini akan dianggap serius oleh Zoya.
"Masalahnya bukan harta atau uang. Dalam keluarga juga butuh cinta, Mas." Zoya mengusap air matanya. Hans hanya tersenyum, jika seperti ini pola pikir Zoya yang tidak bisa mengelabui usianya yang masih remaja.
"Aku takut kayak di novel dan sinetron, si bosnya main serong dengan sekretarisnya."
"Nah... kebanyakan baca novel dan nonton drama. Jadinya, ya... begini." Hans mengurai pelukannya, dia kemudian mencubit hidung mungil istrinya.
"Jangan khawatir Zoy, fokusku sekarang bekerja buat masa depan keluarga kita nanti!"
"Ayo kita sarapan, Ale pasti sudah menunggu kita!" Hans membawa istrinya untuk turun ke bawah. Perempuan mungil yang selalu mengikatnya dalam cinta dan kelembutan, hingga dia tidak bisa melihat lagi wanita lain selain Zoya Kamila.
###
Nilla masih kesulitan untuk berjalan karena kakinya yang masih terasa sakit. Bahkan, dia merasa jika saat ini rasanya jauh lebih sakit dari sebelumnya, padahal kemarin Wildan sudah memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya. Dan, memberinya obat anti nyeri.
"Nil, kamu bisa jalan? " Tanya Wildan saat dia sudah rapi ketika akan berangkat ke kampus.
"Sudah." jawab Nilla tanpa melihat Wildan.
"Nggak Mau." bantah Nilla membuat Wildan tersenyum. Dia merasa perkiraannya kali ini tidak salah. Jika Nilla bermaksud membohonginya.
Dia menyiapkan air minum dan beberapa camilan berat di atas nakas. Wildan tidak ingin Nila sampai kelaparan atau pun kehausan sebelum dia pulang. Hanya dua jam mata kuliah saja dia mengajar. Setelahnya dia akan segera pulang untuk menjaga istrinya.
Ponsel Wildan berbunyi, ketika dia meletakkan makanan di atas nakas. Lelaki itu memilih secepatnya menghampiri benda pipih yaang masih tergeletak di dekat tasnya.
"Assalamu'alaikum... " jawab Wildan saat menjawab panggilan dari temannya yang menjadi panitia perkumpulan alumni Al- Azhar_ Cairo Mesir.
"(....) "
"Maaf untuk hari ini aku tidak bisa datang, Istriku sedang sakit." jawab Wildan membuat Nilla mendongak ke arahnya. Dia merasa, Wildan pandai sekali berpura pura, seolah dirinya adalah prioritas lelaki berwajah kalem itu.
"(...)
"Waalaikum salam." ucap lelaki itu dengan menutup kembali ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.
Dengan tas ransel yang bertengger di salah satu bahunya, dia menghampiri Nilla yang berpura- pura memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Abang, berangkat dulu! Nomer Abang jangan diblokir, ya! Nanti kalau ada sesuatu yang penting, bagaimana?" ucap Wildan dengan mengelus lembut rambut istrinya. Sudah lama Nilla memang memblokir nomer Wildan.
Wildan tidak akan memaksa Nila bersikap seperti keinginannya. Iya, selama ini dia berharap mempunyai istri yang akan mengantarkan dia pergi bekerja dengan mencium punggung tangannya dan seulas senyum yang disuguhkan untuk memberinya semangat.
Wildan melangkah keluar dengan menggelengkan kepalanya. Karena otaknya kembali berandai. Seandainya Zoya yang menjadi istrinya.
"Astagfirullah hal azim." gumamnya lirih saat membuka pintu mobilnya. Memang tidak mudah melupakan sebuah mimpi dan cinta di masa lalunya. Tapi, dia kembali tersadar jika dia sudah memutuskan untuk menjadi imam dari wanita yang berbeda. Apapun kekurangan dan kelebihannya, istrinya adalah bagian yang harus dia terima dengan ikhlas.
"Maafkan aku, Nil. Percayalah hanya kamu wanita yang akan memiliki hati Abang seutuhnya." Wildan bermonolog dalam hatinya saat mengemudikan mobil Pajero sport miliknya menuju ke kampus. Sikap Nilla memang membuat Wildan harus lebih bersabar, karena dia tahu jika Nilla tidak seburuk itu.
Di dalam kamar Nilla menangis sendiri, Dia sadar Wildan lelaki yang baik, tapi dengan siapapun suaminya memang akan berbuat baik. Wildan juga tidak tegaan, hingga Nilla sendiri tidak bisa membedakan, siapakah yang spesial dalam hati Wildan. Apakah hati suaminya masih milik Zoya?
Flashback Back.
Saat mereka baru saja jadian. Dibilang pacaran, tapi mereka tidak saling menumpahkan perasaan sebagaimana kayaknya pasangan kekasih. Mereka hanya membuat sebuah komitmen untuk menjadi seorang pasangan, hingga, seperti apa yang pernah dikatakan Nilla, dia hanya ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.
Sore itu, sepulang dari mengajar private, Wildan mengajak Nilla untuk ke rumahnya. Dia meminta Nilla memasak karena dia harus mengoreksi tugas akhir semester mahasiswanya.
"Bang, ada bacaan yang bagus, nggak?" tanya Nilla setelah menyelesaikan pekerjaanya di dapur.
"Nyari saja di perpus Nil, di ruangan paling belakang dekat kolam ikan." jawab Wildan, dia masih fokus dengan sebuah lembar jawaban yang sedang dia koreksi.
Nilla berjalan, meninggalkan Wildan menuju ke belakang. Rumah minimalis yang cukup rapi dan nyaman. Saat melihat anggrek dan bunga mawar yang terkemas dalam beberapa pot yang tertata rapi di dekat kolam ikan, membuat Nilla tersenyum. Lelaki yang sebentar lagi akan meminangnya adalah lelaki yang telaten, pikirnya. Saat mendapati sebuah sofa santai di di dekat kolam, Nilla mencoba untuk duduk di sana.
"Pasti Bang Wildan sering menghabiskan waktu dengan membaca di sini." Gumam Nilla saat menikmati sofa dengan suara gemericik kolam yang seorang menjadi irama dalam ketenangan rumah.
Mata bulatnya melirik sebuah buku novel Nicolas Sparks. Awalanya dia merasa heran saja ternyata Wildan pembaca segala macam buku tidak hanya tentang religi dan ilmu pengetahuan.
Rasa penasaran membuatnya membolak balik buku tersebut dan menemukan sebuah foto sahabatnya, Zoya. Dia tahu, foto itu diambil saat Zoya masih bekerja di yayasan bersamanya.
Wanita teristimewa di hidupku, Kecantikan yang membuat semua bidadari merasa cemburu. Kecantikan yang membuat banyak orang mengaguminya, tidak hanya cantik wajah, tetapi dia adalah wanita dengan kecantikan hatinya.
Terindah Zoya Kamila
Nila terdiam, tangannya gemetar saat membaca tulisan yang berada di balik foto tersebut. Kecewa, marah atau mungkin cemburu. Dia menutup kembali novel tersebut dan mengembalikannya di tempat semula. Tapi, dia tidak bisa meredamkan gejolak hatinya yang meradang, hingga beberapa kali dia menyeka air matanya.
Flashback On
Nilla masih saja menangis kala mengingatnya, apalagi saat ini dia berada dalam sebuah siklus hubungan yang dia sendiri tidak mengerti di mana tujuannya dan dengan fondasi apa pernikahan ini terjadi.
__ADS_1
Tbc