Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Kesedihan Nilla(Extra Part)


__ADS_3

Nilla memeluk Zoya, gadis itu menumpahkan tangisnya seketika saat bertemu sahabatnya. Sebelum bertemu Zoya, Nilla memeriksakan kondisi kandungan dan rahimnya terlebih dahulu. Dan itu tanpa sepengetahuan Wildan, karena awalnya dia yakin semua dalam keadaan baik-baik saja.


"Ada apa, Nil?" tanya Zoya dengan menepuk pundak yang masih bergetar karena tangis histerisnya.


"Tante Nilla, kenapa menangis?" Ale akhirnya bersuara setelah melihat Zoya dan Nilla berpelukan, bahkan Nilla cukup lama menangis saat memeluk Zoya.


"Jangan menangis!" ujar Ale yang berdiri di dekat keduanya dengan menyodorkan jus jeruk yang baru saja mereka pesan kepada Nilla.


Mereka baru menyadari keberadaan bocah gembul itu, Nilla langsung mengusap kedua air matanya, "terima kasih, Sayang." ucap Nilla dengan menyambut gelas berisi jus jeruk dari tangan si gembul itu.


Kursi yang ada di pojokan membuat mereka lebih leluasa untuk saling mencurahkan isi hati. Baru pertama kali, selama mereka berteman Nilla menangis hingga tersedu sedu seperti kali ini.


"Ada apa, Nil? " tanya Zoya dengan menggenggam tangan perempuan yang masih mengatur nafasnya.


Mereka terdiam sejenak, Nilla sendiri bingung dari mana dia akan mulai bercerita.


"Zoy, aku barusan dari dokter kandungan. Menurut dokter kandungan, Zoy." Nilla merasa tenggorokannya tercekat. Tapi, Zoya dengan sabar masih menunggu Nilla untuk melanjutkan ceritanya.


"Zoy, aku sulit untuk bisa mengandung.... " Kalimatnya menggantung Nilla kembali menangis tergugu.


"Nil apa yang terjadi?" Mendengar pernyataan Nilla membuat Zoya penasaran. Apa yang terjadi dengan sahabatnya itu?


"Kandunganku kecil, Zoy. Kemungkinan untuk bisa hamil sangat tipis." Nilla kembali menangis membuat Zoya memeluknya. Tidak bisa dipungkiri jika kondisi Nilla sangatlah terpukul.


"Nil, istighfar. Jika kamu histeris seperti ini, kita malah tidak bisa menemukan titik temu." ujar Zoya berusaha menenangkan Nilla. Berlahan dia mulai mengurai pelukan sahabatnya. Tangan mungilnya menghapus dua sisi yang basah di bawah mata Nilla.


"Zoy, bagaimana pernikahanku jika aku tidak punya anak?" Suara serak Nilla menggambarkan wajahnya yang kini terlihat begitu kalut.


"Jangan bicara seperti itu! Allah cukup berkuasa untuk semesta dan isinya. Jangan putus asa! Kamu masih punya banyak peluang." Zoya masih berusaha menenangkan Nilla.


Gerimis di luar membuat dinding kaca kafe mengembun. Zoya terdiam sejenak, dia tidak ingin asal-asalan memberi harapan pada Nilla.


"Nil, sebaiknya kamu bicarakan pada Bang Wildan." saran Zoya. Dia yakin Wildan lelaki yang penuh pengertian.


"Aku takut Zoy, jika Bang Wildan akan meninggalkanku jika mengetahui kebenaran ini." Tatapan sendu mata indah itu begitu mengiba. Nilla kembali terpojok kalau mengingat mertuanya yang menuntut dia dan Wildan untuk cepat memberi mereka keturunan.

__ADS_1


"Aku yakin, Bang Wildan bukan lelaki yang seperti itu. Percayalah pada suamimu, Nil."


"Kita berumah tangga memang harus ada keterbukaan. Menyelesaikan masalah bersama itu lebih ringan, Nil." Zoya terus saja membujuk Nilla. Dia bisa melihat betapa sedihnya Nilla saat ini.


Bertemu sahabat dengan masalah yang membuat dirinya terpukul membuat mereka melupakan jika waktu terus bergulir. Cuaca lembab dengan gerimis yang begitu betah menemani, memberi kesan suasana sore yang cukup sendu.


Suara ponsel milik Nilla membuat perempuan itu bergegas mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Bang." suara Nilla masih terdengar serak.


"Waalaikum salam. Kamu kenapa, Sayang?" Suara Nilla yang tidak biasa membuat Wildan curiga jika sesuatu terjadi pada istrinya.


"Aku baik baik saja, Bang."


"Kamu, masih di kafe. Abang jemput di sana, ya?" tanya Wildan saat dia berjalan menuju parkiran kampus. sore ini dia baru saja mengakhiri kelasnya.


"Iya, Bang. Kalau begitu aku tunggu Abang saja." jawab Nilla. Kemudian menutup teleponnya.


Di sana saat orang dewasa sedang berbicara serius, bocah itu dengan asyik menghabiskan makanan yang sudah di pesan untuk Ale.


"Ma, Mama tidak makan? " tanya si gembul yang sudah menghabiskan bagiannya.


###


Gerimis di luar membuat Hans semakin gelisah memeriksa beberapa arsip yang ada. Hari ini juga, yang seharusnya dia bertemu dengan Kyara pun belum berjodoh karena Kyara belum ada waktu luang.


"Selamat sore, Pak." ucap Kyara saat berada di tengah pintu ruangan Hans yang sudah terbuka.


"Sore." Jawab Hans tanpa menoleh ke arah Zuri yang berjalan menuju mejanya untuk menyerahkan jadwal besok.


Hans menutup beberapa berkasnya dan merapikannya dalam satu tumpukan. Kemudian membaca sejenak jadwal besok paginya.


"Kenapa masih di sini?" tanya Hans dengan menatap gadis yang berpenampilan rapi dan seksi.


"Apa Bapak tidak pulang?" tanya Zuri memberanikan diri. Zuri pikir, ekspresi cool seorang cowok hanya untuk tampilan luarnya.

__ADS_1


"Sebentar lagi. Aku juga harus menjemput istriku." Saat mendengar kata 'istri' hati Zuri merasa tidak senang. Dia kecewa, jika lelaki itu masih memprioritaskan Istrinya yang sedang hamil besar .


"Bisa saya menumpang? Rumah saya satu arah dengan rumah Pak Hans." kalimat Zuri membuat Hans membanting stap map di depannya. Gadis itu terjingkat kaget, dia tidak menyangka jika lelaki di depannya itu cukup temperamen.


"Kamu pikir aku sopirmu? Ingat, Aku di sini bosmu, jangan berani meminta sesuatu di luar kapasitasmu!" Hans yang sudah berdiri menunjuk-nunjuk gadis di depannya.


"Itu juga. Bukankah aku sudah memperingatkan dirimu aturan berpakaian di kantorku! " lanjut Hans masih dengan wajah kesal. Hans memang pernah memperingatkan Zuri disebabkan bajunya yang ketat dan rok pendeknya.


Bukannya mengindahkan peringatan bosnya, Zuri malah sering mengenakan baju dengan bahan tipis yang mencetak dalaman kaca matanya dan bahkan tidak berlengan.


"Ingat posisimu!" ancam Hans segera pergi meninggalkan gadis yang masih mematung di dalam ruangannya. Dia memilih pergi, Biar bagaimanapun dia lelaki normal yang bisa saja pertahannya jebol karena bujukan syaitan.


Kantor memang sudah sepi hingga tidak seorang pun yang tahu kemarahan Hans padanya. Zuri mengusap setitik air matanya yang menetes dari sudut matanya. Biar bagaimanapun, dia kecewa dengan penolakan bahkan kemurkaan bosnya itu. Tapi, satu sisi hati kecilnya masih penasaran. Bagi dirinya, mana ada lelaki yang bisa menolak pesonanya. Mungkin sekali atau dua kali, mereka akan bertahan dengan prinsipnya. Tapi, dia yakin lelaki adalah makhluk paling lemah jika di hadapkan pada nafsu.


"Kamu terlalu sempurna untuk dimiliki satu orang Hans." gumam Zuri dengan melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Hans masih melajukan mobilnya dengan emosi. Gerimis yang memudarkan pandangannya pun tidak dia hiraukan sama sekali. Hingga akhirnya, dia berhenti di depan sebuah kafe yang tidak terlalu ramai karena cuaca yang tidak mendukung.


Setelah keluar dari mobil, langkah panjangnya pun berlari kecil masuk ke dalam kafe. Tubuh tinggi dengan perut rata membuatnya terlihat sangat gagah. Akhirnya, lelaki berwajah tampan dengan aura cool itu masuk ke dalam kafe dimana anak dan istrinya berada.


Pandangannya mengedar mencari dua wanita yang selalu menjadi prioritasnya, istrinya Zoya dan putrinya Ale.


Dia sebuah meja yang ada di pojok, seorang perempuan hamil sedang mengusap mulut putrinya dengan tissu. Hans berjalan tergesa menghampiri mereka.


"Mas Hans..." Zoy berdiri saat melihat Hans sudah berjalan ke arahnya.


"Sayang." Hans langsung memeluk istrinya, bahkan sempat dia sempat mendaratkan ciuman dibibir Zoya. Seketika semua orang terpana melihatnya, Tapi saat melihat perempuan berjilbab dengan perut membesar membuat mereka yakin jika mereka adalah pasangan suami istri.


"Papa, kenapa mencium Mama di bibir?" kalimat Ale membuat lelaki itu tersadar jika mereka berada di tempat umum, bahkan ada putrinya yang harus melihat adegan yang tidak semestinya.


"Maafkan Papa. Gusi Mama bengkak jika di cium di pipi akan sakit nantinya." bohong Hans. membuat Ale percaya.


"Ayo, Pa! Ale tidak sabar ingin melihat adek Ale." Pinta Ale dengan menggenggam tangan papanya.


"Iya, kita akan melihat si kembar." jawab Hans kemudian menggandeng Ale dan merangkul tubuh mungil itu keluar kafe.

__ADS_1


Dia sendiri tidak sabar ingin melihat Hans junior. Apapun itu, entah cewek atau cowok. Dia tetap akan bahagia untuk menerimanya.


TBC


__ADS_2