Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Ciuman Mengagetkan(Extra Part)


__ADS_3

"Ya ... mau gimana lagi karena nggak dapat ACC dari Nyonya Bos." Saat Zoya masuk ke dalam kamar, Hans sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Lelaki itu hanya mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat siapa yang masuk ke dalam kamar. Kemudian, kembali lagi berbaring dengan kaki menggantung di tempat tidur.


"(...) "


"Oke-oke, next time." ucap Hans dengan melirik Zoya yang mulai sibuk menyiapkan oleh-oleh yang akan dibawa pulang Mbak Niar ke Bandung, besok. Mata tajam itu tidak melepaskan setiap gerik istrinya, tapi tanpa senyum sedikit pun, wajahnya masih terlihat datar.


Zoya yang pura- pura merasa tidak ada masalah malah membuat Hans semakin kesal. Zoya masih mengulum senyum ketika mata mereka saling beradu. Innocent. Wajah cantik itu masih terlihat berseri.


Hans bangkit dan duduk dengan wajah menoleh ke arah istrinya yang masih nampak repot. Dengan melayangkan tatapan tajam, dia memperhatikan Zoya ketika membungkus bingkisan untuk kedua keponakannya. Entah apa yang diberikan istrinya kepada dua keponakannya, lelaki yang masih kesal dengan keputusan istrinya itu tidak mau tahu.


Setelah meletakkan bingkisan yang sudah siap di meja rias, Zoya pun berjalan untuk mematikan satu lampu utama dalam kamarnya.


Pukul sebelas malam. Melihat Zoya mematikan lampu, Hans baru menyadari jika saatnya mereka harus beristirahat. Lelaki itu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah.


"Pelit!" Sambil berjalan melewati Zoya, dia menampar pelan bokong istrinya.


"Auukkkhhh... " rintih Zoya terkaget dengan gerakan yang tidak pernah dia perkirakan sama sekali. Ya, sungguh Zoya tidak menyangka jika itu cukup kekanak kanakan sekali dengan apa yang dilakukan suaminya.


Mendengar rintihan istrinya membuat Hans terkekeh, seperti ada kepuasan tersendiri bagi lelaki itu, "Makanya jangan pelit!" lanjutnya dengan perasaan yang begitu gemas.


"Udah kecil, pelit, nangisan!" Rasanya dia ingin sekali membuat istrinya marah.


"Astagfirullah hal-adzim, jauhkan suamiku dari godaan syaitan yang terkutuk." balasan Zoya masih dengan kedua tangan terangkat memohon, lirikan dan senyuman mengejek Zoya masih tertuju pada sosok di depan pintu kamar mandi. Tapi saat suaminya membalikkan badan dan menatap tajam tanpa senyum, berlahan senyum di wajah cantik itu menyurut. Zoya terlihat lebih serius dengan sorot mata mengiba.


Kedua tangannya mencengkeram bagian samping daster yang dia kenakan. Bahkan, kakinya melangkah mundur bersamaan dengan langkah Hans yang mulai mendekat. Wajah Zoya mulai menegang saat mata tajam itu tidak henti menatapnya, Zoya hanya melihat kemarahan pada wajah Hans.


"Mas Hans, aku kan, cuma bercanda." lirih Zoya. Tubuhnya kini menempel pada salah satu dinding kamar.


"Kamu takut denganku?" Suaranya masih terdengar tegas hingga membuat Zoya memejamkan mata. Yang terlintas dalam pikirannya adalah saat suaminya murka.


"Cup... " Ciuman itu mendarat di bibir ranumnya dan itu membuat Zoya terhenyak kaget dan membulatkan mata seketika. Berlahan, bibir tipis itu menuntut mendapat balasan.


Sepersekian detik, hingga dia tak mampu mengambil oksigen dengan baik, membuat Hans melepaskan pagutannya pada bibir mungil istrinya.


"Ah sayang, Kenapa setakut itu!" Hans merengkuh kepala istrinya menenggelamkan dalam pelukannya. Saat melihat Zoya ketakutan ada rasa bersalah dalam diri lelaki itu. Dia sudah menyisakan rasa trauma pada wanita yang akan menghabiskan waktu bersamanya. Dia sangat menyesalkan jika Zoya masih mengingat sisi buruknya.


"Aku tidak pernak memukulmu, kan? Kenapa kamu setakut itu?" tanya Hans dengan mengurai pelukannya. Menatap mata bulat coklat milik Zoya diantara pencahayaan kamar yang sudah redup.

__ADS_1


"Aku sudah bilang sama temanku jika tidak jadi membeli motor." lanjut Hans setelah memberi tahu hasil percakapannya di telpon.


"Drt.. Drt... drt... " Ponsel Hans berbunyi. Dia kemudian menarik tangan istrinya untuk menghampiri ponselnya di atas tempat tidur.


"Zuri... " gumam Hans yang masih terdengar di telinga Zoya. Seketika itu pula Zoya ingin tahu apa yang ingin disampaikan gadis itu saat larut malam seperti ini.


"Halo... " jawab Hans dengan suara datar. Sebenarnya, dia tidak seneng jika mendapat telepon dari orang kantor saat di rumah, apalagi malam hari.


" (...) "


"Iya, sore kau akan datang." Hans langsung menutup panggilannya. Zoya bisa melihat wajah tidak senang suaminya.


"Ada apa, Mas?" tanya Zoya.


"Zuri dia memintaku untuk datang ke kantor besok. Ada beberapa berkas yang haris ditanda tangani."


"Padahal aku sudah bilang ke dia, jika besok aku tidak berangkat ke kantor. Lagian aku tidak suka jika malamku diganggu dengan urusan pekerjaan." lanjut Hans mengatakan alasan utamanya tidak senang mendapatkan telepon dari Zuri.


Zoya menggeser duduknya mendekat ke arah suaminya. Dia menyandarkan tubuh memeluk suaminya. Dia hanya ingin menenangkan lelaki yang saat ini menghembuskan nafas dengan kasar. Padahal Zoya sendiri juga heran, selama menjadi istrinya Hans. Diana, mantan asisten pribadi Hans tidak pernah menelponnya saat tengah malam begini.


"Besok Mas Hans kasih tahu saja pada Zuri, apa yang Mas Hans inginkan." ujar Zoya Masih memeluk suaminya. Detak jantung yang tadinya terdengar begitu cepat kini mulai kembali normal.


"Bandel, tapi cepet luluh." gumam Zoya saat pandangannya mengiringi Hans yang menghilang dari balik kamar mandi. Sifatnya yang sulit difahami, membuatnya harus bersabar menghadapi lelaki yang sudah mencuri hatinya.


###


Di sebuah kafe, Kyara ingin menghabiskan waktunya sendiri. Hujan di luar membuatnya malas beranjak, meski sore semakin gelap. Sepulang dari kantor dia ingin mencari suasana yang berbeda. Hatinya begitu gelisah. Tidak bisa dipungkiri dia merindukan lelaki yang sudah membuatnya putus asa. Menghilangnya Rey, semakin membuat Kyara bimbang.


Kyara Pov


jika rindu ini tak bertuan, biarkan saja rindu ini mengalir habis hingga ke muara yang tepat. Merindukanmu adalah hal yang paling lelah yang pernah aku lalui. Bang Rey, kamu sudah memberi satu harapan padaku tapi kemudian kamu patahkan lagi, hingga aku tidak tahu ke mana lagi aku akan berhenti untuk melabuhkan hidupku.


Sebenarnya aku tidak ingin mengeluh karena lelah untuk merindukanmu. Tapi, hidup harus tetap berjalan. Bukan kamu saja yang menjadi bagian dari cintaku. Ada Papa, lelaki yang jelas jelas menjadi cinta pertamaku, bahkan beliau tidak pernah membuatku kecewa.


Gadis itu masih termenung dengan memainkan jarinya di pinggiran cangkir kopi. Dia masih bimbang dengan keputusan yang akan dia ambil, sementara papanya terus saja mendesak agar dia cepat untuk menikah.


"Sendirian?" suara lelaki yang saat ini berada di dekatnya itu membuat Kyara menoleh.

__ADS_1


"Dokter Daniel.... " jawab Kyara, kemudian tersenyum pada dokter yang punya lesung pipit di pipinya.


"Jika kamu butuh teman untuk ngopi, mungkin aku bisa menemani." Dokter Daniel menawarkan diri, dia bisa melihat kegelisahan pada diri Kyara.


"Nanti seperti kemarin, masih setengah sudah ada panggilan untuk operasi." canda Kyara.


"Mari silahkan duduk, Dok. Di luar masih gerimis." Dokter Daniel menyambut tawaran Kyara. Dia memang tertarik pada gadis yang di matanya cukup unik.


"Aku sebenarnya ingin mengenalmu lebih jauh, Ra." ucap Dokter Daniel langsung ke inti. Mendengar ucapan Dokter ganteng itu, Kyara hanya tersenyum. Dan itu terlihat sangat manis bagi Daniel.


"Aku seperti ini, Dok. Tidak ada yang istimewa." kalimat yang semakin menarik bagi lelaki itu. Seorang lawyer wanita yang cukup dikenal. Meski ada nama Papanya yang selalu disebut oleh publik, tapi itu tidak melunturkan kekaguman Daniel pada gadis di depannya. Setelah bertemu beberapa kali dengan Kyara, Daniel bisa menyimpulkan jika gadis didepannya cukup mandiri.


"Sudah lama kamu berjilbab?" selidik Daniel.


"Belum lama? Dulu bajuku sangat terbuka. Bahkan bisa dibilang memalukan." jelas Kyara. Dia kembali menerawang ke masa di mana dia mencari jati dirinya. Tidak ada yang berani memarahinya kecuali atasannya itu, Hans Satrya Jagad.


"Oh... " Lelaki tidak memberi tanggapan lebih, padahal dalam hatinya dia sangat mengagumi kejujuran Kyara.


Dokter Daniel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian dia pamit terlebih dahulu karena harus visit ke rumah sakit.


Suasana memang terlihat sudah petang, di luar udara nampak lembab, membuat dinding kaca di dekat mejanya pun sudah mengembun.


"Bang aku merindukanmu." Kyara rasanya sudah ingin menangis, tapi ditahannya. Dia kembali teringat saat Rey memberinya jas hujan dan membiarkan dia terkena hujan saat menembus gerimis kala mereka berada dalam perjalanan ke kampung itu.


"Mbak, Permisi! " ucap salah satu pelayan menghentikan Kyara saat akan beranjak pergi.


"Iya." Gadis itu mengernyitkan dahi. Dia merasa sudah membayar tagihan kopinya dimuka.


"Ini ada yang menitipkan payung buat Mbak. " Kyara semakin bingung, apa mungkin Daniel? pikirannya mulai mencoba menebak.


"Benar untuk saya? " Kyara mencoba menyakinkan pelayan tersebut.


"Mbak kyara, kan?" Saat pelayan itu menyebutkan namanya, kyara hanya bisa mengangguk dan mengambil payung tersebut.


Ketika nama kita terpaut karena takdir. Biarlah Rindu ini yang kelak akan menjadi saksi.


TBC.

__ADS_1


Bosen ya... hahahaha katanya extra part? Kok banyak Sekali? author oleng maakkk , ngelindur jadinya gini nggak tamat tamat 😀😀😄😄😄


__ADS_2