
Di kamar yang sempit dengan suhu yang cukup pengap mereka menghabiskan malam panas yang tidak direncakan. Zoya yang terbawa dengan permainan Hans pun mendesah berulang kali, meski pada awalnya dia berusaha mengontrol ***** liar suaminya.
Hans berharap pelepasan yang kedua kalinya adalah yang berakhir. Lelaki yang penuh ***** itu mengerang panjang, seolah ingin menuntaskan semua yang ada di dalam agar cepat mengakhiri hasratnya yang sudah menggila. Sebenarnya, ada kekhawatiran, jika hasratnya malam ini akan berpengaruh pada kehamilan Zoya.
"Zoy, perutmu tidak apa-apa, kan?" tanyanya setelah terdiam sejenak seusai melakukan pelepasan.
"Aku yang tidak baik baik saja, Mas! " lirih Zoya hampir tidak terdengar. Perempuan yang masih memejamkan mata itu merasa seluruh tulangnya seperti terlepas dari rangkaian tubuhnya.
"Perutmu sakit?" Hans terlihat cemas.Tapi, Zoya hanya menggeleng lemah membuat Hans tersenyum menatap wajah yang semakin cantik saat terlihat lelah dan dihiasi peluh.
"Aku akan mandi dulu!" pamit Hans dengan mencium kening istrinya.
Hans memasuki kamar mandi sempit tanpa ada shower. Keadaan yang mendesak membuatnya menghabiskan malam panas mereka hanya di dalam sebuah penginapan seharga seratus lima puluh ribuan. Sekali lagi, Hans tersenyum geli. Ini pertama kalinya dia menginap di losmen yang sangat sederhana.
Hans keluar dari kamar mandi setelah mandi wajib di tengah malam. Tapi, Zoya masih terlihat memejamkan mata, dia juga seolah enggan untuk bergerak.
"Sayang, mau aku pesankan air hangat?" tanya Hans yang langsung dijawab gelengan lagi oleh istrinya.
"Tidak ada shower, air di bak lumayan dingin?" jelas Hans agar menjadi pertimbangan istrinya.
"Tidak apa-apa." jawab Zoya dengan mengerjapkan mata. Sesaat kemudian mata Zoya terbuka menatap sosok yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Ayo, cepat mandi! Secepatnya kita akan pulang ke apartemen." Mendengar kalimat Hans membuat Zoya mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti, kenapa harus ke apartemen? Kenapa tidak pulang ke rumah? Belum sempat menanyakan apa yang sedang dia pikirkan, " Ayo! " Hans langsung mengangkat tubuh mungil itu.
"Aaaarrggghhh... " pekik Zoya terkaget. Saat suaminya mengangkat tubuhnya dan membawa masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku mandiin?" tawar Hans dengan smilirk licik.
"Nggak _ Nggak, aku mandi sendiri." jawab Zoya dengan cepat diiringi lambaian tangan.
"Aku akan keluar ke depan sebentar." pamit Hans.
Hans melangkah meninggalkan kamar. Tengah malam, jalanan terlihat lenggang, langkah panjangnya pun melintasi jalan menuju sebuah swalayan yang ada di depan losmen. Longmaret, minimarket yang memang buka dua puluh empat jam.
Setelah mengambil beberapa makanan dan minuman, Hans berjalan menuju meja kasir. Dengan meletakkan barang yang telah dia ambil, pikirannya kembali teringat permainan panasnya bersama Zoya. Mungkin, jika tidak dalam kondisi hamil, istrinya sudah tidak mampu berjalan lagi, "dasar!" Sambil tersenyum tipis Hans menggelengkan kepala pelan.
"Ada apa, Pak?" tanya sang kasir, merasa Hans sedang berbicara dengannya.
"Oh, tidak. Berapa semuanya?"
__ADS_1
"Seratus dua puluh lima ribu! " jawab kasir dengan melihat aneh lelaki di depannya itu.
Setelah membayar tagihannya, Hans segera kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin Zoya merasa cemas karena tidak mendapatinya di dalam kamar.
"Zoy.... " panggil Hans saat mendapati istrinya mengusap rambut panjangnya yang basah sehabis keramas.
"Mas, dari mana?" tanya Zoya dengan melirik suaminya yang malah memamerkan tentengan kantong plastik.
"Mas, jelaskan padaku tentang yang kita lakukan. Ini tidak adil bagi Mbak Arum." ujar Zoya dengan menghentikan tangannya menggosok rambutnya yang masih basah. Zoya meluruhkan bahu menunggu penjelasan Hans.
"Ini ulahnya, sepertinya dia mencampur obat perangsang di jus yang dia berikan padaku." jawab Hans.
"Apa?" Zoya seolah tidak percaya.
"Sudahlah, makan roti itu dulu. Nanti aku jelaskan saat di apartemen. Lihatlah losmen ini terlalu sempit dan panas. Tidak ada AC." Pandangan Hans mengedar, seolah meneliti isi dan ukuran losmen.
Hans mengulurkan sebungkus roti pada istrinya. Zoya memang merasa sangat lapar, selain rasa lelah yang seolah ingin membuatnya kembali tidur. Setelah itu, mereka memutuskan check out tengah malam, tepat pukul dua belas malam.
"Kenapa tidak pulang saja? Kasian Ale, dia dititipin terus seperti barang saja." ucap Zoya saat berada di dalam mobil dengan menatap jalanan yang terlihat lenggang.
"Nanggung, aku juga ingin menghabiskan malam ini bersamamu. Aku sangat merindukanmu, Zoy! " Hans mengulurkan satu tangan mengambil jari-jari mungil itu dengan menciumnya dengan lembut. Zoya hanya terdiam, dia masih penasaran apa yang sedang dipikirkan suaminya karena akhir-akhir ini Hans terlihat jelas bertindak semaunya sendiri.
Mereka akhirnya sampai di apartemen. Zoya memilih duduk di sofa yang ada di depan TV. Dia sudah bersiap mencecar suaminya dengan banyak pertanyaan. Tapi, Hans malah berjalan ke arah balkon dengan membawa kaleng soft drink dan meneguknya sekali, kemudian meletakkannya kembali di meja.
Zoya mengusap air matanya. Dia berusaha terlihat tegar meski hatinya merasa ngilu selalu digantung seperti ini.
"Mas Hans berdosa jika tidak adil dengan istri. Apalagi, Mbak Arum sampai melakukan tipuan obat perangsang, berarti dia menginginkannya. Dia juga istri Mas Hans." Zoya berbicara dengan terisak, kuat tidak kuat dia mengucapkannya. Dia sudah tidak ingin terjadi kesalahan yang terus menerus.
"Dia bukan istriku!" tegas Hans, tangannya menelangkup di wajah istrinya. Matanya menatap tajam mata yang tidak berhenti untuk mengalirkan cairan bening.
"Mas Hans jangan mengelak! Pernikahan kalian sah menurut agama. Jangan mempermainkan agama, Mas."
"Kamu yakin?" Hans tersenyum sinis menatap istrinya yang sudah nampak meradang. Zoya mencoba tetap bertahan untuk bisa berdebat dengan suaminya.
"Tentu, aku melihat Mas Hans melakukan ijab kabul." jawab Zoya dengan nada yang sangat diperjelas.
"Kamu tahu yang aku lakukan sebelum itu?" Pertanyaan Hans membuat tatapan Zoya melemah. Dia tidak mengerti apa pun, saat itu dunianya seolah runtuh seketika. Melihat Hans mengucapkan ijab kabul pun hanya di pertengahan saja karena dia sudah tidak tahan untuk menerima kenyataan itu.
"Aku sudah melakukan beberapa kesepakatan dengan Deny sebelum mengucapkan ijab kabul, tidak cuma dua orang yang menjadi saksi tapi tiga, Pak lurah, Dandy dan Pak ustad sendiri. Pernikahan kami hanya akan dilakukan selama enam bulan. Selama enam bulan aku harus memperlakukan Arum sama seperti aku memperlakukan istri pertamaku, syarat kedua aku harus memberikan uang bulanan dalam jumlah yang sama dengan istri pertamaku. Jika setelah enam bulan aku masih menginginkan Arum, aku harus meresmikan secara negara atau sebaliknya aku akan menceraikan Arum. Dan kamu atau arti perjanjian pernikahan dengan menentukan batasan waktu? dan dilakukan di awal ijab kabul?" tanya Hans dengan tersenyum ke arah istrinya. Tangannya masih dengan posisi yang sama membuat Zoya tidak bisa menyembunyikan senyum tipisnya dari suaminya.
__ADS_1
"Pernikahan kalian haram, gagal sah." ucap Zoya dengan menahan senyum dan tangisnya yang ingin meledak bersamaan.
"Itu Pinter!" Hans menyentil hidung mungil Zoya yang sudah memerah dengan tersenyum lembut.
"Mas Hans... " rasa bahagia yang membuncah membuatnya memeluk erat suaminya. Tangis bahagia tak bisa dibendung lagi. Lelaki di depannya kini hanya miliknya, hanya dia yang memilikinya. Beberapa saat mereka seperti melepas semua beban yang ada. Zoya rasanya enggan melepas pelukannya, dia seperti ingin mengatakan pada seluruh dunia jika dirinya satu satunya milik suaminya.
Setelah beberapa menit mereka saling meluapkan rasa bahagia, Zoya kembali meregangkan pelukan itu.
"Kenapa Mas Hans melakukan itu padaku? Kenapa setega itu padaku, apa pernah Mas Hans melihat betapa hancurnya hatiku saat itu. Hidupku rasanya sekarat beberapa bulan ini." lirih Zoya, dia sangat kecewa dengan sikap suaminya.
"Maafkan aku, Zoy. selain merahasiakan ini karena misi kasus yang aku tangani. Aku juga ingin tahu jika kamu benar-benar mencintaiku. Bukan sekedar pengabdian sebagai istri. Sekali lagi maafkan aku." ucap Hans, saat dia akan mencium bibir Zoya tapi istrinya mengalihkan wajah karena saking kesalnya.
"Kamu keterlaluan, Mas. Aku istrimu, tapi Mas Hans membodohiku seperti itu." Zoya rasanya ingin memukul wajah lelaki di depannya itu, tapi dia juga mencintainya.
"Aku benar-benar minta maaf, Zoy. Sekali lagi apa kamu mencintaiku, Zoya Kamila? " tanya Hans masih berdiri di depan wanita yang masih memalingkan wajahnya.
"Tidak! " jawab Zoya dengan cepat.
"Aku serius, Zoy. Apa kamu mencintaiku dari dalam hatimu, Zoy? " Zoya masih terdiam. Dia kembali menatap bola mata lelaki di depannya. Tatapan tajam yang mengharapkan jawaban jujur dari perempuan yang saat ini menjadi istrinya.
"Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku ingin bersamamu, di dunia ini dan bahkan sampai di surga-Nya nanti. Aku sangat mencintaimu Mas Hans Satriya Jagad." Kalimat Zoya seolah menjawab semua keraguannya selama ini. Dia yakin dengan segala kekurangannya, dia yang bukan sosok impian istrinya, tapi dia sudah mendapatkan cinta Zoya sepenuhnya.
"Terima kasih, Zoy. Sudah menerima segala kekuranganku, Terima kasih sudah menjadi istri hebatku, wanita tegar dan sabar dengan segala kondisi." bisik Hans dengan mencium puncak kepala istrinya.
"Tapi, Mbak Arum? Bagaimana Mas Hans akan menjelaskan? Mbak Arum pasti akan terluka." Zoya bisa membayangkan betapa kecewanya Arum.
"Itu urusan nanti... Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku sangat merindukanmu istriku satu satunya." bisik Hans dengan menyecap bibir mungil di depannya dan kemudian menggendong Zoya menuju ke kamar .
"Tapi, bagaimana Mas Hans tahu tentang nikah kontrak atau nikah kesepakatan? " tanya Zoya dengan mengalungkan tangannya di leher Hans.
"Sementara buang saja pertanyaanmu. Kita akan menyelesaikan satu ronde lagi. Oke? "
"Jangan gila, Mas! Aku sedang hamil." Zoya kembali mengingatkan Hans, tapi lelaki itu hanya menarik sudut bibirnya dan menatap genit istrinya.
Bersambung...
Hae hae readers tercintah terima kasih atas dukungan kalian... Hayooo siapa yang masih kecewa????
Ampun ya mak, othor jangan dikasih omelan lagi ya, maunya dikasih hadiah saja ya 😂😂😂
__ADS_1
Happy reading ya gaes..... lop u pull 😍😍
semoga selalu diberi kesehatan untuk kita semua.