Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Zoya bolak-balik naik turun tangga, dengan pikiran yang tidak tenang dia terus saja memperhatikan kamar Arum. Kamar itu sejak tadi pagi tidak lagi terbuka, setelah Arum masuk ke dalamnya dengan menangis. Rasa cemas kini mendera hati Zoya, dia takut Arum melakukan sesuatu yang buruk terhadap dirinya sendiri.


Dengan membawa makan siang untuk gadis itu, Zoya mengetuk kamar Arum yang berada di lantai bawah.


"Mbak Arum, aku bawakan makan siang untuk Mbak Arum." panggil Zoya, setelah mengetuk pintu kamar tersebut. Dengan alasan membawakan makan siang untuk Arum, Zoya bisa tahu keadaan Arum di dalam kamar. Dia sangat khawatir, di sini tidak ada siapa pun yang menjadi tempat untuk mencurahkan perasaan kecewanya.


Berlahan pintu kamar terbuka, wajah sembab dengan kedua mata yang bengkak itu muncul. Bisa dipastikan jika Arum sudah menghabiskan waktunya dengan menangis.


"Makan dulu, Mbak! " Zoya membawa masuk nampan yang berisi makanan sekaligus air saat Arum membuka pintu kamarnya. Tidak ada yang ingin di katakan perempuan hamil itu karena takut keberadaannya hanya akan mengusik gadis yang hatinya sedang terluka itu.


"Besok, Bang Deny menjemputku!" lirih Arum dengan ekspresi datar, tapi sorot matanya masih menyiratkan rasa kecewa. Tidak mudah untuk memutuskan sebuah harapan untuk perasaannya pada seseorang.


"Iya, Mbak." jawab Zoya singkat, kemudian dia berlalu dari kamar gadis itu.


Arum kembali menatap makanan yang dibawa oleh Zoya. Masih dengan mata yang melelehkan buliran bening, pandangannya mengedar ke sebagian ruangan. Dia tak bisa mengingkari lagi jika hatinya sangat hancur. Hans laki-laki pertama yang tidak menginginkannya. Dia merasa tidak ada yang kurang dari dirinya. Bahkan, dia juga rela jika harus menjadi yang kedua, tapi tetap saja lelaki yang sudah mencuri hatinya itu tidak menginginkannya. Dia kembali terisak saat dirinya merasa terpuruk karena tidak diinginkan.


"Mas Hans, aku sangat mencintaimu." lirihnya seraya kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.


###


Di sebuah kafe yang terletak di depan kantornya, Hans, Kyara dan Ryan kini menghabiskan waktu makan siangnya dengan berbagai obrolan. Salah satu topik pembahasan yang mendominasi adalah perkembangan kasus yang saat ini mereka tangani.


"Wuihhh... Bang Ryan, kayaknya naksir asprinya Pak Bos, deh!" ledek Kyara saat Ryan kembali dari meja kasir untuk memesankan Diana makan siang dan mengirimkannya ke kantor.


"Diana?" tanya Hans dengan menarik sudut bibirnya.


"Tentu sajalah, Bos. Oh ya, kenapa dari tadi cuma pesan kopi saja?" tanya Kyara yang sedari tadi hanya memperhatikan Hans.


"Aku meminta Zoya ke kantor setelah menjemput Ale. Sekalian Dia akan membawakan makan siang untukku." jawab Hans, karena Zoya juga sempat mengatakan akan membawakan makan siang untuknya. Dia memasak sayur asam kesukaan Hans meskipun masih dengan bantuan Bi Muna.


Pukul satu siang, Hans melihat sebuah mobil CR-V putih masuk ke halaman kantornya. Dia bergegas bangkit, karena dia yakin jika itu Zoya dan Ale yang diantar oleh Pak Dino.


"Mau kemana, Bro? " tanya Ryan saat melihat Hans yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Itu Zoya dan Ale! Mereka sudah sampai." ujar Hans kemudian melangkah meninggalkan kedua orang yang sedang menatapnya heran.


"Orang galak kalau udah bucin, parah juga ya?!" gerutu Kyara dengan berdecih dan menggelengkan kepalanya. Sedangkan, Ryan hanya bisa tersenyum tipis, Hans memang seperti itu jika sudah menjatuhkan cintanya.


Terlihat lelaki yang mengenakan kemeja pas body dengan motif salur itu berjalan dengan langkah panjang. Sambil melipat lengan kemejanya sampai ke siku, Hans bersiap untuk menyebrangi jalan yang tidak terlalu ramai.

__ADS_1


"Papa." panggil Ale saat melihat Hans yang berjalan ke arahnya. Sambil membuka jilbab sekolahnya dan membawanya, Ale berlari menghambur ke arah papanya.


"Lah kok, kerudungnya dilepas?" tanya Hans saat Ale memeluk kaki panjangnya. Lelaki dengan tinggi maksimal dan perawakan atletis itu pun mematung sejenak, karena pelukan lengan Ale di kakinya.


"Panas, Pa!" jawab Ale kemudian melepaskan pelukannya.


"Mana mungkin? Di mobil, kan, ada AC-nya? " sanggah Hans kemudian menggandeng putrinya untuk berjalan ke arah Zoya yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi papa dan putrinya.


Ketiganya kini berjalan masuk ke dalam kantor. Ale yang berjalan sembarangan mengundang perhatian beberapa pasangan mata. Hingga akhirnya bocah itu menghampiri meja Diana.


"Assalamu'alaikum, Aunty!" sapa Ale membuat Diana menoleh ke arah Ale yang susah berdiri di samping mejanya.


"Waalaikum salam, Sayang." jawab Diana, sudut matanya kemudian mengekor ke arah dua yang yang kini berjalan ke arah ruangan Hans.


"Aunty, Ale masuk dulu ya! " jawab Ale kemudian berlari mengejar papa dan mamanya yang masuk ke dalam ruangan.


Melihat zoya yang menghela nafas panjang saat mendudukkan tubuhnya di sofa, membuat Hans tersenyum. Dia melihat istrinya seperti kelelahan.


"Kamu sudah lelah, Zoy?" tanya Hans saat menghampiri istrinya.Tangannya melingkar ke bahu belakang istrinya dan membawa tubuh kecil itu dalam rengkuhannya.


"Nggak juga, Mas. Tapi bersandar seperti ini rasanya nyaman banget." Zoya bersandar di dada bidang Hans. Mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang sudah melayangkan tatapan tajam.


"Papa genit!" celetuk Ale membuat Zoya membenarkan posisi duduknya.


"Kata teman Ale. Kalau ada anak laki-laki yang suka deketin anak perempuan, namanya genit." jelas Ale membuat papanya tertawa.


"Mas, mau makan siang sekarang?"


"Boleh. Kamu sudah makan, Mbul?" tanya Hans dengan menoel hidung yang hampir tertutup pipi gembul itu.


"Sudah, tadi makan bakso di depan sekolah." jawab Ale yang kemudian turun dari pangkuan papanya saat melihat miniatur pesawat yang ada di meja kecil yang berada di sudut ruangan Hans.


"Mama juga makan bakso?" tanya Hans sekali lagi dengan menoleh ke arah Ale.


"Mama cuma tutup hidung." sahut Ale masih memperhatikan miniatur pesawat.


"Bener, Zoy? "


"Nggak tahan aroma bawangnya, Mas. Tapi, aku tadi sudah makan lotes." jawab Zoya dengan menyiapkan makan siang untuk Hans.

__ADS_1


"Kamu, mau makan apa?" tanya Hans sebelum memasukkan sendokkannya ke mulut.


"Ayo, makan!" Hans sudah menyiapkan sendokkan ke duanya untuk masuk ke mulut Zoya dan perempuan hamil itu pun menerimanya.


"Mas, besok Mbak Arum di jemput Deny."


"Baguslah!"


"Aku kasihan sama Mbak Arum! Dia sepertinya tulus mencintai Mas Hans!"


"Kamu mau aku poligami?" Pertanyaan Hans membuat Zoya tersedak, Hans mengambilkan air minum untuk Zoya. Mereka makan siang bersama dalam satu piring. Dengan telaten dia menyuapi Zoya bergantian dengannya.


"Makanya, jangan kebawa perasaan. Justru jika aku memberinya harapan itu akan membuatnya lebih sakit." jelas Hans dengan menyadari jika makanan yang masuk ke dalam mulut Zoya sudah lumayan banyak.


"Zoy, besok kita periksa kandungan, ya!" ajak Hans dengan mengelus perut Zoya yang sudah mulai terlihat.


"Ale ikut, Pa. Ale ingin melihat adek bayi!" Ale mendekat dengan membawa miniatur pesawat yang sayapnya udah terlepas.


Setelah makan siang, mereka meluncur ke sebuah butik sebelum sampai rumah,


Zoya akan meminta ijin pada Hans untuk membelikan kenang-kenangan pada Arum. Dia memang pernah merasa tidak senang sama Arum karena rasa cemburu. Tapi itu tidak membuat Zoya sepenuhnya membenci gadis itu.


Hans sengaja meminta Zoya datang ke kantor karena ada sedikit waktu luang. Dia juga ingin quality time bersama keluarganya. Sesuai kesepakatan antara Zoya dan Hans, di rumah mereka memilih menjaga jarak dengan alasan tidak ingin menyakiti Arum.


Setelah sampai di rumah, sekitar pukul tiga sore, Hans menggendong Ale yang tertidur saat perjalanan pulang itu menuju ke kamar.


Mendengar kepulangan mereka, Arum memilih naik ke lantai atas untuk menghampiri mereka.


"Mas, Mungkin Zoya sudah mengatakan jika besok aku dijemput Bang Deny." Arum menghadang Zoya dan Hans yang hendak turun ke bawah.


"Mungkin besok jam segini, Bang Deny sampai di sini. Maaf jika sikapku selama ini kelewatan." ucap Arum, mata bengkak itu kembali mengembun.


"Baiklah, santai saja! Jika aku masih di kantor biar Zoya yang mewakili aku mengantarkan kepulanganmu."


"Aku juga minta maaf, jika sudah banyak mengecewakanmu." lanjut Hans, bukannya menjawab, Arum langsung berbalik. Dia sudah ingin menangis, berhadapan dengan Hans seperti berhadapan dengan rasa kecewanya.


Melihat Arum yang terpuruk, Zoya mengusap sudut matanya. "Kamu menangis, Zoy?" tanya Hans dengan merangkul bahu mungil di sebelahnya.


"Aku bisa mengerti perasaannya Mbak Arum." lirih Zoya.

__ADS_1


"Sama seperti saat dirimu harus menerima pinanganku dan meninggalkan cintanya Pak Ustad?" goda Hans dengan menahan tawanya. Sedangkan, Zoya hanya mencubit pinggang Hans karena mengungkit perasaan masa lalunya. Sungguh dia sangat malu jika yang mengungkit suaminya.


Bersambung....


__ADS_2