
Nobody's perfect if you are perfect is you are nobody. Tidak ada manusia yang sempurna, jika kamu sempurna maka kamu bukan manusia.😆😆😆
Sesekali Hans masih melirik istrinya yang sedari tadi bersandar dan memejamkan mata. Zoya selalu bergumam mengeluhkan jika kepalanya terasa pusing dan tubuhnya terasa lemas. Jika tahu seperti ini jadinya, Hans tidak akan meninggalkan Zoya sendirian. Dia sangat menyesalkan itu.
Setelah menghentikan mobilnya ketika sampai di halaman rumahnya lelaki itu langsung saja menggendong istrinya untuk masuk.
"Hans, apa yang terjadi?" tanya Mama Shanti saat melihat Hans menggendong Zoya menaiki tangga. Beliau pun segera mengikuti putranya, memang aneh, mereka pulang terlalu dini untuk ukuran pesta bahkan dengan kondisi putranya yang sedang menggendong menantunya.
"Kenapa tubuhku jadi begini rasanya?" Zoya berusaha bangkit dalam gendongan Hans tapi tubuhnya terasa lemas.
"Ada apa dengan Zoya, Hans? " Shanti masih menunggu jawaban putranya saat Hans meletakkan tubuh istrinya di tempat tidur.
"Zoya tidak sengaja minum Alkohol saat aku tinggal untuk bernyanyi di atas panggung." jawab Hans dengan melepas sepatu di kaki Zoya dan kemudian beralih melepas jilbabnya.
"Ya Allah Hans, menjaga satu istri saja nggak becus, bagaimana mau jaga empat istri? Gitu kok berani membahasa poligami." omel Mama Shanti.
"Ma, please kali ini jangan banyak komen dulu. Aku juga tidak tega melihat Zoya gelisah kayak gini." ujar Hans membungkam omelan Shanti. Dia mengambil air minum yang ada di nakas dan membantu Zoya meminumnya.
"Ma, tolong minta Bi Muna untuk membuatkan Sup jamur dan daging." pinta Hans. Wanita paruh baya itu tidak banyak bicara lagi. Beliau langsung keluar, bahkan dia sendiri yang berniat membuatkan sup untuk Zoya.
"Kepalaku pusing dan perutku mual, Mas!" lirih Zoya dengan sesekali mengerjapkan matanya.
Hans tidak sabar lagi, dia membawa Zoya kedalam kamar mandi, dia memilih untuk memandikan Zoya di bawah shower. Hal itu memang sedikit mengembalikan kesadarannya, tapi rasa dingin membuat tubuh mungil itu memeluk erat tubuh suaminya.
Mama Shanti sudah kembali ke kamar dengan membawa Sup. Di sana Zoya sudah bisa duduk sendiri di atas tempat tidur dengan merapatkan selimut di tubuhnya, sementara Hans masih mengusap dan mengeringkan rambut basah istrinya.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Hans kemudian dijawab dengan anggukan Zoya.
"Makan sup dulu dan kemudian istirahat. Mama juga akan tidur." sela Shanti kemudian meninggalkan kamar mereka.
"Perutku rasanya tidak enak, Mas!" ujar Zoya yang sebenarnya enggan untuk makan sup.
"Kamu dari tadi belum sempat makan, ayo aku suapin! " Hans mulai menyuapi Zoya sup, hanya beberapa suap saja Zoya sudah menyerah membuat lelaki itu meletakkan kembali mangkuk supnya.
__ADS_1
"Sekarang Istirahat, ya!" Hans menaikkan selimut istrinya tapi saat akan berbalik pergi Zoya menahannya. Seketika, Hans pun tersenyum ke arah istrinya. Dia mengerti jika Zoya ingin di temani untuk saat ini. Hans mulai berbaring di samping tubuh yang meringkuk memunggunginya.
###
Pagi yang penuh drama antara Ale dan papanya, banyak protes yang dilayangkan Ale karena cara Hans membantunya bersiap sekolah berbeda dengan cara Zoya.
"Papa, Mama kenapa?" tanya Ale setelah mengenakan seragam.
"Mama sakit." jawab Hans membuat bocah itu langsung terjun dari atas tempat tidur dan berlari ke kamar sebrang untuk mencari Zoya.
"Ceklek... Mama! " panggil Ale dengan berlari ke arah Zoya yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Mama kenapa?" Bocah itu langsung naik ke atas tempat tidur dan memeluk leher mamanya. Hans yang masuk dan melihat kedua wanitanya itu pun hanya menggeleng.
"Sayang, kalau mau kamar orang lain harus ketuk pintu, ya! Ale anak yang pinter, jadi Ale harus punya tata krama juga." sudah sering kali Zoya mengamati putrinya yang masuk ke kamar orang lain hanya dengan nyelonong begitu saja.
"Iya, Mama. Tapi, temani Ale sarapan, Ale akan makan sendiri." pinta bocah itu dengan memonyongkan bibirnya, merajuk minta ditemani sarapan.
Berlahan dia menggandeng putrinya untuk turun ke bawah. Sementara Hans, memilih masuk ke kamar mandi untuk persiapan pergi ke kantor.
Zoya masih menunggui Ale menghabiskan sarapan, kemudian di susul Mama Shanti yang terlihat berjalan dari pintu belakang dengan mengenakan training.
"Assalamualaikum cantiknya Oma, cantiknya Mama." sapa Mama Shanti yang kemudian langsung ikut di meja makan.
"Waalaikum salam, Ma!"
"Waalaikum salam Oma." jawab Zoya dan Ale bergantian.
"Bagaimana keadaanmu, Zoya? " tanya Mama Shanti dengan menyeruput teh hangatnya.
"Sudah lebih baik dari pada semalam, Ma." jawab Zoya dengan membereskan piring kosong Ale. Jari-jari mungil itu memakaikan dan menata kerudung Ale serta menyiapkan tas sekolah putrinya yang sudah siap untuk berangkat.
"Tunggu Papa sebentar! " ujar Zoya pada Ale saat melihat Hans sudah berjalan menuruni tangga dengan tampilan yang sudah rapi.
__ADS_1
Tidak sabar menunggu papanya , Ale langsung berlari menghampiri Hans saat berada di anak tangga paling bawah. Bocah gembul itu tidak lupa untuk berpamitan pada papanya dan kemudian berpamitan dengan Oma setelah itu bersama Zoya dia keluar menghampiri mobil yang sudah di siapkan Pak Dino untuk mengantarkannya ke sekolah.
"Nanti siang yang jemput Ale mama Zoya, ya! " pinta Ale saat berdiri di samping mobil.
"Iya, sayang. Nanti kalau ada yang nakal sama Ale bilang Ibu guru saja." Zoya mewanti wanti jangan sampai kejadian kemarin terjadi lagi.
"Assalamu'alaikum." ucap Ale dengan salim pada mamanya saat akan masuk ke dalam mobil.
"Waalaikum salam." ucap Zoya dengan menutup pintu mobilnya.
Setelah menghilangnya mobil CRV putih itu dari halaman rumah mewah pengacara ternama itu, Zoya pun kembali berjalan masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan sarapan suaminya. Pagi ini semua menu yang memasaknya memang Bi Muna, tapi seperti biasa jika Hans hanya akan makan jika Zoya meladeni dan menemaninya.
"Segini, Mas?" tanya Zoya saat mengambilkan nasi di piring suaminya.
"Kurangi sedikit." mendengar titah suaminya Zoya pun mengurangi sedikit porsi makan Hans. Dia sendiri memutuskan untuk sarapan nanti saja, karena belum begitu ingin. Sedangkan Mama Shanti masih menikmati camilan dan teh hangatnya.
"Zoya, semalam itu bagaimana ceritanya? " tanya Mama Shanti, dia sudah penasaran kenapa Zoya sampai meminum Alkohol.
"Zoya, tidak tahu itu minuman apa. Dan saat itu beberapa teman Mas Hans memberi Zoya gelas berisi seperti air putih. Tapi, saat Zoya minum ternyata rasanya aneh dan tenggorokan seperti terbakar." jelas Zoya.
"Makanya jadi orang harus pinter. Pinter membaca situasi, membaca dengan siapa bergaul dan harus tahu bagaimana bersikap, biar tidak di kerjain orang. Satu lagi, harus banyak wawasan." Sela Hans seketika membuat hati istrinya langsung 'mak jleb' terasa di salahkan karena tidak bisa masuk dalam lingkungan pertemanan suaminya.
"Mungkin itu kekuaranganku, Mas. Maafkan aku, tidak bisa belajar dengan cepat." lirih Zoya hatinya tersentil saat kalimat itu meluncur begitu spontan dari bibir suaminya. Tapi, Zoya memang menyadari dia memang sulit untuk bisa masuk dalam sebuah lingkungan baru. Pernah tersudutkan dalam lingkup sosial kehidupan sebelum bertemu suaminya membuat perempuan itu memang masih cenderung menutup diri.
"Kalau, Zoya pinter mungkin dia tidak akan sudi menerima pinangan duda beranak satu. Dan kamu juga punya kekurangan, Hans. Kamu juga tidak pintar membaca perasaan istrimu." Saat melihat wajah memerah dengan tatapan mata yang yang tertunduk membuat Mama Shanti sangat gemas dengan mulut putranya.
Saat menyadari kalimat mamanya yang yang cukup nge-gas membuat Hans mengalihkan pandangannya ke arah Zoya. Istrinya terlihat terdiam dia baru menyadari jika kalimatnya sudah menyakiti perasaan istrinya.
Bukan, bukan itu maksud Hans. Dia hanya ingin Zoya lebih defense saat berada dalam situasi yang tidak bersahabat.
"Maksudnya, kamu harus bisa membaca situasi, Zoy. Bukankah sudah jelas tertera dalam Al Qur'an ada kata perintah IQro' yang artinya kita harus bisa membaca, tidak hanya membaca ilmu pengetahuan tapi juga situasi dan kondisi, kan?" Hans mencoba meralat kalimatnya yang terlalu tajam. Tapi, sepertinya juga percuma, hati perempuan itu sudah terlanjur terluka. Zoya hanya terdiam setelah itu membuat meja makan di pagi hari telah terjadi perang dingin. Hingga satu persatu personilnya meninggalkan meja makan.
Bersambung....
__ADS_1