
Sebuah motor trill kini berhenti di depan kantor milik Hans. Sejenak, tatapan lelaki yang masih mengenakan helm penuh itu meneliti bangunan yang terlihat cukup mewah di depannya. Bangunan yang cukup mewah meski tak sebesar perkantoran lain.
Tampilannya yang kasual, bahkan celana jeans sobek-sobek, seolah sudah menjadi atribut kebesarannya.
"Selamat sore. Dimana saya bisa menemui Bapak Hans?" tanya Reynaldy yang kebetulan bertemu Diana, saat gadis itu akan pergi ke pantry untuk membuat secangkir kopi.
"Dari media masa?" tanya Diana yang dijawab anggukan cowok yang terkesan cuek itu. Diana sendiri sudah dipesan oleh Hans, jika dirinya sedang menunggu seseorang.
Sejenak Diana menoleh ke kanan kemudian ke kiri, kebetulan dia melihat Kyara yang keluar dari ruangan dengan membawa beberapa stapmap. Dia yakin jika gadis tinggi semampai itu akan pergi menuju ruangan Hans.
"Mbak Kyara." panggil Diana membuat gadis berambut curly itu menoleh, rambutnya yang terayun seirama dengan gerak langkahnya membuat pesona sendiri bagi pemiliknya.
"Ada apa, Di? Aku lagi sibuk banget!" jawab Kyara langsung menebak jika Diana akan meminta sebuah bantuan.
"Ini masnya dari media masa mau bertemu Pak Bos." balas Diana menunggu jawaban persetujuan dari Kyara.
"Baiklah, aku juga mau ke sana!" Kyara hanya memberi lampu hijau untuk Reynaldy agar mengikutinya. Gadis itu memang tidak bisa ditebak. Terkadang suka mencari perhatikan tapi terkadang sok cuek. Tapi yang pasti cara Hans dan Ryan yang selalu memojokkan cara berpakaiannya membuat kyara memilih mengubah tampilan fashionnya lebih tertutup.
"Selamat sore." sapa Kyara dengan membuka ruangan orang nomer satu di kantor itu.
"Masuk, Ra!" sambut Hans masih dengan menatap laptopnya.
"Mau menyerahkan beberapa data yang sudah direvisi. Dan ada tamu dari media, Pak." jawab Kyara. Gadis itu terkesan sangat formal meski di luar kantor mereka saling meledek.
Mendengar tamu dari media, Hans menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke arah lelaki yang saat ini tersenyum ke arahnya. Setelah mempersilahkan masuk lelaki jangkung itu, Kyara pun keluar meninggalkan ruangan Hans.
Hampir dua jam mereka berbicara empat mata. Senja yang mulai kemerah-merahan membuat keduanya mengakhiri pembicaraan. Keduanya keluar dari ruangan Hans dengan terlihat lebih akrab dari sebelumnya. Ya, senyum yang menghias di wajah keduanya menjadi tanda jika terjadi kesepakatan yang saling menguntungkan.
"Baiklah, kita akan mengulik lebih lanjut latar belakang dan motifnya." ujar Renaldy saat mengakhiri obrolan mereka di parkiran. Lelaki jangkung itu langsung menaiki motornya dan meninggalkan parkiran. Sementara Hans juga membawa mobilnya untuk pulang ke apartemen.
###
Seusai Salat Ashar, Ale menemani Zoya yang saat ini sedang rebahan di kamar. Dari tadi siang kepalanya terasa sedikit berdenyut. Bocah gembul itu tidak mau beralih dari samping Zoya meskipun dia juga tidak mau diam. Polahnya begitu heboh menguasai sebagian besar tempat tidur hingga terlihat kusut.
"Mama kepalanya masih sakit?" tanya bocah itu yang saat ini sudah duduk di dekat kepala Zoya.
"Tinggal sedikit! Kenapa? Kak Ale lapar? "
__ADS_1
"Tidak, Ale lapelnya cuma sedikiiiitttt saja!" ujar bocah itu dengan menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah yang berjarak tipis.
"Kalau Kak Ale mau makan, Mama bisa ambilkan." ujar Zoya kemudian memaksa tubuhnya untuk bangkit dari rebahan.
"Ale bisa ambil sendili, Ma!" ucap Ale dengan membuat Zoya tersenyum ke arah putrinya.
"Kak Ale anak pinter, tapi Mama masih bisa ambilkan Kak Ale makan." Sejenak dia menatap wajah bulat nanti lucu di depannya. "Ale, selamanya kamu akan jadi putri kecil Mama. Entah suatu saat kamu sudah dewasa atau menjadi seorang kakak. Kamu akan tetep seperti ini di hati Mama." gumam Zoya dalam hati dengan mengelus pipi gembul putrinya. Dia memang tidak melahirkan Ale. Tapi, ada perasaan yang kuat antara dirinya dan Ale selain rasa iba karena bocah itu tidak pernah melihat wanita yang melahirkannya.
"Mama, jangan menangis! Kalau masih Mama melasa sakit, Mama tidulan saja!! " lirih Ale dengan menatap mata Zoya yang sudah berkaca-kaca.
"Assalamu'alaikum." Ale dan Zoya menoleh ke arah pintu kamar.
"Waalaikum salam." jawab keduanya.
Ale langsung secepatnya menghambur ke arah Hans yang saat ini berjalan masuk."Papa, Mama sakit!" lapor Ale dengan menggandeng papanya ke arah tempat tidur.
"Kamu sakit apa, Zoy?" tanya Hans dengan duduk di sebelah Zoya.
"Cuma sakit kepala, Mas." jawab Zoya . Ale yang sedari menatap Papa dan mamanya bergantian, kini kembali naik ke atas tempat tidur dan duduk diantara keduanya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja. Kamu sudah makan, Zoya? "
"Iya, Mas. Kasihan Ale, pulang sekolah baru makan roti dan pizza sisa yang semalam." sahut Zoya membuat tatapan tajam Hans beralih ke arah putrinya.
"Kamu ini Mbul, baru makan pizza sama roti? Mau jadi apa badan ini?" ucap Hans dengan menggelitik Ale yang sudah dia tahan dalam pelukannya. Ale yang tidak tahan, hanya bisa cekikikan menahan geli.
Meskipun, mengoloknya seperti itu tapi tetap saja Hans mengajak putrinya ke meja makan. Menuruti apa yang Ale mau. Dalam perjalanan, dia sudah membeli sate ayam dan gado gado pesanan Zoya.
Zoya hanya tersenyum saat melihat kedua anak dan bapak itu berjalan beriringan keluar kamar. Sesaat kemudian, suara ponselnya berdering membuat Zoya sedikit beringsut untuk meriah ponselnya yang tergeletak sembarangan di atas tempat tidur.
"Mbak Arum. " gumamnya kemudian membuat layar kunci ponselnya.
"Assalamulaikum, Mbak." ucap Zoya.
"Zoya, kalian sengaja meninggalkanku sendiri di rumah? Kalian keterlaluan." cecar Arum terdengar begitu emosi.
"Maaf mbak. Rencana mau pulang hari ini. Tapi, aku kurang enak badan."
__ADS_1
"Jangan Banyak alasan, Zoy. Mas Hans juga nggak adil. Mas Hans sengaja kan memblokir nomerku? Atau jangan-jangan kamu yang minta." tuduh Arum penuh dengan luapan emosi.
"Maaf Mbak, soal itu aku tidak tahu." jawab Zoya. Kehamilannya membuat Zoya sedikit sensitif.
"Ingat, Zoy. kamu sedang hamil, kalian jangan keterlaluan memperlakukan orang lain!" Setelah meluapkan emosinya Arum menutup panggilannya begitu saja. Sejenak Zoya tertegun. Tatapannya menerawang. Zoya merasa, mungkin tidak sepenuhnya salah apa yang diucapkan gadis itu.
"Zoy, Makan ya!" Kehadiran Hans yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Zoya. Hans sudah membawa gado-gado lengkap dengan air putih.
"Nanti saja, Mas! " jawab Zoya dengan suara lirihnya. Wajah berfikir tidak bisa dia sembunyikan lagi dari suaminya.
"Ada apa?" tanya Hans, lelaki itu menaruh nampan yang baru dia bawa dan ditaruhnya di atas nakas.
"Kapan kita pulang, Mas. Aku merasa tidak enak jika meninggalkan Mbak Arum sendirian." ucap Zoya mengingatkan Hans jika Arum juga menunggunya.
"Ada apa?" Hans merangkak ketengah tempat tidur. Lelaki itu tengkurap dengan bertumpu dengan kedua sikunya.
"Tidak, aku hanya tidak enak saja. Mbak Arum sendirian di rumah." jelas Zoya.
"Kan, Ada Bi Muna dan Pak Dino." jawab Hans dengan santai. Hans sudah tidak ingin ambil pusing, setelah kelakuan licik Arum mencampur obat perangsang itu.
"Tapi, Mas... "
"Sudahlah, nurut saja kamu." Hans langsung memotong kalimat Zoya.
"Ale mana, Mas? "
"Nonton kartun." jawab Hans kemudian menggeser tubuh dan meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya.
"Sudah kerasa geraknya, Zoy? " tanya Hans Kemudian mencium perut istrinya yang sudah sedikit berisi.
"Aku belum merasakannya, Mas." Zoya mendorong pelan bahu Hans karena merasa geli, tapi lelaki itu malah sengaja menggesek gesekan hidungnya di perut Zoya.
Hans Pov.
Terkadang aku merasa tidak tahu diri. Saat melihat Zoya mendapatkan kesulitan dalam masa kehamilan. Dia masih terlalu muda untuk mengandung benih yang sudah aku tanamkan.
Tapi, mau bagaimana lagi? Jika Allah memberikan bagian yang kecil mungil untukku. Tapi, meskipun begitu aku merasa terkadang dia bisa lebih dewasa dariku.
__ADS_1
Sebentar lagi perut Zoya akan membesar dan dia pasti akan semakin terlihat aneh. Tapi, aku melihatnya tetap cantik, apalagi saat senyum manis itu menyambutku, saat suara lirih menyapaku dan wajah ayunya yang tidak bisa aku pungkiri kecantikannya. Entah bagaimana Allah mengaturnya, kami yang terpaut usia cukup jauh bisa saling mengimbangi. Awalnya aku memang merasa aneh.Tapi, lambat laun aku merasa kami saling mengisi kekurangan dengan kelebihan masing masing. Apa itu yang namanya Jodoh?