Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Kejutan(Extra Part)


__ADS_3

"Sudah saatnya kamu mengenal semua tentang suamimu, Sayang." bisikan lembut Wildan tepat di dekat telinga istrinya. Hembusan nafasnya pun terasa kuat menyapu sebagian wajah cantiknya.


"Eh... it-itu... a-airnya mendidih, Bang." ucap Nilla dengan susah payah. Iya benar, suara teko yang berdenging sudah terdengar sampai di kamar mereka yang masih terbuka.


"Sebentar... " Wildan langsung mendaratkan ciuman yang kedua kalinya di bibir mungil Nilla. Baru kemudian melepaskannya. Hasrat jiwa lelakinya semakin menuntut. Meskipun begitu, dia masih menunggu kesiapan Nilla.


"Teh hangat saja, Nil." ucap Wildan saat mengingat tujuan Nilla kembali masuk ke dalam kamar.


"Baik, Bang." Gadis itu kembali berjalan ke dapur. Jantungnya belum juga bisa dinormalkan kembali. Dia menggelengkan kepala mencoba mencari kesadaran penuhnya.


Setelah membersihkan diri, Wildan keluar dari kamar. Cuaca gerah yang sudah berganti dengan hawa dingin karena Angin yang sudah berhembus menyapu udara lembab setelah gerimis berhenti.


Aroma teh yang menguar hingga ke hidungnya membuat Wildan berjalan menghampiri meja makan.


Secangkir teh yang masih mengepul sudah berada di atas meja. Tapi lelaki bertubuh tinggi tegap itu tak berhenti mengedarkan pandangan mencari keberadaan istrinya. Setelah menyesap tehnya sekali, Wildan mencari Nilla di dekat kolam. Iya, ternyata benar saja, istrinya sudah duduk di dekat kolam ikan.


"Bang, tadi tehnya masih di meja." ucap Nilla saat menyadari keberadaan Wildan.


Tanpa menjawab pertanyaan Nilla, Wildan langsung mendaratkan tubuhnya di dekat istrinya. Tangannya melingkar di tubuh kecil yang saat ini menegang. Tidak salah lagi apa yang diyakini Wildan, seketika pula tubuh Nilla menjadi kaku.


Wildan sudah mengenal Nilla cukup lama, meskipun berawal karena ingin mengorek banyak hal tentang Zoya. Nila, juga adik kelasnya yang terkenal tomboy dan galak. Wataknya cukup keras, hingga banyak temannya yang sebenarnya tertarik dengan kecantikannya itu meragu, takut di tolak atau kena semprotnya.


"Nil, aku suka rambutmu." ucap Wildan dengan menuntun kepala Nilla bersandar di dadanya. Tangannya menarik lengan istrinya agar memeluk tubuhnya. Wildan mulai terus saja memepet istrinya. Nilla cukup pandai di kampus, tapi, dia sama sekali tidak berpengalaman saat berinteraksi dengan lawan jenis. Wildan lelaki pertama dalam hidupnya. Dia juga lelaki pertama yang bisa memantik perasaan cintanya.


Nilla terdiam di sana, diantara gelombang dada bidang suaminya. Jantungnya memompa lebih cepat. Tubuhnya terasa panas dingin. Ini pertama kalinya dia berada dalam pelukan lelaki.


"Kita belum honeymoon. Apa perlu kita mengambil waktu beberapa hari untuk keluar kota?" ucap Wildan tersamar. Dia sengaja membahasnya, meski saat ini dia merasakan detak jantung nilla yang saling berlomba.


"Terserah Abang saja." jawab Nilla singkat. Dia tidak tahu harus menjawab apa lagi.


Ya Allah gadis itu rasanya ingin melompat saja keluar dari pelukan yang bisa membuatnya terkena serangan jantung.


Berkali kali Wildan mencium puncak kepala istrinya, " Rileks, sayang. Kita tidak sedang melakukan dosa." bisik Wildan. Dia tidak bisa membayangkan jika mereka melakukan malam pertama, begini saja Nilla sudah sulit mengendalikan ketegangannya.


###


Saat ini Zoya hanya menatap bayangan dirinya di cermin dengan rasa sedih. Ibunya sakit hingga, beliau tidak bisa datang di acara pengajian calon cucunya. Dan Sampai detik ini pula, Hans tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Drt... drt... drt." ponselnya pun berbunyi.


Gegas, Zoya meraih benda pipih yang tergeletak di dekatnya. Berharap, suaminya yang menelpon.


"Assalamualaikum, Bu..." sapa Zoya saat melihat wajah pucat ibunya di layar ponsel.


"Waalaikum salam, Nduk." meski wajahnya terlihat lesu tapi wanita berumur itu masih menyinggung senyum untuk putrinya.


"Maafkan, Ibu tidak bisa datang!" ucap perempuan itu dengan suara berat. Beliau menahan tangis setiap melihat putrinya Zoya. Rasa iba untuk putrinya itu memang tidak bisa menghilang. Mengingat Zoya adalah putri sekaligus teman melalui masa sulit sepeninggalan bapaknya.


"Tidak apa, yang penting Ibuk cepat sembuh. Jangan bikin Zoya mengkhawatir Ibuk." jawab Zoya.


"Jangan cemas, Zoy. Zahra menjaga ibu dengan baik. Kamu jaga kesehatan, pilih makan makanan yang sehat karena ada dua nyawa yang dititipkan Allah padamu.


"Iya, Buk."


"Oh ya, Zoy. Sebentar lagi kamu akan menjadi orang tua. Sebuah tanggung jawab besar untuk menjaga titipan dari Allah. Tidak hanya sebuah materi, anak juga butuh doa dari kedua orang tuanya." Zoya masih mendengarkan wejangan dari ibunya.


"Zoy, Ibu hanya bisa mendoakan, semoga kamu selalu bahagia, selalu dalam lindungan Allah. Selama ini ibu tidak bisa memberikan sesuatu yang layak untukmu..." rasanya Nurma sudah tidak bisa menahan tangisnya. Bahkan tenggorokannya kini terasa tercekat.


"Salam buat suamimu. Sampaikan ucapan maaf Ibu, karena tidak bisa datang." Nurma langsung menutup panggilannya. beliau tidak ingin Zoya melihatnya menangis. Selama ini yang dilihat anak-anaknya jika dirinya adalah wanita yang kuat.


Zoya terduduk kembali di depan cermin. Hari ini seharusnya hari yang bahagia. Tapi, tidak adanya dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya membuat perempuan itu harus menelan rasa kecewa.


"Zoy, kamu belum mengenakan Jilbab? Di bawah semua tamu undangan sudah hadir." ucap Niar saat masuk ke dalam kamar Zoya.


"Mbak, Mas Hans belum juga pulang padahal sebentar lagi acara dimulai." keluh Zoya hampir menangis.


"Apa mas Hans tidak menginginkan bayi ini?" lanjut Zoya, matanya yang sudah memanas itu pun meneteskan butiran air.


"Mungkin, dia masih ada acara. Jangan berfikir negatif. Kita semua semua sangat menyayangi kalian." tutur Niar mencoba menenangkan Adik iparnya.


"Zoy, kata Mama dulu kamu dan suami Nilla saling mencintai,ya? Karena mama, kalian tidak berjodoh." Pertanyaan Niar setengah meledek Zoya, dia tahu jika Zoya adalah pemalu.


"Mbak, jangan diungkit lagi. Biarkan itu jadi rahasia saja."


"Sumpah lo Zoi, itu ustad ganteng amat. Sebenarnya cocok sama kamu. Kalian sama sama lembut. Tatapannya terhadapmu juga tidak biasa. Apa ya?... susah diartikan gitu." Niar memang sempat memperhatikan Wildan yang menatap Zoya saat mereka saling menyapa.

__ADS_1


"Ya Allah, Mbak Niar ini kakaknya siapa? Sekarang, aku mencintai Mas Hans, Mbak." Zoya mencoba menegaskan.


"Mas Hans juga ganteng, populer, dan banyak duit tentunya."


"Ih... lama-lama kamu jadi pinter, ya" Niar tergelak mendapat jawaban Zoya. Tentu saja dia akan mendukung adiknya, Hans tetaplah adik kesayangan bahkan dia juga akan selalu berdoa semoga adik satu satunya itu selalu di beri keberuntungan.


"Sudah kamu dandan, gih! Nanti pengajiannya akan segera dimulai." ucap Niar kemudian meninggalkan Zoya sendiri setelah melihat adik iparnya tersenyum.


Mereka hanya mengadakan acara kecil-kecilan, mengundang sebagian teman dan kerabat serta anak panti tempat Zoya berbagi rezekinya. Rencananya, anak anak panti itu yang akan mengaji di acara empat bulan kehamilan Zoya.


Kepergian Niar membuat Zoya kembali tertegun. Senyumnya pun menyurut, rasa sedih dan kecewa kembali menghinggapi perasaannya. Zoya menangis. Dia terus saja menyeka air matanya berkali - kali.


"Mas Hans, Apa kamu tidak menginginkan kami? Hingga kami bukan prioritasmu? " Zoya menangis di depan cermin dengan sesenggukan. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang sudah lembab.


"Ehem... " Zoya terkaget, seketika dia membuka telapak tangan di wajahnya saat mendengar Seperti suara deheman suaminya. Tapi, saat dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruang, hasilnya Nihil. Bayangan suaminya saja tidak ada.


Hatinya kembali dirundung rasa kecewa. Tapi, waktu terus berjalan membuatnya mengusap wajah sembabnya kali ini. Dia harus segera turun. Saat sapuan tisu mencoba mengeringkan wajah yang akan dia taburi bedak. Hidungnya mengendus aroma parfum milik Hans.


Sejenak dia tertegun, apa sedemikian rasa kecewanya hingga halusinasinya bekerja dengan sangat hebat. Meskipun pikirannya menolak perasaannya, tapi Zoya memilih mengikuti kata hatinya.


Dia berdiri dan berjalan keluar kamar. Sepi, tentu saja orang orang sudah berkumpul di bawah. Aroma parfum milik suaminya begitu kuat di hidungnya. Dia yakin meski pikirannya menolak keyakinan itu.


Berlahan dia melangkah mengikuti wangi parfum itu. Di sudut lantai dua di dekat gudang dia terus mendekat ke arah itu.


"Mas Hans." Panggilnya dengan tidak yakin. Dia mengucek kedua matanya saat melihat sosok berpakaian formal itu berdiri memunggunginya. Tangannya menggenggam bucket bunga.


"Mas Hans." Dengan ragu Zoya memanggil dan mendekati Sosok yang punya perawakan yang sama dengan suaminya.


Zoya naik di atas sofa dan menarik tubuh tinggi itu hingga menghadap ke arahnya. Seketika pula, Zoya membekap mulutnya, dia hampir saja tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya.


"Mas Hans. Benarkah?" Kedua tangan mungil itu mencubit kedua pipi Hans untuk membuktikan, ini bukan halusinasinya.


"Surprise, Sayang!" ucap Hans masih tersenyum tenang dan mengulurkan bucket bunganya. Tapi, Zoya tidak peduli. Dia langsung mengalungkan tangannya dan menggantung di tubuh suaminya. Rasanya dia tidak percaya, jika saat ini dia bisa memeluk suaminya.


"Ayo, persiapan! Mereka sudah menunggu." Hans kemudian menahan tubuh Zoya yang masih menggantung dan membawanya kembali masuk ke kamar untuk bersiap turun ke bawah.


__ADS_1


TBC


Nggak tau nih lagi pengen ngasih gambar gambar. Terima kasih meskipun extra part masih saja dapat vote n hadiah heheheheh


__ADS_2