
Selama acara berlangsung, Hans tidak henti hentinya menatap kecantikan istrinya. Kali ini, rasanya berbeda. Mungkin rasa kangen yang sudah dia tahan selama dua malam itu membuat kerja matanya berbeda. Eh bukan, kali ini Zoya memang berdandan dengan sangat cantik. Kedua itu tentunya, membuat Hans terpesona pada perempuan mungil yang saat ini menjadi tokoh utama dalam acara itu.
Acara selesai, tamu undangan sudah meninggalkan kediaman pengacara ternama itu. Ada yang mengganjal dalam hati Zoya selama acara berlangsung. Zoya tidak melihat Ale sama sekali. Biasanya bocah itu tidak luput dari geraknya yang tidak mau diam.
"Mas, Ale dimana?" tanya Zoya dengan raut wajah cemas.
"Coba, kita tanya Mbak Niar." Hans menggandeng Zoya ke kamar si kembar Adelin dan Adela. Ternyata di sana, sudah ada Mama Shanti yang sedang menunggui ketiga cucunya yang sedang tidur, termasuk putri sulung Mbak Niar.
"Mbak, Ale di sini?" tanya Zoya mendahului Hans karena rasa cemas membuatnya tidak sabar.
"Loh, aku juga tidak melihat Ale. Sejak tadi, aku di kamar karena Dellin dan Dellia rewel." ujar Mbak Niar dengan wajah tak kalah bingung.
"Coba Hans, check di kamar!" Mama Shanti langsung bangkit dari rebahannya di dekat Dellia saat mendengar Ale menghilang.
Hans langsung berlari menuju Kamar Ale. Lelaki yang dirundung rasa cemas itu terlihat panik. Sementara, Zoya hampir saja menangis.
"Zoy, tunggu Hans di bawah." Mama Shanti mengkhawatirkan menantunya yang akan menyusul Hans menaiki tangga.
"Mama, Ale di mana?" tangis Zoya pecah dengan memeluk mertuanya. Tapi, sesaat kemudian tubuh Zoya meluruh lemas.
"Tolong...! Zoya." Mendengar teriakan panik Mama Shanti membuat semua penghuni rumah keluar, Bi Muna langsung membantu Shanti membawa Zoya di sofa terdekat.
"Ma, Ale tidak ada di kamar!" teriak Hans dari lantai atas. Mendengar cucunya menghilang, Shanti menekan dadanya yang terasa sakit.
"Ma... Zoya... " Wajah Hans terlihat menegang saat melihat Zoya yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di sofa dan mamanya yang sedang menekan dada membuat Hans bertambah panik.
"Bi tolong, ambilkan obat Mama di meja dekat Tv." titah Hans sambil menuruni anak tangga. secepat kilat dia menuruni tangga menghampiri dua wanitanya yang sedang tidak baik baik saja.
Niar meninggalkan Dellin dan Dellia yang sudah tertidur, saat mendengar teriakan Hans yang menggema ke seluruh ruangan. Niar juga tak kalah panik mencari keberadaan Mamanya.
"Mama, Zoya! " Niar langsung menghampiri keduanya. Kepanikan terjadi di ruang tengah itu. Saat melihat mamanya sudah meminum obat jantungnya, Niar Kemudian mendekati Zoya dan menggosok- gosok tangan adik iparnya, Hidungnya sudah mencium aroma minyak kayu putih yang begitu tajam dari tubuh Zoya.
Berlahan Zoya mengerjapkan mata. Kali ini Hans dibuat bingung, dia belum juga bisa menemukan Ale.
__ADS_1
"Bi, tolong cari Ale di bagian belakang rumah, kolam renang dan taman." titah Hans.
"Mas Hans, Ale mana? " tanya Zoya berusaha untuk bangkit yang dibantu Niar. Hans sendiri tidak mampu menjawab pertanyaan Zoya., tubuhnya terlihat panik dengan pandangan mata ke sana kemari untuk menemukan keberadaan Ale.
"Hans, coba check CCTV." saran Niar langsung membuat hans berlari menuju ruang kerjanya. Dari tadi dia tidak kepikiran ke situ.
Saat akan menaiki tangga, Hans memaksa langkahnya berhenti ketika melihat dua sandal berbulu milik Ale di belakang tangga. Berlahan dia mengintip dengan langkah yang cukup pelan di belakang tangga.
"Ya ampun, Mbul. Hampir saja kamu membunuh semua orang di rumah ini." Erang Hans dengan meraup wajahnya secara kasar. Dia melihat tubuh gembul putrinya meringkuk tertidur di bawah tangga.
"Mbul, kenapa tidur di sini?" tanya Hans pada Ale yang masih tertidur. Dia kemudian mengeluarkan Ale dari bawah tangga. Semua mendekat saat Hans disibukkan di bawah tangga.
"Ale?!" pekik Mama Shanti dan Zoya hampir bersamaan, saat melihat Hans menggendong Ale ke arah mereka.
Ale menggeliatkan tubuhnya dengan nikmat, kemudian mengerjapkan mata. Samar-Samar dilihatnya semua orang mengelilinginya, membuat bocah itu tersenyum heran.
"Ada apa, Ma?" tanya Ale tanpa dosa saat Zoya memegangi tangannya.
Semua memutar bola mata melihat reaksi bocah itu. Greget. Mau marah tapi Ale masih bocah tapi tidak seru jika tidak bereaksi sama sekali saking gregetnya.
"Mau tidur di kamar Ale takut sendiri. Mau tidur di dekat Mama, nanti dibilang tidak sopan." jawab Ale. Bocah itu memang mulai mendapatkan kecerewetan dari semuanya tentang sopan santun.
"Sudah-sudah, bawa Ale ke atas, Hans! Kita tidur sekarang. Zoya juga butuh istirahat, seharian dia sudah menangis terus karena menunggumu." ujar Santhi, ide kejutan untuk Zoya kini dibalas oleh cucunya sendiri. Entah punya malaikat pelindung apa menantunya itu, hingga dia selalu mendapatkan keberuntungan. Pikir Santhi dengan menatap anak cucunya naik ke lantai dua. Hatinya pun ikut bahagia dengan kebersamaan anak cucunya.
Hans keluar dari kamar mandi, setelah beberapa menit berendam di dalamnya. Badannya terasa lengket setelah seharian mengejar waktu untuk sampai di rumah secepatnya.
Lelaki yang sudah mengenakan celana pendek dan kaos rumahan itu, masih menggosok rambut basahnya dengan handuk. Kemudian bola matanya melirik Zoya yang melepaskan pelukan Ale yang sudah terlelap di sampingnya Sejak Zoya hamil, Ale malah sering tidur di kamar mereka.
"Sudah tidur, lagi? " tanya Hans saat Zoya bangkit dan duduk di tengah tempat tidur.
"Iya, Hampir saja aku mati berdiri gara-gara Ale, Mas." ujar Zoya dengan meluruhkan bahunya.
Hans berjalan mendekati tempat tidur, kemudian menaikkan kakinya dan bersandar di kepala ranjang. Tangannya menarik Zoya agar mendekat. Zoya pun menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya. Pelukan hangat itu melepas kerinduan diantara keduanya. Lengan besarnya merangkul tubuh mungil istrinya dan beberapa kali dia mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya. Seperti tidak ada puasanya bagi lelaki itu mencium istrinya.
__ADS_1
"Mas Hans paling suka melihatku sedih." Zoya mulai membahas tentang ulah Hans yang tidak bisa dihubungi tadi siang.
"Itu, ide Mama. Katanya sekali-kali suruh romantis." tangannya terus mengelus pelan rambut istrinya.
"Hari ini kamu cantik, Zoy." Pujian itu tentu saja membuat hati Zoya berbunga bunga tidak biasanya Hans bicara semanis itu. Zoya mengeratkan pelukannya. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk bercerita banyak hal sebelum tidur.
###
Dalam perjalanan pulang dari acara Zoya, Nila hanya terdiam. Dia meminta izin kepada Mama Shanti untuk pulang terlebih dahulu dengan alasan kurang enak badan.
Hatinya mencelos saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Niar bersama Zoya. Telinganya seolah tak henti hentinya mendengungkan kalimat Niar, jika Zoya dan Wildan adalah pasangan yang cocok, bahkan tatapan Wildan masih penuh arti untuk Zoya.
"Nil, kita ke dokter?" tanya Wildan yang menganggap pamitnya Nilla pada Shanti adalah sebuah kebenaran.
"Tidak usah, Bang. Kita pulang saja." jawab Nilla. Di dalam mobil mereka kembali terdiam. Tapi, Wildan bisa melihat guratan sebuah kesedihan dari wajah istrinya. Bahkan, dia juga bisa menangkap mata istrinya berkaca kaca dengan beberapa kali meliriknya. Dia yakin Nilla sedang menahan tangisnya.
Mereka terdiam hingga mobil Pajero itu masuk ke dalam garasi sempit rumah minimalis itu. Gegas Nilla turun, dia berlari untuk masuk ke dalam rumah. Nilla menangis. Tempat yang dia tuju saat ini adalah kamar mandi. Dia tidak ingin Wildan melihatnya menangis.
Lelaki yang sudah dipenuhi rasa penasaran akan sikap istrinya itu pun mempercepat langkahnya mencari keberadaan Nilla.
"Nil... Nilla." panggil Wildan di depan kamar mandi saat mendengar gemericik suara air yang mengucur tiada henti dari kran.
Hingga beberapa menit Nilla tidak keluar, Wildan pun mulai memanggilnya dengan menggedor pintu kamar mandi, tentu saja hatinya mencemaskan Nilla di dalam.
"Pergilah, Bang. Biarkan aku sendiri!" teriak Nilla memberikan isyarat pada Wildan jika dia masih baik baik saja di dalam.
"Tidak bisa, Nil. Ada apa sebenarnya? Kita bicarakan dengan dewasa." pinta Wildan masih di depan pintu.
Berlahan pintu kamar mandi terbuka. Nilla muncul dengan wajah sembab. Sesekali dia terlihat masih terisak.
"Jangan memaksakan perasaan Abang untukku! Jika Abang tidak bisa mencintai aku sepenuh hati lepaskan aku, Bang." Nilla sudah mengumpulkan kekuatannya untuk mengatakan semuanya.
"Apa maksudmu, Nil?" Wildan masih belum mengerti.
__ADS_1
"Aku tahu Abang masih menyimpan perasaan terhadap Zoya." Kali ini Nilla sudah tidak bisa berbeli belit lagi. Mendengar kalimat Nilla, Wildan pun tersenyum kecut. Entah, pikiran dari mana hingga istrinya bisa berkata seperti itu.
TBC