Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Mencari Kerutan di Wajah


__ADS_3

Zoya selalu tersenyum saat suaminya gagal dengan niatnya, melihat tampang kesal di wajah ganteng itu malah memberi kesan lucu untuk perempuan yang saat ini ingin memejamkan matanya sejenak. Tubuhnya memang sudah terasa lelah.


Hans merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan sebelum dia pergi untuk melihat siapa yang datang ingin menemuinya tepat saat dia baru kembali dari menjemput anak istrinya.


Dari jauh dia melihat Kyara tengah sibuk memainkan ponselnya saat menunggu dirinya tiba.


"Ada apa, Ra? " tanya Hans saat mendaratkan tubuhnya di depan Kyara.


"Bang, laporan penyekapan atas Arum sudah dilimpahkan ke pangadilan."


"Itu urus kamu sajalah, aku tidak ada hubungannya dengan itu." sela Hans dengan cepat membuat Kyara tersenyum mengejek karena dia tahu Hans tidak ingin ada resiko dan kesalah pahaman dalam keluarganya.


"Besok putusan hakim atas kasus Antonio, setelah itu aku langsung balikin Arum dan Ibu Arini ke asalnya Atau abang mau pamitan dulu?" Lagi lagi gadis itu tersenyum cemeh pada seniornya.


"Sialan, lo ke sini hanya untuk menggodaku, Ra?" ucap Hans dengan menatap tajam gadis di depannya. Kyara faham jika Hans sudah tak berani terlibat sedikit pun tentang Arum.


"Hehehehe...padahal bukan rahasia lagi, banyak lawyer hebat yang memilih bersenang senang dengan gadis gadis cantik di luar."


"Yang penting uang sosialita istri lancar! " lanjut Kyara dengan berbisik.


"Zoya bukan yang seperti itu. Aku bisa kuwalat sama dia kalau macam-macam. Dicuekin kayak kemarin urusanku jadi kacau luar dalam." Rasanya aneh bagi Kyara jika lelaki di depannya ini sedang curhat, tapi memang seperti itu kenyataannya. Di kantor Hans tidak terlalu banyak bicara tentang masalah pribadinya.


"Nggak usah senyum mengejek kamu!" Hans mulai memperingatkan wajah mengejek Kyara. Tapi, gadis itu tidak berhenti juga untuk menampilkan senyum cemehnya.


"Baiklah Bang, aku kan cuma mampir untuk menanyakan kelanjutan nasib Arum sama Bang Hans. Barangkali Abang akan menemuinya terlebih dahulu, sebagai salam perpisahan. Tapi karena Bang Hans tidak mau berurusan lagi, ya...sudah, besok aku anterin mereka sama papa sajalah setelah sidang selesai." Kalimat Kyara membuat Hans menatapnya tajam, tatapan kesal karena gadis itu seolah terus mengejek ketidakberdayaannya.


Sebenarnya, Kyara tidak hanya ingin bertemu dengan Hans, tapi juga ingin mengajak Zoya berbelanja busana muslim. Tapi, berhubung dia baru tahu jika si tuan rumah baru pulang dari perjalanan jauh, dia mengurungkan niatnya untuk mengajak keluar Zoya. Sinar mentari yang mulai meredup membuat Kyara akhirnya pamit.


Setelah mobil Kyara menghilang dari halaman rumahnya, Hans kembali ke kamar. Masih ada waktu, pikirnya ingin kembali menuntaskan pekerjaan yang tertunda.


"Sayang... " panggil Hans saat membuka pintu kamarnya. Dan ternyata istrinya sedang menyisir rambut panjang yang yang basah itu di depan cermin.

__ADS_1


"Kenapa mandi duluan? Keramas lagi." ucap Hans mendekati istrinya di depan cermin.


"Udah hampir magrib lo, Mas! Tentu saja aku mandi." jawab Zoya tapi lelaki itu malah memperhatikan wajahnya sendiri dengan seksama di depan cermin. Hans yang terlihat serius membuat Zoya sampai menolehinya.


"Kenapa dengan wajah Mas Hans? " tanya Zoya kemudian lebih memilih menatap suaminya dari pantulan cermin.


"Aku masih ganteng kan, Zoy? Belum terlalu tua kan?" tanyanya masih menatap setiap detail wajahnya. Zoya sendiri yang mendengar pertanyaan itu pun membalikkan tubuhnya untuk menatap Hans. Sebenarnya ingin tertawa, tapi takut dosa. Terkadang suaminya berkelakuan seperti remaja saja.


"Benar kan, Zoy? Aku belum menemukan kerutan tua di wajahku?" Pertanyaan retoris itu membuat Zoya tersenyum geli. Iya Hans seolah sedang bergumam pada dirinya sendiri, meskipun dia bertanya pada istrinya tapi tatapannya tidak lepas dari guratan wajahnya yang tergambar di cermin.


"Sudah terlihat tua, siapa yang bisa melawan penuaan." Jawaban Zoya membuat lelaki itu berhenti menatap wajahnya. Tatapan sedih kini beralih menatap perempuan cantik yang masih sangat muda di depannya.


"Mas Hans masih ganteng, kok." ralat Zoya dengan memeluk tubuh bidang di depannya. Seolah dia ingin mengatakan pada Hans jika semua itu tidaklah berarti untuknya, hubungan dan perasaan itu bukan karena tua atau muda.


"Kamu kenapa jadi agresif gini? " tanya Hans penuh keheranan, membuat Zoya meregangkan kembali pelukannya.


"Katanya suruh mengungkapkan isi hati? Katanya jangan suka memendam perasaan? Terus kenapa malah diprotes? " jawab Zoya dengan senyum menggoda.


###


Zoya menjemput Ale dengan tergesa-gesa. Dia sudah janji akan datang ke sidang putusan hakim untuk kasus Antonio. Tapi yang terjadi malah kelas Ale ada latihan tambahan untuk praktek tata cara berwudhu dan Salat Dhuha.


"Mama, lama ya?" Ale menghampiri Zoya di samping mobil yang akan membawa mereka ke kantor pengadilan. Untuk Ale, Zoya berniat akan menitipkan putrinya pada Pak Dino di mobil selama dia melihat acara sidang.


"Ayo sayang, takutnya Papa sudah selesai sidangnya." Zoya langsung membawa masuk Ale ke dalam mobil. Melihat Zoya yang sangat tergesa membuat Pak Dino langsung melajukan mobilnya ke kantor pengadilan.


Hanya butuh waktu lima belas menit, mereka sampai di parkiran. Saat turun dari mobil suasana sudah terlihat sangat ramai dan cukup gaduh. Dari kejauhan, terlihat lelaki dengan perawakan tinggi itu berjalan menelusuri koridor gedung dengan di kelilingi para awak media yang sejak tadi menunggunya untuk dimintai keterangan.


"Mama Itu Papa!" ucapan Ale dengan menarik tangan mamanya berjalan menghampiri papanya yang nampak sulit untuk melangkah.


"Papa!" teriak bocah gembul itu dengan menghambur berusaha membelah kerumunan wartawan.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana kelanjutan kasus ini?" tanya salah satu wartawan. Masih saja ada pertanyaan yang mereka lontarkan, padahal sejak keluar dari ruang sidang Hans seperti susah bernafas karena cecaran pertanyaan dari banyak awak media yang mengerumuninya.


"Kalian bisa menanyakan pada penyidik." Jawab Hans dengan menggendong Ale. dia tidak membiarkan Ale berdiri sendiri dalam kerumunan. Kemudian lengannya menarik Zoya untuk mendekat.


"Menurut kabar kasus ini sempat mempengaruhi kehidupan pribadi anda? " selidik salah satu jurnalis wanita yang memang sudah mengendus kabar tentang kabar terguncangnya rumah tangga Hans saat menangani kasus ini.


"Iya, saya sempat terjebak dalam situasi yang buruk saat mengumpulkan barang bukti, untung saja semua terselesaikan dengan baik."


"Maksud anda terjebak seperti apa?" cecar jurnalis itu lagi.


"Itu bisa ditanyakan nanti saja."


"Alasan apa yang membuat anda, mengambil kasus pembunuhan ini? " Pertanyaan wartawan yang semakin meluas membuat Hans mempercepat langkahnya menuju parkiran. Tangannya masih merangkul bahu mungil istrinya agar bisa savety dari kerumunan.


"Dorongan istri. Dia memang bukan bagian dari team lawyer tapi dia mempunyai pengaruh besar untuk menangani kasus ini." Hans kemudian membukakan pintu belakang mobil CR-V putih dan meminta Zoya masuk terlebih dahulu.


"Sampai jumpa!" ujar Hans dengan melambaikan tangannya dari balik jendela mobil yang langsung dilajukan oleh Pak Dino.


Hans menghela nafas lega, dengan satu tangan mengendurkan dasi yang sedari tadi terasa mencekik lehernya. Spontan dia menyandarkan tubuhnya di sandaran jok, tubuhnya kini merasakan sebuah kelegaan yang sangat luar biasa.


"Maafkan aku karena datang terlambat, Mas." Suara lembut itu akhirnya terdengar setelah memperhatikan reaksi suaminya.


"Tidak apa, sayang. Aku sudah sangat lega, akhirnya aku bisa memenangkan kasus ini." ucap Hans dengan merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya dia merasa Zoya ikut andil dalam perjuangannya. Sementara, Ale masih merasa nyaman duduk di pangkuannya.


"Setelah ini, aku akan mengatur perjalanan kita." ucap Hans yang memang sudah merencanakan bulan madunya setelah menyelesaikan kasus ini dan sebelum Zoya masuk kuliah.


"Langsung ke kantor, Pak." titah Hans saat melihat sopirnya menatap mereka dari spion. Dia masih harus membereskan sisa pekerjaannya.


Bersambung...


Aku ucapkan terima kasih kepada semua readers yang masih setia mengikuti RCH, Terima kasih yang masih mensupport aku untuk terus melanjutkan tulisan recehku ini. Terima kasih yang sudah memberi vote, like, dan hadiah bahkan berkenan menulis komen komen awuwunya yang terkadang sebagai inspirasi di next part.

__ADS_1


Happy reading ya gaes sehat selalu ....


__ADS_2