Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Gara Gara Ale


__ADS_3

"Hans... Hans... ulah apalagi yang kamu perbuat! kamu punya anak cewek. Kamu selalu menyakiti perasaannya Zoya." lanjut Shanti.


"Ma, sabar Ma." Zoya berusaha menenangkan Shanti. Dia mendekati Mama Shanti yang terlihat menegang di salah satu kursi yang ada di meja makan. Terlihat gurat kemarahan dan rasa kecewa di wajah wanita paruh baya itu.


"Kamu juga, Zoy. Jadi istri yang tegas, jika suami tidak benar kamu harus bertindak! Kenapa juga kamu tidak cerita ke Mama? Kalian anggap apa Mama ini." Melihat Mama Shanti yang marah-marah Zoya menggeser kursi untuk bisa duduk berdekatan. Begitu juga Hans, saat mendengar omelan mamanya dia hanya bisa menghela nafas panjang dan diakhiri dengan decihan pelan.


"Maafkan Zoya, Ma. Bukannya tidak menganggap Mama. Kami cuma mengkhawatirkan kesehatan Mama." Zoya menggenggam tangan Mama Shanti berharap bisa meredakan emosi mertuanya. Jari-jemari lembut menantunya memang berhasil mentransfer energy positif yang sedikit menenangkan emosinya.


"Mama, minum dulu!" Hans menyodorkan obat tekanan darah tinggi dan segelas air hangat. Melihat Mama Shanti yang marah yang terkesan menggebu-gebu, Hans sudah hafal tekanan darah Mama Shanti pasti langsung naik.


"Mama mau istirahat, dulu! Kepala Mama sudah mulai pusing." ucap Mama Shanti, Zoya mengantarkan Mama mertuanya untuk masuk ke dalam kamar, sementara Hans menghubungi Anas agar segera datang untuk memeriksa kondisi kesehatan mamanya.


Melihat Zoya keluar dari kamar Shanti Hans segera menghampiri istrinya.


"Mama beneran istirahat?" tanya Hans sedikit cemas. Biar bagaimanapun dia tidak ingin mamanya sakit gara gara masalah yang sudah terlewatkan. Hans masih mengekor, mengikuti Zoya kembali ke maja makan.


"Iya, Mas Hans tenang saja. Aku sudah menceritakan semuanya pada Mama. Sepertinya Mama terlihat lega, setelah mendengarnya. Ayo Mas Hans lanjutin makan siangnya!" jelas Zoya membuat Hans ikutan merasa sedikit lega.


"Zoy, sorry kamu juga kena semprot Mama!" ucap Hans dengan mengambil kembali sendoknya dan melanjutkan makan siang yang sempat terhenti.


"Nggak, apa apa. Wajar Mama bersikap seperti itu, mungkin rasa khawatir orang tua, takut terjadi hal buruk pada rumah tangga anaknya." jawab Zoya masih menemani Hans menyelesaikan makan siangnya.


"Semua gara-gara Ale. Bocah itu cerewet sekali!" gerutu Hans dengan mengunyah makanannya.


"Maklum Mas. Anak-anak memang selalu berbicara apa adanya. Tapi, sebenarnya Mas Hans ada apa , saat pulang tadi juga dalam keadaan emosi." Zoya mulai mencari tahu penyebab suaminya pulang dalam keadaan emosi.


"Ternyata orang yang berusaha mencelakaimu adalah suruhan Aksara. Aku tadi bertemu dengannya. " Hans menyandarkan tubuhnya ke badan kursi setelah mengosongkan isi piringnya.


"Astaghfirullah, Mas. Ternyata benar ada yang punya niat jahat. Terus bagaimana ini?" tanya Zoya terlihat sedikit panik. Tubuhnya spontan bergerak condong ke arah suaminya, menanti sebuah jawaban yang bisa melegakan. Guratan guratan rasa cemas itu terlihat jelas di wajah ayu itu. Dia tidak ingin terjadi hal buruk lagi pada keluarganya.


"Jangan secemas itu. Aksara tidak bodoh, dia tidak akan melakukan hal yang membahayakan reputasinya. Dia juga tahu jika Hans bukan orang sembarangan. Dia hanya melampiaskan kekesalannya karena berpisah dengan Naura. aku bisa melihat dia masing mencintai Naura, tapi tidak tahu bagaiman cara mencintai seorang perempuan." Penjelasan Hans memberikan sedikit kelegaan pada Zoya.


Sebuah notifikasi ponsel milik Hans berbunyi. Hans menjulurkan tangan, mengambil ponsel yang semula tergeletak di depannya.


[Aku sedang di Jepang. Aku tidak bisa memeriksa Tante Shanti]


Hans membaca Isi pesan chat dari Anas. "Anas lagi di Jepang. Kita lihat nanti, jika masih mengeluh sakit kepala kita periksakan ke rumah sakit saja." ucap Hans kemudian mengunci kembali layar ponselnya.

__ADS_1


"Mas, tolong lihatin Ale. Dari tadi kok nggak bersuara. Aku akan membawa piring kotor ke belakang." Zoya membawa piring kotor ke tempat cucian piring. Sedangkan, Hans menghampiri Ale yang ternyata sudah tertidur di karpet. Memang, tidak salah jika si induk mencurigai karena diamnya bocah gembul itu.


###


Seusai Salat Magrib di musala belakang, Hans, Zoya, dan Ale menghampiri kamar Mama Shanti. Ale yang langsung nyelonong, membuat wanita paruh baya itu menoleh.


"Oma, katanya sakit?" Ale memeluk Mama Shanti yang baru saja melepas mukenanya. Beliau baru saja menyelesaikan Salat Magrib sendirian.


"Mama, sudah sehat? " tanya Zoya mendekati Mama mertuanya. Mereka duduk di tepi tempat tidur, sedangkan Ale langsung naik ke atas. Sementara, Hans memilih duduk di sofa yang sedikit menjauh dari tiga wanita itu. Dia tahu mamanya masih kesal terhadapnya.


"Zoy, maaf kan Mama! Kamu jadi ikut kena marah Mama." ucap Mama Shanti dengan menggenggam tangan Zoya yang duduk di sebelahnya.


"Oma jangan sakit! Besok kita akan makan sate lagi di dekat bandala." ucap Ale dengan memeluk dan menggoyangkan tubuh Shanti dari belakang.


"Apa? Mama makan sate kambing?" Mendengar kalimat Ale seketika Hans langsung berdiri. Padahal, Hans sudah mewanti wanti mamanya untuk tidak makan sate kambing karena riwayat tekan darah tinggi.


"Iya Papa. Satenya enak, terus habis itu kita beli pizza." Ale masih bergelayut di punggung omanya dan mengalungkan lengannya di leher Shanti. Bocah itu pun tidak luput menciumi pipi yang sudah terlihat mengendur.


"Semua sudah telanjur. Kita makan malam saja." Zoya mencoba mengakhiri situasi tegang diantara mereka.


"Zoy, Mama akan cari angin di belakang." Kali ini Mama Shanti berjalan ke belakang, wanita paruh baya itu sebenarnya mencari Bi Muna untuk diajaknya ngobrol. Jika Ale cerewet itu sangatlah wajar karena ada gen yang dia warisi. Lagi pula masa kecil Ale yang di asuh Mama Shanti sedikit banyak memberi pengaruh pada bocah itu.


"Ting tong... ting tong... " suara bel dari luar membuat Ale terkesiap.


"Mama bial Ale yang buka pintunya! " Bocah itu langsung turun dari kursi meja makan dan berlari ke arah pintu utama. Dengan sedikit tergesa Zoya mengayunkan langkahnya mengekori Ale.


"Assalamualaikum Aunty! " sapa Ale saat melihat Kyara berdiri di depan pintu. Kyara datang bersama Reynaldy karena mereka akan membahas masalah kasus Antonio.


"Waalaikum salam, Cantik!" Mendengar jawaban Kyara Ale langsung mengajak salim Kyara dan Reynaldy. Seketika pula laki laki jangkung itu dibuat takjub dengan attitude Ale. Pandangan lelaki jangkung itu kemudian berlalih menatap Zoya. Sosok Ibu memang sangat berpengaruh pada perkembangan anaknya.


Zoya mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk dan kemudian memanggilkan Hans yang masih ada di meja makan.


"Mas, ada Mbak Kyara! " ujar Zoya membuat Hans kemudian bangkit untuk menemui tamunya.


Meski hanya mengenakan kaos rumahan dan celana pendek aura kharismatik masih melekat kental pada sosok Hans Satrya Jagad. Lelaki bertubuh tinggi atletis itu duduk di depan kedua tamunya.


"Ada apa? " tanyanya mengawali percakapan.

__ADS_1


"Langsung saja, Bang. Berhubung kita sudah kedesak oleh waktu, upaya terakhir kita mencoba mengorek keterangan dari wanita bisu yang tinggal di dekat TKP." jelas kyara tanpa basa basi.


"Wanita gila itu? " tanya Hans cukup heran.


"Aku rasa dia tidak gila. Aku kemarin bersama Bang Rey berhasil menemuinya. Nggak lama sih, tapi dari tatapan matanya aku yakin dia tidak gila! " Kyara mencoba meyakinkan Hans.


"Kita bisa membuatnya memberi keterangan tertulis atau semacam apa. Jika perlu kita datangkan tenaga ahli." Reynaldy mencoba menguatkan argumen Kyara.


Mendengar itu, Hans memicingkan matanya, menatap sosok jangkung yang sebenarnya cukup misterius untuknya.


"Bukankah jurnalis selalu pada posisi yang netral? " Dengan hati hati Hans balik bertanya.


"Anda memang jeli, aku pemilik 'Global News' salah satu kantor berita yang cukup dikenal masyarakat di Indonesia. Secara hubungan pribadi, aku sepupu Antonio." Rasa penasaran Hans pun terjawab.


"Saya juga punya hobi fotography. Apalagi jika mendapatkan objek yang cantik dan bersahaja. rasanya saya ingin mengabadikannya saja." Kalimat terakhir Reynaldy sukses membuat percikan api di hati Hans. Ya, karena dia tau yang dimaksud lelaki jangkung itu pasti istrinya.


"Anda boleh, mencari objek apa saja dan siapa saja. Saya sudah punya satu dan itu hanya milik saya." mendengar jawaban Hans Reynaldy terkekeh, tapi memang benar lelaki itu mengagumi Zoya saat pertama kali melihatnya duduk di deretan bangku yang ada di pasar yang cukup fenomenal di kota ini.


"Ah sudahlah jangan membahas hobi.


Rencananya kita akan ke sana lusa! Apa Abang mau ikut sekalian? " Kali ini Kyara menengahi kedua lelaki yang saling bertukar tatapan tajam itu.


"Aku ikut!" Hans langsung menyetujuinya karena ini adalah tugasnya.


"Aku pakai motor." lanjut Reynaldy.


"Oke tidak masalah, aku juga akan menggunakan motor saja " Mereka mengakhiri pertemuan malam itu dengan kesepakatan. Tapi, ada yang tertinggal di hati Hans, rasa kesal saat laki laki lain mengakui kekaguman terhadap istrinya langsung di depannya.


visual Ale



Bersambung.


Hae gaes Readers aku tercinta. Rasanya ingin menyapa kalian semua, terutama untuk mengucapkan terima kasih masih menikmati Rahasia Cinta Zoya. Terima kasih readers akuh yang menemani dari novel sebelumnya dan selamat datang untuk yang baru bergabung di tulisan recehku ini. semoga selalu diberi kesehatan untuk kita semua.


Happy reading gaes....

__ADS_1


__ADS_2