
Kau apakan Zoya, Hans! " bentak Shanti dengan menarik kaos anaknya itu. Kemarahan sudah tidak bisa dia tahan, saat melihat kondisi Zoya yang tak sadarkan diri dan kini terpasang infus di tangannya.
Dari tadi dia melewati acara pengajian dengan tidak tenang karena memikirkan putranya yang menarik lengan Zoya dengan penuh kemarahan. Setelah acara selesai, dia segera meninggalkan Ale bersama pembantunya dan meluncur ke rumah ini.
"Maaf... aku harus pulang dulu. Besok pagi aku akan memeriksanya kembali. Jika tidak lebih baik, terpaksa harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit. " ucap Anas kemudian meninggalkan kamar mereka.
"Katakan apa yang terjadi hingga seperti ini, Hans? " tanya Shanti yang masih belum mengerti. Tapi matanya kemudian mendapati seprai yang terlihat bercak darah. Hans tidak mampu untuk bicara. Lidahnya terasa kelu, rasa bersalah dan rasa malu bercampur menjadi satu.
"Jangan bilang, Kamu..... " kalimat Shanti menggantung tidak tega mengucapkan kata menyakitkan itu.
"Maafkan aku, Ma! " ucap Hans. Hatinya benar benar dipenuhi rasa bersalah pada istrinya.
Plak....
Sebuah tamparan keras dari Shanti mendarat di wajah putra kesayangannya. Betapa geramnya Shanti saat mengetahui jika Hans sudah memperkosa istrinya.
"Monster kamu, Hans. Benar benar tidak punya hati. " pekik Shanti setengah berteriak.
"Mama tidak pernah mengajarkanmu kurang ajar, Hans! " Wanita itu pun berbicara sambil menangis. Hans hanya mematung, rasa bersalahnya pun kian bertambah saat dia tersadar jika dia sudah menyakiti dua orang yang dia sayangi.
Suasana terdiam sejenak, Bu Shanti merasakan hatinya terlalu sakit saat membayangkan keadaan Zoya. Tubuhnya pun merosot di sofa. Kini tangisnya mulai terdengar. Betapa kecewanya dia , putra kebanggaannya mampu melakukan hal sekeji itu.
"Maafkan Hans, Ma! " ucap Hans dengan duduk di samping Mamanya.
"Di mana hatimu, Hans! Jika tidak bisa berbuat baik pada istrimu kenapa kamu bersikap seburuk itu! " Tangisnya semakin histeris dia membayangkan jika nasib itu terjadi pada anak perempuannya. Dia pasti tidak akan bisa menerimanya.
"Zoya tidak pernah mengeluhkan apapun tentangmu, bahkan dia hanya menceritakan sisi baikmu saja. Tiga puluh satu tahun Mama jadi ibumu. Tentu saja, Mama sudah mengenal sifatmu tanpa harus mencari tahu pada istrimu yang baru mengenalmu beberapa bulan saja. Tapi istrimu hanya menceritakan kebaikanmu saja."
Kalimatnya terjeda, dia menatap menantunya yang belum tersadarkan juga. Hatinya sangat miris, kenapa kejadian ini terjadi pada rumah tangga anaknya.
"Aku sudah tahu cerita Zoya dengan Ustaz Wildan, tapi Zoya bukan seperti itu. Gadis itu begitu pintar menyimpan perasaannya demi menikah denganmu. Ya...aku egois, aku juga tidak benar karena menginginkannya dengan cara apapun, aku sangat menyukainya. Mama pikir, Zoya mampu melembutkan hatimu. Menjadikan dirimu seseorang yang lebih taat beragama." Hans masih terdiam, dia merasa buruk karena kesalahan yang dia lakukan.
Shanti segera beranjak saat melihat sedikit pergerakan dari Zoya. Wanita paruh baya itu mendekati menantunya dengan hati yang miris. Dia tidak bisa menahan air mata yang meleleh saat menatap wajah pucat itu mulai membuka matanya.
"Mama... " lirih suara itu membuat Shanti mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang. Dia meraih tangan mungil yang terasa dingin itu.
__ADS_1
"Ada Mama, Zoy. Jangan takut! Ada Mama. " ujar Shanti.
"Ma, Zoya haus. " ucap Zoya kemudian mulai beringsut untuk duduk.
Hans yang mendengar keinginan istrinya pun segera mengambilkan segelas air minum, tapi Zoya menggeser duduknya saat Hans akan menyerahkan gelas air minum ke arahnya. Sorot ketakutan itu terlihat jelas dalam mata indah itu.
Kemudian, Hans menyerahkan air minum kepada mamanya. Dia memilih melangkah keluar kamar. Hatinya terasa bercampur aduk saat ini. Dia memilih duduk di balkon, Dia menyugar rambut dengan sedikit menarik rambutnya untuk melampiaskan kekesalannya pada dirinya sendiri.
Hans Pov
Merasa bersalah menghantuiku. Iya, aku tidak mampu berkata apapun lagi di depan Zoya karena rasa bersalahku. Dan hal yang menyakitkan lagi adalah saat aku melihat sorot mata ketakutan yang tertuju padaku. Penghakiman ini lebih menyakitkan dari apapun, saat dia menatapku dengan sorot mata asing dan ketakutan.
Aku menyesal saat aku tak bisa mengendalikan amarahku. Egoisku dan rasa angkuhku menutup rasa cinta yang sudah mulai tumbuh untuk bidadari yang sudah Engkau berikan padaku.
Tuhan, Berikan aku kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahanku. Aku mohon, jangan biarkan dia pergi dariku.
Zoya, saat ini aku hanya ingin kamu masih mau menunggu dan memberi kesempatan padaku untuk membuktikan perasaanku padamu. Aku tidak peduli lagi, kamu mencintai siapa. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku dan menunjukkan jika cintaku yang tulus.
Sudut mata lelaki itu pun melelehkan air, dia takut Zoya akan meninggalkannya setelah ini.
"Dan mulai besok Zoya akan tinggal bersama, Mama. " lanjut Shanti.
"Tapi, Ma.... " sela Hans.
"Mama ingin Zoya bisa melupakan kejadian malam ini. Sekarang keputusan di tangan Zoya. Apa dia mau melanjutkan pernikahan ini atau dia sudah menyerah. " lanjut Shanti membuat hati Hans semakin tak karuan.
Hukuman terberat bagi Hans. Dia harus berjuang sendiri untuk mendapatkan kembali maaf istrinya. Hans sadar jika itu sangat sulit, tapi dia belum siap jika kehilangan Zoya.
###
Setelah diperiksa Anas dan dinyatakan tidak perlu ada yang di khawatirkan lagi, Saat itu pula Shanti memutuskan membawa Zoya pulang ke rumahnya.
"Ma, kenapa kita meninggalkan papa di sini?" tanya Ale saat semua barangnya dan barang mama Zoya di kemas dalam sebuah koper.
"Mama sedang sakit, jadi harus ada yang jaga Ale, ya!" lirih Zoya dengan melirik tajam lelaki yang saat ini menatapnya dari jauh. Hans memang tidak berani mendekat karena sorot mata Zoya terlihat asing terhadapnya.
__ADS_1
Mereka meninggalkan rumah mewah milik pengacara ternama itu. Sepasang mata tajam itu pun menatap kepergian tiga perempuan yang dia sayangi.
"Zoya, berilah aku sedikit waktu untuk memperbaiki kesalahanku dan memperbaiki rumah tangga kita. " gumamnya melepas mereka kejauhan. Dia seperti terasingkan saat ini. Tapi, dia masih bersyukur. Apa jadinya jika pembuluh darahnya pecah? Itu artinya dia bisa membunuh Zoya. Tidak, dia tidak akan memaafkan dirinya seumpama itu terjadi.
###
Kampus islam itu memang tidak pernah lenggang oleh mahasiswa. Kini, Wildan mencari Nilla di depan perpustakaan.
"Assalamualaikum, Nil. " sapa Wildan saat melihat gadis itu sendirian.
"Waalaikum salam... " jawab Nilla.
"Bagaimana, kamu bisa menghubungi Zoya? Aku sangat khawatir dengan keadaannya. " ucap Wildan menceritakan isi hatinya.
Nilla hanya menghela nafas panjang. Dia hanya menatap lelaki itu dengan heran. Kenapa tidak dari dulu, dia mengejar Zoya. kenapa dia baru berani terang terangan saat Zoya sudah menjadi istri orang.
"Pak dosen, berhentilah mengurusi Zoya. Itu bisa saja memperkeruh keadaan. " ucap Nilla membuat Wildan hanya terdiam.
"Aku belum bisa menghubungi Zoya." lanjut Nilla.
"Aku mencemaskan Zoya. Aku hanya memastikan dia bahagia, Nil. Sungguh aku tidak rela dia terjebak dalam pernikahan yang membuatnya menderita. Aku memang salah terlalu lama menyimpan perasaanku saat itu." jelas Wildan penuh penyesalan.
"Pak dosen yang sekaligus merangkap Pak ustad. Jangan sampai jadi pebinor, dosa itu ustad. "
"Aku hanya meyakinkan Zoya bahagia, Nil. Jika dia bahagia aku mundur. Tapi... "
"Jika dia belum bahagia. Kamu akan mengambilnya? " sela Nilla menebak apa yang ada di hati Wildan.
"Itu pun kalau dia mau. Aku yakin, tidak mudah baginya melupakan perasaannya begitu saja. " ucap Wildan dengan terkekeh. Dia begitu yakin Zoya buka tipe perempuan yang mudah move on.
Kampus yang begitu ramai membuat obrolan mahasiswa dan dosen itu pun harus berakhir. Mereka tidak ingin beredar gosip yang sama sekali tidak benar.
TBC...
Hae readers tercintaquuuhhh Othor baru keluar cari wangsit. Othor baik ya, kali ini nggak di gantungan, kok....
__ADS_1