Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Terkuaknya Rahasia Besar


__ADS_3

"Minum dulu! Biar sedikit lega." Rey menyodorkan sebotol air mineral ke arah Zoya. Zoya hanya mematung menatap sosok itu dengan tatapan aneh.


"Terima kasih." ucap Zoya masih berusaha menyembunyikan perasaannya yang saat ini cukup ketara.


Hans yang melihat Rey mendekati istrinya membuat lelaki dengan tatapan tajam itu begitu kesal. Tatapannya tidak beralih dari sosok mungil di luar meski mereka membahas kelanjutan nasib Arum.


"Apa yang terjadi, Rum?" tanya pak lurah memecahkan keheningan di ruangan itu. Arum menunduk, seolah ragu dengan apa yang ingin dia sampaikan.


"Katakan, Rum! " desak yang lainnya.


"Bang Deny, bukan abangku. Dia tidak menyayangiku seperti anggapanku selama ini." lirih Arum, dia kembali terisak.


"Maksudnya apa, Nduk? Selama ini memang yang kami tau kalian beda ibu tapi kalian sama sama anak Tuan Harsono. Tuan Harsono mengambilmu dari istri keduanya yang ada di luar kota." kalimat bu lurah meluncur begitu saja, seolah ingin memecahkan rasa penasaran mereka. Selama ini yang orang orang tahu, Tuan Harsono mempunyai istri kedua di luar kota. Keluarga Harsono memang penuh skandal, tapi tidak ada yang berani mengorek apapun tentang keluarga tuan tanah tersebut.


Arum menutup wajahnya, hatinya kembali kalut. Banyak kebenaran tentang dirinya yang tidak di ketahui orang lain. Dia masih terisak dengan wajah tertutup, meski banyak orang yang saat ini menatapnya penuh tanya.


Hening..


Semua terdiam, hanya mata mereka yang menatapnya dengan sejuta pertanyaan. Gadis itu memaksa tubuhnya yang lemah untuk berdiri. Pandangannya mengedar mencari sosok yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya jika beliau adalah orang terdekatnya.


Semua masih terdiam mengamatinya, termasuk Hans. Berbeda dengan Kyara, dia mengikuti langkah Arum saat mendekati wanita yang dianggap gila yang sedari tadi duduk di sudut ruangan.


"Ibuuuu....! " lutut Arum terasa lemas, hingga dia berlutut di depan wanita yang tubuhnya masih menggigil gemetar.


"Ibu... "


"Ibu... " teriaknya begitu histeris dengan isak tangis yang tergugu. Wajahnya tengkurap di pangkuan wanita yang ingin membelainya tapi tangannya tak kuasa menyentuh gadis yang selama ini dia sayangi dari kejauhan.


"Ibu... kenapa tidak pernah memelukku! Kenapa membiarkanku, kenapa tidak pernah ingin menyayangiku." kalimat Arum terputus dengan tangisannya.


"Salahkah aku jika aku anak haram!" Arum masih menangis di pangkuan wanita itu. Wanita yang sudah menahan tangisnya itu pun tergugu. Tangannya kini mengelus rambut lurus yang selama ini dia damba untuk menyentuhnya.


"A- Arum... putriku! " ucapnya begitu lirih tangisnya seolah di tahan dalam tenggorokannya. Semua terhenyak kaget termasuk pak lurah. Semua meneteskan air mata meski belum tahu seperti apa ceritanya.


Zoya yang sedari tadi melihat adegan itu pun meneteskan air mata dan itu membuat Hans menghampirinya. Zoya menepis lengan kokoh yang saat ini ingin merengkuhnya, dia memang terharu melihat pertemuan anak dan ibu itu, tapi belum bisa memaafkan suaminya.

__ADS_1


"Bu, nama ibu siapa? " tanya Kyara berusaha memberi pendekatan pada wanita yang saat ini kewalahan menahan isakannya. Wanita itu masih menunduk dengan mengelus rambut putrinya. Sementara, Arum masih menelungkupkan wajahnya di atas pangkuan wanita itu


"Ayo, katakan, Bu! Biar semua lebih jelas. Kasihan jika semua masih menggantung." Kyara masih berusaha keras. Tapi, wanita itu belum bisa menjawab, beliau masih menitikkan air matanya yang mengalir semakin deras.


"Nama ibu siapa?" tanya Kyara dengan memegang pundak wanita paruh baya itu.


"Ar- Arini! " mendengar jawaban 'Arini' semua menatap heran. Wanita yang dianggap bisu dan gila itu ternyata bisa menjawab pertanyaan Kyara.


"Ibu..! " panggil Arum dengan mendongakkan wajahnya, membuat wanita itu mengangguk dan menampilkan senyum tipis untuk putrinya.


"Arum Putriku! " Sekali lagi dia memanggil putrinya membuat Arum juga tersenyum.


"Bagaimana kamu tahu tentang semua ini, Mbak Arum? " tanya bu lurah yang kemudian bertanya pada Arum.


"Bang Deny yang mengatakan semuanya jika aku anak haram Ayah dari pembantunya." ucap Arum dengan mata berkaca kaca.


"loh... " sahut Pak lurah.


"Iya, malam itu tuan Harsono mabuk karena dia baru mengetahui jika Deny bukanlah anaknya, melainkan anak Mbak Melati dengan lelaki lain." jelas Arini kembali mengingat kejadian mengerikan itu.


"Sejak mengetahui aku mengandung anaknya, Tuan Harsono memilih untuk mengasingkanku. Demi menjaga nama baiknya." Arini menghela nafas panjang. Tangannya masih terlihat sibuk sendiri, Beliau masih ingat betapa sulitnya saat pertama dia melalui hidupnya tanpa siapa pun.


"Tapi, dia masih mengirimkan semua kebutuhan sehari-hari untukku." lanjut Arini, masih dengan menunduk.


"Ohhh... " salah satu warga mulai mengerti kenapa Tuan Harsono membiarkan Arini tinggal di tanah miliknya.


"Satu-satunya orang membantu saya melahirkan adalah Bu Bidan Erni. Tapi, setelah kejadian itu, Tuan Harsono meminta Bu Bidan Erni untuk meninggalkan kampung ini." lanjut Arini.


"Apa Tuan Harsono mengambil putri Ibu? " tanya Kyara yang dijawab anggukan Arini.


"Sejak saat itu, aku sudah tidak punya tujuan hidup. Tapi aku harus tetap hidup untuk memastikan putriku hidup dengan bahagia. " lanjut Arini, tangannya masih *******-***** bagian samping roknya.


"Dari jauh aku melihat Tuan Harsono sangat menyayangi dan memanjakan Arum." Bisa terlihat ada kelegaan di mata Arini saat menceritakan jika Harsono begitu mencintai Arum.


"Alasan itulah Bang Deny membenciku. Aku pikir dia satu satunya orang yang aku andalkan setelah kepergian Ayah. Tapi ternyata, dia ingin menyingkirkan aku dengan cara menikahkan aku dengan orang yang jauh dari tempat ini." timpal Arum.

__ADS_1


"Saat menyekapku dia juga menyobek surat wasiat ayah yang menyatakan jika sebagian besar harta keluarga Harsono akan di wariskan padaku, karena Ayah tahu jika Bang Deby bukan darah dagingnya." Arum menyeka air matanya. Hidup ini banyak memberinya luka. Terpisah dari ibu kandungnya, rasa kecewa karena Abang yang dia pikir bisa mengganti sosok ayahnya pun ternyata membencinya dan dia juga sudah salah menempatkan cinta pada suami wanita lain. Saat ini, hatinya seperti luluh lantak tak berbentuk lagi.


Kyara pun membisikkan sesuatu di telinga Arini. Kemudian, wanita itu pun mengangguk setuju.


Gadis itu pun menghampiri Hans yang ada di luar bersama Zoya. Sementara, Rey bersama Dandy mengurus motor yang mereka tinggalkan di tengah jalan saat Arini menghadang mereka.


"Bang, ini Bu Arini dan Arum kalau di tinggal di sini sepertinya kurang safety. Bagaimana jika kita bawa pulang, Bang? Bu Arini juga butuh terapi lagi untuk melancarkan bicaranya jika dia akan maju sebagai saksi." ucap Kyara meminta persetujuan Hans. Lelaki itu kemudian menoleh ke arah Zoya untuk menemukan jawaban istrinya.


"Terserah Mas Hans. Tapi, jika mbak Arum balik ke rumah, aku yang akan pergi!" Kali ini Zoya sudah tidak ingin ambil resiko dan menghindari masalah yang semakin rumit. Kyara menghela nafasnya, saat melihat perang dingin sepasang suami-istri. Rumit sungguh rumit, pekiknya dalam hati.


"Bagaimana jika keduanya tinggal di rumahku saja. Rumahku juga sepi, cuma ada aku dan Papa yang sama-sama sibuk. Dan aku juga bisa mengawasi terapi Ibu Arini. Sidang kita tinggal sebentar lagi, Bang." desak Kyara, mencoba mencari celah untuk masalah mereka. Hans sendiri sudah tidak mempu berfikir saat Zoya belum bisa dibujuk. Baru kali ini Zoya menunjukkan kemarahan padanya.


"Baiklah, ayo kita bicarakan!" ujar Hans.


"Ayo Zoy, kita masuk!" lanjut Hans. Dengan gesit Zoya menepis kembali tangan Hans yang akan menyentuh bahunya. Mereka pun masuk ke dalam rumah untuk memutuskan urusan mereka.


Mereka memutuskan akan membawa pulang Arum dan Arini. Mereka akan tinggal bersama Kyara hingga sidang terakhir kasus Antonio. Di samping itu Kyara juga terus membujuk Arum agar membuat laporan atas penyekapan dirinya.


Perjalanan mereka di awali seusai Salat Maghrib. Kali ini Hans yang menyetir mobil milik pak lurah. Mobil Fortuner itu di tumpangi Hans, Zoya yang ada di bangku sebelah kemudi dan di bangku tengah ada Arini, Arum dan Kyara. Di belakang mobil itu ada Dandy dengan satu pemuda dan Reynaldy juga bersama satu pemuda menggunakan motor mengiringi mobil yang di kemudikan Hans.


Sesekali Hans melirik ke arah Zoya yang tidak ada capeknya membuang pandangannya ke luar jendela. Di dalam mobil hanya ada sebuah keheningan. Hingga akhirnya Kyara merasa bosan dengan situasi yang menjenuhkan ini. gadis itu mulai bernyanyi.


Berulang kali kau menyakitiku


Berulang kau kau khianati


Sakit ini coba pahami


Ku punya hati bukan untuk disakiti


(Judika)


"Ehem... " deheman keras Hans menghentikan Kyara bernyanyi. Lelaki yang masih fokus dengan kemudinya itu merasa kesal mendengar syair lagi itu.


Bersambung....

__ADS_1


Sabar gaes sabar.... kurangi makan yang berlemak biar nggak emosian..... semoga selalu diberi kesehatan untuk menyimak ceritanya ya heheheh


__ADS_2