Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Secret Admirer


__ADS_3

"Aku nanti akan bertemu Nilla di kafe yang biasa kami kunjungi, Mas." ucap Zoya meminta izin suaminya. Dia mulai menyiapkan beberapa barang yang mungkin akan di butuhkan Hans dalam perjalanan.


Bisa terlihat, semburat rasa berat yang terpancar di wajah yang saat ini masih tertunduk karena aktifitasnya. Jangan pergi! seperti itu jika menelisik lagi bahasa sorot mata indah yang kini terlihat meredup.


Hans menatap istrinya, jilbab biru navy yang membingkai wajah cantik itu membuat kulit wajahnya terlihat lebih cerah dengan kedua pipi yang memerah. Cantik. Kecantikan yang bersahaja. Hanya Zoya yang ada dalam lencana bayang bayang masa depan yang ingin dia bangun.


Tangan kecil itu masih merapikan kemeja yang akan digantungkan di dalam mobil, kemudian merapikan pakaian dalam dan melipat celana panjang lalu memasukkannya ke dalam paperbag. Hans memang tidak menginap, tapi menurutnya tidak ada salahnya jika dia menyiapkan semuanya.


"Hati-hati jika keluar. Jangan pulang malam, ya! Kalau Ale ditinggal titipin sama Bi Muna." Hans mengiyakan permintaan Zoya, dengan merapikan tampilannya pada cermin. Sudut matanya terus saja tertarik untuk melirik setiap gerik istrinya.


"Tentu saja Ale akan ikut denganku, Mas. Dia pasti akan senang bertemu dengan Nilla." jawab Zoya, siluet gerak tubuh mungil itu menarik perhatian Hans untuk menghentikan gerakannya. Perempuan mungil yang begitu terampil memanjakannya, bahkan berlahan sosok itu yang sudah merubah sebagian dari pemikiran dan dunianya.


"Kenapa menatapku seperti itu, Mas?" Zoya melontarkan pertanyaan itu, kala dia tidak merasakan pergerakan lagi dari tubuh atletis itu. Untuk meyakinkan, dia kemudian menoleh ke arah Hans tapi hanya sesaat.


"Kapan, menstruasi selesai?" Pertanyaan yang dijawab oleh Hans dengan pertanyaan membuat Zoya mencebikkan bibir dengan melirik tajam sosok yang saat ini menatapnya. Tak lama kemudian dia mulai menampilkan senyum yang selalu meneduhkan laki laki di depannya itu. Dia bisa mengerti maksud pertanyaan suaminya.


"Sepertinya hari ini. Entahlah, menstruasiku sepertinya kurang lancar, mungkin karena itu kemarin perutku sering kram." Perempuan bertubuh mungil itu pun bersiap keluar kamar dengan membawa barang yang sudah dia rapikan.


"Apa kamu tidak mau memberikan pelukan padaku?" Hans menghadang langkah istrinya, membuat Zoya mendongakkan wajahnya dan kemudian tersenyum. Dalam hati perempuan itu tersenyum geli, pantas saja jika Ale berkelakuan seperti itu, terkadang sikap dan pemikiran bocah itu tidak jauh dari papanya dan Mama Shanti.


"Mas Hans bisa lihat, kan? Jika tanganku penuh seperti ini!" Tangan mungil itu menyodorkan kedua tangannya yang penuh dengan barang bawaan.


"Baiklah, biarkan saja aku yang memelukmu." Sambil tersenyum, lelaki itu menenggelamkan tubuh mungil istrinya. Entah sejak kapan hatinya merasakan cinta yang begitu besar hingga setiap kali berdekatan dengan sosok mungil yang saat ini dalam pelukannya selalu saja membuat jantungnya berdegup liar.


"Mas Hans nanti terlambat. Jangan ngebut di jalan!" ujar Zoya membuat lelaki itu melepaskan pelukannya dan kemudian terkekeh.


Mereka menikmati sarapan pagi bersama, bahkan Ale yang sudah libur panjang pun kini bisa sarapan pagi bersama papanya.


"Papa, Ale ikut ke Bali ya?" Masih saja bocah itu membahas keinginannya untuk ikut berlibur ke Bali.


"Lah, Papa ke Bali mau buat adek untuk Ale." jawaban Hans membuat Zoya langsung melayangkan tatapan tajam ke arah suaminya.

__ADS_1


"Katanya tidak boleh bicara tentang adek di depan Mama." Hans memang pernah bicara pada Ale saat Zoya masih di rumah sakit untuk tidak boleh bertanya tentang adek.


"Boleh sekarang, Papa dan Mama akan buat adek untuk Ale, makanya jangan ikut ke Bali." Mendengar kalimat papanya Ale masih terdiam, bocah itu kemudian mengangguk samar. Dia memang sudah ingin punya teman bermain seperti teman-temannya yang sering bercerita.


Mereka menikmati sarapan bersama dengan tenang. Mentari yang sudah menembus dari sela-sela ruangan pun membuat suasana pagi ini terlihat ceria.


###


Siang masih dengan teriak yang membuat silau mata, mobil CR-V putih itu pun berhenti tepat di sebuah kafe yang biasa mereka kunjungi. Setelah mengatakan pada Pak Dino jika mereka akan pulang naik taxi online, Zoya menggandeng putrinya masuk ke dalam kafe. Dia langsung mendapati sosok berjilbab ungu yang sudah duduk menunggu di dekat jendela.


Nilla sembari tersenyum tanpa dosa menyambut ke datangan Zoya dan Ale.


"Halo cantiknya tante Nilla." sapa Nilla dengan mengeluarkan sebatang coklat untuk Ale. Ale menyambutnya dengan girang. Nilla selalu hafal apa yang di sukai bocah itu.


"Assalamu'alaikum, tante Nilla." sapa Ale dengan mengajak salim Nilla setelah mengambil coklatnya.


"Wasaalaikum salam, Cantik. Apa kabar kalian?" jawab Nilla kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Nil, kemarin Bang Wildan datang ke rumah mencari kamu. Dia terlihat cemas." ucap Zoya setelah mereka memesan menu makan dan minum.


"Kan, bisa di bicarakan baik baik, Nil?"


"Itulah, Zoy. Tiba tiba Bang Wildan langsung membuat kesepakatan dengan keluarga dan itu tanpaku. Gemas juga aku." timpal. Nila dengan wajah ketusnya.


"Saat ayah bercerita, aku baru saja tahu jika mereka sudah menentukan tanggalnya. Gila kan?"


"Bisa jadi, Bang wildan akan menikahimu hanya dengan adanya wali dan saksi. Hi Hi Hi. " goda Zoya dengan terkikik saat melihat mata Nilla melotot ke arahnya.


"Ihhhhh ....kamu sekarang beda, ya? Kamu dulu paling polos dan paling pendiam diantara kita, sekarang pintar meledek." sungut Nilla dengan menyuap stick kentang yang baru saja mereka pesan.


"Semua akan berubah Nil. Bayangkan saja dulu, kita polos banget, kan? Lihat cowok saja malu malu." Sekilas bayangan mereka saat masih bersekolah pun terlintas di benak keduanya.

__ADS_1


"Iya, dulu pas awal di kota kalau lihat orang pacaran akunya yang malu. Sekarang sudah biasa." sahut Nila membenarkan jika sedikit banyak mereka sudah berubah.


"Apalagi aku, pasanganku orangnya sedikit absurd." jelas Zoya dengan menyeruput minumannya.


"Masak si, Zoy? Bukannya suamimu orangnya serius dan cool gitu?" Nila menatap Zoya seakan tak percaya.


"Kelihatan dari luarnya saja. Terus, kenapa juga kamu menolak Bang Wildan? Bukankah kemarin sudah memantapkan diri?" Pertanyaan Zoya membuat Nilla terdiam, dia sendiri bingung bagaimana menceritakan isi hatinya dan sudut pandang tentang semua ini. Satu sisi, Zoya sahabatnya dan tidak mungkin dia menyembunyikan banyak hal dari sahabat terbaiknya, tapi satu sisi lainnya dia merasa cemburu dengan Zoya. Tentu saja merasa cinta Wildan masih berpihak pada Zoya.


"Aku belum yakin!" lirih Nilla.


"Apanya yang membuatmu tidak yakin? Jika kamu membuatnya bingung dengan sikapmu, bagaimana jika Bang Wildan menganggap dirimu tidak mencintainya? "


"Pentingkah perasaanku untuknya?" sahut Nila. Nilla sendiri sedang bingung. Dia memang mencintai Wildan tapi dia masih saja meragukan perasaan Wildan terhadapnya.


"Ya Allah Nilla. Kenapa jadi begini, seandainya kamu tahu betapa bingungnya Bang Wildan saat kamu menghilang dari kos." Mendengar penjelasan Zoya Nilla pun terdiam. Otak dan hatinya ini seolah sedang diacak.


"Selamat siang! " Sela pelayan meletakkan tiga gelas ice cream dan satu mawar putih.


"Loh, kami tidak memesannya, Mbak." ucap Nilla dan Zoya hampir bersamaan.


"Mas yang yang di sana"


"Eh - yang baru keluar itu yang meminta untuk membawakan semua ke meja ini." Zoya langsung menoleh ke arah pintu keluar saat pelayan itu menunjukkan sosok yang baru saja melintas keluar pintu utama.


"Kenapa ada mawarnya, Zoy?" gumam Nilla membuat Zoya segera menoleh ke arah pintu.


Reynaldy. Iya, sosok itu terlihat seperti Reynaldy. Hanya saja tampilannya sedikit formal karena jas yang melekat di tubuh jangkungnya.


"Mama, Ayo kita habiskan es krimnya." Suara Ale membuat mereka mengalihkan pandangan dari sosok itu. Mereka kembali menikmati makan siang dengan curhatan Nilla yang sedang galau, meski keduanya masih penasaran dengan mawar putih yang masih tergeletak di pinggir meja.


Ditengah jalan, dengan memegang setir mobil Jaguar. Reynaldy menghembuskan nafasnya dengan kasar. Logika sudah tidak mempu menguasai hatinya kala dia melihat kembali perempuan ayu yang selama ini menghantui pikirannya. Dia mencoba mengelaknya, tapi selalu gagal. Zoya Kamila, semakin hari kekagumannya itu bertambah menggila, padahal salah. Salah, dia tahu ini salah tapi hatinya kini tak mampu untuk diajak berkompromi.

__ADS_1


"Shiiit ... " Salah satu tangannya memukul setir. Lelaki yang biasa bersikap santai itu pun emosinya terobrak abrik. Mencintai istri orang lain? Dia tersenyum kecut karena menertawakan dirinya sendiri. Kekacauan dalam hatinya membuatnya tidak menyadari jika Jaguar miliknya melaju dengan kecepatan tinggi.


Bersambung


__ADS_2