
Setelah melihat Ale kelelahan dan mengenyangkan perut bocah itu, mereka memutuskan pulang. Di dalam mobil, Ale tenang dengan mata yang sedikit menyipit karena rasa kantuk. Hans yang melihat putrinya sudah tak berdaya itu pun hanya tersenyum. Tidak sulit membujuk Ale, itu yang selalu ada di benaknya.
Sementara itu, Zoya melirik Hans yang masih sibuk menatap jalan di depan. Decak kagum tidak pernah luntur dari pandangan perempuan bermata indah itu. Lelaki yang umurnya sudah menginjak kepala tiga itu memang masih terlihat keren, wajahnya yang selalu segar dan detail wajah yang memang mengisyaratkan ketampanan yang dimiliki, tidak salah jika banyak wanita yang mengagumi suaminya. Mungkin, jika saat ini dia mengaku bujang pun banyak wanita yang akan percaya. Zoya terus saja mengamati Hans dengan teliti karena akhir- akhir ini lelaki di sampingnya terus saja mengeluhkan tentang penuaan?
"Sayang, kenapa melihatku seperti itu? Kamu tidak marah karena kita bertemu Naura, Kan?' tanya Hans dengan mengulurkan tangannya menggenggam jari jari mungil itu.
"Tidak, Mas. Oh ya, jangan lupa berhenti di belakang mesjid Al Muhajirin, ya?" Zoya mencoba mengingatkan Hans. Dia menatap heran perempuan di sampingnya. Tapi, yang terlihat malah seulas senyum membalas tatapannya.
"Perutmu masih sakit? " tanya Hans.
"Sudah tidak sakit, hanya sedikit kaku saja." jawab Zoya.
Mobil itu pun sudah berhenti di depan bangunan kecil di belakang masjid. Saat mereka turun dari mobil, mereka di sambut oleh dua wanita paruh baya yang baru saja keluar.
"Mas Tolong, turunin belanjaan tadi, ya!" ucap Zoya, Hans baru saja mengerti, kenapa istrinya belanja bahan makanan terlalu banyak.
"Assalamu'alaikum... " sapa Zoya. Sementara Hans membawa semua barang ke dalam panti. Tidak banyak sebenarnya untuk barang barang yang dia bawa. Karena dia pikir uang akan lebih fleksible untuk digunakan sebagai kebutuhan.
"Waalaikum salam." jawab kedua wanita paruh baya itu beriringan. Mereka adalah Ibu Yasmin dan Ibu Nadya, pengurus panti.
"Mbak Zoya, mari masuk! " ucap Ibu Yasmin mempersilahkan masuk ke dalam.
"Terima kasih, Bu. Saya rasa di sini sudah cukup, soalnya Ale tertidur di dalam Mobil." Jawab Zoya kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di teras.
Hans menatap istrinya, hampir tidak percaya saat menyerahkan sebuah amplop kepada pengurus panti. Kali ini, dia hanya figur yang masif sebagai pengamat perbincangan ketiga perempuan di sana. Dia mulai menyadari jika ini bukan pertama kalinya Zoya datang ke sini. Bahkan, pengurus panti juga sudah mengenal Ale. Hatinya begitu terenyuh, saat melihat sesuatu yang di lakukan istrinya selama ini. Hanya beberapa saat mereka berkunjung, hingga kini mereka kembali berada ke dalam mobil yang mengarah menuju jalan pulang.
"Sayang, jika kamu bilang sering melakukannya aku akan menambahkan uang belanjamu." ujar Hans yang tak habis pikir, selama ini uang yang dia berikan pada Zoya tidaklah seberapa tapi masih bisa digunakan istrinya untuk berbagi. Mendengar kalimat suaminya, Zoya menatap lelaki di sebelahnya dan kemudian tersenyum mengisyaratkan kebahagiaan.
"Mas Hans sudah memberikan uang lebih dari cukup. Tapi, sebenarnya ada yang mengganjal di hatiku, Mas." Zoya seolah ragu ingin mengutarakan isi hatinya, dia memilih untuk mengambil prolog untuk melihat reaksi suaminya.
__ADS_1
"Apa, sayang? " jawab Hans masih dengan menatap jalan di depannya.
"Hmmmm...Apa Mas Hans pernah menghitung berapa penghasilan Mas Hans dalam satu bulan? "
"Tentu saja dihitung, dari kantor, dari semua investasi semua yang menjadi pemasukan tentu saja aku hitung." jawab Hans merasa bingung dengan pertanyaan Zoya. Zoya, sendiri tidak ingin terlalu jauh mengurusi urusan financial suaminya. Rasanya terlalu berlebihan jika dia mengulik terlalu dalam tentang keuangan suaminya karena dia hanya orang yang baru saja masuk dalam kehidupan lelaki itu.
"Pernah menghitung untuk membayar Zakat? " tanya Zoya dengan hati hati. Irish matanya menatap selidik reaksi suaminya. Hans hanya menggeleng. Dia tidak pernah tahu tentang itu.
"Aku hanya membayar pajak saja." ujar Hans.
"Sudah seharusnya Mas Hans membayar Zakat penghasilan. Hanya berapa persen saja, itu tidak akan membuat miskin. Maaf, aku hanya ingin mengingatkan saja. Semoga rejeki yang diberikan Allah pada kita menjadi berkah untuk keluarga kita dunia dan akhirat."
"Muaachhh.... " Hans hanya melemparkan kecupan jauh ke arah Zoya. Lelaki itu memonyongkan bibir tipisnya di sela sela fokusnya pada jalanan.
"Astagfirullah." ucap Zoya, kemudian menutup mulutnya dengan mata terbelalak ke arah suaminya. Tidak ada yang akan menyangka, jika sosok yang dikenal publik sebagai seorang yang kharismatik, cool dan smart itu terkadang punya kelakukan yang absurd, kemungkinan bisa membuat seseorang bergidik ngeri.
"Aku tidak bisa lagi mengungkapkan perasaanku dengan kata kata. Oh ya, aku akan menemui ustad untuk urusan zakat, tapi bukan ustad mantan rivalku." ucap Hans dengan membelokkan mobilnya ke jalan komplek menuju rumahnya. Obrolan mereka membuat perjalanan pulang tak terasa begitu cepat.
Mereka, Hans dan zoya keluar mobil bersamaan. Jika bukan karena akan membawa Ale ke kamar, Hans mungkin akan memilih memilih menemani Zoya menemui Wildan.
"Assalamualaikum, Zoy." sapa Wildan mendahului. Wajah teduh itu kini terlihat bercampur dengan guratan kebingungan.
"Waalaikum salam." jawab Zoya. Hans melirik tajam istri dan tamunya saat melewati mereka dengan menggendong Ale masuk ke dalam.
"Zoy, kamu tahu di mana Nilla?" Pertanyaan Wildan membuat Zoya terkaget.
"Maksud, Bang Wildan?"
"Kata teman kosnya sudah dua hari Nilla tidak ada di kos. Aku khawatir dengan keadaannya. Aku juga tidak bisa menghubunginya, nomerku diblok, aku gunakan nomer lain juga tidak ada tanggapan. Kira-kira kamu tahu dimana dia?" Wildan benar benar mencemaskan Nilla. Terakhir bertemu saat di parkiran, reaksi Nilla begitu keras menolak pernikahan itu. Yang Wildan takutkan Nilla akan kabur jauh dari kota ini.
__ADS_1
"Jangan khawatir, besok jika aku sudah ketemu, aku akan mengabari Bang Wildan." ujar Zoya dengan santai karena tadi pagi Nilla mengajaknya untuk besok bertemu.
"Kamu tahu di mana, Zoy?" Selidik Wildan masih dengan rasa penasaran.
"Belum tahu, Bang.Tapi tenang saja, Nilla baik baik saja, mungkin dia butuh sendiri saat ini." Zoya mencoba meyakinkan Wildan, Nilla biasa seperti itu. Dia paling suka kabur-kaburan.
"Kalau begitu aku pamit, Zoy. Aku tunggu kabarnya, ya. Assaalamu alaikum." ucap Wildan kemudian meninggalkan Zoya yang sedang menatap kepergiannya.
"Ada-ada aja Nilla." gerutu Zoya dengan menggelengkan kepalanya pelan, kemudian masuk ke dalam rumah.
Dengan pelan, dia menaiki anak tangga. Rasanya dia ingin dia membersihkan diri. Ternyata, Hans sudah duduk di sofa dengan menyalakan televisi. Dia melirik, istrinya yang berjalan melewatinya.
"Ehem... ehem... " deheman itu akhirnya membuat Zoya menghentikan langkahnya. Dia memutuskan berbalik untuk menghampiri suaminya, reaksi yang sudah dia hafal saat suaminya sedang bad mood.
"Iya...aku datang, Mas." sahut Zoya yang kemudian menjatuhkan tubuhnya di sebelah suaminya. Tapi, tidak ada reaksi lain dari Hans kecuali memindah beberapa channel televisi. Sedikit pun lelaki itu tak menoleh ke arah Zoya sama sekali. Sambil tersenyum Zoya pun memeluk tubuh di sampingnya.
"Marah?" tanya Zoya dengan mendongak menatap wajah yang menyamarkan senyum tipisnya. Sebenarnya Hans sedang tersenyum senang karena pelukan istrinya. Jarang sekali Zoya memberikan pelukan padanya, padahal itu yang selalu Hans damba, istrinya mau bermanja manja dengannya karena baginya seperti itulah perempuan pada umumnya.
"Masih marah? Aku sudah memberikan pelukanku lo, Mas." ujar Zoya dengan mencari senyum dari wajah lelaki itu untuknya.
"Berikan aku anak!" sahut Hans dengan membingkai wajah ayu Zoya dan mendaratkan ciuman singkat di bibir mungil itu. Seketika itu senyuman di wajah Zoya menyurut. Dia kembali teringat kehamilan pertamanya." Maafkan aku, tidak bisa menjaganya." lirihnya sedikit memberikan jarak diantara mereka.
"Bukan itu, Zoya." Hans memeluk istrinya. menenggelamkan tubuh mungil itu di dada bidangnya untuk sejenak. Dan kemudian meregangkannya kembali dengan menatap mata indah Zoya. "Kita akan memprosesnya lagi sampai jadi!" ucap Hans dengan tersenyum meyakinkan istrinya.
"Jangan menggigit bibir bawahmu, nanti aku tidak tahan melihatnya." ujar Hans dengan kembali merengkuh bahu istrinya agar bersandar di dada bidangnya.
"Aku mencintaimu tidak hanya karena anak. Kita masih punya Ale. Tapi, semoga Allah memberi rejeki lagi untuk teman Ale." Mendengar kalimat Hans membuat Zoya mengangguk dan tersenyum ke arah wajah yang menunduk, menunggu senyumannya.
Bersambung...
__ADS_1
Ternyata udah Part ratusan ya gaes... Terima kasih masih menemani RCZ sampai sejauh ini. Nantikan part part selanjutnya yang sedikit menegangkan tapi romantis.
Semoga selalu diberi kesehatan, bahagia dan rejeki berlimpah... happy reading! "