Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Bau Badan


__ADS_3

Hans menatap sosok yang masih terlelap. Wajah tenang dengan hembusan nafas yang halus, membuat lelaki yang berbaring miring menikmati detail wajah ayu istrinya.


Jarinya menyentuh berulang, disertai senyum yang tergambar jelas di wajahnya, jari telunjuk Hans seolah memainkan bulu lentik yang menempel pada kelopak mata yang masih mengatup tenang.


Saat tubuh mungil Zoya menggeliat gelisah karena permainan jari di bulu matanya. Dia kembali lagi tersenyum. Hans Menggeser sedikit posisinya, bermaksud untuk membersihkan diri.


"Mau kemana, Mas?" tangan mungil Zoya menahan lengan kokoh Hans.


Hans terdiam sejenak dengan mengulum senyum di bibir tipisnya. Tatapannya tertuju pada sosok yang baru saja membuka mata.


"Kamu sudah bangun?" tanya Hans dengan menyingkirkan anak rambut yang tercecer di wajah cantik istrinya. Zoya hanya tersenyum manja tapi jari-jarinya masih menggenggam erat lengan kokoh Hans.


"Aku masih ingin ditemani." pinta Zoya membuat senyum lelaki itu semakin tergambar jelas. Sejak kapan Zoya banyak permintaan?


Hans kembali merebahkan tubuhnya di samping Zoya. Dengan menaikkan selimut, dia merangkul tubuh mungil yang kemudian ikut mendekapnya juga. Perasaan aneh terus saja berkecamuk dalam pikirannya.


"Kenapa jadi manja sekali?" gumam Hans masih dengan mendekap istrinya. Dia hanya merasa heran saja, tidak biasanya Zoya semanja ini. Lelaki itu tidak banyak bertanya, mereka lebih menikmati waktu mereka bersama.


Sinar mentari yang mulai mengintip dibalik langit jingga membuat Zoya berkali-kali mengerjapkan Mata. Setelah Salat Subuh, dia memilih untuk kembali tidur.


Saat inj, dia mencari sosok yang sejak semalam selalu ditahannya saat akan beranjak pergi. Zoya sudah mengedarkan pandangannya, tapi tidak juga didapati bayangan suaminya.


"Di mana Mas Hans?" gumam Zoya saat melihat kamar mandi kosong. Disibakkan tirai yang menutup jendela kamarnya yang menghadap ke laut lepas.


Dari balkon dia bisa melihat Hans yang sedang berlari menyisir pantai, lelaki bertubuh atletis itu terlihat menikmati joging paginya dengan menikmati suasana pantai.


"Kenapa aku di tinggal?" gerutu Zoya dengan mengerucutkan bibir. Dia merasa tidak adil karena tidak bisa menikmati pemandangan pantai yang terlihat indah. Tapi, di sisi lain Zoya juga masih merasa enggan keluar kamar.


Tempat tidur, rasanya dia ingin kembali menikmati empuknya tempat tidur. Masih mengenakan kemeja Hans yang panjangnya hampir selutut, Zoya merebahkan kembali tubuhnya di atas bed empuk itu.


Berlahan, matanya kembali menyipit. Tak terasa dia kembali tertidur, meskipun bukan tidur yang lelap. Suara deburan ombak masih terdengar meski matanya tak mampu lagi untuk terbuka.


"Sayang... Hae kenapa tidak bangun?" Suara bariton itu kembali membuat Zoya kembali mengerjapkan mata. Lelaki bertubuh atletis itu sudah berdiri di dekat kakinya yang menggantung.


Zoya berbaring dengan posisi telentang sembarang, dia seolah tidak lagi berniat kembali tidur. Tapi kenyataan dia kembali tertidur.


"Zoy, lihatlah! Hari sudah terang!" Hans masih berusaha membuat istrinya membuka mata. Masih dengan berdiri dan bertolak pinggang di dekat kaki Zoya. Hans terus saja berusaha membangunkan istrinya.


"Mas Hans, nggak romantis." keluhnya dengan mata terpejam. Tangannya meraih bantal untuk dijadikan guling. Tanpa peduli suaminya yang sudah berdiri dengan tatapan licik, Zoya pun berganti posisi dengan meringkuk memeluk bantal sebagai guling.


"Baiklah, kamu ingin yang romantis, kan?" gumam Hans. Tak lama menatap istrinya, Hans pun mengangkat tubuh Zoya hingga perempuan itu memekik kaget.


Hans membawa Zoya ke dalam kamar mandi dan itu berhasil membuat Zoya berjingkat kaget saat air dingin menyiram tubuhnya. "Mas Hans." Dia gelagapan dengan memeluk tubuh atletis di depannya.


"Mas Hans, dingin!" keluh Zoya hingga tidak mau melepas pelukannya pada lelaki yang hanya bisa tersenyum saat melihat kelakuan istrinya. Pagi ini, mereka mandi bersama sebelum Hans mengajaknya menyisir pantai dan menikmati sarapan di luar resort.

__ADS_1


"Romantis, kan?" Hans masih membantu Zoya mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk.


"Menyiksaku. Airnya terasa dingin banget." Mandi air dingin memang berhasil membuat Zoya membuka mata dan terasa segar. Tapi dia harus menggigil terlebih dahulu saat melakukannya.


"Kamu kenakan, bajumu yang kemarin! Kita akan keluar resort. Hari ini juga kita akan balik ke kota." Hans meninggalkan Zoya untuk mencari ponselnya. Sejak semalam dia belum juga menyentuh benda pipih itu sama sekali.


###


Di sebuah ruangan kerja yang cukup mewah, di lantai dua. Seorang gadis yang mengenakan jilbab bermotif floral dipadu dengan blus polos dan celana kain itu berdiri di dekat jendela.


Dari kemarin hatinya begitu gusar menentukan keputusan untuk langkah selanjutnya. Hari ini, beberapa kali Rey mencoba menelponnya tapi tidak diangkat olehnya. Dia hanya ingin memastikan dulu hatinya.


Kejadian, kemarin dan kebulatan hati Rey untuk mendapatkan cinta Zoya membuat Kyara merasa gamang dengan perasaannya sendiri. Berhenti dan melanjutkan. Menurutnya cinta yang belum tersampaikan memang terlalu indah dan menyesakkan.


Kyara tersenyum cemeh menatap jalan kota dari atas jendela ruangannya. Kali ini, hatinya lebih besar memilih mundur, tentu saja dia kecewa. Tapi, dia tidak ingin kecewa lebih dalam lagi karena memaksakan cinta yang bukan untuknya.


"Selamat sore, Bu Bos." suara Ryan membuyarkan lamunannya. Bersama Diana, Ryan berdiri di tengah pintu ruangan gadis yang memang terlihat smart.


"Masuk, Bang."


"Masuk, Di." Kyara berbalik menghampiri mereka untuk mempersilahkan masuk.


Langkah mereka tertuju pada sofa yang ada di sudut ruangan yang tertata sangat modern. Lukisan yang senada dengan beberapa bunga yang terletak di meja kerja dan sudut ruangan, memberi kesan feminim untuk si pemiliknya.


"Kenapa nggak pernah main ke kantor, Ra?" tanya Ryan yang dulu memang sering menghabiskan waktu makan siang bersama Kyara dan Hans di kafe depan kantornya.


"Benarkah?" jawab Kyara dengan tertawa renyah. Kantor Hans memang memberi kesan yang berbeda. Apalagi pemiliknya, laki laki yang berani memarahinya habis habisan. Itulah kesan pertama yang diberikan gadis itu pada sosok yang dianggap abangnya.


"Kita kesini mau ngasih undangan pernikahan kita." Ryan mulai menjelaskan maksud kedatangan mereka ke kantor Kyara, sedangkan Diana mengeluarkan kertas undangan dari dalam tasnya.


"Ya Allah, akhirnya perjuanganmu sukses, Bang."


"Selamat ya Bang."


"Selamat ya, Di." Kyara memberi selamat pada keduanya. Dia saksi perjuangan Ryan untuk mendapatkan hati Diana. Beberapa kali lelaki jangkung itu di tolak dengan alasan dirinya masih ingin fokus kuliah dan berkerja.


"Akhirnya, usaha tidak mengkhianati hasil." lanjut Kyara membuat Diana tersipu malu.


Percakapan sore, di akhir jam kerja, membuat mereka bertiga betah jika tidak mengingat suasana yang berganti petang, mungkin masih asyik mengobrol.


###


Tangannya masih menggapai, mencari ponsel yang sejak tadi berbunyi. Matanya yang memicing berusaha melihat jelas siapa yang sedari tadi menelponnya.


Sepulang dari resort Zoya merasa tubuhnya cepat merasa lelah. Bahkan, setiap kali rasa kantuk mendera tak bisa ditahannya.

__ADS_1


"Mama." gumamnya kemudian menjawab panggilan Mama mertuanya.


"Assalamulaikum, Ma." jawab Zoya dengan beringsut menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Waalaikum salam... Kamu sakit, Zoy?" tanya Mama Shanti saat melihat Zoya sore begini masih terlihat kusut di atas tempat tidur.


"Nggak, Ma! Zoya cuma merasa lelah. Nggak ada Ale juga sepi." jawab Zoya.


"Mamaaaaa.... adeknya sudah jadi?" tanya Ale setelah berhasil merebut ponsel milik omanya.


"Sayang, Ale nanyanya sama Papa saja." balas Zoya


"Besok Ale pulang, Ma. Ale sudah kangen sama Mama." balas bocah gembul itu masih menampilkan senyum yang membuat matanya semakin menyipit.


Terdengar suara Mama Shanti memperingatkan Ale agar tidak terlalu lama menelpon Zoya karena Mama Zoyanya sedang sakit.


"Mama Sakit?" bocah itu kembali menghadapkan layar ponsel di wajahnya.


"Nggak sayang, cuma ngantuk saja." jawab Zoya masih tersenyum pada putrinya.


"Mama istirahat, besok Ale pulang. Besok Ale temani Mama, ya! Biar Mama Zoya cepat sembuh." Zoya tersenyum saat mendengarkan tutur kata putrinya yang seolah dia sudah dewasa.


"Terima kasih, Putri cantiknya Mama."


"Assalamualaikum." Ale mematikan panggilannya.


"Waalaikum salam." Zoya pun meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


Zoya kembali melorotkan tubuhnya dan menarik kembali selimut meskipun tidak berniat tidur kembali. Dia hanya Ingin mengembalikan tenaganya agar bisa bangun dan memasak sesuatu untuk suaminya ketika pulang kerja.


Tidak sampai sepuluh menit, pintu kamarnya terbuka, ternyata Hans sudah pulang dari kantor.


"Mas, sudah pulang?" tanya Zoya saat melihat suaminya masuk dan menghampirinya di atas tempat tidur.


"Iya, kamu kok tiduran terus?" Hans meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Iya, lemes pengen tidur terus." jawab Zoya saat dengan menggeser tubuhnya ke tengah saat Hans duduk di sebelahnya.


"Kita cek gula darah atau tekanan darahmu, ya?" tawar Hans tapi ditolak Zoya dengan alasan dia hanya merasa lelah saja. Zoya hanya ingin quality time untuk istirahat.


"Mas Hans, jangan dekat-dekat!" protes Zoya saat Hans merebahkan tubuhnya di sebelahnya. Zoya pun terus menggeser tubuhnya menjauh dari Hans.


"Kenapa?" tanya Hans merasa heran tidak biasanya Zoya menolaknya. Bahkan sekarang istrinya memberi jarak.


"Risih saja, nggak suka Mas Hans bau." Mendengar penolakan Zoya Hans kembali menautkan kedua alisnya. Dia mencoba membau badannya sendiri, yang membuatnya heran, dia merasa bau badannya seperti biasanya saat dia pulang dan memeluk istrinya. Parfum mahalnya masih terendus tajam.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2