Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Panggilan Naura


__ADS_3

Hans masih menatap keluar jendela. Cuaca tiba tiba berganti mendung, angin bertiup kencang membuat pepohonan bergoyang dengan gemulai, tatapannya tidak beralih dari parkiran, berharap Zoya bisa sampai lebih cepat di kantornya. Jika saja, dia mengetahui cuaca akan berubah dalam waktu sekejap, dia tidak akan meminta Zoya membawakan beberapa arsip yang tertinggal di rumah untuk di antar ke kantor.


Benarkah hanya sekedar arsip yang tertinggal? Atau hanya ingin melihat wajah ayu itu terus menerus? Dia kembali teringat kejadian tadi pagi saat tiba tiba dia ingin memeluk Zoya. Dia sendiri tidak mengerti, alasan apa yang membuatnya memilih cara itu untuk meminta maaf pada Zoya.


Kenapa harus memeluknya?


Hatinya menjadi gamang saat dia menyadari jantungnya berdegup lebih kencang ketika dia melingkarkan lengannya di tubuh mungil itu. Saat itu tidak hanya Zoya yang terkejut dengan tindakannya. Tapi, Hans sendiri sempat terdiam sejenak untuk mengenali perasaan aneh yang tiba-tiba menghampirinya. Debaran aneh yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia kembali lagi mencerna dan mengartikan perasaan itu. Hans hanya menganggap alasan perasaan itu muncul karena dia adalah seorang laki laki, yang sudah tentu apabila bersentuhan dengan perempuan akan menimbulkan perasaan aneh tersebut.


Han's Pov


Aku sedang gelisah menunggu Zoya, bukannya aku tidak sabar untuk melihatnya tapi aku hanya mencemaskan keadaanya karena cuaca di luar yang cukup buruk. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padanya hanya karena aku memintanya mengantarkan beberapa arsip yang tertinggal.


Aku memutuskan untuk menghubunginya, Jika dia belum berangkat, aku akan memintanya untuk tetap tinggal di rumah saja. Tapi ternyata, dia sudah hampir sampai. Aku menjadi tidak tenang menunggunya dari jendela ruanganku.


Hanya karena gerimis sudah mulai membasahi kota ini, rasa cemas ini mendorongku untuk keluar ruangan, menunggunya di depan kantor aku pikir itu jauh lebih baik.


Hatiku sedikit lega, saat aku melihat mobil HR-v putih memasuki gerbang kantorku. Zoya terlihat keluar dari mobil dan berjalan dengan tergesa-gesa ke arahku. Aku melihat gadis itu terlihat sangat cantik dengan baju biru navy dengan warna jilbab yang senada. Aku kembali meraup wajahku dengan kasar seolah menyadarkan otaku yang seperti mendamba padanya.


"Maaf, Mas Hans harus menunggu lama. Mama meminta Ale untuk diantar ke sana. " ucapnya terlihat merasa bersalah. Padahal bukan alasan itu yang membuatku sampai menunggunya di depan kantor.


"Ayo, masuk! " aku menyuruhnya untuk masuk. Saat, aku melihatnya sedikit gugup, aku menggenggam tangannya menuju ruanganku. Aku sadar semua mata mengarah pada kita. Tapi, aku tak peduli. Toh, aku pikir pitu bukan sebuah dosa.


Zoya terlihat mengedarkan pandangannya memperhatikan setiap inci dari ruanganku, dan pandangannya terhenti saat melihat sebuah foto yang terpasang di mejaku. Fotoku bersama Renita.


"Zoya, kamu membawa apa? " tanyaku untuk mengalihkan perhatiannya. Seharusnya, aku biasa saja tapi ada rasa bersalah saat aku melihat sorot matanya yang terlihat sendu.


"Aku membawa makan siang buat Mas Hans, jika Mas Hans berkenan. " jawabnya dengan lembut.

__ADS_1


"Duduklah dulu! Aku akan menyelesaikan pekerjaanku, cuma sebentar kok. " ucapku membuat Zoya berjalan menuju sofa. Aku kembali menatapnya, warna jilbab biru navy yang begitu kontras dengan kulitnya membuatnya terlihat lebih cantik.


Hanya lima belas menit aku mempelajari berkas yang dibawa Zoya dari rumah, kemudian aku memanggil Diana untuk memperbaiki dan mencetak ulang beberapa poin yang kurang tepat.


Di luar hujan semakin deras, bahkan sekarang gemuruh sesekali terdengar. Aku melipat lengan kemejaku saat aku berjalan ke arah gadis yang menyandang nama sebagai Ny. Hans Satrya Jagad.


"Makan sekarang, Mas? " ucap Zoya saat aku mendudukkan tubuhku di sampingnya.


"Iya, " jawabku membuatnya bergegas membuka sebuah kotak makan siang untukku.


"Kamu tidak makan? " tanyaku saat aku melihat hanya satu tempat makan yang dia siapkan.


"Aku puasa, Mas! "


"Kenapa kamu harus memasak ini semua jika kamu puasa? Aku bisa makan apa saja di luar. " protesku dengan perasaan yang tidak enak, tapi gadis itu hanya menjawabku dengan seulas senyum lembutnya. Aku makan di depannya dengan sungkan, tapi jika aku tidak menyentuh makanan yang dia bawa, aku yakin itu akan membuatnya kecewa.


Hans terlihat menikmati makan siangnya, hingga ponselnya yang berdering pun diabaikannya. Tidak hanya sekali, ponsel itu kembali berdering hingga akhirnya dia meminta Zoya mengambilkan untuknya dari meja kerja.


"Nolla?.... " gumamnya sambil menelan makanan yang sedang dikunyahnya.


"Iya, La? "


"Bisakah kamu ke rumahku, Hans? " tanya perempuan itu dari sebrang diiringi dengan isak tangis.


"Baiklah...tunggu aku sebentar, aku akan ke sana. " Hans mengakhiri makan siangnya begitu saja. Wajahnya terlihat cemas membuat Zoya begitu penasaran, siapa yang menelpon.


"Ayo Zoya, ikut aku! " ajak Hans, karena tadi dia sempat mengirim pesan pada Pak Dino untuk meninggalkan Zoya karena akan pulang bersamanya.

__ADS_1


Hujan masih mengguyur dengan derasnya, tapi Hans tidak peduli. Dia menarik lengan Zoya untuk berlari menuju mobil.


"Mau ke mana, Mas? " tanya Zoya, tapi tidak dihiraukan oleh Hans. Laki laki itu terlihat cemas memikirkan keadaan Naura, karena di telpon isak tangis Naura terdengar begitu jelas.


Melihat kepanikan suaminya Zoya hanya terdiam. Siapa sebenarnya, Nolla? Hingga membuat suaminya sepanik itu. Zoya begitu penasaran karena dia juga sempat melihat nama 'Nolla' yang tertera di layar ponsel suaminya.


Hans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya Marcy Hitam itu membelok ke sebuah rumah mewah yang cukup cantik. Hans, langsung berlari keluar mobil mencari keberadaan Naura. Heran, rasa heran membuat Zoya berniat mengikuti langkah suaminya.


"Nolla... " panggil Hans, kemudian membuka lebar pintu yang sudah sedikit terbuka. Terlihat Nolla duduk bersimpuh di lantai masih dengan menangis.


"Hans.... " teriaknya kemudian bangkit dan berlari menghambur ke arah lelaki yang pernah menjadi mantan pacarnya itu. Naura memeluk Hans begitu erat, seolah menumpahkan isak tangisnya membuat laki laki itu mengusap pundak Naura agar bisa lebih tenang.


Zoya memundurkan langkahnya, sudah beberapa menit dia berdiri mematung di belakang Hans hanya untuk melihat adegan yang membuat hatinya terasa nyeri.


Naura yang menangis tergugu dalam pelukannya membuat Hans tidak menyadari jika Zoya sudah berdiri di belakangnya.


"Hans, dia menamparku! Tapi, dia tetap tidak ingin menceraikanku. Aku tidak tahan, Hans. " ucap Naura dengan wajah menengadah menatap Hans. Wajahnya terlihat lembab, air mata terus saja mengalir dari kedua bola matanya.


"Berhentilah menangis! Kita akan mencari solusinya. " ucap Hans membawa Naura untuk duduk.


Hans melihat bekas pertengkaran hebat, kondisi rumah yang terlihat kacau dan ada beberapa barang yang pecah. Melihat Naura yang sedikit tenang membuat Hans teringat jika dia sudah meninggalkan Zoya di mobil.


"Nolla, sebentar... " ucap Hans saat akan beranjak pergi, tapi tangan lentik itu segera mencekalnya.


"Jangan pergi dulu, Hans. Aku mohon! " pinta Naura dengan tatapan mengiba membuat Hans kembali duduk dengan rasa gusar memikirkan Zoya di dalam mobil.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2