
Pengalaman akan membuat kita menjadi pintar dan kesulitan akan membuat kita lebih kuat.(Quotation by author).
Zoya berjalan mendekat menghampiri Naura dan Hans. Tangannya sudah mulai dingin, ledakan perasaan di dadanya masih ditahan dengan segenap kekuatan.
"Bisakah aku bicara dengan suamiku, Mbak?" Kalimat Zoya terdengar tajam, seperti sebuah sindiran untuk mempertegas posisi dirinya diantara mereka. Sorot mata sendu kini bercampur dengan kobaran semua rasa yang menyiksanya selama ini. Itulah caranya untuk mengusir Naura dari ruangan Hans.
"Baiklah, kita akan bertemu lagi nanti, Hans. " ucap Naura dengan berjinjit mencium Pipi Hans. Zoya hanya memalingkan wajah, dengan menelan salivanya kasar menahan gemuruh di dadanya. Sedangkan Hans terkaget melihat reaksi Naura yang terkesan menyerang balik Zoya dengan cara menunjukkan jika dia sudah menguasai Hans.
Ketukan hells itu terdengar nyaring berbenturan dengan lantai ruangan Hans yang terbuat dari marmer. Suasana hening sejenak, hingga Naura benar benar tidak terlihat lagi dalam ruangan itu.
"Duduklah, Zoy! " titah Hans membuat Zoya berjalan mendekati sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.
"Ada apa? " lanjut Hans. Kini, mereka duduk berhadap-hadapan.
"Ale menanyakan Mas Hans terus. Aku harap Mas Hans bisa meluangkan waktu sejenak untuk Ale. " Kalimat prolog Zoya membuat Hans tersadar, jika akhir akhir ini dia tidak memikirkan Ale, dia hanya memasrahkan semuanya dengan Zoya.
"Aku akan pulang lebih awal nanti. "
"Mas, jika Mas Hans sudah merasa tidak nyaman dengan pernikahan ini... " Zoya terdiam sejenak, dia mengatur tenggorokannya yang terasa kering. Sedangkan, dia harus menahan semua rasa sakit yang membuncah dalam dadanya.
"Lepaskan aku dari pernikahan ini, Mas. " lirihnya tapi masih terdengar jelas di telinga Hans. Seperti sebuah tendangan yang menghantam tepat di dadanya, tidak disangka Zoya akan mengatakan itu. Rahangnya seketika mengeras, tatapan tajam dilayangkan pada sosok yang duduk di depannya. Tapi, mulutnya tak mempunyai kekuatan untuk mengucapkan kalimat apapun. Kaget, itu yang di rasa Hans saat ini.
"Maksudmu apa? " Nada suara Hans yang tajam terdengar seperti sebuah emosi yang tertahan.
"Tidak ada yang perlu dipertahankan dalam pernikahan ini, terlebih untuk Ale. Situasi dan kondisi seperti ini tidaklah baik bagi perkembangan Ale. Dan Soal Mama, kemarin kita sudah bicara, sudah bukan rahasia umum lagi sekandal Mas Hans dan Mbak Naura. Mama juga sudah ikhlas, jika aku menginginkan perpisahan ini. " jelas Zoya, tubuhnya terasa panas dingin saat dia harus mendominasi sebuah pembicaraan.
"Jadi, Mas Hans bisa lepas dari ikatan ini dan melanjutkan hidup yang jauh lebih nyaman bersama orang yang tepat. Ale butuh lingkungan keluarga yang utuh, Mas " jelas Zoya kemudian dia mengeluarkan sebuah kartu dan menyodorkannya di depan Hans.
"Apalagi ini Zoya Kamila? " sinis Hans saat melihat reaksi Zoya mengembalikan kartu ATM yang pernah dia berikan. Menurutnya, Zoya sangat berlebihan.
__ADS_1
"Hanya itu yang ingin aku bicarakan, Mas. Maafkan aku selama ini sudah merepotkanmu."
tanpa menunggu reaksi Hans, zoya berdiri dan keluar dari ruangan itu secepatnya.
Zoya keluar dari ruangan Hans dengan terburu buru bersamaan dengan tangis yang sudah tidak bisa di bendung lagi. Langkahnya berlari kecil membuat Ryan mengurungkan niat untuk menyapanya. Dengan bahasa isyarat, lelaki jangkung itu malah bertanya dengan Diana tentang apa yang sedang terjadi, sedangkan Diana hanya menjawab dengan menggidikkan bahu.
"Pyaaar.... "
"Braaaangg..... "
Di dalam ruangan, Hans membanting ponselnya. menendang meja di dekat sofa hingga kacanya pecah berceceran. Hatinya bergemuruh penuh amarah. Dia tidak menyangka, Zoya berani mengatakan itu padanya.
" Pyaaarrr... " Dan terakhir sebuah guci yang pernah dia beli dari Jerman pun dia banting hingga remuk.
Tapi tetap saja amarah dan emosinya tak kunjung mereda, meskipun suasana kantor sudah berantakan. Wajahnya merah padam menahan gejolak darahnya yang memanas.
"Maafkan aku ya Allah, jika aku memilih sesuatu yang Engkau benci. " gumamnya dalam hati bersamaan dengan isak tangisnya. Emosinya yang mulai mereda membuatnya memutuskan untuk pulang. Di rumah, dia menitipkan Ale pada Bi Muna.
###
Zoya berusaha bersikap biasa saja di depan Ale. Meskipun kini hatinya begitu gelisah saat mengingat suatu, dia akan kehilangan putri yang sudah dia sayangi.
"Ale kita bermain di depan TV, yuk! " ajak Zoya, setelah Ale mandi sore. Sejak Hans sering pulang larut, Zoyalah yang selalu menemani Ale bermain.
Zoya menggandeng tangan Ale keluar kamar, dia menyalakan TV kemudian duduk di atas karpet berbulu.
"Mama, kapan kita jalan-jalan? " tanya Ale.
"Besok kita nyari buku, yuk! " Rencananya, Zoya akan mengajak Ale pergi ke pasar buku yang sangat murah di kota ini.
__ADS_1
"Sama Tante Nila bial lamai, Ma. " ucap Ale.
"Kita lihat saja besok, ya? Tante Nila di pesantren, jadi tidak bisa keluar sembarangan. " jawab Zoya. Nila memang dekat dengan Ale, karena dia sering membelikan Ale coklat kesukaan Ale.
"Ale, sini Mama cium. Sudah wangi apa belum? " Senjata yang selalu Zoya gunakan saat ingin mencium putri kesayangannya itu.
"Sudah wangi donk! " ucap Ale dengan berdiri mengalungkan tangan di leher Zoya.
Bukannya mencium bocah itu, Zoya malah memeluk Ale. Sejenak mereka terdiam dengan saling berpelukan membuat Ale bingung.
"Ale, jika tidak ada mama, Ale nurut sama Papa dan Oma, ya? Ale juga jadi anak yang mandiri, bisa makan sendiri dan jangan lupa Ale harus rajin solat dan mengaji. " tutur Zoya sambil mencium kening Ale.
"Mama mau kemana? "
"Sebentar lagi mama mau ngaji bersama Tante Nila, jadi Mama sudah tidak bisa menemani Ale lagi. Ale harus jadi anak Mama yang pinter, ya! " Jawab Zoya, jika saja dia punya hak atas bocah di depannya, inging rasanya membawa Ale pergi bersamanya
"Mama nggak boleh pelgi! Mama temani Ale, siapa yang ngajalin Ale ngaji dan berdoa, siapa yang bikinin Ale bubul ayam? " rengek Ale dengan menggelut Zoya hingga tubuh kecil Zoya kewalahan.
"Ale... " suara bariton itu menghentikan Ale. Nampak Hans sudah berdiri di dekat tangga.
"Papa... papa sudah pulang. " teriak Ale dengan menghambur ke arah Hans dengan girangnya.
"Papa, bilang sama mama jangan pelgi. Ale tidak mau sendili sama Oma. Oma tidak bisa buat kue, juga tidak bisa bikin bubul ayam yang enak. " ucap Ale saat berada di gendongan papanya.
Mendengar kalimat putrinya hatinya terasa nyeri. Ada sebuah rasa yang tidak dia sadari, rasa yang membuat sudut hatinya merasa ngilu saat mendengar Zoya akan pergi. Tapi, dia tidak punya alasan untuk menahannya untuk tetep tinggal.
Bersambung...
Pasar Buku murah yang ada di dekat malioboro pada masa itu...Di sana terdapat kumpulan toko buku yang menjual buku seharga 30 sampai 50% dari harga aslinya.
__ADS_1