Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Masih Menunggu


__ADS_3

"Mas, dari mana? " tanya Zoya memecahkan keheningan diantara mereka.


"Dari hotel, Aku terjebak hujan saat akan pulang. Maaf, tadi nggak jadi makan siang. " ujar Hans dengan suara lirih. Hans masih menikmati aroma wangi rambut istrinya. sementara, hati Zoya serasa nyeri saat membayangkan suaminya menghabiskan banyak waktu di hotel bersama wanita lain.


"Zoy, kenapa diam? " tanya Hans dengan memutar tubuh Zoya agar menghadap ke arahnya.


"Malam ini tidur di kamar kita, ya? " tanya Hans dengan melingkarkan lengan Zoya di pinggangnya. Zoya masih terdiam. Hans menatap lekat iris bola mata indah di depannya. Dia tahu, Zoya butuh waktu untuk menerima sentuhan kecil hingga dia bisa memeluk gadis di depannya seperti saat ini. Istrinya memang butuh waktu untuk bisa beradaptasi.


"Katanya mau bikin adek buat Ale?" goda Hans membuat Zoya kembali tersipu.


"Tapi... " jawab Zoya dengan ragu.


"Iya aku tau, kamu belum siap. Tapi, tidak ada salahnya kan jika mulai membiasakan untuk bersamaku? " tanya Hans mencoba meyakinkan istrinya yang terlihat punya banyak keraguan untuk mengiyakan permintaannya.


"Masih berapa lama aku bertahan di sisimu, Mas? Jika akhirnya Mas Hans meninggalkanku. Kenapa kita harus terbiasa. Bukankah itu akan lebih menyakitkan? " lirih Zoya, suara lembut istrinya membuat dentuman keras di dadanya. Wajahnya berubah seketika, aura kemarahan mulai terlukis di wajah ganteng itu.


"Ingat Zoya Kamila. Aku tidak akan melepaskanmu? Apa kamu tidak mengerti jika perceraian adalah hal yang dibenci Allah. Kamu lebih mengerti agama, seharusnya kamu memahami kata di 'Benci'. Kenapa kamu selalu berfikir untuk berpisah? " ucap Hans dengan nada menggebu-gebu, dia melepaskan lengan Zoya dari pinggangnya dan berbalik untuk meninggalkan Zoya.


Entah keberanian dari mana, Zoya berlari menghambur memeluk punggung lelaki bertubuh atletis di depannya. Tangannya melingkar begitu erat di perut keras Hans. Lelaki yang saat ini menghentikan langkahnya merasakan punggungnya basah. Dia baru menyadari Zoya menangis.


"Jangan pergi dengan kemarahanmu padaku, Mas! Aku hanya tidak ingin membebani Mas Hans dengan hubungan ini. Aku tau di hati Mas Hans masih ada Mbak Naura." Mendengar kalimat istrinya, Hans membalikkan tubuhnya menatap lekat mata yang sudah basah itu.


"Kamu cemburu? " tanya Hans. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.


"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin yang terbaik buat kita semua. " jawaban Zoya menyurutkan senyum itu.


Gerimis di luar masih menyisakan hawa dingin di ruangan yang terhubung langsung dengan balkon. Hans menatap wajah sembab yang tengah tertengadah menatapnya. Tangannya pun bergerak membingkai wajah ayu nan polos istrinya.


"Dengar baik baik Zoya Kamila! Naura hanya masa lalu sekarang kamu istriku. Dan ingat! Aku tidak akan melepaskanmu, tidak ada yang bisa memilikimu kecuali aku. " ucapnya, tatapan tajam seperti membekukan gadis di depannya. Berlahan, Hans mengikis jarak diantara mereka, sentuhan lembut bibir tipisnya kini ******* bibir istrinya. Zoya hanya mematung, wajahnya terasa memanas dengan debaran jantung yang menggila, hingga pagutan bibir Hans terlepas.


"Zoy, sudah tiga kali ini kita ciuman kenapa belum bisa juga untuk mengimbangi. " Kalimat Hans membuat zoya sedikit kelimpungan.

__ADS_1


"Maaf." lirih Zoya merasa bersalah. Dia sendiri sudah bingung harus bagaimana untuk menenangkan debaran jantung yang menggebu dan desiran aliran darah yang sulit untuk dikendalikan.


"Ayo masuk, aku juga mau mandi. " ajak Hans dengan merangkul tubuh mungil di sampingnya.


"Maafkan aku, Mas. Aku belum bisa mengimbangi, Mas Hans. " ujar Zoya dengan menunduk saat mereka sudah sampai di dalam kamar.


"Ha ha ha..... Iya tak apa. Mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan diri." ucap Hans sambil tersenyum dan mengacak rambut istrinya.


"Aku akan mandi dulu! " Hans pun melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


Zoya menyiapkan kaos rumahan suaminya, tapi dia sangat merasa bersalah. Dia merasa, dirinya sangat aneh. Hal seperti itu saja dia tidak bisa melakukannya dengan baik. Bukankah, itu menggunakan insting?


Zoya mematut diri di depan cermin, dia mulai meraba tentang dirinya. Kenapa dia begitu sulit untuk mengimbangi suaminya.


"Ya Allah, aku normal, kan? " gumam Zoya bertanya pada bayangannya sendiri di cermin.


Dia tidak mengerti bagaimana nanti jika suaminya meminta haknya. Bagiamana jika dia mengecewakannya lagi.


Zoya hanya menghela nafas panjang. Perlakuan suaminya selalu membuat dirinya panas dingin.


"Jangan terlalu di pikirkan. Kamu pernah nonton film biru? " Zoya hanya menggeleng dan menunduk, dia merasa malu ditanya seperti itu.


"Drama Korea? " lanjut Hans.


"Pernah, tapi tidak terlalu mengikuti. " jawab Zoya dengan suara lembutnya. Dia banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dan belajar. Sementara, setiap malam saat istirahat ibunya selalu menyalakan TV dengan acara sinetron di salah satu chanel ikan terbang.


"Terus ketika masih muda kamu ngapain? " tanya Hans.


"Mengurus Mas Hans sama Ale! " jawaban polos Zoya membuat Hans gemas, laki laki itu spontan mencubit pipi cabi istrinya. Kemudian, berjalan mengambil kaosnya yang berada di atas tempat tidur.


"Jangan bilang kamu masih muda saat ini! " ucap Hans dengan mengenakan kaosnya.

__ADS_1


"Aku menikah dengan Mas Hans kan umur sembilan belas tahun." jawab Zoya mendekat ke arah suaminya.


"Iya, tidak salah juga! Terkadang jawaban polosmu sangat menyebalkan, Zoy. " Hans memang gemas saat membahas soal umur. Dia merasa dirinya dengan Zoya datang dari dua zaman yang berbeda saat membahas umur.


"Sudahlah, ayo kita tidur. Besok sidang terakhir gugatan cerai Naura. "


" Iya, Mas. " jawab Zoya kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Seperti permintaan suaminya, Zoya mulai tidur di kamar itu. Hans, malah sulit memejamkan matanya saat seseorang tidur di sebelahnya. Posisi mereka yang saling memunggungi, membuat Hans terkadang menoleh ke arah Zoya. Ternyata kehadiran Zoya kali ini membuatnya sulit untuk menghalau perasaan ingin memiliki. Tapi, sabar... dia masih harus bersabar jika akan membobol gawang.


###


Siang itu, setelah bersitegang di pengadilan. Akhirnya hakim mengabulkan gugatan cerai Naura. Saksi terakhir yang dihadirkan oleh pihak Naura adalah bekas pembantunya yang berhasil di temukan. Setelah kejadian dulu, dia di pecat oleh Aksara. Hans yang sempat tidak punya waktu untuk keluarganya dan menghindari Naura, dalam kurun waktu itu, Hans mencari keberadaan bekas pembantu Naura. Untung saja setelah membujuknya dengan berbagai alasan, akhirnya dia bisa membawanya untuk menjadi saksi.


"Hans, terima kasih atas semua waktu dan perlindunganmu selama ini. " ucap Naura saat mereka berada dalam salah satu ruangan kosong yang ada di kantor pengadilan Agama.


"Sama sama, Naura. Semoga dirimu mendapatkan hidup yang jauh lebih baik. Membuka lembaran baru dengan cinta yang baru. " ucap Hans membuat Naura memeluk lelaki yang masih mengenakan toganya. Sepasangan mata melihatnya di balik pintu yang terbuka sebelah.


"Zoya! " Hans melepas pelukan Naura dan menghampiri Zoya yang masih mematung.


"Kemarilah! " Hans menarik tangan Zoya mendekat ke arah Naura. Sedang Zoya masih membisu mengikuti langkah suaminya.


"Zoy, Maafkan aku. Kehadiranku sudah membuat rumah tangga kalian tidak nyaman. Tapi jujur, aku masih merasakan sedikit cinta dari perasaan di masa lalu terhadap Hans. Dia laki laki terbaik yang pernah aku miliki. " Zoya masih terdiam saat mendengar ucapan Naura.


"Tapi, ternyata dia berhasil melenyapkan aku dari hatinya." lanjut Naura dengan menyeka air matanya.


"Aku akan melanjutkan hidupku di Paris bersama kedua orang tuaku dan di sana mungkin karirku akan jauh lebih baik. Titip dia, Zoy. Dia sering melupakan makan siangnya. " ucap Naura. kesedihannya bukan karena dia berpisah dengan suaminya. tapi karena dia sudah benar benar kehilangan sosok lelaki yang dulu selalu memberinya banyak cinta dan kasih sayang.


"Hati hati, Mbak. Semoga Mbak Naura mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari sebelumnya. " Zoya memeluk Naura, sebelum perempuan dengan tubuh tinggi semampai itu berlahan meninggalkan mereka berdua.


"Bagaimana, zoy? Apa kamu sudah siap? " tanya Hans kemudian membuka toganya dan menyimpannya di ransel. Zoya hanya bingung dia sama sekali tidak mengerti maksud suaminya meminta dirinya di pengadilan.


Bersambung....

__ADS_1


Ngebut ngebut hahahha. Para readers tercinta inginya Rahasia Cinta Zoya sampai berapa part ya? 70 an atau 150 part?


__ADS_2