
"Kalian jangan main paksa! Awas jika kalian main kekerasan, akan aku laporkan ke polisi. " hardik Hans penuh emosi pada seseorang yang berusaha melayangkan pukulan ke wajahnya, tapi untung saja dia berhasil mengelak. Masa membuat Hans semakin kacau. Tampilannya sudah terlihat berantakan apalagi otaknya yang kini hanya dipenuhi kepanikan.
"Cepat bawa keduanya ke balai desa! Kita selesaikan saat ini juga." teriak beberapa orang yang memergoki Hans dan gadis itu berpelukan.
Dengan sedikit memaksa, bahkan ada yang sesekali mendorong tubuh tinggi atletis itu dari belakang, mereka berhasil mengarak keduanya menuju balai desa yang terletak tidak terlalu jauh dari kejadian. Gadis itu terus saja menggenggam tangan Hans dan bersembunyi di balik tubuh tinggi kekar itu.
"Lihatlah, si Arum dari tadi memegang lengan lelaki ini! " teriak seorang ibu-ibu yang juga ikut mengatai keduanya. Masa yang semakin bertambah tidak lagi hanya golongan pria saja, tapi ibu-ibu juga ikut geram melihat Hans dan Arum. Gadis yang saat ini takut dan malu itu bernama Arum Febrianti gadis di kampung sebelah. Seketika pula Hans menghempaskan tangan kecil itu. Kecewa, jika akhirnya niatnya ingin menolong malah menjadi boomerang untuknya.
"Ya Allah... " Hans menghela nafas berat. Dia sudah tidak mampu mengendalikan kecemasannya lagi. Bukan karena orang-orang menghujat dan meneriakinya. Tapi, dia seolah tidak diberi jeda untuk membela diri. Menikah berarti mengawali kekacauan hidupnya, tapi menolak menikah massa tentu akan merajamnya hingga mati. Bukannya dia takut mati, sedikit pun tidak. Tapi, Ale dan Zoya yang sedang hamil bagaimana mereka nantinya.
Terlihat kepala desa dan orang yang dituakan di desa itu datang bersamaan dengan beberapa pemuda karang taruna.
"Pak lurah kawinkan saja mereka! "
"Iya, mereka hampir saja mengotori kampung kita."
"Mungkin mereka sudah melakukan perbuatan bejat itu sebelumnya. Lihatlah mereka terlihat akrab."
"Arum, gadis itu kelihatannya saja polos ternyata kelakuannya tidak berbeda dengan bapaknya. Tukang mesum!" lontaran kalimat itu membuat Hans menoleh ke arah gadis yang saat ini menangis di sampingnya. Dia mengerti perasaan gadis di sampingnya.
"Kalau tidak terima, rajam saja di sudut desa." Suara itu saling bersahutan menyambut kedatangan para penggede kampung.
Beberapa pemuda karang taruna mencoba memberi jarak masa dengan dua tertuduh. Meskipun begitu, cemoohan terus bergulir tanpa henti.
"Bagaimana? Sebaiknya kita nikahkan kalian sekarang, dari pada jadi amukan masa. Beberapa orang memergoki kalian berbuat intim di bekas pos ronda." saran kepala desa, untuk menghindari amukan warga agar tidak lebih ganas lagi. Bagi tradisi di sini, memang gadis yang terlibat pelecehan harus diasingkan.
"Tidak bisa seperti itu, Pak Lurah." elak Hans. Hans masih mencoba mencari cara untuk bisa lepas dari masalah yang sangat pelik ini.
"Aku sudah menikah, Pak Ustad. Bukankah jika ingin berpoligami harus dengan persetujuan istri pertama." Kali ini hanya itu yang bisa di lakukan Hans untuk menghindari pernikahan paksa itu.
__ADS_1
"Jadi biarkan aku bertemu istriku dulu." pinta Hans dengan rasa putus asa.
"Baiklah kalau begitu aku akan menjelaskan pada warga."
Kepala desa itu pun menjelaskan, jika mereka akan menikah. Tapi, pernikahan mereka akan di lakukan di rumah Hans karena harus meminta persetujuan istri pertamanya. Penduduk desa pun sedikit kecewa kemudian mereka meminta beberapa orang untuk ikut ke kota menyaksikannya.
"Dandy, itu Deny! " lirih kepala desa berbisik pada Dandy yang merupakan ketua karang taruna. Dandy mempersilahkan Deny untuk masuk ke dalam untuk bertemu Hans dan pak ustad.
"Bang, kami tidak bersalah!" bisik Arum masih dengan terisak menghampiri abangnya yang baru saya datang karena jemputan salah satu pemuda.
Deny melihat Hans dengan teliti. Bahkan, setiap detail apa yang di gunakan Hans pun dia perhatikan dengan seksama. Jam tangan classic dengan merk yang terkenal dengan harga yang fantastis dan semua yang menempel di tubuh Hans, dia sangat faham jika semua itu barang barang Merk mahal.
"Nikahkan saja mereka! " Hans terlongok kaget saat mendengar pernyataan Abangnya Arum yang membiarkan adiknya menjadi istri kedua.
"Adikmu akan menjadi istri keduaku!? " Hans masih tidak percaya dengan keputusan Deny.
"Tidak masalah, aku percaya padamu! " jawab Deny dengan santai.
"Bisakah kita bicara sebentar, bersama Pak Ustad!" Ijin Dandy yang berusaha memberikan ide untuk konflik ini secara pribadi. Mereka bertiga berjalan menuju sebuah ruangan kecil di sudut balai desa.
"Mas, aku tidak yakin anda melakukan itu. Tapi, kita tidak bisa melawan adat di sini, lagi pula beberapa orang menjadi saksi. Perempuan yang sudah melakukan hal yang tidak seharusnya, seperti pelecehan seksual mereka akan diusir dari kampung atau dikucilkan. Jadi, bagaimana jika Mas Hans menikahi Arum saja. Jadi dalam waktu enam bulan ketika Anda tidak memberinya nafkah lahir dan batin kepadanya, secara otomatis sudah jatuh talak." jelas Dandy. Lagian saya melihat anda punya kepentingan di kampung sebelah jadi untuk amannya sementara lakukan saja seperti kemauan warga.
"Bagaiamana Pak Ustad?" lanjut Dandy dengan menoleh ke arah lelaki sepuh yang dari tadi masih terdiam.
"Bisa juga seperti itu. Aku yakin Mas Dandy akan memilih jalan yang terbaik. " jawab Pak Ustad singkat.
"Itu pun kalau anda tidak tergoda dengan kecantikan Arum, dia bunga desa disini. " Goda Dendy sedikit mencairkan suasana.
"Apa kamu menyukainya? Sebenarnya aku tidak ingin mempermainkannya apalagi membuatnya menjadi janda. " Hans menaruh curiga pada Dandy.
__ADS_1
"Siapa yang tidak suka wanita secantik Arum. Jangan khawatir, janda di sini lebih di hargai dari pada gadis bukan perawan. Tapi semoga anda tidak tergoda dengan kecantikan dan kemolekan tubuh Arum. " jawab Dandy dengan menepuk lengan Hans.
"Ayo, nanti masa emosi kalau kita kelamaan di sini " ajak Pak Ustad . Mereka langsung keluar dari ruangan kecil itu dan menghampiri masa untuk menyatakan mereka siap untuk dinikahkan dengan kesepakatan pernikahan akan dilakukan di rumah Hans setelah meminta ijin dari istrinya.
Kesepakatan pun terjadi, mereka akan di bagi menjadi tiga rombongan. Satu mobil milik Hans akan di tumpangi, Hans, Pak lurah, Pak Ustad dan Dandy yang diminta untuk menyetir. itu dikarenakan Hans benar-benar kacau, satu mobil milik Deny akan diisi Deny, Arum dan pengawal Deny dan satu mobil ditumpangi beberapa warga yang akan menjadi saksi jika mereka sudah menikah.
"Seharusnya kamu bersyukur kejadian ini membuatmu mendapatkan lelaki yang pantas. Tajir, tampan dan terlihat kharismatik. Aku yakin dia bukan orang sembarangan." ucap Deny saat dalam perjalanan. Lelaki itu meyakinkan adiknya Arum jika tidak masalah menjadi istri muda.
"Dari mana Abang tahu? Pertama kali aku melihat Mas Hans menghampiriku aku memang sudah jatuh cinta, Bang. Laki laki yang sempurna. " ucap Arum dengan malu malu mengakui dia terlalu cepat jatuh cinta karena Hans yang istimewa.
"Makanya dapatkan hatinya. Setelah kesepakatan 6 bulan langsung resmikan hubungan kalian. Aku tidak ingin hubunganmu penuh resiko. Dia memang meminta waktu enam bulan untuk hubungan kalian, karena banyak yang dia selesaikan dalam waktu enam bulan dan untuk memberi tahu mertuamu secara pelan pelan. " jelas Deny memberi tahu alasan Hans meminta waktu.
"Makasih, Bang. Aku menyukai lelaki tampan itu." ucap Arini dengan senyum bahagia.
Di sisi lain semenjak di dalam mobil Hans hanya terdiam. Ketakutan luar biasa baru dia rasakan hari ini. Bukan takut sewajarnya, tapi takut ini akan menyakiti perasaan Zoya. Sesekali dia menghela nafas berat, dia sudah putus asa karena tidak tahu lagi cara untuk membatalkan pernikahan ini.
Hans Pov
Bagaimana aku bisa mengatakan ini padamu Zoya. Mungkin, menatap matamu saja aku tidak berani saat aku harus meminta ijin untuk menikah lagi. Rasanya hidupku sedang dipertaruhkan karena keadaan. Bagaimana tidak? Apa jadinya jika aku tanpamu. Tapi untuk mempertahankanmu dengan situasi ini rasanya sangat sulit.
Aku kehilangan keberanian untuk menghadapimu, melihatmu menangis dan melukai hatimu. Hati yang seharusnya aku jaga akan terluka dengan pernikahan keduaku.
"Maafkan aku, Zoy! "
Author Pov
Hans mengusap sudut matanya. Hatinya terasa nyeri saat membayangkan Zoya akan terluka dengan keputusan ini. Zoya selalu bilang jika dia sangat menentang poligami. Meskipun, Rasulullah mencontohkan poligami dalam kehidupan beliau, tapi bagi Zoya tidak ada yang sesuci dan sesempurna Rasulullah untuk segala keadilan dan akhlak.
TBC.
__ADS_1
happy reading, akankah pernikahan terjadi? Bisakah Zoya menerimanya? Bagaimana nasib Hans selanjutnya? Author juga galau nih. 😂😂😂😂