Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Tobat


__ADS_3

Setiba mereka di rumah, mereka disambut oleh Mama Shanti dan Ale. Karena, saat Hans meminta Pak Bagus menjemputnya di rumah sakit, betapa cemasnya Mama Shanti. Sedari tadi pikiran beliau hanya dihinggapi hal-hal negatif tentang anak dan menantunya.


"Assalamualaikum... " ucap Hans dan Zoya hampir bersamaan saat mereka masuk ke rumah yang mempunyai banyak kenangan bagi lelaki yang masih membagikan senyumnya. Mereka, Hans dan Zoya masih menampilkan guratan wajah bahagia, tanpa menyadari jika wanita paruh baya itu sudah berjalan tergopoh gopoh penuh kekhawatiran ke arah mereka. Mama Shanti berjalan mendekati mereka yang baru saja masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Ale. Beliau sangat tercengang saat mendapati tampilan putranya yang awut awutan, bajunya yang lusuh dan ditambah lagi ada beberapa bagian wajahnya yang terlihat lebam.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Mama Shanti mencecar Hans dengan beberapa pertanyaan. Masih menampilkan wajah cemas, tangan keriputnya pun meraba wajah yang saat ini masih tersenyum di depan beliau. Ini bukan pertama kalinya untuk Hans, tapi tetap saja mamanya masih terlihat cemas.


"Katakan sama Mama! Kenapa wajahmu jadi seperti badut, begini?" ucap Shanti dengan menolehkan wajah Hans ke kanan ke kiri, mencari detail luka yang mungkin lebih parah dari yang beliau lihat saat pertama kalinya. Kalimat terakhir yang terlontar memang membuat Hans berdecih kesal, meski diucapkannya penuh dengan kecemasan.


"Puufhh... hahahah Papa seperti badut. Wajah Papa merah-merah." sambung Ale dengan tergelak menertawakan kecemasan omanya. Sedangkan Hans melotot ke arah putrinya. Tapi masih di balas tawa cekikikan Ale.


"Mama, kayak begini yang bikin pengaruh tidak baik untuk anakku." protes Hans saat mendengar ledekan putrinya.


"Makanya jangan suka gulat. Sudah tua sudah nggak pantas kamu bergulat sampai masuk rumah sakit, pula." Omel Mama Shanti langsung menarik lengan putranya menuju sofa. Dengan malas Hans hanya mengikuti mamanya dibuntuti dua wanitanya yang sejak tadi cekikikan melihat sikap pasrah lelaki yang tidak pernah bisa berkutik menghadapi mamanya.


"Ceritakan pada Mama apa yang terjadi? Awas kalau bilang kamu kalah adu tinju hingga babak belur kayak gini. Terus bagaimana kata dokter?" Wanita yang sungguh hatinya masih dirundung rasa cemas itu terus saja mengomel tanpa batas. Mungkin tidak ada yang tahu, jika itulah cara wanita paruh baya itu mengelabuhi segala kekhawatiran yang mendera hatinya saat ini.


"Cucu Mama akan bertambah lagi." sahut Hans seraya menarik lengan Zoya untuk membawanya masuk ke dalam kamar.


"Eh... eh, maksudnya apa?" Shanti menahan lengan putranya. Beliau melayangkan tatapan penuh selidik pada keduanya secara bergantian.


"Apa, Zoya...." Kalimatnya menggantung, beliau hanya mampu tersenyum dengan menatap Zoya dan Hans secara bergantian.


"Iya, Ma. Zoya hamil." Zoya menyela saat melihat wajah Hans yang ingin mempermainkan situasi mamanya.


"Arrrrggghhh... kenapa tidak bilang dari tadi?" Shanti langsung memeluk menantunya. Sepersekian detik meresapi sebuah perasaan bahagia yang menggebu di dalam hatinya. Rasa bahagia yang membuncah dalam dada tidak bisa dielakkan saat memeluk tubuh mungil menantunya. Air matanya pun tidak bisa ditahan, berlahan menetes dari kedua sudut matanya yang sudah terlihat garis keriput di sana.


"Selamat, Zoy. Semoga kalian selalu sehat." ucap Shanti dengan menatap dan menelisik sorot mata bulat hingga ke dalam. Seolah ingin menyatukan rasa bahagianya saat ini.

__ADS_1


"Ya Allah, anak Mama memang top banget. Perkasa luar dan dalam, nggak cuma jago gulat, dech." Shanti memeluk Hans. Putra kesayangannya itu, memang selalu menjadi kebanggaannya sejak dulu.


"Halah, jangan sok manis, Ma!" decih Hans dengan masih menampilkan wajah kesal. Dia sudah hafal mamanya. Tapi, saat wanita paruh baya itu membingkai wajahnya dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca membuat Hans membalas menatap mamanya dengan lembut. Iya, saat ini dia baru menyadari jika mamanya telah terbawa perasaan bahagianya.


"Semoga kamu selalu bahagia. Bisa menjadi imam yang baik. Dan tetap menjadi putra mahkota kebanggaan keluarga Jagad." lirih Santi dengan mata tulus penuh haru, kemudian menciumi wajah lebam putranya. Hans pun menyambut sikap mamanya dengan memeluk lembut tubuh yang selalu ingin dia jaga. Tubuh yang sudah dan selalu mencurahkan semua kasih sayang untuknya.


"Papa, apa Ale akan punya adek bayi, lagi?" suara nyaring si gembul membuat ketiga orang dewasa itu menoleh.


"Iya, Ale akan punya dua adek sekaligus." jawab Hans masih dengan menampilkan senyum tipis. Dia tahu jawabannya akan mendapat tanggapan terkejut dari dua mahluk Tuhan paling fenomenal di keluarga Jagad.


"Apa?" Ale dan Mama Shanti pun terhenyak kaget bersamaan. Tatapan mereka bergantian menuntut penjelasan dari Hans dan Zoya.


"Iya, Zoya mengandung dua janin sekaligus, Ma." jelas Hans membuat keduanya begitu bersorak histeris. Ale pun berjingkrak-jingkrak bahagia kemudian segera memeluk mamanya, menciumi perut datar Zoya dengan bertubi tubi. Bocah itu tak kalah bahagia. Sedangkan, Mama Shanti memeluk kembali tubuh tinggi tegap putranya, meluapkan rasa bahagia yang menyeruak di dalam hatinya. Kali ini, tidak ada kericuhan yang ada. Akan datangnya dua calon bayi sang putra mahkota membuat semuanya berbahagia dan penuh haru.


###


"Sayang, kamu lapar? Kamu ingin makan apa?" ucap Hans dengan mengintip wajah istrinya yang saat ini memunggunginya.


"Nggak. Cuma ingin dipeluk Mas Hans saja." ucap Zoya dengan mengganti posisinya menghadap ke arah Hans. Dengan tersenyum dan senang hati, Hans pun memeluk tubuh mungil istrinya.


Tapi belum juga membuat Zoya tenang. Wanita hamil itu kembali merubah posisi, memunggungi tubuh kekar yang masih melingkarkan lengan di perut datarnya.


"Mas Hans, mandi, gih! Mas Hans bau sekali." ujar Zoya saat beranjak dan duduk menghadap ke arah Hans yang menatapnya heran.


"Ya sudah kamu tidur sendirian! Aku akan tidur di sofa." jawab Hans merasa sewot karena baru Zoya saja yang mengatakan tubuhnya bau.


Melihat Hans menarik selimut menuju sofa membuat Zoya mengerucutkan bibir dengan mata berkaca kaca menahan tangis. Dia tahu jika suaminya sedang marah dengannya.

__ADS_1


Berlahan Zoya merebahkan tubuhnya dengan terisak. Hans menyadari jika Zoya menangis, tapi sejenak dia mendiamkan istrinya karena tidak ingin Zoya kelewatan dengan alasan keinginan jabang bayi. Baginya itu hanya keinginan yang terkesan mengada-ada untuk mengerjainya. Setahunya, ngidam itu hanya menginginkan sebuah makanan saja seperti kebanyakan orang.


Tapi, semakin lama dia juga tidak tahan karena isakan tangis Zoya semakin terdengar nyaring. Lelaki itu pun menghampiri istrinya. Dengan menekuk kedua lututnya, dia berjongkok di hadapan istrinya yang berbaring miring.


"Sayang, aku akan mandi. Tapi, jangan menangis lagi!" rayu Hans, meski hatinya ingin memaki karena keinginan yang tidak masuk akal. Hans hanya tidak ingin jabang bayinya cengeng seperti mamanya.


"Benarkah?" tanya Zoya, kemudian dijawab anggukan oleh Hans. Dengan malas Hans pun masuk ke dalam kamar mandi. Padahal baru dua jam yang lalu dia selesai mandi, dan kini saat pukul sepuluh malam pun dia harus berada di bawah kucuran air shower lagi. Hans sendiri pun tipe lelaki yang memang selalu terlihat rapi, wangi dan bersih, tapi tidak juga harus mandi berkali kali dalam jeda dua jam.


Dia sengaja hanya sepuluh menit saja berada di dalam kamar mandi. Untuk memenuhi syarat keinginan bumil pikirnya. Hans memutuskan segera keluar dari kamar mandi dan mencari kembali Zoya. Berharap wanitanya itu sudah berhenti menangis.


Pandangannya mengedar, menyisir seluruh ruang kamarnya tapi tidak ditemukan juga istrinya. Sekali lagi, dia menghela nafas berat dan akan mencari keberadaan Zoya di dapur. Sangat tepat sekali, di sana Zoya sedang menikmati sepiring mie Spageti di meja makan.


"Ya Allah, tobat gusti!" keluhnya dalam hati, baru kali ini dia harus berhadapan dengan bumil yang selalu memancing emosinya.


"Sayang, jangan makan spageti, nanti kamu gendut, lo!" Sebenarnya bukan masalah gendut atau tidak, tapi dia memang berusaha menjauhkan Zoya dari makanan makanan cepat saji apalagi ada dua jabang bayi yang ingin dia jaga dengan sangat hati hati.


"Kalau begitu, Mas Hans saja yang menghabiskan!" ucap Zoya dengan menyodorkan piringnya yang masih tersisa setengah.


Hans, menelan ludah. Selama ini dia sendiri sangat menjaga berat badannya. Dia tidak ingin mengkonsumsi makanan sembarangan di waktu menjelang tidur.


"Ditaruh belakang saja, ya?" tawar Hans.


"Tidak, aku hanya ingin melihat Mas Hans sedang makan." jawab Zoya dengan tersenyum ke arah suaminya. Dengan berat lelaki itu pun menuruti istrinya. Satu suapan seolah membuatnya menghitung berapa kalori yang akan ditimbun dalam tubuhnya sebelum tidur.


"Tobat gusti, tobat!" gerutunya dalam hati dengan menampilkan senyum terpaksa untuk istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih masih dapet vote, hadiah dan komen membuat author mood booster karena masih pada semangat mengikuti keluarga Jagad


__ADS_2