
Hans sengaja langsung pulang setelah sidang terakhir putusan pengadilan tentang perebutan hak waris yang dimenangkan oleh kliennya. Dia sendiri heran, orang kaya jika meninggal dunia ternyata masih banyak urusan yang tertinggal, belum lagi akan ada banyak pertanggung jawaban nanti ketika di akhirat. Hans bergidik ngeri apalagi dia merasa masih jauh dari agama. Mungkin itu salah satu yang mungkin membuat Hans sedikit minder untuk memenangkan hati Zoya, selain jarak umur mereka yang terlalu jauh. Kedua hal tersebut membuat dirinya dan Zoya berada pada titik yang sangat berbeda.
Sedangkan, ustad yang selalu membuatnya merasa resah itu mungkin sesuai dengan kriteria istrinya. "Menyebalkan." rutuk Hans sambil membelokkan mobil yang dikendarainya masuk ke jalan menuju rumahnya.
Hans, hanya memarkir mobilnya di halaman. Dia pikir, sebentar lagi akan menjemput Ale. Siang tadi, Zoya bilang sudah kangen bocah itu karena semalam Ale menginap di rumah Omanya. Tiba tiba Hans berinisiatif untuk mengajak Zoya pulang ke kampung untuk menjenguk ibunya. Mungkin, dia dan Ale akan senang, pikirnya. Dengan sangat bersemangat, Hans melangkah masuk ke dalam.
Langkahnya terhenti, lelaki berumur tiga puluhan lebih itu mengernyitkan dahi saat Zoya sudah dibuat repot di dapur, padahal dia baru saja sembuh dari sakitnya.
Dengan berlahan, dia melangkah mendekati istrinya agar Zoya tidak menyadari kehadirannya. Gadis itu memang terlalu fokus ketika membuat puding kesukaan Ale dan pesanan Mama Shanti.
"Bikin apa? Kenapa tidak istirahat saja. " bisik Hans, saat berdiri di belakang Zoya dengan tangan melingkar di pinggang istrinya.
"Astagfirullah, Mas. " Hampir saja cetakan puding itu terjatuh saat Hans berbisik lirih di dekat telinganya.
"Kenapa tidak minta Bi Muna untuk membuatkan pudingnya? " tanya Hans tanpa merubah posisinya, membuat Zoya salah tingkah. Dari kemarin Hans membuatnya selalu gugup. Zoya kembali tersipu saat mengingat ciuman pertamanya yang tiba tiba di lakukan oleh suaminya kemarin.
"Takut nggak cocok untuk takaran manisnya, Mas. Apalagi Mama ada diabet." ujar Zoya, masih dengan menutupi kegugupannya saat bersentuhan dengan lelaki yang menatapnya lekat.
"Loh, ini dibawa ke Mama? " tanya hans dengan heran.
"Iya, tadi Mama telpon, minta di bawain puding saat menjemput Ale. "jawab Zoya masih mengaduk aduk resep puding coklat di atas kompor.
Hans menggeser sedikit tubuhnya tepat di belakang Zoya, tangannya kini bertumpu pada pantry mengkungkung tubuh di depannya, "Zoy, terima kasih sudah menyayangi orang- orang terdekatku. " Seketika tubuh Zoya merinding, belum lagi ciuman lembut yang mendarat di pipinya yang sudah memerah itu membuat syaraf di tubuh mungil itu seperti terputus.
"Zoy, pudingnya meluap! " ucap Hans dengan mematikan kompor. Seringai tipis timbul di bibirnya saat menyadari tubuh Zoya yang sudah mematung hanya dengan sedikit sentuhan saja.
"Ya Allah... " Zoya mulai tersadar. Betapa malunya dia , saat Hans menatapnya dengan seringai di bibirnya.
Hans pun kemudian meninggalkan istrinya setelah menggoda dan melihat wajah yang sudah tersipu itu. Sebenarnya, bukan hanya Zoya saja yang harus meredamkan perasaannya. Dia sendiri pun harus meredakan hasratnya yang selalu timbul saat harus bersentuhan dengan kulit putih dan halus milik istrinya. Tapi, dia masih merasa Zoya belum siap untuk di mintai haknya sebagai suami.
###
__ADS_1
Hujan yang semakin deras mengiringi perjalanan mereka. Bahkan Ale, terlihat tertidur di pangkuan Zoya.
"Mas, kita menjauh dari arah rumah? " tanya Zoya dengan heran saat melihat jalan yang di laluinya berbeda dari biasanya.
"Kita akan ke rumah ibu! Sabtu besok tanggal merah dan minggu libur. Jadi ada libur dua hari." Zoya kemudian terdiam dalam hatinya sangat bahagia, dia memang sudah merindukan adik dan ibunya.
Merasa suasana semakin gelap, hujan pun semakin deras bahkan beberapa kali petir menyambar di udara dengan sangat mengerikan. Hans membelokkan mobilnya di sebuah toko pusat oleh oleh dan tempat peristirahatan yang ada di pinggiran kota.
"Kita akan menunggu hujan sedikit mereda, Zoy. " ucap Hans kemudian membuka set bealtnya dan membuka pintu mobil kemudian berjalan menuju pintu sebelah.
Zoya pun keluar dari mobil setelah Hans mengambil Ale dari pangkuannya. Bocah gembul itu pun terbangun saat tubuhnya beralih pada gendongan papanya.
"Duaaaaarrrrr" sebuah petir yang menyambar sebuah pohon di pinggir jalan membuat Zoya mendekap tubuh tinggi atletis di dekatnya.
"Papa Ale takut! " Atap parkir yang terbuat dari aluminium yang berbenturan dengan derasnya air hujan menyamarkan tangisan putrinya.
"Tidak apa apa! Ada papa ya. " ucap Hans menenangkan Ale yang ketakutan. Dia merasa istrinya pun ketakutan saat merasa tangan kecil Zoya mencengkeram kemejanya dengan erat.
"Biasanya kalau udah numbangin pohon, petirnya berhenti!" ucap Hans dengan mencium puncak kepala Zoya. Berlahan Zoya melepaskan cengkeraman tangannya di kemeja Hans saat masuk di tempat peristirahatan. Meskipun begitu lengan lelaki itu tidak lepas untuk merengkuh tubuh istrinya meski mereka sudah duduk di sebuah sofa.
Setelah menghabiskan secangkir kopi, hujan mulai reda meskipun masih menyisakan gerimis tipis.
"Zoya, kok cuma segitu beli oleh olehnya? " tanya Hans saat Zoya membawa keranjang yang berisi oleh oleh yang sudah dia pilih.
"Sudah cukup banyak ini, Mas! "
"Baiklah ayo kita lanjutkan perjalanan. " ucap Hans.
"Ale duduk sendili saja, Pa! " ucap Ale sambil melorotkan tubuhnya dari pangkuan papanya.
"Anak pintar. " jawab Hans kemudian Dia berdiri dan membiarkan Ale berlari terlebih dahulu menuju ke mobil.
__ADS_1
"Mas, terima kasih! " ucap Zoya yang hanya di jawab uluran lengan Hans di kepalanya, dia mengusap kecil kepala istrinya.
"Mas, jilbabku rusak nanti! " pertama kalinya Zoya memprotes. Tapi, justru membuat Hans senang. Istrinya masih makhluk Tuhan yang normal, karena masih mau mengajukan protes.
Sekitar setengah jam mereka meneruskan kembali perjalanannya. Sorot mata tajam itu melihat ke spion, ternyata putrinya sudah kembali terlelap.
"Lihatlah Ale sudah tidur lagi. pantesan dia minta duduk sendirian. " ucap Hans sambil tersenyum dan dibalas dengan lirikan dan senyum zoya. Bahagia, dia merasa memiliki keluarga yang sempurna. Meskipun, dia belum menyentuh istrinya dengan lebih.
Sore yang menjelma, ketika matahari mulai berangsur menghilang ke arah barat. Mereka memasuki kawasan yang jauh dari keramaian, apalagi terlihat tanah masih terlihat basar karena habis terguyur hujan.
"Mas, apa Mbak Naura cinta pertama Mas Hans? " Mendadak Hans menginjak remnya saat mendengar pertanyaan Zoya yang terlontar tiba tiba.
Mata tajam itu menatap Zoya dengan heran. Melihat reaksi Hans, Zoya pun menunduk. Mungkin , dia sudah salah mengajukan pertanyaan itu.
"Iya, kenapa? "
"Pantesan,dia berani mencium Mas Hans. " Zoya masih merasakan cemburu saat menanyakan itu.
"Percayalah, kami hanya sebatas lawyer dan klien. " jawab Hans.
"Meskipun Mbak Naura memenangkan gugatan cerianya? " Zoya memberanikan diri menatap Hans menunggu jawaban untuk memastikan posisinya selanjutnya.
Hans menarik tengkuk Zoya yang kaku. Kemudian memberi ******* lembut di bibir yang semakin membuatnya menagih itu. Zoya hanya terkesiap mematung tidak pernah disangka pertanyaannya akan dijawab suaminya dengan ciuman di bibir.
"Aku tidak akan melepaskanku sampai kapan pun! " kalimat itu terlontar saat menghidupkan mesin mobilnya. Meskipun, wajahnya terlihat datar, tapi batinnya tertawa betapa dia semakin sulit mengontrol diri saat melihat bibir ranum Zoya, bibir yang belum bisa merespon saat mendaratkan ciuman di sana.
"Hanya aku saja yang akan memiliki dirimu sepenuhnya, Zoy." gumam Hans dengan menatap jalan sepi di depannya.
Berulang kali Zoya melirik Hans dengan malu -malu dan rasa takut. Takut pertanyaannya membuat Hans marah, dia belum melihat senyum dari suaminya. Bahkan, Hans seperti enggan melihatnya.
TBC.
__ADS_1
Author baik kan???? Part ini nggak ada yang bergelantungan, itu karena author cinta kalian. hehehehe....