Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Olahraga


__ADS_3

"Tapi, aku tidak suka jika ada yang mengganggu jam makan siangku." gumam Hans, matanya menatap tajam Istrinya yang mulai memundurkan langkah hingga membentur sofa. Tangannya pun mengambil bawaan Zoya dan meletakkannya di sofa. Tanpa melepaskan tatapan matanya pada wajah ayu istrinya, wajah tampan itu mulai mengikis jarak diantara mereka. Sebuah kecupan lembut kini mendarat di bibir mungil istri.


"Mas, Ini di kantor! " protes Zoya dengan mendorong dada bidang yang tak bergeming sama sekali.


" Nggak ada yang bakal mengganggu!" Hans mencoba meyakinkan istrinya.


"Ta- tapiiii..." Hans berhasil membungkam kalimat istrinya dengan memberi ******* lembut di bibirnya, hingga Zoya pun terbawa dalam permainannya.


"Drt... Drt...drt!" suara ponsel milik Hans terdengar berkali-kali membuat Hans menghentikan aksinya.


"Shiiittt... " umpatnya dengan menghampiri benda pipih yang tergeletak di atas meja kerjanya.


"Hae, Bang. Aku di depan ruanganmu!" Kalimat Rey membuat Hans ingin mengumpati lelaki itu.


"Ayolah buka pintunya, Bang. Mumpung aku berniat baik." lanjut Rey saat mendengar Hans mendengus dari ponselnya.


"Zoy, rapikan bajumu dan duduklah dengan tenang!" titah Hans saat teringat jika dia sudah sedikit merusak tampilan Zoya.


Lelaki dengan tampang cool itu pun melangkah untuk membukakan pintu. Sebenarnya dia sangat malas untuk bertemu Rey, apalagi di saat yang tidak tepat. Tapi, dia pikir mungkin ada hal penting yang ingin di sampaikan lelaki jangkung itu.


"Hae Bang, aku bawakan sesuatu untukmu!" Rey langsung nyelenong masuk begitu pintu ruangan di buka.


"Eh ada Zoya. Apa kabar, Zoy?" tanya Rey yang langsung menghampiri sofa dimana Zoya juga duduk di sana. Zoya mendadak canggung saat menatap wajah dingin suaminya.


"Ada perlu apa? " tanya Hans langsung memilih duduk di sebelah istrinya. Tangannya mengambil tangan mungil istrinya dan menyematkan jemarinya diantara jemari kecil itu.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih, kemarin sudah menyelamatkan nyawaku!" ujar Rey dengan membawakan sebuah bingkisan parcel.


"Ohhh-Itu tidak masalah. Yang jadi masalah saat ini adalah kamu sudah mengganggu waktuku bersama istriku." balas Hans dengan nada kesal.


"Ya ampun tidak ada basa basinya, Bang." seloroh Rey sambil tersenyum. Tatapan Rey kini beralih pada Zoya yang hanya menunduk dengan memainkan ujung jari-jarinya.


"Baiklah baiklah, kali ini aku menyerah karena tidak ingin dicap sebagai lelaki tidak tahu malu." Rey, pun beranjak pergi, lelaki dengan tampilan formal itu pun bergegas pergi.


Rey's Pov


Bukan sebuah bualan saja jika aku menyukai Zoya. perempuan cantik dengan tampilan sederhana itu membuatku tidak bisa mengelak dari pesonanya. Saat pertama aku melihat dia yang baru keluar dari Mirota Classic, saat itu pula aku hampir saja mengajaknya berkenalan. Tapi, ketika aku mendengar anak kecil itu memanggil Mama, seketika itu aku mengurangkan niatku. Ada rasa kecewa yang tersemat dalam hatiku.

__ADS_1


Tidak mudah bagiku mengagumi seseorang, tapi Zoya mampu menarik simpatikku kemudian sepertinya aku jatuh hati pada sosok yang bersahaja itu. Wajah ayunya, sikap lembutnya dan semakin kesini dia memang seseorang yang aku idam idamkan, aku yakin sosoknya mampu menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak anakku kelak.


Aku bukan pria yang baik, tapi tentu saja aku menginginkan perempuan baik-baik untuk menjadi pendamping hidupku. perempuan yang bisa aku percaya dan perempuan yang bisa membuat aku dan keluarga kecilku merasa nyaman.


Sungguh, aku terkadang merasa iri dengan lawyer sok cool itu. Entah apa yang pernah dia lakukan hingga hidupnya begitu beruntung memiliki bidadari seperti Zoya.


Rey pun melangkah keluar dengan tersenyum kecut. Dia jatuh cinta dan sekaligus patah hati seketika kerena sudah jatuh hati pada milik orang lain.


Masih di dalam ruangan, Hans melempar tubuhnya di sofa setelah kepergian Reynaldy. Dia begitu kesal, rencananya digagalkan oleh lelaki yang berterus terang menyukai istrinya.


Sejenak matanya terpejam, Kali ini kepalanya terasa berdenyut pusing.


"Mas Hans masih sakit?"tanya Zoya dengan meletakkan punggung tangannya di kening Hans. Keadaan Hans yang kurang fit masih membuatnya Zoya sedikit cemas.


"Aku baik baik saja, Zoy. Tapi yang di bawah yang kurang baik keadaanya." jawab Hans dengan menatapa diantara selangkangannya.


"Ya Allah, bisa-bisanya!" sahut Zoya dengan wajah bersemu merah. Mungkin tidak akan ada yang menyangka jika pemilik wajah cool itu biasa melontarkan kata-kata vulgar pada istrinya.


"Serius, aku sudah tidak tahan untuk menerkammu!"


"Sebaiknya makan, dulu! " Zoya tidak menghiraukan ucapan Hans, dia segera menyiapkan menu makan siang yang sudah dipesan Hans. Hans sendiri malah menatap Zoya dengan begitu dalam.


" Zoy, aku mencintaimu. Sungguh, aku tidak pernah berniat mengkhianatimu." kalimat Hans berhasil membuat seulas senyum merekah di bibir perempuan itu.


"Makanya menjauhi segala sesuatu yang menimbulkan fitnah itu jauh lebih baik, Mas. Biar tidak ada kesalahan pahaman."


"Keadaan, Zoy. Aku selalu terjebak keadaan."


"Entahlah, terjebak atau menjatuhkan diri dalam jebakan, aku juga tidak tahu." sahut Zoya dengan begitu enteng membuat Hans merasa gemas.


"Apa kamu tidak percaya?" Kali ini Hans mulai menarik tubuh mungil itu dalam rengkuhannya. Dia mencubit puncak hidung istrinya yang sekarang terlalu banyak bicara.


Sepulang dari kantor, Zoya meminta Hans untuk mengantarnya berbelanja bahan makanan. Setelahnya, mereka tidak langsung pulang. Hans malah memilih membawa Zoya ke apartemen.


"Mas, Kenapa kita malah ke apartemen?" tanya Zoya setelah mereka keluar dari lift dan berjalan menuju unit apartemen milik Hans.


"Aku akan berolahraga di sini." jawabnya singkat.

__ADS_1


"Mas, kasihan Ale jika nanti menunggu kita." Zoya berusaha mengingatkan jika masih ada Ale yang pasti akan menunggu mereka.


"Aku sudah bilang Mama, jika kita akan menginap di apartemen." jawab Hans singkat tangannya masih menekan password pintu masuk apartemennya.


Tanpa basa basi, setelah pintu tertutup kembali, Hans langsung memeluk tubuh istrinya."Mas." Zoya terhenyak kaget saat melihat reaksi suaminya yang tiba tiba menerkamnya padahal posisi mereka masih di ruang tamu.


"Aku sudah tidak tahan, Zoya." ucap Hans dengan membuka jilbab istrinya. Dibawanya tubuh mungil itu di sofa, masih di sofa ruang utama dia mulai mencumbu istrinya.


"Mas, ini masih di ruang tamu, lo! " ucap Zoya mengingatkan.


"Aku tahu, jangan banyak bicara! Aku akan mengajarkan dirimu gaya baru." jawab Hans, dengan terampil, tangannya mulai membuka kancing baju istrinya dan itu pun tanpa melepas pagutan di dagu dan berlahan beralih di leher.


"Astaga...! " umpat Hans saat suara ponsel Zoya terdengar sangat mengganggu. Aktifitas mereka pun terhenti, Zoya kembali sedikit merapikan bajunya.


"Halo, sayang!" sapa Zoya saat melihat wajah Ale di layar ponsel. Dia juga sempat melirik Hans yang begitu kesal melangkah masuk ke dalam kamar.


"Mama, dimana?" tanya Ale.


"Mama sama Papa di apartemen. Ale sama Oma dulu ya!" pinta Zoya, yang tidak dijawab Ale. Bocah itu hanya cemberut saja.


"Sayang, Mama tutup dulu. Assalamu'alaikum." saat Ale tidak menjawab salamnya dia tahu bocah itu lagi merajuk karena dia tidak mau ditinggal sendiri.


Di sisi lain Zoya juga tahu jika si bayi besar juga sudah merasa kesal. Setelah meletakkan kembali ponselnya, Zoya pun berjalan masuk menuju kamar. Terlihat Hans yang sudah tergeletak dengan posisi sembarang dan kaki yang masih menggantung.


Zoya berdiri di dekat tempat tidur, dia mengamati wajah lelaki yang masih memejamkan matanya itu. Guratan garis kekesalan terlukis jelas di wajah ganteng suaminya, apalagi dengan kening berkerut.


"Mas Hans." panggil Zoya dengan mengusap rahang yang ditumbuhi bulu bulu halus saat dia sudah duduk di tepi tempat tidur.


"Aku tahu, jika Mas Hans tidak tidur." lanjut Zoya membuat Hans membuka matanya. Ditatapnya sejenak tubuh mungil yang duduk di sampingnya.


"Katanya mau Olahraga?" Zoya mengingatkan alasan Hans membawanya ke apartemen.


"Iyaaa." sahut Hans singkat. Lelaki itu langsung bangkit dan membalikkan tubuh istrinya.


"Aku akan memulai gaya push up saja, dulu!" ucapnya dengan mengkungkung tubuh mungil di bawahnya. Kali ini dia tidak ingin ada yang akan mengganggunya lagi.


"Dua atau tiga ronde? " tanya Hans memulai aksinya. Bukannya menjawab Zoya hanya tersipu malu.

__ADS_1


"Setiap melihatmu aku seperti tidak tahan, Zoy." lirihnya tanpa memberi kesempatan pada Zoya untuk menjawabnya. Hans langsung saja membungkam bibir mungil Zoya dengan *******. Dia memulai aktivitas penuh gairah di kala sore menjelang petang.


Bersambung


__ADS_2