
"Tidak seharusnya madu itu tinggal satu atap, Zoy." Mendengar kata madu membuat hati Zoya rasanya kembali teriris. Dia tidak pernah membayangkan sebuah hubungan poligami yang harus dia jalani.
"Aku tahu itu, Bang. Hanya tinggal beberapa waktu saja aku tinggal di sini. " jelas Zoya, tatapan matanya kini terlihat sayu.
"Mama... " Ale memanggil Zoya saat akan menuruni tangga. Wajah bantal dan lesu masih menjadi tontonan pokok tiga orang yang ada di bawah. Zoya bergegas menyusul putrinya, takut jika sampai Ale belum fokus dengan anak tangga karena rasa kantuk.
"Sayang, ada tante Nilla dan Om Wildan. " ujar Zoya saat mereka sudah berada di bawah. Mendengar nama Nilla, Ale langsung membuka matanya lebar, memulihkan segenap kesadaran untuk menghampiri tamunya. Dia sangat senang dengan Nilla, biasanya Nilla tidak lupa membawakannya coklat seperti saat ini.
"Assalamualaikum, Tante?" ujar Ale dengan mengajak salim Nilla.
"Waalaikum salam, Cantik. " jawab Nilla dengan tersenyum.
"Sama Om Wildan, dong! " Wildan menyodorkan punggung tangannya yang disambut bocah gembul itu. Aqidah dan akhlak adalah prioritas Zoya dalam mendidik Ale.
"Sebentar, aku akan mengambilkan kaligrafi yang sudah jadi! " Zoya kembali menaiki tangga meninggalkan Ale bersama Nilla dan Wildan di ruang tengah.
Sesaat kemudian dia akan membawa kaligrafi yang sudah di bingkai dengan sangat elegant untuk menuruni tangga.
"Zoy, hati-hati! " teriak Hans sambil berlari ke arah Zoya yang akan berjalan menuruni tangga dengan membawa beberapa bingkai kaligrafi.
"Kenapa tidak meminta tolong? " gerutu Hans dengan mengambil alih apa yang dibawa Zoya. Hans membiarkan Zoya turun lebih dulu. Mereka disambut tatapan tajam dari kedua orang tamunya. Nila dan Wildan merasa kecewa dengan apa yang sudah terjadi dengan Zoya.
"Ini Bang, kaligrafi yang sudah aku siapkan. Insyaallah, lusa aku akan datang melihat pameran lukisan. Pelukis yang di kenal dengan khasnya bersepeda unta( Sepeda jaman kompeni) itu begitu fenomenal, aku juga penasaran dengan karyanya." ucap Zoya yang ingin membunuh kekakuan dalam ruangan itu. Dia bisa melihat sorot mata tajam Wildan dan Nilla yang tertuju pada Hans.
"Oh ya, sebaiknya kami balik sekarang ya, Zoy. Aku tunggu lusa di Gedung Piere Tendean." pamit Nilla pada Zoya
"Ayo cantik, tante sama Om balik dulu."
__ADS_1
"Mari Mas Hans, kami duluan!" pamit Wildan kepada Hans yang diikuti anggukan lelaki yang saat ini merangkul Zoya. Wildan sendiri masih terlalu kesal dengan Hans, tapi keduanya harus tetap menjaga sikap. Wajah tanpa dosa Hans setelah menyakiti seseorang yang seharusnya dia jaga seperti yang dia katakan dulu, membuat Wildan dan Nilla sangat kecewa.
###
Hans terlihat begitu tergesa menuruni tangga. Style-nya yang rapi dengan arloji classic yang melingkar di pergelangan tangan membuat sosok ber-aura kharismatik itu selalu terlihat mempesona. Banyak jadwal hari ini yang harus dia lakukan.
Dia menghampiri meja makan dan menyesap cangkir yang berisikan kopi hitam, tentu saja itu buatan Zoya. Dia sudah sangat hafal. Matanya melihat Zoya yang berjalan ke arahnya meninggalkan pantry.
"Sarapan sekarang, Mas?" tanya Zoya. Meja makan memang nampak sepi, Ale sudah berangkat dari tadi dan Arum sendiri belum keluar kamar. Biasanya Zoya hanya berada di pantry saat Arum melayani makan Hans. Tapi, tidak adanya Arum di sana membuat Zoya menghampiri Hans yang hanya berdiri di dekat meja makan.
"Nanti saja, aku ada jadwal ke lapas untuk menemui Antonio pagi ini." Hans mencium kening istrinya dan kemudian dengan tergesa-gesa, dia berjalan untuk menghampiri mobilnya di garasi membuat Zoya hanya mematung. Kenapa harus bersikap seperti itu? Arum yang baru keluar dari kamar dan akan menyapanya pun tidak mendapatkan kesempatan, membuat gadis itu memilih berjalan menuju dapur untuk mencari sarapan.
"Zoy, kok Mas Hans terburu-buru? " tanya Arum saat mendapati Zoya membantu Bi Muna di dapur. Jika sebelum hamil, Zoya yang mendominasi pekerjaan di dapur tapi sekarang Bi Muna yang melakukan banyak hal di sana terutama memasak.
"Oh, Mas Hans ada jadwal ke lapas menemui klien." jawab Zoya masih membersihkan buah yang baru saja Bi muna beli di pasar. Arum memilih duduk di meja makan, dia bersiap untuk sarapan dengan menu yang sudah siap di meja.
"Boleh, Mbak. Aku berangkat setelah Salat Ashar." ujar Zoya kemudian meninggalkan Arum sendiri. Zoya sendiri sebenarnya ingin menghindari gadis itu, mungkin tidak banyak alasan untuk mewakili kenapa Zoya tidak menyukai Arum. Ya, tentu saja karena Zoya merasa Arum adalah madunya.
###
Hans merubah jadwalnya saat akan menuju ke lapas. Di tengah jalan, Ryan menelpon, membuat Hans memutar balik arah mobilnya menuju ke kantor. Dia memutuskan, sore saja, dia akan berkunjung ke lapas sekalian pulang dan menjemput Zoya terlebih dahulu di pameran.
Setelah memberondong Antonio dengan banyak pertanyaan, Hans tidak lupa menanyakan kabar pemuda itu di dalam sel. Tersangka kasus pemerkosaan dan pembunuhan sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik oleh sesama napi. Hans melihat pemuda itu semakin terlihat kurus. Pemuda tampan yang biasa nampak segar dan smart kini harus mendekam di penjara karena kesalahan yang tidak dia lakukan. Itu adalah salah satu alasan yang membuat Hans mengambil kasus tersebut.
"Apa narapidana lain memperlakukanmu sangat buruk?" Hans melontarkan pertanyaan yang sifatnya pribadi.
"Biasa saja, Bang. Mungkin, Papa selalu memberi uang keamananku pada Raja di sini." jawab Antonio, bisa terlihat sorot mata lesu dan putus asa pemuda itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan kembali lain waktu. Jika nanti ada yang mengganjal katakan padaku pada kunjungan berikutnya. Mungkin, aku akan lebih sering kesini untuk mendapatkan banyak lagi informasi darimu." Hans berdiri dan mengenakan kaca mata hitamnya. Langkah panjang membawanya keluar dari tempat yang bisa dibilang terkutuk.
Di balik kaca mata hitamnya Hans melihat beberapa orang yang berdiri di dekat parkir. Jika di lihat dari gayanya dan kamera yang ada di tangan, mereka lebih terlihat seperti seorang wartawan.
"Sial, aku tidak ingin bertemu mereka sekarang." gerutunya saat membuka pintu mobil dan kemudian menyalakan mesin mobil untuk membawanya ke pameran lukis yang dihadiri Zoya dan Ale.
Pandangannya mengedar dalam sebuah gedung yang sangat luas, mencari Zoya dan Ale di antara gerombolan orang-orang yang sedang menikmati karya lukis. Saat melihat Ale dan Zoya di dekat sebuah pilar bersama Arum, Nilla dan Wildan, dia memilih untuk mendekati mereka.
"Mas Hans datang kesini?" sapa Arum dengan tatapan berbinar. Dia sangat senang melihat kehadiran Hans yang tiba- tiba.
"Papa, itu tulisan Mama." ujar Ale sambil menunjukkan sebuah kaligrafi yang terpampang di sudut yang saling berlawanan. Hans pun berdecak kagum, dia mengakui jika Zoya sangat berbakat.
"Bapak Hans Satrya Jagad? " tanya seseorang saat melihat keberadaan Hans. Penanya itu lebih terlihat seperti seorang jurnalis. Dengan sigap Hans langsung menggendong Ale, Dan menggenggam tangan Zoya. Belum saja dia menggeser langkahnya beberapa orang sudah menghampirinya.
"Bisakah Bapak menjelaskan kasus pembunuhan yang sedang Bapak tangani?" tanya seseorang memulai pertanyaan yang membuat lainnya juga tak mau kalah.
"Saat ini saya belum bisa memberi keterangan apapun." jawab Hans kemudian menarik tangan Zoya dan merangkul bahunya untuk membawanya pulang. Sementara, Ale masih dalam gendongannya. Hans hanya tidak ingin anak istrinya terlibat. Sementara dengan kesal, Arum mengikuti mereka di belakang. Dia merasa sangat diacuhkan oleh Hans.
"Maaf, kali ini saya belum bisa memberi penjelasan apapun. Mungkin, kalian bisa bertanya setelah sidang lanjutan nanti." jawab Hans menjawab cecaran pertanyaan dengan menunggu Arum masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, dia sendiri langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan hati-hati.
"Sial." Hans kelepasan mengumpat dengan memukul stir membuat ketiga perempuan itu mengalihkan perhatiannya ke arahnya. termasuk Ale.
"Papa, nggak boleh gitu! Kata Mama bilangnya, Astagfilullah hal azim." suara si gembul memecahkan kesunyian diantara mereka saat dalam perjalanan pulang. Hans tidak menjawab atau menanggapi putrinya. Pikirannya saat ini mengembalikan Arum pada keluarga dan warga tanpa ada huru hura lagi. Dia tahu Arum akan kecewa, tapi jika sampai kasus yang dia tangani menjadi viral di sosial media, yang dia khawatirkan skandal poligami juga akan ikut mencuat dan membuat keadaan semakin runyam.
Hans menarik nafas begitu dalam, seolah ingin mengusir kegusaran dalam hatinya. Dia memang salah, tapi dia tidak punya cara lain untuk melakukannya. Yang dia pikirkan adalah mengembalikan Arum tanpa merugikan banyak pihak.
Bersambung.
__ADS_1