
Sepulang dari kantor, mereka bertiga menghabiskan waktu di kolam renang. Santai. Mereka menikmati waktu bersama untuk bersantai. Zoya yang paling tidak bisa berenang pun diledek Ale. Si Gembul yang cukup lincah di dalam air itu terus saja menarik kaki mamanya saat Hans mulai melatih Zoya cara mengapung di air.
"Ale, Mama belajarnya akan susah jika di gangguin terus!" Hans memperingatkan Ale yang tidak berhenti mengganggu mamanya. Bocah itu sebenarnya kesal saja, karena mamanya belajar berenang untuk rencana berlibur dengan papanya, sementara dia akan ditinggal di rumah bersama Oma. Tadi, mereka sempat membicarakan masalah itu bersama putrinya. Dan tanggapan Ale pun tidak ingin ditinggal.
"Ale ikut ke Bali, ya? Ale belum pernah ke Bali." Bocah itu masih membujuk papanya untuk ikut liburan.
"Nggak bisalah! Papa ke Bali juga ada acara seminar untuk belajar lagi." tolak Hans. Selain untuk berbulan madu, di Bali Hans juga mengikuti perkumpulan para lawyer. Mendapat penolakan dari papanya membuat Ale cemberut dan langsung naik ke atas. Terlihat Ale berjalan dengan menghentak hentakkan kakinya untuk mengekspresikan kekesalannya pada papanya.
Tangan besar itu dengan gesitnya menarik tubuh mungil yang berusaha menepi untuk mengejar putrinya yang merajuk. "Aaaarrrghh..." Hingga sebuah pekikan kecil menggema di telinga Hans. Tubuh Zoya tak mampu bergerak lagi dalam kuncian lengan berotot itu. Padahal, sudah sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri.
"Mas, Ale marah!" ucap Zoya dengan wajah tertengadah menatap mata tajam yang saat ini menikmati pahatan indah di depannya.
"Nanti saja. Aku masih ingin bermain air denganmu!" ujar Hans kemudian mengikis jarak diantara mereka. Zoya yang berusaha menghindar pun percuma karena lengan kekar itu masih saja menahannya dalam dekapan tubuh atletis itu. Bibir tipis dengan garis tegas menyecap lembut bibir mungil yang menjadi candunya. Berlahan cecapan itu menjadi lu**tan yang membawa mereka pada dimensi yang berbeda. Hingga beberapa menit tautan di bibir keduanya pun terlepas kala Zoya terhenyak kaget saat menyadari Hans sudah membawanya melayang di air yang merupakan bagian terdalam kolam hingga membuat Zoya menautkan kedua kakinya pada pinggang Hans.
"Aku tidak ingin liburan jika Ale masih ngambek." ujar Zoya membuat Hans kecewa.
"Masih banyak waktu untuk membujuk Ale. Kita juga harus check up kondisimu terlebih dahulu. Aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu. Lagian kita akan berangkat bulan depan." jelas Hans panjang lebar.
"Oh ya, lusa aku ada acara di luar kota tapi tidak menginap, mungkin aku pulang agak terlambat, ya." sambungnya lagi, sambil terus berbicara, dia masih saja menikmati kedekatan tubuh mereka di dalam air.
"Ayo Mas, bawa aku menepi." pinta Zoya kemudian dikabulkan oleh suaminya karena waktu memang sudah sore.
Zoya langsung mengambil kimononya, sambil berjalan mencari putrinya dia mengenakan kimono untuk menutup lekuk tubuhnya, tentu saja masih dengan balutan pakaian renang lengkap dengan kerudungnya.
"Sayang, ayo mandi sama Mama!" Zoya mencoba merayu Ale yang masih duduk di teras belakang dengan menekuk wajahnya.
"Nggak, mau!" jawabnya dengan nada ketus.
"Yah, anak solih kalau ngambek nanti hilang cantiknya." suara lembut itu terdengar seiring dengan seulas senyum yang terbit di wajah cantik itu.
"Besok kita ajak jalan papa, yuk!" Zoya masih berusaha membujuk putrinya.
"Kemana? Ke Bali?" tanya Ale dengan menengadahkan wajah menatap mamanya.
"Ke mall saja, kita main ke sana. Kan, Papa ke balinya masih lama?" ucap Zoya sambil menarik pelan lengan Ale untuk bangkit. Bocah itu sudah mulai luluh dan mengikuti ajakan Zoya untuk mandi.
__ADS_1
Ada kelegaan tersendiri setelah berakhirnya kasus Antonio. Kali ini mereka banyak menghabiskan waktu di rumah. Rumah yang saat ini adalah tempat ternyaman untuk melepas penat, mencurahkan perhatian dan menghabiskan waktu dengan kebersamaan. Sejak kehadiran Zoya rumah mewah ini memang terasa lebih hidup.
"Mama bawa puding kesukaan Ale." ucap Zoya menghampiri dua orang kesayangannya yang sedang duduk di karpet yang ada di depan TV. Ale sedang menonton kartun dan Hans terlihat sibuk dengan ponselnya.
Zoya menjulurkan lehernya, mencoba melihat siapa yang sedang berkirim pesan dengan suaminya.
"Nggak usah intip-intip!" Satu tangan Hans langsung melingkar di tubuh Zoya hingga istrinya terjatuh tepat di dadanya.
"Auhhh... sakit!" rintih Zoya, lebih tepatnya merasa kaget bukan sakit.
Masih menahan tubuh istrinya agar tidak bergerak membuat Zoya mudah membaca aktifitas ponsel suaminya. Group Whatsap. Hans sedang berbalas pesan di group Whatsap.
Sekilas Ale melirik mamanya yang mana sebelah tubuhnya bersandar di dada bidang papanya. Bocah itu menemukan ide untuk mengerjai mamanya. Ale beranjak dari duduknya kemudian menjatuhkan tubuhnya di tubuh Zoya.
"Aauhh... " pekik Zoya merasa kesakitan sedang Hans tersentak kaget hingga ponselnya terjatuh di karpet.
"Ale, mama sakit kalau kamu kayak gitu." Bocah itu seperti sengaja untuk mengerjai Zoya.
"Kalau begitu Ale ikut ke Bali ya? " bocah itu masih saja tidak rela ditinggal sendiri.
"Sekarang kita jalan jalan!" bujuk bocah itu tak ingin menyerah, sudah lama memang tidak ada waktu untuk jalan jalan.
"Besok saja. Setelah Mama check up ke dokter!" Bocah itu masih merengut, kali ini Hans memang malas sekali keluar rumah karena dia merasa sangat lelah, selain itu dia juga udah merasa nyaman.
"Nanti, Ale tidurnya sama Mama!" Ale masih saja merajuk. Dia memang ingin sekali pergi liburan ke bali. Banyak teman temannya yang bercerita jika mereka sering berlibur di bali bersama keluarga.
###
Hans memang pulang lebih awal, seperti yang sudah dia rencanakan, mereka akan pergi ke dokter dan mengajak Ale jalan jalan.
"Sayang..!" panggilnya saat tidak melihat siapa pun di rumah.
Dengan berlari kecil Hans menaiki anak tangga mencari Zoya yang dia yakini ada di kamar.
"Sayang!" panggil Hans saat membuka pintu kamar dengan tergesa. Di atas tempat tidur Zoya masih ditunggui Ale yang sedang duduk di samping Zoya.
__ADS_1
"Loh, kamu kenapa? " tanya Hans dengan berjalan mendekat ke arah Zoya yang masih meringkuk di atas tempat tidur.
"Mama sakit perut! Tadi Mama nangis, katanya sakit sekali." jawab Ale, wajah bocah itu tak kalah panik.
"Ini menstruasi pertamaku setelah kuret. Mungkin karena kurang lancar jadinya perutku terasa kram, Mas." jawab Zoya. Ale sendiri masih bingung dengan menatap papa dan mamanya secara bergantian.
"Kita ke dokter sekarang." ajak Hans.
"Besok saja setelah menstruasiku selesai." sambut Zoya. Hans kemudian melirik wedang jahe di atas nakas membuat dia mengurungkan niatnya untuk membuat wedang jahe.
"Setelah rasa sakitnya mereda nanti kita jalan jalan. Kasian Ale, jika tidak jadi pasti, dia akan kecewa." Mendengar kalimat mamanya bocah itu langsung merebahkan tubuhnya di samping Zoya dengan memeluknya.
"Baiklah aku akan mandi terlebih dahulu! " Hans kemudian meninggalkan dua wanitanya yang saat ini saling memeluk. Hans merasa naluri keduanya terbangun sangat kuat.
###
Diantara hiruk pikuk ramainya mall, Hans membiarkan Ale mencari game yang dia sukai. Hans mengajak Zoya melihatnya dari kejauhan, lelaki itu mengambilkan sebuah kursi untuk Zoya yang masih terlihat lesu.
"Perutmu masih sakit?" tanya Hans saat istrinya hanya diam menatap putrinya. Lelaki yang masih mengenakan topi itu berdiri sembari merangkul lengan kecil istrinya.
"Sedikit!" lirih Zoya dengan menyandarkan kepalanya di pinggang Hans.
"Hans? Hampir saja aku tidak mengenalimu jika tidak melihat Zoya." sapa Naura yang saat ini berdiri di depan mereka bersama dengan seorang perempuan berwajah bule.
"Apa kabar? Kapan kamu berada di Indonesia?" jawab Hans.
"Aku sedang liburan bersama rekanku. Aku sudah seminggu di Indonesia." jawab Naura.
"Apa kabar, Zoy? Kamu sakit?" Naura menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Naura bisa melihat wajah lesu Zoya.
"Sedikit tidak enak badan, Mbak." jawab Zoya dengan tersenyum ke arah Naura dan temannya. Hanya saling bertukar sapa mereka kemudian berpisah kembali. Sekilas Hans memperhatikan wajah yang saat ini bersandar di pinggangnya. Dia memang melihat Zoya yang terlihat lesu.
"Melepas kangen, ya? Atau masih kangen?" goda Zoya membuat Hans menekan pipi cabi itu dengan telapak tangannya.
"Aku hanya kangen yang ini" gumam Hans dengan mengelus dagu istrinya. Tatapannya tidak lepas dari Ale yang tengah asyik jingkrak jingkrak di atas game revolution.
__ADS_1
Bersambung....