Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Berusaha Menjelaskan


__ADS_3

Hans meremat lembaran itu dengan geram. Rahangnya kembali mengeras. Tapi, lelaki itu berusaha meredakan hatinya yang terasa panas. Ternyata benar, ustad itu telah mengagumi istrinya. Mungkin saja mereka punya hubungan sebelumnya. Pikir Hans dengan puluhan pertanyaan yang memenuhi otaknya.


Hans menarik nafasnya begitu dalam, dia kembali mengatur emosinya. Hari ini sudah terlalu kacau, dia tidak ingin membuat amarahnya kembali liar. Raungan tangisan Zoya memang berlahan sudah melirih, kini berganti dengan isakan yang masih terlihat menggoncang bahunya. Hans sedikit pun tidak ingin meninggalkan istrinya.Tapi, untuk mengajaknya bicara rasanya bukanlah waktu yang tepat untuk saat ini. Dia masih menatap istrinya dengan rasa bersalah.


Zoya masih meringkuk di pinggir tempat tidur, dia masih terisak kecil dengan membenamkan wajahnya ke dalam bantal dan itu membuat Hans tidak bisa melihat wajah istrinya. Lelaki yang saat ini tidak ingin beranjak menjauh dari Zoya, memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di tepi, di sisi ranjang yang berlawanan. Tangannya digunakan untuk bantalan dengan menekuk kedua sikunya. Tatapannya menerawang menatap langit-langit kamar. Hatinya dipenuhi dengan rasa bersalah saat dia tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Secemburu itukah aku karenamu?" gumamnya dalam hati, kemudian melirik tubuh yang meringkuk membelakanginya. Sudah tidak terdengar lagi isak tangisnya. Tapi, Hans masih terdiam, belum berani mengajak Zoya bicara.


"Mungkinkah aku sudah jatuh cinta padamu, Zoy? Tapi kamu sangat muda. Itu yang aku ragukan. " Hans kembali bermonolog dengan hatinya sendiri.


Hans memiringkan tubuhnya menghadap tubuh yang membelakanginya. Dia akan merasa aneh jika sampai jatuh cinta pada gadis yang terlalu muda untuknya.


Hans Pov


Mungkinkah aku sudah jatuh cinta?


Tentu aku jatuh cinta padamu Zoya Kamila. Aku tidak tahu, bagaimana caranya hatiku menghindar dari perasaan cinta untukmu. Aku tidak menyangka, aku akan jatuh cinta pada gadis yang terlalu muda untukku. Jujur, aku sangat tidak yakin pada perasaanku saat itu. Aku merasa tak mungkin jika aku akan jatuh cinta padamu, gadis yang pantas jadi keponakanku. Aku pikir, aku hanya merasa nyaman saja karena perhatian dan kebaikan hatimu. Tidak aku pungkiri, kamu gadis yang baik, bahkan jika seseorang menyebutmu bidadari itu tidaklah salah sama sekali.


Zoya Kamila....


Bidadari pun akan cemburu padamu. Kamu tidak hanya cantik fisik tapi hatimu lebih cantik dari itu. Entah dari apa Tuhan menciptakanmu? Maafkan aku yang egois. Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun. Aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu. Meskipun aku sadar, aku terlalu buruk untukmu. Sekali lagi maafkan aku yang terlalu egois ingin memilikimu seutuhnya.


"Zoy....! " panggil Hans dengan lirih. Dia merasa situasi sudah tenang untuk bisa saling bicara dari hati ke hati.


"Maafkan aku! Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun, Zoy." lanjut Hans.


"Maafkan aku sudah menyakitimu! Aku cemburu Zoya. Selama ini aku tak mampu mencerna perasaanku dengan baik. Izinkan aku memulai semuanya. Memulai untuk mencintaimu dengan benar. " Rasa takut kehilangan Zoya membuat Hans berfikir untuk mengungkapkan perasaannya. Kini, dia mulai gelisah saat Zoya hanya terdiam, tanpa memberi respon.

__ADS_1


"Zoy...! " panggil Hans dengan menyentuh lengan kecil di depannya. Tapi, Zoya masih saja terdiam. Dia semakin takut jika Zoya tidak bisa menerimanya lagi.


"Zoya...! " Hans menarik lengan kecil itu, hingga tubuh Zoya telentang dengan mata terpejam dan wajah pucat.


"Zoya...! " panggil Hans dengan nada meninggi saat melihat Zoya tidak sadarkan diri. Bergegas dia bangkit, diraihnya tubuh itu dalam pangkuannya. Tubuh Zoya terasa sangat dingin. Tangannya meraih ponsel di saku celana dan memencet tombol untuk menghubungi Anastasya.


Hans terlihat sangat panik, kemudian memposisikan tubuh Zoya lebih ke tengah ranjang. Sambil menunggu Anas, Hans mencari minyak kayu putih, mencoba menyadarkan Zoya dan menggosok- gosok telapak tangan yang lemah itu untuk mentransfer hawa hangat.


"Zoy, jangan membuatku takut! " lirihnya.


Sesaat kemudian Anas datang untuk memeriksa Zoya. Zoya mulai membuka matanya, ternyata perempuan yang selalu tampil elegant itu sudah ada di depannya. Hans sendiri turun ke bawah untuk meminta Bi Muna untuk membuatkan bubur dan membawanya ke atas.


Hans kembali ke atas untuk mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan Zoya. Hatinya sangat lega, saat melihat Zoya sudah sadar.


"Bagaimana, Nas? " tanya Hans tidak bisa menutupi kecemasannya.


"Maksudnya apa? " tanya Hans.


"Intinya kamu tidak mampu untuk berpoligami. Aku akan menuliskan resep, suruh supirmu untuk menebusnya di apotik! " ucap Anas tak menghiraukan pertanyaan Hans.


Saat dokter cantik itu meninggalkan kamar Ale, Hans mengekor untuk mengejar informasi tentang kesehatan Zoya.


"Zoya kenapa, Nas?" ulang Hans saat mereka akan menuruni tangga.


"Dia terlalu stress saja. Jangan membuatnya stress dengan segala skandalmu dengan designer itu. " Anas memang sudah mengetahuinya.


"Aku dan Nolla hanya klien dan lawyer saja. " kilah Hans.

__ADS_1


"Aku tidak terlalu suka Zoya karena kampungan. Tapi, untuk menggantikan Renita dia akan jauh lebih baik dari pada designer itu! " jelas Anastasya mengungkapkan alasan ketidaksenangannya.


Setelah kepergian Anastasya, Hans kembali ke kamar melihat keadaan Zoya. Lelaki itu melihat Zoya masih meneteskan air mata dari kedua sudut matanya saat dia membuka pintu kamar.


"Maaf, Pak. " Bi Muna mengagetkan Hans dari belakang. Lelaki dengan tinggi maksimal itu akhirnya memberi jalan pada Bi Muna untuk meletakkan bubur di atas nakas.


"Makan dulu, Zoy! " pinta Hans dengan berjalan mendekati tempat tidur. Dia mendaratkan tubuhnya untuk duduk di tepi tempat tidur di dekat Zoya.


"Aku suapi, ya? " tanya Hans saat melihat Zoya tak bergeming. Zoya kemudian bangkit, dia tidak ingin Hans menyuapinya.


"Aku bisa makan sendiri, Mas! " ucap Zoya dengan mengambil mangkuk dari tangan suaminya. Hans membiarkannya, dia tahu jika Zoya masih marah padanya.


"Aku dan Nolla tidak ada hubungan apa apa. Kami sebatas klien dan lawyer. " jelas Hans, tapi Zoya masih menyuapkan buburnya ke dalam mulut.


"Aku tidak sering bertemu dengannya, selama ini aku banyak di kantor dan terkadang saat pulang larut aku mampir ke apartemen terlebih dulu dan yang tahu apartemenku cuma Ryan." Hans masih mencoba menjelaskan panjang lebar tentang kondisi hubungan mereka yang akhir akhir ini kurang kondusif.


"Tidak masalah bagiku dengan apapun yang Mas Hans lakukan. " Suara Zoya masih terdengar lembut, tapi Hans merasa kalimat itu menghujam ke hatinya dengan membawa rasa ngilu. Suara ponsel Hans terdengar, ternyata dari Ryan.


"Halloo... " jawab Hans


"Kamu nggak balik kantor? " tanya Ryan.


"Aku menemani Zoya. Dia sakit. " jawab Hans.


"Aku hanya mengatakan. Tadi Tuan Aksara bertamu, dia ingin bertemu denganmu. Mungkin besok dia akan kembali ke kantor." jawab Ryan menjelaskan maksudnya menelepon.


"Baiklah, besok aku pasti ke kantor. Hari ini aku tidak kembali ke kantor . " jawab Hans sebelum menutup teleponnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2