Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Penasaran


__ADS_3

Zoya memasak banyak makanan, mengingat Ale pulang hari ini. Dia ingin menyambut kedatangan putrinya.


Saat Hans menelpon jika dia sedang berada di perjalanan untuk menjemput Ale dan Mama Shanti, betapa bersemangatnya Zoya mendengarnya. Dia yang sedari tadi hanya rebahan di sofa pun langsung bangkit dan bergegas menuju dapur.


Selain cake pudding kesukaan Ale, Zoya juga memasak makanan yang dari kemarin sudah diinginkannya. Pepes Salmon, sayur asam dan tempe goreng, kali ini dia tidak menginginkan sambal teri seperti biasanya.


Eh, entahlah kenapa dia malah merasa menyukai semua makanan favorit suaminya. Melihat beberapa makanan yang sudah berjajar di meja, rasanya dia sudah tidak sabar, tapi dia harus menunggu Hans datang membawa putri dan mama mertuanya.


Sudah beberapa kali dia melirik jam yang menggantung di dinding, hingga akhirnya dia tidak sabar dan memilih menunggu di teras samping yang berada di dekat garasi.


"Ya Allah, lama sekali." gerutu Zoya dengan mencebikkan bibir karena merasa kesal. Tidak lama kemudian, mobil Mercy yang di tunggu tunggu sedari tadi kini telah muncul dari gerbang utama.


"Mas Hans... Ale..." gumam Zoya bersamaan rasa girang yang membuncah dalam hati. Dengan tidak sabar, dia menghampiri mobil yang berhenti di depan garasi.


Sorot matanya menyurut saat melihat bocah gembul yang sudah dia rindukan celotehannya malah tertidur di bangku belakang.


"Kenapa Ale malah tidur?" tanya Zoya saat Hans membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Kan, sudah kebiasaannya." setiap kali masuk mobil, Ale pasti langsung mulai tertidur.


"Nggak mau, Mas Hans bau." Zoya langsung menghindar saat Hans mendekatinya, dia juga sempat menahan dada bidang itu saat suaminya akan mencium puncak kepalanya. Beberapa kali mendapat penolakan dari istrinya Hans pun merasa kesal.


"Kamu sudah bosan sama aku? Ada laki laki lain?" Suara bariton itu terdengar lantang hingga membuat perempuan yang berdiri di dekatnya itu menatap dengan mata berkaca kaca. Zoya menangis. Dia merasa Hans membentaknya.


Tanpa berkata lagi, Zoya memilih menghambur lari ke dalam rumah. Hatinya terasa tercubit saat mendengar Hans menaikkan oktaf nada suaranya.


"Astagfirullah... salah lagi. Mendekat katanya bau, di omongin tegas dikit, ngambek. Mau menang sendiri aja." gerutu Hans Kemudian memilih menggendong Ale dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Ini anak juga, semakin hari bukannya tambah ringan, malah tambah berat saja." masih dengan menggerutu kesal. Penolakan Zoya langsung merubah mood hatinya. Padahal awalnya dia sangat merindukan istrinya. Dia juga tidak mengerti, perasaannya tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Setelah meletakkan Ale di kamarnya, Hans mencari keberadaan istrinya. Kamar. Tempat pertama yang menjadi tujuan Zoya saat ngambek.


Tangan besar itu membuka pintu kamarnya, terdengar isak tangis yang begitu jelas di bawah selimut. Zoya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal berwarna baby blue itu.


"Lebay banget. Gitu saja nangisnya kayak di tabok orang sekampung." Awalnya Hans yang sudah merasa kesal pun bertambah kesal karena kelakuan Zoya yang mau menang sendiri. Merasa istrinya yang memulai mencari gara- gara, dia juga yang menangis-nangis.


Lelaki yang sudah merasa gerah karena aktifitas seharian lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki yang sudah merasa lengket dengan keringat itu merasa segar saat mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air shower yang dingin.


Hari ini sudah sangat melelahkan. Ada dua sidang yang harus dilakukannya. Belum lagi, menunggu Mama dan Ale di bandara yang lumayan lama. Menikmati waktu untuk dirinya sendiri kali ini jauh lebih menyenangkan.


Hampir setengah jam, Hans baru saja keluar dari kamar mandi. Masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, lelaki itu menggosok rambutnya yang masih basah. Yang membuatnya kembali heran, Zoya masih terisak di bawah selimut.


Betah sekali dia menangis, pikir Hans kemudian berjalan mendekati tempat tidur. Isakan tangis masih terdengar jelas.


"Zoy... " panggil Hans dengan mencoba membuka selimut itu, tapi tangan kecil zoya masih berusaha menahannya.


"Zoy...Menangisnya jangan lama- lama! Nanti bisa banjir." Hans terus menarik selimut tebal itu hingga muncullah wajah sembab yang masih sesenggukan.


"Mungkinkah hamil? Tapi bukankah seminggu yang lalu dia bilang jika masih menstruasi." Hans bermonolog dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa tidak memelukku? Kenapa hanya terdiam? Apa masih menuduhku ada laki laki lain? Atau Mas Hans yang punya wanita lain?" Zoya mencecar Hans dengan beberapa pertanyaan saat melihat suaminya hanya mematung melihatnya. Bagi Hans, Zoya lebih terlihat lebih bawel. Dan Hans pikir, kenapa jadi seperti mamanya. Apa sifat seseorang bisa menular?


"Iya sayang... sini aku peluk." Dengan mencoba membuang pikiran yang dipenuhi banyak pertanyaan, berlahan dia memeluk istrinya yang masih sesenggukan setelah lama menangis.


Setelah beberapa menit Hans meregangkan pelukannya, dia mengusap wajah istrinya yang masih Lembab karena air mata. Wajah bulat itu terlihat sudah membengkak. Tapi dia tidak akan mengatakan apapun karena itu akan jadi boomerang jika salah bicara.


"Kamu sudah makan?" pertanyaan Hans di jawab gelengan oleh Zoya. Wajah istrinya terlihat cemberut sama seperti Ale saat merajuk.


"Aku akan ganti baju. Setelah itu, kita akan makan bersama. Oh ya, Ale bangunin, ya! Ini sudah sore." Hans mengusap lembut pipi yang sudah memerah Zoya. Jari jempolnya masih mengusap pelan, berharap bisa menenangkan perempuan di depannya sebelum dia mencari kaos untuk berganti. Iya, Zoya juga tidak menyiapkan apapun seperti biasanya saat dia mandi.

__ADS_1


"Ya Allah ... bisa gila aku, jika pasukan Mama bertambah satu." gumam Hans dengan berganti pakaian. Cobaan untuk kesabarannya baru saja di mulai.


###


Seminggu setelah hari pernikahan mereka, Wildan memutuskan membawa Nilla pulang ke rumah yang baru dibelinya di kota. Memang, tidaklah mewah tapi cukup nyaman untuk mereka tinggali. Rumah minimalis dengan tipe 45/70 yang di desain cukup modern.


Mobil Wildan berhenti pada sebuah komplek perumahan yang tidak jauh dari kampus mereka. Garasi yang tidak begitu luas dan halaman yang hanya cukup untuk menempatkan beberapa pot bunga dan kursi ayunan untuk bersantai.


"Rumahnya tidak terlalu besar, Nil." ucap Wildan saat membuka seat belt.


"Bukan itu masalahnya." jawab Nilla dengan ketus. Wildan hanya meluruhkan bahunya dan melengkungkan bibir untuk tersenyum.


Nilla pun segera turun dari mobil. Kemudian berjalan menuju pintu yang masih tertutup. Iya, memang bukan masalah rumah atau apa yang membuat sikap ketua Nilla. Gadis itu hanya merasa, Wildan sudah menjebaknya karena mengurus pernikahan di luar sepengetahuannya. Bagaimana dia bisa menola, jika nama baik kedua keluarga sedang dipertaruhkan dengan jawaban 'IYA' darinya.


"Cantiknya Abang, kita juga nggak punya asisten rumah tangga. Tapi, kamu jangan khawatir, Abang sudah mengerti tugas suami." Wildan melanjutkan percakapannya di depan pintu, saat Nilla menunggu pintu rumah dibuka.


"Cepetan, Bang." ujar Nilla, dia tidak ingin membahas itu lagi.


Lelaki berwajah kalem itu pun kembali tersenyum. Kemudian membuka pintu rumah dengan kunci yang sudah dia siapkan. Dia bisa mengerti jika Nila marah dengan caranya memang salah untuk menikahinya. Tapi, dia tidak akan main-main dengan keputusan untuk menikahi gadis yang menurutnya baik. Meskipun Nilla selalu bicara ketus padanya tapi bagi Wildan, Nilla tetaplah perempuan yang baik dengan segala prinsipnya.


"Sayang, kamar kita ada di depan." Wildan memang sengaja mengatur rumahnya yang sebenarnya ada tiga kamar menjadi satu kamar.


"Apa kita satu kamar? Masak iya, rumah sebesar ini cuma satu kamar?" Nilla masih saja tidak percaya. Dia semakin terlihat sengit saat dia harus satu kamar dengan suaminya.


"Sebenarnya ada tiga, cuma yang satunya untuk perpus dan yang satu untuk olahraga dan tempat gitar." jawab Wildan masih tersenyum saat melihat gadis itu masuk ke dalam kamar yang dia tunjukkan dengan menghentakkan kakinya karena kesal.


Kamar minimalis Wildan dan Nilla


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2