
Han's Pov
Aku menatap wanitaku yang baru pertama kali mengenakan celana jeans. Celana Jeans dipadu dengan kemeja simple dan sudah bertengger tas rangsel cewek di punggungnya. Aku melihatnya seperti bukan Zoya. Dia terlihat lebih energik dan persis seperti remaja. Eh, tapi bukankah dia memang baru berumur dua puluh tahun dan akan menginjak dua puluh satu tahun untuk beberapa bulan ke depan. Jika boleh jujur usia memang membuatku sedikit posesif. Meskipun aku tahu jika aku cukup ganteng dan fresh untuk ukuran lelaki seumuranku.
Aku hanya berjalan di belakangnya saat dia menghampiri rak sepatu. Kemarin aku membelikannya sepatu boot cewek, saat aku menunjukkannya pada Zoya, dia melihatnya begitu aneh. "Apa nggak terlalu aneh pakai sepatu seperti ini?" ucapnya dengan menatapku penuh tanya. Saat itu aku hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Zoya. Tapi, apapun yang aku mau dia tidak akan pernah menolaknya.
"Aku akan membantumu!" ucapku kala dia sudah duduk dan bersiap untuk mengenakan sepatunya, aku pun segera berjongkok dan membantunya. Dia terlihat sungkan saat aku berjongkok dan menali sepatunya. Tapi, seperti itulah Zoya.
"Ayo, Zoya! Rey, sudah sampai." ucap Hans dengan sangat yakin jika Rey dan Kyara sudah datang. Gegas, Hans menggandeng Zoya menuju motor miliknya yang sudah siap di halaman belakang. Sejak kemarin Hans sudah menyiapkan motornya, karena memang motor gede itu jarang di pakai.
Tatapan lelaki dibalik helm itu penuh kekaguman saat melihat Zoya yang kini berjalan bersama hans menuju motor gede dan sudah siap untuk menembus jalanan.
"Zoy, nanti kalau kamu ngantuk bilang saja karena ini perjalanan jauh." ujar Hans mewanti- wanti sebelum mereka menaiki motornya. Hans menggerutu dalam hati, jika bukan karena tantangan Rey, dia tidak akan lagi membawa motor untuk perjalanan jauh.
Rey memimpin perjalanan, dia bersama kuda besi yang ditungganginya kini sudah meliuk liuk di depan. Sesekali hans melihat Zoya dari spion. Ini perjalanan jauh pertama Zoya dengan sepeda motor. Lelaki itu menarik lengan Zoya untuk melingkar di perut kerasnya, dekapan tubuh mungil di belakang membuat adrenalinnya semakin memuncak.
Setelah berkilo-kilo meter perjalanan, motor yang dikendari Rey pun akhirnya pun berbelok pada sebuah resto dan tempat peristirahatan.
"Kita akan istirahat sebentar di sini! " ujar Rey saat membuka helmnya. Hans pun hanya mengiyakan, mereka memang butuh peregangan otot dan sebuah toilet.
Saat turun dari motor Hans pun segera membuka helm yang dikenakan Zoya, sebelum membuka helm yang dia kendarai. "Bagaimana, lelah? Mau ke toilet?" tanya Hans saat menatap wajah Zoya.
"Sedikit, aku ingin selonjoron dulu!" jawab Zoya, dengan terampil tangannya masih membenarkan posisi jilbab yang membingkai wajahnya.
"Ra, ajak Zoya mencari tempat selonjoran. Aku akan ke toilet terlebih dahulu! " ujar Hans. Kyara pun mengajak Zoya untuk menghampiri sebuah gazebo yang merupakan tempat makan para pengunjung resto yang ada di tengah tengah hutan. Saat mereka duduk di sebuah Gazebo yang terletak di pinggiran, seorang pelayan resto pun berjalan menghampiri mereka untuk menawarkan beberapa menu andalan resto.
Hans merapikan kembali tampilannya, khususnya tatanan rambut yang sedikit berantakan karena helm. Saat berbalik dari cermin toilet, matanya menangkap seseorang yang sudah menatap tempat istrinya Dari kejauhan.
__ADS_1
Laki laki yang sudah menggeretakkan rahangnya itu pun mempercepat langkahnya, saat Reynaldy mulai mengeluarkan kameranya dan memfokuskan lensanya ke arah Zoya.
"Jangan mengambil gambar istri orang dengan sembarangan! " gertak Hans langsung mengambil serentak kamera Reynaldy, mendengar kalimat Hans Reynaldy pun terkekeh.
"Aku hanya berniat memotret ciptaan Tuhan yang sangat indah dan unik." jawab Rey dengan menarik sinis sudut bibirnya.
"Dia istriku!" gertak Hans dengan nada geram.
"Bagaimana jika aku mengambil objek itu dari suaminya?" Wajah mengejek Reynaldy membuat wajah putih Hans menjadi merah padam.
"Jangan harap itu!" Suara Hans terdengar sangat posesif dan tangannya mengambil tangan Rey untuk mengembalikan kembali Kamera lelaki yang masih menampilkan senyum misterius.
"Santai, Bang. Aku tidak akan mengambil sesuatu jika barangnya tidak mau ikut. Tapi, Bagaimana jika barangnya ikut sendiri?" Ucap Reynaldy diselingi kekehan kecil yang terdengar mengejek.
"Dia bukan barang. Dia istriku dan tidak seorang pun akan aku biarkan mengambilnya." tegas Hans. Kepergiaannya menghampiri Zoya pun diikuti lelaki jangkung itu dari belakang.
"Mas Hans, aku pesankan Kopi hitam." ujar Zoya saat menyadari ke datangan Hans. Hans pun masih terdiam, dia hanya sedikit menggeser duduk Zoya. Zoya yang melihat kemarahan di wajah suaminya pun mengambil tangan itu dan menggenggamnya. Hans menoleh ke arah istrinya saat genggaman tangan itu tetap tinggal di atas punggung tangannya.
Dua orang di depannya, yaitu Reynaldy dan Kyara bukannya tidak bisa membaca bahasa isyarat sepasang suami istri itu. Tapi mereka hanya memilih diam. Banyak hal yang dipikirkan Reynaldy saat melihat kelembutan itu mampu menaklukkan sebuah emosi yang hampir meledak itu, hal itu membuat lelaki yang mempunyai perangai lebih santai itu semakin mengagumi Zoya. Baginya Zoya tidak hanya cantik dia juga kuat.
Setelah menikmati makan siang mereka yang sedikit terlambat, mereka memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan.
Hans merengkuh bahu kecil Zoya saat berjalan menuju parkiran motor, sementara Kyara dan Rey berjalan di belakang mereka.
"Bang, jangan keterlaluan menggoda Pak Bos. Dia memang sangat posesif." Kalimat itu memecahkan lamunan Reynaldy saat menatap Zoya dari belakang.
"Aku tidak menggodanya. Aku memang mengagumi wajah cantik yang bersahaja itu. Apalagi senyum dan kelembutan yang dia miliki sangat menenangkan." ucap Rey dengan sedikit melayangkan bayangan saat dia mempunyai pasangan yang selalu memberikan kenyamanan seperti itu.
"Apa perempuan seperti Zoya yang Abang inginkan?" Tanya Kyara penuh rasa penasaran. Kebersamaan mereka selama ini sudah membuat Kyara tertarik pada lelaki jangkung yang cukup smart itu.
__ADS_1
"Sebrengsek apapun seorang laki laki dia pasti menginginkan wanita baik-baik untuk menjadi ibu dari anak anaknya." jelas Rey masih dengan menatap Zoya dan Hans.
"Astaga, pak Bos." Kyara terhenyak kaget saat melihat Hans mendaratkan ciuman di bibir Zoya, setelah dia mengenakan Helm di kepala Zoya. Rey yang juga melihatnya pun hanya tersenyum kecut sambil berdecih. Sementara Zoya yang mendapat perlakuan dadakan seperti itu hanya menunduk malu, baginya meskipun yang melakukan itu suaminya tapi Hans melakukannya di tempat umum, menurutnya itu sangat tidak pantas. Hans memang sengaja melakukannya saat tatapan Rey mengarah kepadanya dan Zoya.
"Benar benar seperti ABG tua, gerutu Rey. saat dia menaiki motornya dan makai helm.
Mereka kembali melajukan motornya untuk meneruskan perjalanan. Saat ini yang memimpin perjalan adalah Hans, lelaki itu merasa puas saat Rey melihatnya mencium Zoya. Dia tahu jika itu terkesan kekanak- kanakan. Tapi, dia hanya ingin menunjukkan pada lelaki bujang lapuk itu jika Zoya hanya miliknya. Bujang lapuk adalah sebutan Hans untuk Rey.
Sebuah gapura besar sudah menyambur mereka memasuki desa yang merupakan tempat yang mereka tuju. Meskipun, sudah memasuki lengkungan gapura selamat datang, mereka masih harus melewati lima kilometer lagi untuk sampai ke rumah pak lurah sekaligus tempat TKP. Iya, tujuan mereka pertama adalah rumah pak lurah sebagian tempat persinggahan.
Untuk melajukan kendaraan di dalam perkampungan itu haruslah pelan. Jalan terjal dan tanpa aspal menjadi kendala jika harus ngebut. Diantara jajaran pepohonan membuat suasana jalan di desa memang terkesan sepi.
Hans menghentikan motornya secara mendadak, begitupun juga Rey. Wanita bisu itu melambaikan tangannya dan menghadang mereka dalam perjalanan. Wajahnya terlihat panik dengan peluh yang memenuhi wajahnya saat menghampiri motor Hans.
"Aa-- aaa---" Wanita itu tergagap ingin mengatakan sesuatu yang tidak mampu. Tangannya menunjuk- nunjuk ke arah tanah yang sedikit berbukit. Terlihat ada sebuah bangunan mewah di sana.
"Ahh-- aaa... " Dia terlihat berusaha keras ingin mengucapkan sesuatu. Hal itu membuat semuanya turun dari motor.
"**.... Aaa" Matanya kini berair. Dia menangis bisa terlihat jelas dia menangis.
"Ada apa?" tanya Kyara mencoba mendekatinya. Dia mulai berusaha menstimulus agar bisa menangkap maksud wanita baya itu.
"Aa-Arrrrummmm!" kata pertama yang terucap bersamaan dengan tangis yang meledak. Tangannya menarik-narik Kyara agar mengikutinya.
"Hae ada apa?" teriak Hans menghentikan wanita yang terkesan gila itu.
"Tot- tolong Arum." Kalimat itu akhirnya meluncur bersamaan dengan Air mata yang tak bisa dibendungnya lagi.
"Arum kenapa?" tanya Hans mencoba meyakinkan maksud ucapan wanita itu.
__ADS_1
Bersambung....