Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Belajar Berfikir Jernih


__ADS_3

"Selamat siang ibu pengacara yang terhormat." Suara Rey membuat Kyara menoleh. Gadis itu melempar senyumnya pada sosok yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya.


"Masuk, Bang! Silahkan duduk!" Kyara mempersilahkan Rey untuk masuk. Lelaki dengan hidung mancung itu pun duduk di depan meja Kyara. Tentu saja untuk urusan profesionalisme, kerja Kyara patut diacungi jempol.


"Tumben ada angin apa Bang Rey ke sini?" tanya Kyara masih menatap beberapa file di laptopnya. Dia sengaja tidak menatap Rey, karena kehadiran Rey saja sudah membuatnya kesulitan untuk berkonsentrasi dengan sempurna.


"Malam minggu acara kemana?" tanya Rey yang hanya di balas dengan ******* senyum gadis itu. Matanya tak beralih dari laptop di depannya.


"Jangan mengejekku karena jomblo, Bang! Karena nasibku jauh lebih baik dari nasibmu yang memburu milik orang lain." sindir Kyara berusaha menormalkan interaksinya dengan Rey. Dia memang tak ingin lelaki itu membaca perasaannya yang sebenarnya.


"Tapi, sebenarnya kamu lumayan lo, Ra."


"Maksudnya?" Kyara begitu anthusias saat mendengar pernyataan Rey. Tangannya berhenti bergerak di atas keyboard bersamaan dengan tatapan penuh selidik yang tertuju untuk laki laki itu.


"Lumayan buat peran pengganti... hahahaha." Seketika senyum Kyara pun menyusut bersamaan dengan rasa kecewa yang terajut lembut di dalam hatinya. Itu karena kalimat lelaki yang sudah mengambil sebagian rasa cintanya. Cinta. Kebersamaan membuat Kyara jatuh cinta pada lelaki yang saat ini masih melemparkan senyum mengejek ke arahnya.


"Maaf- maaf, Kamu teman terbaikku, Ra. Kamu yang bisa mengerti aku, bisa masuk dalam duniaku. Bagiku kamu berbeda dengan Kyara yang mereka kenal. Kamu dewasa, kamu fleksible meski karakter maskulin banyak melekat padamu." jujur Rey, saat menggambarkan sosok Kyara. Dia juga mengagumi kecerdasan gadis itu, tapi sayang dia hanya menganggap Kyara tidak lebih dari seorang Adek.


"Sore ini aku akan jalan dengan Zoya, Bang! Bukan bermaksud mengusir, lo. Mumpung dapat izin dari Bang Hans." Kyara memang akan mengajak Zoya untuk mencari busana muslim. Berlahan, dia memang berniat untuk belajar agama. Gaya hidup bebas berlahan terkikis dalam prinsipnya tatkala dia tidak menemukan tujuan hidupnya. Iya, bahkan dia selalu merasa gelisah, kegelisahan untuk menemukan jati dirinya.


"Bagaimana, jika Aku yang antar kalian?" tawar Rey. Baginya, ini adalah kesempatan untuk bisa mendekati Zoya.


"Terserah Bang Rey saja. Tapi, aku harus menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu."


Sambil menunggu Kyara menyelesaikan beberapa pekerjaannya, Rey pun memainkan ponselnya untuk mengecek perkembangan grafik saham dan laporan yang di kirim pegawainya lewat email.


###


Di dalam mobil, Rey sering mencuri pandang Zoya yang duduk di bangku belakang bersama Kyara. Matanya berkali kali mengintip dari spion. Awalnya, Zoya sendiri tidak tahu, jika diantara mereka ada Rey. Perasaan tidak enak pun timbul, kala dia mengingat apa yang diucapkan suaminya. Rey menyukainya. Dalam hati perempuan itu tidak bisa mengerti, padahal Rey tahu jika dia sudah bersuami.


"Sudah sampai tujuan, Nyonya nyonya." gurau Rey kala menghentikan mobilnya di parkiran.


Kyara dan Zoya pun keluar dari mobil, mereka memasuki pusat perbelanjaan. Terlihat butik langganan Zoya yang pernah di tunjukkan Hans padanya. Zoya sengaja mengajak Kyara ke sana.


"Sejak tadi kamu diam saja." Kyara mencoba membuka percakapan kembali. Dia merasa Zoya tak seramah biasanya. Padahal perempuan berkerudung coklat itu hanya merasa tidak enak karena kehadiran lelaki lain diantara mereka.


"Hehehe...lagi nunggu telpon dari Mas Hans, Mbak." jawab Zoya, memang benar Hans berpesan jika akan menjemputnya.


Kyara hanya tersenyum menanggapi jawaban Zoya, gadis itu langsung merangkul Zoya yang lebih pendek darinya itu untuk masuk ke dalam butik. Sementara Rey yang sedari tadi memperhatikan mereka dari belakang hanya berdiri di luar toko yang hanya berdinding kaca itu. Dia masih saja sibuk dengan ponselnya karena semua pekerjaan terhubung dengan ponselnya.

__ADS_1


"Zoy, kira-kira cocok nggak ya aku pakai model long dress?" tanya Kyara saat mereka keluar dari butik muslim dengan menenteng beberapa paper bag.


"Cocok saja, Mbak. Warna kuning lemon tadi potongan dressnya cocok untuk Mbak Kyara yang tinggi." jawab Zoya.


Suara mereka membuat Rey menoleh ke arah keduanya. Entah berapa lama mereka berada di dalam sana, hingga lelaki itu merasa sangat lapar.


"Ra, kita nyari makan, ya? Sejak tadi siang kita belum makan." usul Rey saat kedua perempuan itu kembali berada di depannya. Dari tadi siang hingga jam empat sore mereka belum juga makan.


"Kita makan dulu, Zoy!" ajak Kyara.


"Di lantai dua ada restoran jepang. Kita kesana saja." ucap Rey kemudian berjalan terlebih dahulu.


Mereka berjalan memasuki restoran yang tidak terlalu ramai. Mereka memilih duduk di meja yang ada di dekat jendela depan.


"Ini sudah masuk Ashar, ya?!" ucap Zoya saat baru saja mendudukkan bokongnya. Dia bermaksud memperingatkan jika waktu Salat Ashar cukup singkat.


"Iya, nanti kita Salat Ashar di sini. Baru aku antar kamu pulang. Kamu pesan apa, Zoy?" tanya Kyara pada Zoya saat pelayan restoran menyodorkan buku menu kepada mereka.


"Sama dengan Mbak Kyara saja." jawab Zoya dengan menundukkan wajah. Dia merasa canggung saat memergoki lirikan Rey yang tidak beralih darinya.


"Katanya kamu mau masuk kuliah?" tanya Rey memecahkan kebisuan di antara mereka. Kyara menatap Rey dengan rasa penasaran saat mendengar Rey mengetahui banyak hal tentang Zoya. Tatapan penuh selidik dia layangkan pada lelaki yang saat ini mengumbar senyum pada perempuan yang sedang menuliskan sebuah pesan di ponselnya.


Pesanan mereka pun datang, Zoya yang duduk berhadapan dengan Rey pun hanya terdiam mengambil menu yang digeser Kyara untuknya. Kyara sudah melihat gelagat aneh lelaki yang sejak tadi menatap sosok di sampingnya tanpa henti.


"Ayo, kita tuntaskan hingga tak tersisa." ujar Kyara mencoba mencairkan suasana.


Kyara langsung menyantap makanannya, dia memang merasa sangat lapar karena sejak siang perutnya belum diisi apa pun. Sedangkan Rey masih menatap Zoya yang terlihat enggan menikmati makanan di depannya.


"Makan yang banyak, Zoy!" ujarnya dengan menjepit satu potong daging yang akan di taruhnya di mangkok Zoya, tapi tertahan.


"Jangan terlalu memperhatikan istri orang lain!" Hans yang tiba tiba datang itu menahan tangan Rey. Lelaki berambut gondrong itu hanya tersenyum. Meski, hatinya ingin memaki.


"Jangan terlalu posesiflah, Bang!" balas Rey dengan menaruh kembali daging yang dia jepit di mangkuk besar, tempat sebelumnya.


"Jangan menguji kesabaranku." balas Hans, rahangnya mengeras menahan emosi. Sementara Rey hanya tersenyum dengan memalingkan wajahnya. Tindakan tanpa dosanya membuat Hans semakin bertambah geram saja.


"Ayo, pulang!" Hans menarik lengan Zoya, membuat Rey pun berdiri menahan lengan kekar yang saat ini menggenggam lengan istrinya.


"Jangan kasar, Bang!" ucap lelaki berambut gondrong itu dengan tatapan menantang.

__ADS_1


"Bugh... " Hans melayangkan kepalanya di wajah yang masih menyuguhkan senyum tipisnya.


"Urus saja, urusanmu!" Pukulan penuh emosi membuat Rey langsung terjatuh di sofa. Saat ingin membalasnya, Kyara langsung menahan lengan Rey dengan sekuat tenaga.


"Jangan diteruskan, Bang!" ucap Kyara pada Rey.


Sementara Hans memilih membawa Zoya keluar dari mall. Lelaki itu sudah tidak peduli, meskipun saat ini dirinya menjadi pusat perhatian. Terserah, jika besok terdapat pemberitaan tentang kejadian hari ini.


Mercy keluaran terbaru itu terus melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak ada kalimat apapun yang keluar dari mulut lelaki yang saat ini menahan emosinya.


Berlahan dia berusaha menyurutkan rasa panas yang menjalar di hatinya. Entah terbuat dari apa perasaan lelaki yang saat ini menyukai istrinya.


"Aku tidak tahu, jika Mbak Kyara datang bersama Bang Rey!" kalimat Zoya memecahkan kebisuan di dalam mobil.


"Aku tahu itu." ujar Hans, dia sebenarnya sudah tahu jika sejak jam makan siang Rey berada di kantor Kyara. Dia tidak sengaja melihat mobil Rey, saat melewati kantor Kyara. Dia juga sudah berada di mall terlebih dahulu saat mereka bertiga di sana.


"Lalu aku harus bagaimana?" Zoya memang bingung menempatkan diri.


"Masa iya aku tiba-tiba langsung bilang, kamu tidak boleh suka sama aku! Aku sudah punya suami."


"Terus kalau dia bilang. Emang siapa yang suka sama kamu. Ke-Gr-an."


"Terus aku harus bilang apa, Mas." Zoya masih berbicara sendiri. Sedangkan Hans malah tersenyum. Istrinya terlihat lucu saat harus bertanya dan di jawab sendiri. Saat ini, dia juga bisa melihat kebawelan perempuan yang biasa nampak kalem itu.


"Kamu lucu sekali." ucap Hans dengan mengelus kepala istrinya.


"Aku mencintaimu, Zoy. Untuk urusan Rey, jangan dipikirkan, itu urusan laki laki." ujar Hans masih menatap jalan gelap yang mulai dia lalui. Mobil Sedan itu terus melaju menuju tempat yang akan menjadi tempat bermalam mereka.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Zoya yang merasa heran. Meskipun sempat Salat Ashar berjama'ah tapi Hans tidak mengatakan apapun. Mereka masih sama-sama terdiam. Tapi, lelaki itu justru punya pemikiran yang berbeda. Bukannya marah, tapi dia ingin mengikat istrinya dengan cinta.


"Kita akan bermalam di Resort. Aku sudah membooking satu kamar untuk kita." jawabnya masih menatap jalan sepi dan petang.


Bersambung....


Sabar ya gaes, tinggal beberapa episode saja kita hehehe.... eh banyak juga si... tapi insyallah bulan ini aku usahakan End. hehehehe


Bagi aku sendiri setiap kali mengakhiri sebuah cerita ada rasa kehilangan lo.... ntahlah mungkin author satu ini memang pantas dibilang lebay. hehehehe


Happy reading....selamat ber-weekend sehat selalu ya gaes 😍😍

__ADS_1


__ADS_2