
Seorang lelaki dengan kondisi setengah mabuk menatap wajahnya yang masih memperlihatkan bekas lebam, dia masih memperhatikannya di depan cermin. Setelah sekian lama, baru kali ini Rey kembali menegak minuman haram itu. Dia baru saja pulang dari club malam. Tidak ada pilihan lain, kecuali pergi ke sana. Biasanya, saat dia sedang gelisah Kyara selalu menjadi tempat untuk berbagi. Tapi, gadis itu seolah sengaja menghilang dari kehidupannya.
"Ky, lo di mana?" gerutunya. Gadis yang mampu menjadi penenang dirinya dengan pemikiran yang simpel itu tidak pernah lagi bisa dia temui. Bukan, bukan seperti itu saja. Kyara juga pintar membaca situasi dan posisi seseorang karena dia memang pernah belajar psikologi.
Hati yang sedang meradang membuatnya tidak tahu kemana harus berbagi. Direbahkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran king size. Tatapannya menerawang menatap langit langit kamar. Zoya, hanya senyum perempuan berkerudung itu yang kini terlukis indah di pelupuk matanya.
###
Hans memijat kepalanya yang terasa pusing. Bahkan, perutnya terasa mual tapi tidak ada yang bisa dimuntahkan. Dia rasa semua ini karena mandi malam yang membuatnya masuk angin.
"Selamat siang." sapa Ryan saat membuka pintu ruangan sahabatnya itu.
"Masuk, Ryan." sambut Hans membuat lelaki jangkung berkulit sawo matang itu berjalan masuk dan duduk tepat di depannya.
"Kenapa wajahmu terlihat pucat?" tanya Ryan saat mulai memperhatikan wajah sosok di depannya.
"Kayaknya aku masuk angin. Dari tadi pagi mual terus." ucap Hans dengan menyandarkan tubuhnya di badan kursi kerjanya.
"Wah, sayang sekali jika kamu tidak bisa ikut nanti malam." Wajah Ryan yang penuh kecewa membuat Hans tidak tega. Bagaimana pun, Ryan sahabat terbaiknya. Minggu depan, dia sudah mengakhiri masa lajangnya. Rasanya keterlaluan sekali jika dia tidak ikut dalam acara tersebut. Tapi Zoya, bagaimana dia akan mengatakan itu pada Zoya, jika dia akan pergi ke club malam? Bagi perempuan naif itu club malam mungkin punya makna yang kurang bagus.
"Aku akan ikut. Tapi, aku tidak bisa ikut sampai akhir karena aku tidak memberi tahu Zoya tentang ini." kalimat Hans membuat Ryan tersenyum. Bagi dirinya kehadiran Hans memang cukup berarti karena mereka memang berteman sudah cukup lama.
Setelah menyerahkan beberapa berkas dan mendapat penegasan dari Hans, Ryan pun keluar dari ruangan mewah itu dengan rasa puas.
Hans memutuskan pulang ke apartemen terlebih dahulu. Jika pulang ke rumah, dia yakin tidak diperbolehkan oleh Zoya pergi, apalagi tempat yang dia tujuh adalah club malam.
Dia melajukan mobilnya dengan santai, rasa mualnya yang lebih parah dari sakit kepalanya membuat lelaki berhidung mancung itu ingin segera sampai di apartemen.
Setelah memarkir mobilnya di basemant, langkah panjangnya pun terayun sedikit berlari. Keringat dingin mulai mengucur membasahi tubuhnya.
"Huek... huek.. huek." tempat pertama yang dia tuju setelah masuk apartemen adalah wastafel. Rasanya, dia ingin mengeluarkan semua isi perutnya tapi tidak bisa.
Nafasnya berangsur memburu, Hans menatap wajahnya di cermin. Seolah bertanya dengan apa yang terjadi dengan dirinya. Baru pertama kalinya dia merasakan masuk angin yang begitu hebat.
"Ya Allah, rasanya sesuatu banget. Pusing, mual dan jika sudah keringat dingin keluar rasanya badan pun lemas." gumamnya saat menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Tangannya merogoh ponsel yang ada di saku kemejanya. Zoya, istrinya sedang melakukan panggilan Video call.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Mas." ucap Zoya saat melihat wajah Hans di layar ponselnya.
"Waalaikum salam. Ada apa, Zoy? " tanya Hans masih dengan bersandar di badan sofa, Hans menatap senyum merekah di wajah istrinya.
"Kangen saja. Mas Hans, di apartemen, ya? Kenapa tidak pulang?" Mendengar kata 'kangen' dari Zoya untuknya, membuat Hans tersenyum. Ada rasa bahagia diantara kondisi tubuhnya yang tidak bersahabat.
"Aku pulang agak malam, Zoy. Aku ingin istirahat dulu di sini." jawab Hans, ada sedikit rasa bersalah yang menelisik di sudut hatinya saat dia berbohong pada istrinya.
"Mas kalau pulang bawain martabak, ya!" pinta Zoya dengan malu malu. Dia juga menyadari selama ini dia terlalu banyak maunya.
"Iya sayang." jawab Hans.
"Oh ya... " Kalimat Zoya kini terjeda.
"Iya, mau apalagi, sayang?" Hans pun langsung memberi tanggapan, ingin tahu apa yang diinginkan istrinya.
"Cepat pulang, ya!" pinta Zoya sambil malu malu, tiba tiba saja wajahnya terlihat merona, membuat Hans tersenyum miring saat melihat wajah manja istrinya.
Setelah beberapa saat menelpon, sebenarnya hanya untuk melepas rasa rindu yang tidak biasanya, Hans pun merebahkan tubuhnya di sofa. Dia hanya ingin istirahat sesaat sebelum pergi memenuhi undangan Ryan.
Sudah istirahat dua jam membuat tubuh yang seharian lemas itu lumayan bertenaga. Pukul delapan malam dia mulai persiapan, untuk pergi ke club malam. Dia berharap bisa pulang sebelum jam sepuluh malam.
Mercy keluaran terbaru itu melaju di atas aspal jalan menuju club. Suasana memang sedikit mendung, jalan pun tidak terlalu padat. Pengguna sepeda motor yang sedikit berkurang membuat Hans melajukan mobilnya dengan santai.
Sebenarnya bukan dalam keadaan yang cukup baik, tapi Hans mencoba terlihat baik baik saja saat memasuki ruangan yang begitu ramai oleh hiruk pikuk lautan manusia. Suara dentuman musik yang hampir memekakkan telinga. Dan asap rokok dan aroma alkohol yang cukup menyengat, sebenarnya membuat perutnya terasa lebih mual lagi.
Hans berjalan menghampiri ruangan yang sudah ditentukan. Di Sana sudah ada beberapa temannya yang sudah datang, meski dia juga terbilang datang lebih awal.
"Hae... apa kabar?" sapa Varo saat mereka saling berjabat tangan.
"Tambah ganteng saja." puji Albert dengan jujur.
"Semakin terlihat muda saja, ya? " Goda Agra dengan meninju lengan kekar Hans.
Di Sana juga sudah ada Ryan dan dua teman lainnya yang sudah menikmati minumannya.
"Ayo, minum Hans! " ajak Arga saat dia menuangkan sebuah minuman dari botol ke gelasnya.
__ADS_1
"Terima kasih aku sudah tidak bisa minum itu! " tolak Hans. selain dia tahu itu barang haram, dia juga tidak ingin merusak organ tubuhnya dengan alkohol. Dia berjanji ingin selalu sehat untuk menjaga orang orang yang dia sayangi.
Mereka saling bertukar cerita, diantara gurauan yang membawa tawa diantara mereka. Tidak tertinggal diantara candaan mereka, para kaum adam itu juga bercerita tentang kehidupan pribadi dan pekerjaan mereka.
"Hae, ayo kita turun ke lantai dansa!" teriak Zidan menghampiri mereka. Zidan bersama Danang baru saja menikmati musik dan berdansa dengan dua gadis yang saat ini ada bersamanya.
"Ayolah, kita turun melepas penat! Ada banyak gadis seksi di bawah." bujuk Danang sekali lagi.
Ketiga temannya Varo, Albert dan Arga terlihat mulai tertarik. Tapi tidak dengan Hans dan Ryan. Hans sendiri sudah merasakan tidak nyaman karena kondisi tubuhnya.
Salah satu gadis yang mendekati Hans dengan meletakkan lengannya dan merangkul bahu bidang itu. Gadis itu masih berusaha membujuk Hans untuk turun ke lantai dansa.
"Pergilah! Jangan menggangguku atau aku akan melemparmu dari sini ke lantai dansa." tolak Hans agar gadis itu segera meninggalkannya. Tapi, gadis dengan dress ketat dengan model tang top itu pun malah bergelayut manja di tubuh Hans.
"Sialan, lo budek ya?" Hans melempar tubuh seksi itu di sofa kemudian meninggalkan meja yang semula menjadi tempat mereka bercerita. Semuanya terdiam, mereka tidak menyangka reaksi Hans akan se arogant itu.
Dari kejauhan seseorang sudah memperhatikan mereka. Bahkan, saat perempuan itu merayu Hans, dia sempat mengambil beberapa gambar. Dan rencananya dia akan mengirimnya ke ponsel Zoya.
"Hans...!" panggil Ryan. Lelaki yang punya acara itu pun mencoba membujuk Hans untuk bertahan.
"Sory, Yan. Kepalaku rasanya pusing, bahkan dari siang tadi perutku mual. Aku ingin segera pulang." jawab Hans dengan jujur. Ryan pun bisa mengerti karena sejak siang tadi Hans memang terlihat pucat.
"Ok. Thanks sudah datang." Hans pun kemudian meninggalkan tempat yang ingin membuat kepalanya terasa pecah.
Pukul sepuluh malam, Hans baru sampai rumah. Rumah sudah nampak sepi. Pasti semua sudah tidur. Dia juga yakin jika Zoya pasti sudah tidur. Sejak hamil, Zoya memang paling doyan tidur.
"Mas Hans..." panggil Zoya menghentikan langkah Hans yang akan menaiki tangga. Hans pun menoleh kemudian menghampiri istrinya di dapur.
"Kenapa bau rokok. katanya ingin berhenti merokok, biar nggak cepat tua." ujar Zoya saat mengendus aroma yang dominan dari pakaian suaminya.
"Bertemu teman tadi. Zoy, minta tolong Bi Muna untuk membuatkan aku teh hangat." titah Hans membuat Zoya tersenyum.
"Aku yang akan membuatkannya untuk Mas Hans." jawab Zoya. kemudian mulai berjalan ke pantri. Sedangkan, Hans memilih duduk di meja makan menunggu istrinya.
"Mas Mana martabaknya?" tanya Zoya menagih pesanannya saat meletakkan teh hangat yang baru saja dia buat.
Mendengar pertanyaan istrinya, dia hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Tenggorokannya terasa kering seketika.
__ADS_1
Bersambung.....