
Setelah solat subuh, Zoya masih ingin menangis di dalam doanya. Dia bukanlah seseorang hebat yang bisa mengelola perasaannya hingga bisa menepis rasa sakit di ulu hatinya dalam sekejap. Umpatan dan bentakan itu rasanya terlalu sakit jika keluar dari orang yang seharusnya mengerti kita.
Zoya Pov
Betapa sakitnya hatiku saat aku mendengar makian itu terlontar dari suamiku. Aku seperti tertampar begitu keras dengan makian itu. Seharusnya, dia yang paling mengenalku tapi justru pasanganku yang memakiku dengan begitu rendahnya.
Selama ini, aku berusaha berhati-hati dalam bersikap. Aku sadar jika aku menikah tanpa dicintai, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku. Dan aku tahu, aku tidak ada artinya di hadapan Mas Hans.
Tapi aku juga sama dengan perempuan yang lainnya, ingin dihargai, diakui keberadaannya dan lebih lagi dicintai. Tapi, mungkin inilah jalan hidupku. Aku hanya berharap Engkau bisa menguatkan aku ya Allah.
Jika aku sudah menutup rapat perasaan untuk masa laluku, bukan berarti aku boleh berharap mendapatkan cinta dari seseorang yang saat ini takdirnya tertaut padaku, aku mengerti itu. Itu mustahil, karena aku bukan perempuan seperti yang diinginkan Mas Hans.
Air matanya kembali meleleh, apapun yang dia rasakan, dia tidak ingin melupakan tugasnya. Zoya melintas menuju kamar Hans, tempat tidurnya sudah nampak kosong, suara gemericik air pun terdengar di dalam kamar mandi.
Zoya memilih menyiapkan kaos dan celana pendek rumahan untuk Hans, karena menurutnya tidak mungkin pagi-pagi sekali suaminya akan pergi ke kantor.
Masih dengan sedikit menyeret kakinya, Zoya meletakkan baju suaminya di atas tempat tidur. Belum saja, dia membalikkan tubuhnya, tangan besar itu melingkar penuh di kedua bahunya, Hans memeluknya dari belakang dengan tiba tiba, sontak saja membuat tubuh Zoya menegang. Sejenak, Zoya mematung, dia merasakan pelukan itu begitu lembut hingga dia ingin mengeluarkan rasa sesak yang sudah bercokol di hati.
"Maafkan, aku!" ucap Hans bersamaan dengan tubuhnya yang menunduk mencium puncak kepala istrinya. Zoya hanya memejamkan mata, hatinya yang terasa sesak pun ingin meledak begitu saja, tapi saat ini dia hanya bisa mematung, rasa kaget dan gugup membuatnya tidak mengerti harus berbuat apa. Sementara, lontaran makian itu masih jelas terngiang di telinganya. Air matanya berhasil lolos, Menetes di lengan Hans yang masih menenggelamkan tubuh mungilnya dalam pelukan.
"Zoya." lirih Hans, saat mengetahui Zoya menangis, dia pun membalikkan tubuh Zoya untuk menghadap ke arahnya.
Lelaki yang masih menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya itu pun menatap mata bengkak yang sudah mengembun itu. Jarak mereka memang sangat tipis.
"Tolong, maafkan aku! Aku salah, Zoy." lirihnya kembali menenggelamkan tubuh yang sebatas dadanya itu dalam pelukan penyesalan. Rasa bersalah yang membuncah menguasai ruang hatinya, itu pun semakin besar tatkala dia menatap wajah sendu yang saat ini kembali menahan tangis.
"Maafkan aku, aku sudah bersikap buruk padamu. Tolong, maafkan aku." lirih Hans, kemudian membawa Zoya kembali dalam pelukannya. Hangat dan lembut hingga beberapa saat.
__ADS_1
Gadis yang awalnya hanya mematung dan terdiam kini menggerakkan tangannya melingkarkan kedua lengannya di punggung yang masih telanjang itu. Tangisnya yang tertahan pun meledak, tangannya pun berakhir dengan mencengkeram punggung suaminya, sedang isakannya yang hebat memenuhi ruang kamar mewah Hans. Zoya seperti menumpahkan rasa sakitnya seketika itu pula bersamaan dengan tangis yang mengguncang tubuhnya.
"Papa... jangan sakiti Mama!" teriak Ale, bocah yang baru saja membuka pintu itu berlari menghambur ke arah Hans dan Zoya. Tangannya langsung memisahkan pelukan keduanya dan dia pun berganti memeluk Zoya dengan posesive. Hal yang dipikirkan anak itu adalah papanya sudah menyakiti Zoya hingga mamanya kini menangis begitu keras.
Hans pun memakai kaosnya, matanya masih menatap Zoya yang sedang memberi pengertian Ale.
"Sayang, Papa tidak menyakiti Mama. Papa hanya tidak ingin Mama menangis." ucap Zoya dengan menundukkan tubuhnya untuk memberi pengertian pada Ale.
"Tapi, kenapa Mama menangis? " tanya Ale membuat Hans yang sudah berganti pakaian itu pun tersenyum pada putrinya. Dia tidak menyangka rasa sayang Ale pada Zoya begitu besar. Bahkan, dia seolah lebih percaya pada Zoya dari pada dirinya.
"Ale, mau susu nggak? " Zoya mencoba mengalihkan pertanyaan Ale, padahal sebenarnya Hans menunggu jawaban yang ingin di berikan Zoya pada Ale.
"Mau - mau, Mama." jawab Ale begitu girang.
"Ale nanti mandinya sama Papa ya? " tawar Hans dengan melihat Zoya sebagai isyarat jika dia yang akan memandikan Ale.
"Ale, kemarin dari mana? Kok pulang terlambat?" selidik Hans dengan mengambil tubuh anaknya untuk dipangku.
"Ale kemalin dali lumah sakit dengan Om ganteng." rasanya jengkel sekali anaknya itu menyebut ustadz kampung itu ganteng.
"Loh, siapa yang sakit? "
"Mama Zoya ditablak motol, gala gala Ale Papa.... " bocah itu sudah mulai mewek.
"Jangan nangis dong, anak Papa nggak boleh cengeng! Kenapa bisa gara-gara Ale?" Hans terus saja mencecar Ale dengan pertanyaan.
"Ale, belali ngejal kupu kupu, telus Mama Zoya nalik tangan Ale. Dan Mama Zoya jatuh ditablak motol. Untung ada Om ganteng itu, Papa." Sejenak Ale terdiam, bocah itu nampak merasa bersalah. Hans semakin merasa bersalah pada Zoya, bukan menanyai terlebih dahulu tapi langsung memarahinya.
__ADS_1
"Lain kali Ale hati-hati kalau di jalan ya! "
"Iya Papa, Ale tidak ingin Mama sakit. Ale sayang Mama! " Hans memeluk putrinya. Dia melihat rasa bersalah di mata Ale.
Flashback
Zoya masih menunggui Ale keluar dari gerbang sekolah, sebelum mengajaknya ikut kajian di pondok. Hari ini jadwal Kyai Muslim, pengampu pondoknya sendiri yang akan menjadi pembicara.
"Mama..." teriak Ale senang saat melihat Zoya di depan gerbang.
"Ale, kita ngaji ke pondoknya Tante Nila ya? " ajak Zoya, Ale selalu mau jika diajak mengaji karena Zoya selalu bilang jika Mama Renita akan bahagia jika Ale bisa ngaji.
Mereka berjalan kaki menuju pondok Nilla yang tidak terlalu jauh dari sekolah Ale. Area itu seperti pusatnya pendidikan, sekolah dari play group sampai perguruan tinggi berada di kawasan tersebut.
"Mama beli buku dulu ya? " Zoya mengajak Ale berbelok pada sebuah warung Fotocopy. Zoya ingin mencatat apa yang sekiranya penting dalan kajian itu.
Saat Zoya memilih bulpoin dan buku, Ale malah berlari lari mengejar kupu kupu dengan sangat girangnya, saat melihat motor melaju lumayan kencang membuat Zoya berlari dan berteriak memanggil Ale. Zoya menarik tangan Ale hingga berganti posisi, motor itu menabrak sebagian tubuhnya hingga membuatnya limbung, mata kakinya keseleo dan tubuhnya pun terjatuh, punggung kaki sebelah kirinya menggesek Aspal.
Situasi mulai ramai, saat itulah Wildan lewat dan berhenti. Mengetahui Zoya yang menjadi korban, dia segera membawa Zoya dan Ale ke rumah sakit. Zoya ingin mengabari Hans, tapi ponselnya ternyata tertinggal di kamar Ale.
visual Wildan
Bersambung
Bisa di halukan area sekolah Ale, kampus bang Wildan ngajar dan pondok Nila di daerah sapen jogjakarta ya gaes hahahah...
__ADS_1
Hayooo dikubu siapa bang Hans apa bang Wildan? hahahaha 😂😂😂😂.... Othor lebay yang suka bergelantungan ini bahagia gaes punya readers seperti kalian, nggak banyak si yang baca karya remeh othor satu ini tapi dengan kalian othor semangat gaes.... happy reading ya.... semoga selalu sehat diberi kelancaran semua urusan hari ini.