
Saat adzan isya berkumandang, Hans menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah yang sangat sederhana dengan penerangan yang cukup redup. Sekitar pukul tujuh malam mereka baru sampai di rumah Zoya.
Hans melirik Zoya yang malah tertegun. "Kenapa tidak turun? " tanya Hans kemudian untuk membunuh rasa penasarannya.
"Rumah Ibu kecil, tidak ada AC, kasurnya pun tidak empuk! " lirih Zoya.
"Tidak masalah bagiku. " ucap Hans dengan entengnya.
"Ale? " sela Zoya.
"Asal bersamamu, aku yakin Ale akan nyaman nyaman saja. " jawab Hans.
"Ayo masuk. Aku akan menggendong Ale. " Hans kemudian keluar menuju pintu mobil belakang untuk mengangkat Ale. Bocah itu menggeliat kemudian membuka matanya.
"Papa, kenapa gelap? Nggak ada lampu? " Ale kebingungan saat dalam gendongan Hans. Terlihat penerangan yang redup di halaman depan rumah. Bahkan, pepohonan yang tumbuh menjulang membuat sinar cahaya terhalang.
"Kalau di rumah Eyang, lampunya memang tidak bisa terang. " jawab Hans.
Nampak Zoya di sambut dua wanita di depan pintu, yaitu ibu dan adiknya.
"Selamat malam, Bu! " sapa Hans yang kemudian disambut Ibu Nurma dengan senyum dan saliman Zahra saat menyambut kedatangan kakak iparnya.
"Ale salim sama Eyang dan Tante. " titah Zoya yang diikuti oleh Ale.
"Ale gendong Eyang, ya? " tanya Nurma setelah bocah itu menyalimi satu persatu Eyang dan Tantenya.
"Ihhh... Ale sudah besal, Ale mau jalan sendili saja! " dengan diiringi gelak tawa, bocah itu melorot dari gendongan Hans.
"Ayo, kalian masuk! " ujar Bu Nurma membawa anak menantunya langsung masuk ke ruang makan dengan meja kursi yang sangat sederhana.
"Ale ayo main sama Tante! Nanti Tante bacain buku cerita bagus. " ajak Zahra yang kemudian diikuti Ale, berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Zoya menyusul ibunya di dapur. Gadis berwajah sendu itu menatap ibunya yang sedang merebus air untuk membuatkan teh.
"Mas Hans lebih menyukai kopi, Bu! " ucap Zoya kemudian mengambil alih pekerjaan ibunya untuk membuat kopi dan teh hangat.
__ADS_1
"Zoy, apa kamu bahagia? " tanya Bu Nurma dengan menatap Zoya dari atas hingga bawah. Terlihat tampilan Zoya memang jauh lebih baik Tapi dia masih ragu dengan perasaan Zoya, karena dulu dia sedikit memaksa anak gadisnya untuk menikah dengan duda beranak satu.
Setelah mengaduk kopi dan tehnya. Zoya menoleh ke arah ibunya. Kemudian tersenyum dan mengambil tangan keriput yang terasa kasar itu.
"Zoya sangat bahagia, Bu. Mas Hans laki laki yang baik dan Mama Shanti sangat sayang Zoya. Ibu jangan mengkhawatirkan Zoya. " Mendengar kalimat anaknya, hati Nurma sedikit lega tapi matanya kini nampak berkaca-kaca.
"Kamu tidak bohong, kan? " Nurma kembali meyakinkan jawaban dari anaknya.
"Bu, kalau Zoya tidak bahagia, Zoya tidak akan sampai rumah ibu dengan keadaan yang jauh lebih baik dari saat Zoya pergi. " jelas Zoya, Nurma memeluk putrinya dengan rasa bahagia, air matanya pun meleleh begitu saja. Begitupun Zoya, mata indah itu pun menitikan setetes air yang sudah mengembun sejak tadi.
"Zoya akan membawa kopi untuk Mas Hans dulu! " ucap Zoya kemudian berjalan ke ruang makan, tapi yang di cari malah tidak ada kehadirannya di tempat semula, membuat Zoya mencari keberadaan suaminya.
"Mas, kenapa rebahan di sini? " ujar Zoya saat melihat Hans rebahan di sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu yang ada di teras.
"Emang, kenapa? " tanya Hans masih menikmati rebahannya. Kepalanya bertumpu pada lengan yang sudah ditekuk.
"Nyamuknya banyak. " jawab Zoya kemudian meletakkan secangkir kopi di meja kecil yang sudah mulai lapuk.
"Iya sih, tapi aku suka suasananya dan suara jangkriknya bikin beda." Dia memang menikmati suasana yang tidak bisa ditemui di kota, suasana yang sunyi, hanya di sinari dengan lampu yang redup dan pohon pohon yang membuat suasana semakin terlihat petang.
"Sebentar! " jawab Zoya. Gadis itu masuk ke dalam kemudian kembali dengan membawa obat nyamuk bakar.
Zoya mendudukkan bobotnya di sebelah kaki Hans yang menjulur panjang membuat lelaki itu kemudian bangkit. Dia senang sekali saat harus berdekatan dengan gadis pemalu itu, menggodanya dengan menyisakan warna merah di pipinya.
"Kamu nggak ngerasa dingin, Zoy? " tanya Hans dengan mengusap kedua lengannya yang memang tertiup angin malam.
"Iya Mas, kalau habis hujan memang terasa dingin apalagi saat berada di teras. Anginnya bertiup kencang. " jawab Zoya dengan polos. Smilirk licik timbul di sudut bibir lelaki yang saat ini menghadap tubuh mungil istrinya.
"Aku peluk ya, biar hangat! " goda Hans membuat Zoya terkaget. Gadis itu sempat akan memiringkan tubuhnya menjauh, tapi lengan kokoh itu melingkar begitu cepat dan kuat, membuat tubuh mungil itu sama sekali tak bisa bergeming.
Zoya menghela nafas panjang dengan menelan salivanya dengan kasar. Dadanya berdebar-debar saat wajah Hans menunduk menempel pada bahu kecilnya.
"Nggak dosa, kan? Dapat pahala, kan? " Hans kembali membuat jebakan yang membuat Zoya hanya bisa tersenyum kecut dan mengangguk pelan.
"Kamu benar-benar nggak pernah pacaran? " tanya Hans masih dengan posisi yang sama, Hans begitu enggan melepas pelukan di tubuh yang sudah menjadi kaku itu karena gugup. Zoya hanya menggeleng, wajahnya terasa memanas menahan malu, hembusan nafas suaminya terasa menyapu pipinya. Zoya tidak berani menoleh wajah di sampingnya. Itu justru membuat Hans merasa sangat senang ketika menggoda gadis yang sebenarnya sudah halal untuknya itu.
__ADS_1
"Papaaa... " teriak Ale berlari ke arah Hans dan Zoya.
"Jangan begini! Kasian Mama nggak bisa belnafas!" ucap Ale dengan memukul mukul lengan berotot Hans dengan tangan mungilnya.
"Duch, kamu anak siapa sih? Nggak mendukung Papa. " Hans sewot dengan kehadiran Ale yang tiba tiba. Setiap kali dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Zoya pasti di ganggu dengan si gembul itu.
"Mama, Ale lapal!" ucap Ale dengan naik di pangkuan Zoya. Bocah itu tersenyum penuh kemenangan saat berhasil merebut Mama Zoyanya. Sementara Hans hanya melirik tajam putrinya yang saat ini sangat menyebalkan baginya.
"Ayo Mas! makan malam sekalian." Ajak Zoya membuat Ale kemudian turun dari pangkuan Zoya dan berjalan masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Ale makan sendili, Ma! "
"Waaahh, cucu Eyang pinter banget. " puji Nurma tersenyum ke arah Ale.
"Ale makan yang banyak, besok biar kuat jalan, Oke? " sela Zahra menimpali.
"Oke, Tante! " Ale memulai makan malamnya dengan membaca doa yang sudah dia hafal.
Sedangkan, Zoya masih berdiri di dekat Hans, mengambilkan nasi untuknya. Tapi saat dia akan menoleh ke arah Hans untuk menanyakan lauk mana yang dia mau. membuat Zoya terkaget saat mendapati kedipan sebelah mata dari suaminya.
"Astagfirullah... ini orang kesambet apa ya? " gumam Zoya dengan tersenyum kecut ke arah suaminya.
"Mas, mau pakai pepes ikan gabus apa ayam bakar? " tanya Zoya masih dengan perasan geli dengan kelakuan suaminya. Tapi, ada yang membuat dia lebih terkaget yaitu saat tangan besar itu merangkul pinggangnya dari belakang.
"Pepes saja. " jawab Hans sambil menahan tubuh istrinya untuk tetap berdiri di dekatnya.
"Mama, nanti Ale didongengin tentang nabi Ismail yang nangis telus ya, Ma? " ucap Ale dengan mulut penuh.
"Katanya Ale mau bobo sama Tante Zahra? " goda Hans dengan melirik Zoya.
"Nggak mau,,, nanti Mama Zoya di cium- cium dan dipeluk-peluk Papa. Mama Zoya kan cuma milik Ale! " ucap bocah itu dengan polosnya. Beberapa kali, dia memergoki Hans yang memeluk Zoya ketika berada di sebelahnya. Seketika wajah Zoya memerah, apalagi saat mendengar deheman Zahra.
"Ayo kita lanjutkan makannya, terus istirahat. " ucap Bu Nurma mencoba mengembalikan keadaan saat melihat wajah Zoya yang tersipu malu karena ucapan bocah yang terlihat tidak mengerti, jika kata katanya membuat Papa dan Mamanya salah tingkah.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan kaget ya jika Mas Hans bawaanya pengen nyosor melulu hhahahaa... selamat menikmati ya si bucin yang pesesif.