
Suara ketukan bolpoin mengisi kesunyian ruang kerjanya. Hans menyandarkan tubuh di kursi yang ada di belakang meja kebesaran miliknya. Tangannya terus saja mengetukkan bolpoin di meja dengan pikiran menerawang tak menentu. Zoya, gadis itu mampu menyita pikirannya. Dan yang lebih buruknya, dia sendiri tidak pernah mengerti secara jelasnya, kenapa dan apa yang sedang dia pikirkan teruntuk gadis yang saat ini menyandang status sebagai istrinya.
"Ehm ehm... " suara Ryan menyadarkan Hans dari lamunan. Dia masuk ke ruangan Hans dengan membawa dua cangkir kopi, yang baru dipesannya dari OB.
"Ayo, ngopi dulu! Dari pada galau kayak anak muda yang lagi kasmaran. " ledek Ryan dengan menyodorkan cofelate hangat ke arah Hans.
"Siapa juga yang lagi kasmaran, beberapa saat lagi aku sidang !" elak Hans untuk menutupi kegalauannya.
Hans menyesap isi cangkir tersebut, sementara Ryan masih menatapnya dengan senyum sinis. Bertahun-tahun lelaki jangkung itu berteman dengan Hans tentu saja dia sudah hafal bagaimana Hans, elakan Hans tidaklah mudah membuatnya percaya begitu saja.
"Bagaimana dengan pernikahanmu? " selidik Ryan.
"Baik! "
"Hahaha... maksutnya hubunganmu dengan Zoya. " Ryan memperjelas lagi dengan pertanyaan yang baru saja dia lontarkan.
"Baik."
"Ya ya ya, kalau Zoya di ambil orang baru namanya tidak baik, kan? "
"Sialan lo...! " umpat Hans kemudian melempar bolpain ke arah Ryan. Kalimat Ryan hanya memperkeruh pikiran Hans saat ini.
"Nggak usah jadi kompor! " lanjut Hans dengan memalingkan tatapannya dari Ryan.
"Bener kan, Hans? Lo, udah suka sama Zoya kan? " desak Ryan yang sudah mencium gelagat mencurigakan.
"Nggaklah, Aku cuma kasian liat wajah melasnya. Pertama, dia juga korban dari orang tua kita sama seperti aku dan kedua kami suami istri meski tidak ada perasaan cinta tetap saja status kita saling berkaitan. " jelas Hans mencoba mencerna posisi dirinya dan Zoya dalam pernikahan mereka.
"Oke... tapi Zoya cantik, lo! " goda Ryan membuat Hans melemparkan tatapan nyalang ke arah sahabatnya itu.
Hans menghabiskan waktu makan siangnya untuk mengobrol bersama Ryan. Setelah itu, dia harus menemui klien sebelum sidang pengadilan di mulai.
###
Zoya mencoba mengerjapkan mata menahan kantuk saat Ale minta ditemani tidur. Bocah itu merasa lelah karena menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan tidak tidur siang.
__ADS_1
Dengan sedikit memaksakan matanya terbuka, Zoya sempat menatap Jam yang menggantung di dinding bermotif floral di kamar Ale. Batinnya, menunggu Hans pulang, tapi rasa kantuk berlahan membuatnya kembali terlelap dengan memeluk putri kesayangannya itu.
Tidak lama kemudian Hans turun dari marcy E class, langkah panjang lelaki bertubuh tinggi atletis itu memasuki rumah yang terlihat sepi.
Senja baru saja berganti petang, tidak seperti biasanya rumah nampak sepi. Coletahan dan teriakan putrinya pun tak terdengar sama sekali. Lelaki berbibir tipis itu pun melangkah mencari kehidupan yang biasanya menunggu kedatangannya dari kantor.
Kamar Ale adalah tujuan pertama Hans, sebelum singgah di tempat lain. Berlahan dia membuka pintu agar deritnya tidak terdengar.
Pemandangan yang membuatnya tersenyum, Zoya meringkuk dengan memeluk Ale yang sudah terlelap. Bisa terlihat oleh Hans betapa sayangnya Zoya pada Ale, hingga bahasa tubuh Zoya terhadap putrinya tidak bisa membohongi pandangan mata Hans.
Di dekati dua wanitanya yang saat ini memejamkan mata. Sejenak dia berdiri di dekat tempat tidur menikmati pemandangan yang tidak pernah bosan untuk di tatap.
"Ren, tenanglah di sana. Gadis itu memberi banyak cinta pada putri kita! " gumam Hans dalam hati.
Hans mengambil selimut dan akan menyelimuti tubuh dua perempuan yang menjadi bagian dari hidupnya itu.
"Mas...! " Suara Zoya menghentikan langkah Hans yang akan berbalik.
"Kamu istirahat saja jika lelah. " ucap Hans. tapi Zoya malah menurunkan kakinya secara berlahan. Tangannya menyambar jilbab yang ada di sebelahnya.
"Pelan pelan...! " lirih Hans masih dengan memegang lengan kecil Zoya.
"Kalau kamu masih lelah, kembali istirahat saja." ucap Hans dengan tidak sadar masih betah memegangi tubuh Zoya.
"Aku sudah tidur dari tadi, Mas! Ayo aku akan menyiapkan baju mas Hans jika mau mandi. "
Zoya melangkah terlebih dahulu, rasa debaran jantungnya saat berdekatan dengan lelaki berhidung mancung itu susah untuk di kendalikan. Sementara Hans mengekor di belakang dengan menatap tajam tubuh kecil istrinya. Tentu saja terlalu mungil karena tinggi Zoya hanya 153cm, sedangkan Hans dengan tinggi 187cm berbandingan yang cukup kentara.
"Zoy,...! " Panggil Hans saat mereka sudah berada di dalam kamar. Zoya menghentikan langkahnya, sementara Hans masih memajukan kakinya hingga mereka sama sama berada pada jarak yang sangat dekat.
Sejenak dia terdiam, mengatur apa yang harus ditanyakan atau tidak. "Bisakah membuatkanku nasi goreng?" Bukan itu sebenarnya pertanyaan yang ingin Hans lontarkan pada Zoya. Pertimbangan terakhirnya, akan sangat aneh jika dia menanyakan siapa laki laki yang datang kemarin. Pikiran Hans yang serasa di persimpangan, membuat Hans susah mengerti apa yang seharusnya dan tidak.
"Baiklah, aku akan menyiapkan baju Mas Hans dulu! "
"Zoy...! " Hans menghentikan langkah Zoya dengan mencekal tangannya, membuat Zoya menatap penuh tanya pada Hans.
__ADS_1
"Tidak... buatkan aku nasi goreng saja. Aku akan mandi sekarang. " Hans berlalu dari hadapan Zoya, lelaki itu melenggang menuju kamar mandi. Sedangkan Zoya hanya mematung, kemudian menatap foto pernikahan Hans dan Renita.
"Apa Mas Hans akan melepaskanku? " Zoya bermonolog ketika sikap Hans terlihat aneh. Sejak semalam Hans tidak menyapanya. Bahkan sebelum berangkat kerja pun dia tidak sarapan, seolah menghindarinya.
"Kenapa hatiku merasa aneh saat memikirkan berpisah? Padahal sebelumnya aku juga tau jika Mas Hans bisa melepaskanku kapan saja karena dia tidak pernah mencintaiku bahkan dia juga merasa terpaksa dengan pernikahan ini. " Tak terasa Zoya terduduk di pinggir tempat tidur. Ntah berapa lama dia tertegun di sana.
"Zoy...! " Suara Hans membuyarkan lamunannya. Zoya yang sedari tadi hanya terlihat termenung pun kini menjadi salah tingkah saat Hans mendekatinya dengan handuk yang melilit di pinggang. Gelombang gelombang tubuhnya terlihat mengkilat saat masih terlihat lembab.
"Maaf , Mas. Aku akan mengambilkan baju Mas Hans, dulu! " mendengar apa yang di katakan Zoya, Hans hanya mengernyitkan dahi. Serasa tidak percaya jika sedari tadi Zoya hanya terdiam duduk di pinggir ranjang.
"Ini, Mas! Aku akan ke dapur dulu. " Zoya menyerahkan bajunya Hans sebelum meninggalkan kamar.
Zoya memang memasak nasi goreng sesuai permintaan Hans, karena tahu Hans lebih cocok masakannya dari pada Bi Muna jadi semua urusan makanan Zoya yang mengambil Alih.
Nampak Hans sudah terlihat segar dengan kaos dan celana pendek rumahannya. Langkahnya kini mendekati meja makan, bersiap untuk makan malam. Sebenarnya dia tidak terlalu menyukai nasi goreng, tapi telanjur itu yang terucap, Hans kini bersiap untuk menyantapnya.
Nampak Zoya membawa sepiring nasi goreng telur ceplok dan segelas jus orange.
"Kamu makan sekalian, Zoya! " perintah Hans.
"Nanti saja. "
Mendengar jawaban Zoya membuat Hans meletakkan sendok yang barusan dia ambil.
"Kamu bukan pembantuku, Zoy. Kamu istriku! " Kalimat Hans seperti perintah membuat Zoya pun menuruti apa yang di katakan suaminya.
Makan malam pun berlangsung dengan tenang, sesekali Zoya melirik Hans. Ada yang ingin dia tanyakan pada suaminya.
"Mas,... " panggil Zoya setelah Hans meneguk jusnya.
"Ada apa? " tanya Hans tidak sabar menunggu kelanjutan kalimat Zoya.
"Bolehkah, aku ikut kajian agama di pondoknya Nilla? "
"Seminggu sekali, Mas! " lanjutnya. Hans kini menatapnya dengan menautkan kedua alisnya. Dia sedang memikirkan jawaban untuk Zoya, karena ada hal yang tidak dia senangi jika kajian itu berhubungan dengan lelaki yang memberikan istrinya sebuah buku.
__ADS_1
Bersambung....