Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Merasa Bersalah


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Wildan, Zoya keluar dari kafe. Zoya juga sempat mengatakan, jika kaligrafinya selesai, dia akan menitipkannya pada Nilla. Zoya meninggalkan kafe dengan langkah terburu,satu beban sudah terlepas. Dia juga tidak sempat melihat Hans yang sedari tadi memperhatikannya.


Zoya mempercepat langkahnya untuk menjauh dari kafe. Dia berhenti di bawah pohon beringin untuk memesan taxi online. Perasaan bercampur aduk membuatnya tidak tahan untuk menahan lelehan air matanya.


Gerimis mulai meneteskan butiran bening. Untung saja, taxi yang dia pesan cepat datang. Gegas, Zoya masuk ke dalam taxi saat mobil yang di pesannya secara online itu berhenti di depannya.


"Mau kemana, Mbak? " tanya supir taxi saat Zoya baru saja masuk ke dalam.


"Komplek Permata Garden, gang. Delima, No. 4." Setelah menjawab supir taxi, Zoya kembali menangis. Sebuah perasaan yang dia sendiri tidak bisa menamainya itu membuncah, membuat sesak dadanya. Rasanya, dia ingin meluapkan semua yang menyesakkan hatinya.


Setelah pulang dari kursus memasak, Zoya mengurung diri di kamar. Dia terus saja menangis. Satu sisi perasaannya lega, setelah menegaskan hubungannya dengan Wildan. Tapi, satu sisi dia merasa bersalah dengan suaminya. Setelah tiga minggu dari tragedi malam itu, Zoya mengabaikan Hans. Melupakan kewajibannya. Rasa bersalahnya semakin menyeruak, tatkala dia menemui Wildan tanpa meminta ijin suaminya.


Melihat Zoya yang tidak biasa, Mama Shanti memutuskan untuk tidak mengganggunya. Mungkin Zoya butuh sendiri, itu yang dipikirkan mertuanya. Sedangkan Ale, beberapa kali mengintip dari balik pintu. Dia juga takut saat mamanya menangis di kamar hingga berjam-jam. Dia tidak ingin mamanya bersedih.


"Ale, jangan ganggu Mama dulu! " ucap Shanti pada cucunya. Dia menggiring kembali Bocah gembul itu kembali ke depan TV.


Tak lama kemudian, ale mendengar deru halus suara mobil milik Hans. Bocah itu langsung berlari ke luar rumah menyambut orang yang sudah dia tunggu kedatangannya sedari tadi.


"Papa, Mama Zoya nangis telus! " lapor Ale saat menghambur memeluk kaki papanya yang sedang berdiri memperhatikan bamper belakang mobilnya. Di tengah perjalanan, seseorang menabrak belakang mobilnya dan melarikan diri. Ya, seperti disengaja.


"Kenapa mama Zoya menangis? " tanya Hans kemudian menggendong bocah gembul itu untuk masuk ke dalam.


"Ale tidak tahu. Sejak pulang kulsus masak, Mama Zoya menangis telus. " celotehan bocah itu mengharapkan papanya bisa membujuk Mama Zoya untuk bermain dengannya. Sejak tadi, omanya melarang Ale agar tidak mengganggu Zoya. Padahal, dia ingin sekali bermain dengan mamanya.


"Ayo kita lihat, Mama. " Han melangkah menuju kamarnya. Saat membuka pintu, Zoya masih menelungkupkan wajahnya di bantal. Bahunya terlihat bergetar bersamaan dengan isakan yang terdengar lirih.


"Zoy, kenapa? " tanya Hans, kemudian duduk di samping Zoya. Sementara, Ale berdiri di belakang bahu bidang papanya dengan merangkul leher Hans. Mata sipit itu memperhatikan keadaan Zoya dengan teliti.


"Zoy, jangan menangis seperti itu!" Hans berbicara selembut mungkin agar Zoya mendengarkan bujukannya.


"Sebenarnya, ada apa? " desak Hans dengan mengusap usap lembut lengan kecil istrinya.

__ADS_1


Zoya menoleh ke arah suaminya. Wajahnya sudah lembab tapi air matanya tidak ingin berhenti lagi. Zoya kemudian beringsut untuk duduk menghadap suaminya.


"Ada apa?" Hans mengulang lagi pertanyaannya dengan menyeka air mata istrinya secara bergantian. Tidak biasanya Zoya menangis seperti ini.


"Maafkan aku, Mas! " Zoya menghambur memeluk suaminya. Tangisnya semakin menjadi, ketika Hans kembali memeluknya dan mengusap lembut punggung Zoya.


Hans sedikit terheran, tidak biasanya Zoya mengungkapkan perasaannya seperti ini. Ale yang sedari tadi menatap bingung Mamanya pun hanya mematung, menunggu mamanya berhenti menangis.


"Maafkan aku, Mas. Aku sudah mengabaikanmu. Aku juga menemui Bang Wildan tanpa seijinmu. " ucap Zoya masih dengan sesenggukan. Padahal Hans sudah mengetahui dari mereka datang sampai Zoya pergi meninggalkan kafe.


Zoya merasa sangat bersalah. Saat suaminya berusaha memperbaiki kesalahannya, justru dia semakin memperburuk keadaan.


Seperti halnya kita yang tidak luput dari kesalahan. Begitupun, pasangan kita yang tidak akan mungkin sempurna.


"Aku tidak apa apa. Aku tidak mempermasalahkan itu. " ucap Hans dengan mengeratkan pelukannya. Hans tidak peduli apapun alasan Zoya menangis. Meskipun, itu menangisi Wildan.


"Aku akan membuatmu melupakan masa lalumu. " janji Has dalam hati.


"Kamu sudah makan? "


"Dasar gembul! urusan makan saja cepat. " gerutu Hans sambil menoleh ke putrinya, membuta Ale tersenyum genit dan kembali memeluk leher papanya.


"Kamu sudah sholat magrib? " Hans menatap wajah yang saat ini tertengadah menatapnya. Zoya hanya menggeleng kecil menjawab pertanyaan suaminya.


"Ayo, kita sholat dulu! " ajak Hans membuat Zoya menjatuhkan kakinya ke lantai.


"Ale ikut! " Bocah itu buru-buru berlari ke belakang menuju musala.


"Jangan menangis lagi! Kita akan memperbaikinya bersama. " ucap Hans kemudian merangkul Zoya untuk membawanya menyusul Ale yang sudah terlebih dahulu berlari ke musalla.


Mereka solat berjamaah termasuk di gembul yang hanya jungkir balik mengikuti gerakan salat. Hans mulai menjadi imam dalam Salat Magrib. Dia memang tidak banyak menghafal surat pendek dengan fasih. Tapi untuk beberapa surat pendek, dia masih hafal.

__ADS_1


"Maafkan, aku belum bisa jadi imam salatmu yang baik. " ucap Hans saat mereka duduk bersama di emperan musala.


"Aku senang, Mas Hans sudah mulai salat. " jawab Zoya.


"Kejadian kemarin membuatku banyak belajar. Seharusnya aku yang membimbing kalian. Bukannya aku yang malah seenaknya sendiri. " sesal Hans.


Mereka tidak menyadari jika Ale sudah tertidur di pangkuan Zoya, "Loh, dia sudah tertidur!" ujar Hans sedikit terkaget saat mata Ale sudah terpejam.


Hans menggendong Ale masuk ke dalam kamar, diikuti Zoya yang membuntut di belakangnya. Hans merebahkan tubuhnya di samping Ale.


"Kemarilah, Zoy!" Hans memberikan ruang untuk Zoya di sampingnya. Tapi, Zoya masih mematung tak bergeming.


"Aku mengerti, Zoya. " lanjut Hans. Dia tahu Zoya masih takut jika berhubungan intim dengannya.


Berlahan, Zoya mengikuti perintah suaminya. Dengan rambut terurai dia merebahkan diri di samping tubuh atletis itu. Hans melingkarkan tangannya di perut Zoya membuat istrinya kembali menatapnya.


"Aku mengerti, Zoy." ulang Hans dengan mencium pipi wanita di sampingnya. Dia sangat menyayangkan kejadian itu masih meninggalkan sedikit rasa takut Zoya terhadapnya.


"Duh, kalau udah kayak gini, rasanya males mandi. Pengen meluk kamu terus, Zoy. " goda Hans, membuat Zoya tersipu Malu. Tapi dia memang sudah merindukan Zoya. Beberapa minggu, dia seperti orang asing yang hidup sendirian. Kini, dia bisa memeluk perempuan yang sangat dia rindukan.


Jika Hans bicara jujur, tragedi malam itu tidak hanya menyisakan penyesalan dalam diri lelaki itu. Tapi, dia juga menyisakan rasa nikmat yang luar biasa. Empat tahun dia harus bersoloisme, dan dituntaskan dalam semalam dengan gadis yang mempunyai tubuh dan kulit yang layak untuk dipuja.


"Maafkan aku, Zoya." tapi pekikan rasa sakit yang terus menghantui Hans membuat lelaki berhidung mancung itu masih merasa bersalah.


Zoya hanya memiringkan tubuhnya, dia memeluk suaminya dengan erat. Seperti bukan, Zoya, sepintas yang terlintas dalam pikiran Hans.


"Zoy, sepertinya ada yang sengaja menabrak mobilku dari belakang, saat perjalanan pulang. " Cerita Hans membuat Zoya menengadahkan wajah menatap wajah ganteng suaminya.


"Tapi, aku baik baik saja, hanya bamper belakang yang rusak." lanjut Hans.


"Hati hati, Mas. Kita tidak tahu niat setiap orang terhadap kita. " ucap Zoya dengan memeluk erat pinggang suaminya.

__ADS_1


Bersambung...


hae readers aku tercintah... ternyata pada punya bakat jadi peramal... Tapi, lihat saja nanti ya... masih ada pelakor atau tidak hehehehe lope u all


__ADS_2