Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Gado-gado VS Bakso


__ADS_3

Zoya masih gelisah dalam tidurnya, perutnya sudah terasa lapar. Kemudian, dia melirik jam yang menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Jam delapan tadi, aku makan malam, kenapa jam segini sudah lapar lagi?" Sejenak dia mengedarkan pandangannya di dalam kamar, tapi tidak ditemukan juga suaminya. Dia yakin jika Mas Hans masih di ruang kerjanya. Tanpa berfikir lagi, Zoya menyibakkan selimut dan mencari jilbab instannya. Dia berniat akan turun ke bawah mencari sesuatu yang ingin dia makan.


Tiba tiba dia ingin makan sesuatu. Bakso. Dia seperti menginginkan makanan itu saat ini. Sejenak dia tertegun lagi. Gado- gado. Iya, Zoya membayangkan makan gado-gado dan bakso sekaligus pasti sangat enak. Air liurnya pun menetes kala membayangkan dua makanan itu saling berkolaborasi.


Pak Dino yang ijin pulang kampung untuk satu minggu membuat Zoya harus mencari Hans ke ruang kerjanya. Langkahnya maju mundur antara ingin mengetok pintu bercat putih itu atau tidak.


"Ceklek... " Pintu terbuka, terlihat Hans berdiri dengan sangat gagah kemudian menatapnya penuh dengan rasa heran.


"Ada apa, Zoy?" tanya Hans dengan menutup pintu ruang kerjanya kembali.


"Aku lapar." Mendengar kalimat itu, Hans menghentikan langkahnya. Terlihat Zoya menatapnya, dengan tatapan memohon dan menggigit bibir bawahnya. Dia sudah menahan untuk tidak mengatakan keinginannya, tapi gagal.


"Terus? Di dapur biasanya juga ada makanan." sambung Hans. Dia merasa semua urusan makanan sepenuhnya adalah kekuasaan sang istri.


"Aku ingin makan bakso dan gado-gado." pinta Zoya dengan suara lirih karena dia melihat wajah suaminya yang sudah menampilkan raut datar. Hans menghentikan langkahnya, dia menatap tajam istrinya yang sudah menunduk. Dengan helaan nafas berat, dia menggenggam kedua bahu kecil di depanya.


"Lihat ini udah jam sepuluh malam, mana ada bakso apalagi gado gado. Jangan keterlaluan jika ingin mengerjaiku. Bisa saja kehilangan kesabaran untuk mengontrol emosiku." sahut Hans, kemudian meninggalkan Zoya yang masih mematung. Kecewa. Mendapatkan jawaban itu hatinya merasa sangat kecewa.


Dengan langkah gontai, dia memilih duduk di ruang TV yang terhubung dengan balkon. Dibiarkan pintu kaca itu terbuka hingga hembusan angin malam mulai menyelinap masuk ke dalam.


Sejenak dia berusaha menahan tangisnya, tapi tidak juga dia bisa menahan air matanya yang meleleh dari kedua sudut matanya. Belum lagi dia masih merasakan lapar, membuat rasa kecewanya semakin membuncah.


"Aku hanya meminta makanan, bukan barang mahal. Kenapa tidak diberikan?" gerutu Zoya saat dirinya duduk di sofa sendirian. Tangannya terus saja menyeka lelehan air yang terus saja mengalir di kedua pipinya.


Sudah dua puluh menit, tapi Hans tidak juga mendapati istrinya yang masuk ke kamar. Rasa penasaran membuat dirinya ingin melihat kembali sosok mungil yang akhir-akhir ini berkelakuan aneh.


Hans bermaksut mencari keberadaan Zoya, tapi sejauh jarak pandangnya, Hans melihat sosok yang duduk di sofa itu terus menerus menyeka air matanya.


"Ya Allah, dia tidak pura-pura untuk menginginkannya." gumam Hans kemudian berjalan mendekati istrinya.


"Zoy." Hans membingkai dari belakang wajah Zoya dengan kedua telapak tangannya, kemudian mendongakkan hingga dia bisa melihat mata sembab Zoya yang sedari tadi sudah menangis.


"Kamu lapar beneran?" tanya Hans kembali untuk meyakinkan istrinya. Dia masih bisa melihat semburat rasa kecewa di wajah ayu itu. Tidak tega, Hans akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menuruti keinginan istrinya. Zoya bukanlah tipe orang yang banyak maunya ataupun banyak menuntut.


"Aku akan berusaha mencarikan itu untukmu." Sambut Hans, seiring dengan keputusan suaminya Zoya pun tersenyum.

__ADS_1


"Aku ikut, Mas." pinta Zoya dengan mengekor di belakang tubuh tinggi yang berniat mengambil kunci mobil.


"Di luar gerimis, Zoy." tolak Hans, Dia hanya tidak ingin istrinya terkena hawa dingin dan lembab.


"Aku ingin ikut, Mas." lirihnya setengah memohon.


"Baiklah!" dengan berat Hans akhirnya mengizinkan Zoya. Mereka menitipkan Ale pada Bi Muna.


Hampir pukul sebelas malam, Hans dan Zoya menyisir jalanan kota untuk menemukan bakso, khusunya gado-gado.


"Bagaimana, jika beli bakso instan saja? Nantinya gado-gadonya minta dibuatkan Bi Muna." tawar Hans setelah setengah jam tidak menemukan warung yang masih buka.


"Rasanya beda, kalau instan. Aku tidak berselera." Mendengar jawaban Zoya Hans hanya bisa menarik nafas berat. Satu tangannya meraup wajahnya mencoba menenangkan emosinya yang ingin meledak.


"Jika kamu hamil aku sih, senang saja. Jika seperti ini, aku ngerasa kamu ngerjain aku, Zoy." Saat mendengar ucapan suaminya, Zoya hanya bisa menolehi wajah orang di sebelahnya. Kalimat yang terucap dari suaminya seperti menyalahkannya.


"Kalau nggak ikhlas, ya, sudah kita pulang saja." suara lirih itu membuat Hans mengerti jika istrinya sedang merajuk. Lelaki yang saat ini melajukan mobilnya dengan pelan pun tidak menjawab lagi. Dia terus saja memperhatikan kanan kiri jalan yang mereka lalui. Entah sudah berapa jam mereka menyisir kota hingga kini mobil Sedan mewah itu melewati jalan di pinggir kota.


Di dekat terminal, Hans melihat warung bakso yang masih buka. Seharusnya dari awal, dia memperhitungkan terminal utama untuk mencari bakso.


"Pak, bungkus satu!" ujar Hans, kemudian menoleh keluar saat terlihat bayangan Zoya menyusulnya.


"Zoy, lihat basahkan, kan bajumu!" Hans mulai mengusap-usap pundak kecil Zoya yang terkena tetesan gerimis.


"Mas, bungkus berapa?" tanya Zoya.


"Satu."


"Pak, Baksonya jadi tiga bungkus tapi tidak pakai mie." Zoya langsung meminta tukang bakso menambahkan pesanan suaminya. Hans yang melihat istrinya pun hanya terdiam dengan menatap Zoya penuh selidik. Rasa tidak percaya membuat Hans hanya terbungkam.


"Pak, kalau yang jual gado-gado dimana, ya?" tanya Zoya.


"Kalau jam segini saya kurang tahu. Cuma di dekat pasar ada saudara saya yang mau membuatkan gado-gado, jika mbaknya ngidam." Mendengar jawaban tukang bakso membuta Hans dan Zoya saling beradu pandang. Heran karena menganggap seolah tukang bakso itu sudah hafal orang ngidam.


Sambil membungkus baksonya, penjual itu pun menunjukkan arah dan ciri-ciri rumah saudaranya yang berjualan gado-gado untuk dimintai tolong. Hans yang sedari tadi merasa kesal pun hanya membayar bakso dan kemudian kembali ke mobil, selanjutnya mereka mencari gado-gado.


Gerimis masih betah mengguyur sepanjang jalan. Hans membelokkan mobilnya di halaman rumah yang ada di dekat pasar sesuai dengan ciri ciri yang disebutkan oleh penjual bakso.

__ADS_1


"Tok... tok... tok... Assalamulaikum." Hans mengetuk pintu rumah yang sudah nampak sepi dan gelap. Untung saja, dia tidak harus menunggu lama karena pemilik rumah sudah membukakan pintunya.


"Saya ingin membeli gado-gado." dengan sungkan Hans berucap.


"Berapa bungkus?" tanya wanita paruh baya itu dengan tersenyum menatap Zoya yang berdiri di belakang Hans. Wanita itu mengira jika pembelinya sedang Ngidam.


"Dua saja, Bu." jawab Zoya kemudian memajukan posisinya berdiri. Dia merangkul pinggang Hans.


Masih dengan mengendus aroma bakso yang menggodanya sungguh luar biasa. Perempuan berjilbab itu menyandarkan tubuhnya di lengan kekar suaminya seraya menunggu pesanan jadi.


Sepulang menuruti istrinya, Hans memang memilih diam. Sebenarnya dia merasa kesal. Meskipun Zoya memang tidak pernah meminta banyak hal, tapi kali ini memang sangat berlebihan, termasuk tiga bungkus bakso dan dua bungkus gado gado.


Mercy berwarna hitam itu meluncur dengan begitu halus memasuki rumah mewah yang berdiri gagah. Hans menghentikan mobilnya di pintu samping saja, dia tidak memasukkannya ke dalam garasi karena hari sudah sangat larut dan dia sudah mulai mengantuk.


"Terima kasih, Mas." ucap Zoya dengan senyum tanpa dosa, padahal dia tahu wajah kesal Hans sudah tergambar jelas.


Dengan wajah datar, Hans hanya menatap Zoya yang masuk ke dalam rumah dengan menenteng dua bungkus kantong plastik. Wajah ayu itu terlihat girang dengan langkah yang sangat bersemangat.


Zoya langsung menuju meja makan, ditaruhnya makanan yang sudah menjadi buruan mereka. Langkahnya dengan gesit mengambil piring dan sendok di pantry.


Hans yang semula berniat ingin langsung tidur pun menjadi penasaran tentang makanan yang membuatnya sangat sangat repot itu. Dia memilih menghampiri Zoya di meja makan.


"Mas Hans, mau?" tanya Zoya sambil menuangkan baksonya ke mangkuk.


"Nggak. Hanya ingin melihat kamu makan saja. Awas jika tidak dihabiskan." ancam Hans dengan wajah datar tapi dibalas Zoya dengan senyum meringis.


Hans menautkan kedua alisnya kala Zoya mencampur satu bungkus bakso dengan satu bungkus gado-gado. Dia juga sempat menelan ludahnya dengan kasar, merasa kelakuan Zoya sudah tidak wajar lagi. Perilaku menyimpang? Atau kesambet Jin? Otaknya masih bertanya tanya sedangkan matanya masih menyaksikan istrinya menikmati perpaduan makanan menurut versinya sendiri.


"Ya Allah, Zoy. Apa yang terjadi?" keluhnya dalam hati. Dia hampir tidak percaya saat melihat betapa lahapnya Zoya menikmati semuanya.


Dua bungkus bakso dan satu bungkus gado gado sudah dia habiskan. Bahkan, masih bercita cita untuk melanjutkannya nanti untuk makanan yang masih terbungkus.


"Aku masih menginginkannya. Tapi sayang, aku sudah kenyang." gumam Zoya dengan menyandarkan punggungnya di kepala kursi. Dia tidak menyadari Hans sudah memperhatikannya penuh dengan rasa heran.


Bersambung....


Terima kasih yang sudah menunggu RCZ hehehhe lope u pull....

__ADS_1


__ADS_2