Rahasia Cinta Zoya

Rahasia Cinta Zoya
Jus Melon Penawar Emosi


__ADS_3

Musim kemarau pun tiba, Angin bertiup cukup kencang menerbangkan dedaunan kering yang sudah terjatuh di tanah. Terik yang cukup menyengat karena mentari yang berada tepat di atas kepala membuat lelaki berperawakan tinggi dengan tampilan rapi itu berlari dari dalam kantor menuju tempat parkiran .


Akhirnya Hans memang memutuskan untuk memenuhi undangan si pengirim bunga yang misterius. Mobil yang kini dia tumpangi pun melaju menuju restoran jepang 'Sussi Delicious'. Entah siapa orang yang akan dia temui? Dia sendiri pun belum tahu.


Hans menatap sejenak restauran yang cukup ramai saat dia keluar dari mobil. Lelaki yang mengenakan kaca mata hitam untuk menyamarkan sedikit tampilannya berjalan masuk ke dalam. Dan yang membuat aneh, saat masuk ke dalam restoran dengan backsound musik romantis itu, seorang pramusaji mempersilahkan dia untuk langsung ke private room yang sudah dipesan. Seolah dia sudah menjadi target.


Tentu orang yang mengundangnya bukanlah orang biasa. Itu yang saat ini berada di benak Hans saat dia melangkah masuk ke dalam.


"Selamat siang lawyer ternama di kota ini." suara berat itu sudah menyambutnya saat dia masuk ke dalam ruangan. Aksara telah duduk dengan secangkir kopi panas yang masih mengepulkan asapnya.


"Oh, Tuan Aksara. Ada keperluan apa anda mengundang saya makan siang?" tanya Hans dengan melangkah masuk mendekati meja berukuran pendek dengan tempat duduk lesehan. Hans tidak mengira bucket bunga itu dari laki laki." Cih, dia kira aku feminim." umpat Hans dalam hati. Rasanya dia tidak punya urusan dengan pengusaha ternama itu.


"Hanya ingin merayakan sesuatu. Akhir- akhir ini saya merasa cukup senang." Lelaki tampan dengan wajah oriental itu memberi isyarat untuk mempersilahkan Hans duduk.


"Saya kira saya tidak pernah terlibat dengan kehidupan anda." ujar Hans, dia memang merasa tidak mengenal Aksara secara pribadi. Tapi, sosok Aksara memang sosok yang cukup familiar, apalagi di kalangan pebisnis.


"Tidak usah berbelit belit, sebenarnya ada apa?" Hans sudah tidak sabar untuk mengetahui tujuan Aksara mengundangnya makan siang. Hans merasa kurang nyaman saat berinteraksi dengan orang tersebut. Dia sudah melihat aura tidak bersahabat dari lelaki di depannya.


"Aku sangat senang. Setelah memisahkanku dengan Naura, hidupmu penuh skandal. Rumah tangga yang penuh konflik dan kehilangan calon bayi. Sungguh sangat ironis dan itu yang membuatku bahagia." mendengar kalimat Aksara yang terdengar santai tapi menusuk, membuat Hans menggertakkan rahangnya. Hatinya kini tersulut emosi.


"Jangan- jangan, dulu anda yang selalu berusaha ingin mencelakai istri saya?" ujar Hans, tatapan menghunus tajam kini tertuju pada makhluk di depannya.


"Anda memang jenius! Tapi, Tuhan menjadikan saya hanya untuk menjadi pengamat atas keterpurukan anda. Jujur, saya hanya ingin mengatakan kepuasan saya."


"Saya puas karena anda juga merasa kehilangan seperti yang pernah saya rasakan." lanjut Aksara, dia memang terlihat sangat puas dengan apa yang sudah terjadi, menurutnya penyebab dia kehilangan Naura adalah Hans. Tapi, berbeda dengan hans, dia merasa tidak ada yang perlu lagi di bahas, lelaki itu memilih meninggalkan Aksara yang saat ini puas menertawakannya.


Hans masih melajukan mobilnya dengan membawa sisa sisa emosinya. Dia memutuskan untuk pulang saja. Rasanya otaknya seperti mendidih. Dia tidak pernah menyangka jika Aksara orang yang berusaha mencelakai istrinya.

__ADS_1


Tapi, apapun yang dilakukan Aksara memang tidak membuahkan hasil, Tuhan mengambil calon bayinya dengan cara yang berbeda. Bagaimanapun dia menutupinya tapi dia teteplah seorang ayah, rasa kehilangan masih tersisa di sudut hatinya.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Hans sampai di rumah. Dengan melepas kancing lengan baju dan melipatnya hingga ke siku, dia berjalan mencari Zoya atau pun Ale.


Mendengar seseorang membuka pintu, Zoya pun berjalan untuk melihat siapa yang datang tanpa mengetuk pintu atau memencet bel.


"Mas Hans.. Ada apa jam segini sudah pulang?" Zoya menghampiri Hans yang membanting tubuhnya di sofa ruang tengah. Perempuan yang mengenakan gamis hijau daun itu menghampiri suaminya yang tengah memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Ale, mana?" tanya Hans yang tidak melihat keberadaan putrinya.


"Ale diajak Mama Arisan."


"Aku sedang membuat Jus melon, apa Mas Hans mau?" tawar Zoya, dia masih bisa melihat semburat garis-garis ketegangan di wajah suaminya.


"Nanti saja." jawab Hans singkat.


"Yakin? Jus melon buatan Zoya bisa menawarkan emosi lo, Mas! " Zoya mulai beriklan.


"Sini!" titah Hans dengan menjentikkan jarinya agar Zoya mendekat. Tanpa berkata apapun, dia langsung mengecup singkat bibir tipis Zoya."Itu lebih mujarab dari pada jus melonmu! " Zoya tak mampu menjawab lagi ucapan Hans yang membuat wajahnya masih terlihat memalu.


"Zoya-Zoya, kita sudah sering melakukan lebih dari itu tapi dicium gitu saja masih malu-malu mau!" ledekan Hans membuat Zoya beranjak pergi, tapi Hans malah menahan lengannya."Aku juga ingin jus melon dan aku belum makan siang." ucapnya membuat Zoya tersenyum padanya.


"Aku akan menyiapkannya, Mas." Zoya kembali ke pantry, dia menuangkan segelas jus melon yang baru saja dia buat.


Hans sedari tadi mengamati sileut tubuh yang bergerak lincah di dapur. Ya, kalau dilihat secara nalar memang aneh, gadis beliau , kecil mungil itu melayaninya dengan begitu cekatan.


"Mas kenapa menatapku seperti itu? " tanya Zoya saat menaruh jus melon di dekat Hans. Sementara dia kini mengambil nasi dan lauk untuk suaminya.

__ADS_1


"Heran saja, Zoy! Kamu kecil gitu kayak nggak bisa tumbuh, pasti kurang gizi!" jawab Hans yang masih meledek istrinya .


"Mas Hans juga mau saja dengan yang kecil mungil dan jelek."


"Kepaksa, Zoy! " kalimat terakhir Hans membuat Zoya melayangkan tatapan tajam. ke arah Hans yang masih menyungging senyum.


"Becanda, Zoy." ucap Hans dengan sebelah tangannya merangkul pinggang kecil istrinya, melihat istrinya tak bergeming dia mengusap usapkan wajahnya dengan kasar di panggang yang masih dia tahan.


"Mas, geli! " Zoya langsung berjingkat menghindar. Reaksi Zoya membuat Hans tergelak, perempuan mungil yang sederhana itu memang penawar di kala emosinya sedang meledak.


"Assalamualaikum..." teriak Ale saat membuka pintu utama. Bocah gembul itu berlari lari mencari induknya yang ada di ruang makan.


"Mama, Ale punya ini!" pamer Ale dengan menunjukkan sebuah pizza yang dibelikan Oma Shanti.


Berbeda dengan Ale yang terlihat riang. Wajah Shanti kini terlihat serius. Beliau menatap Hans dan Zoya secara bergantian.


"Ale, makan pizzanya di depan TV ya?!" titah Shanti membuat Zoya mengantarkan Ale ke depan TV.


Setelah menyalakan TV , Zoya pun kembali kemeja makan. Dia tahu Shanti ingin membicarakan hal yang serius.


"Siapa Tante Arum? Kenapa dia harus tinggal di rumah ini? " tanya Shanti saat melihat Zoya yang sudah ada di dekatnya.


"Ma, Mama dari mana tahu soal Arum?" Hans balik bertanya pada mamanya.


"Ale, dia bilang jika tante Arum selalu membuat Zoya menangis. Ale juga bilang jika dia sering melihat Arum memelukmu. Memeluk gini!" Shanti memperagakan Ale yang memeluk lengannya. Iya itu artinya Ale sering melihat Arum bergelayut mesra ditangan papanya.


"Hans... Hans... ulah apalagi yang kamu perbuat! kamu punya anak cewek. Kamu selalu menyakiti perasaannya Zoya." lanjut Shanti.

__ADS_1


"Ma, sabar Ma." Zoya berusaha menenangkan Shanti.


Bersambung...


__ADS_2