
"Mas, mana martabaknya?" tanya Zoya menagih pesanannya saat meletakkan teh hangat yang baru saja selesai dia buat.
Mendengar pertanyaan istrinya, dia hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Tenggorokannya terasa kering seketika.
"Mana Mas, martabaknya?" ulang Zoya sekali lagi. Senyum sumringah tidak luntur dari bibir mungil perempuan yang sudah menunggu dengan penuh harap.
"Emmmm....Maaf-aku lupa, Sayang." Mendengar pengakuan Hans membuat senyum sumringah perempuan yang berdiri di dekatnya itu pun seketika menyurut. Rasa kecewa Zoya pun menyapa, kala dia memang sudah berharap bisa makan martabak ketika suaminya pulang.
Tanpa berkata apapun Zoya melangkah pergi meninggalkan Hans, "Pasti ngambek." gumam Hans dengan menatap punggung istrinya. Gegas, Hans menyesap teh hangat yang sudah dia inginkan agar bisa secepatnya membujuk Zoya yang sedang marah.
Saat masuk ke dalam kamar, sudut matanya pun mengembun. Zoya mencari dompet yang mana dia lupa menaruhnya. Dia memang bermaksud akan pergi mencari martabak sendiri. Perasaan yang sangat berlebihan, dia menyadari itu. Tapi, dia sendiri tidak mengerti, hanya tidak dibawakan makanan yang sudah dia pesanan hatinya merasa kecewa yang luar biasa.
Pandangannya mengedar, menyapu setiap sudut ruang kamarnya. Hingga akhirnya, manik mata coklat itu tertuju pada dua benda yang selalu dia bawa saat keluar rumah. Ponsel dan dompet. Masih dengan rasa kecewa dan wajah murung, Zoya mengambil dompet dan ponselnya. Beberapa pesan yang masuk saat dia menghidupkan layar benda pipih itu terlihat. Tanpa ragu dia langsung membukanya, karena dia sendiri sejak sore tadi telah mengatur janji untuk bertemu dengan Nilla.
"Astagfirullah... " Mata Zoya membelalak seketika, jantungnya serasa diremas. Ngilu. Di dalam sana rasanya begitu ngilu. Bahkan, tangan mungil itu langsung membekap mulutnya sendiri, berusaha membungkam suaranya yang akan memekik keras.
Zoya hanya menangis saat melihat foto foto Hans bersama seorang perempuan yang memeluk bahu bidangnya. Karena itu, Zoya tidak bisa lagi menahan tangisnya.
Kakinya terasa tak mampu menopang tubuhnya yang seketika terasa lemas. Bahkan, nafasnya mulai tersengal karena isak tangisannya. Berlahan, dia mendudukkan tubuhnya di kursi meja rias.
"Ya allah, tega sekali kamu, Mas!" lirih Zoya dengan memukul dadanya hingga berulang kali, berharap bisa menghilangkan sesak di sana. Bahkan, raungan suaranya semakin terdengar menggema di seluruh ruang kamar yang kedap suara.
"Zoy, kamu kenapa?" Hans terhenyak kaget saat melihat Zoya menangis tergugu dengan menutup wajahnya. Perempuan yang tak lagi bisa mendengarkan suara orang lain itu terus saja menangis.
"Zoy...!" Dengan penuh rasa heran, Hans merangkul istrinya yang masih terduduk lemas. Seketika pula, Zoya mendorong tubuh Hans untuk menjauh.
"Jangan menyentuhku!" Pertama kali Zoya berteriak di depan suaminya. Mata bulat itu menatap marah ke arah Hans.
"Iya, kenapa? Kalau masalah martabak, aku bisa mencarikannya sekarang." bujuk Hans mencoba untuk mendekati istrinya. Dia tak menyangka saja, masalah martabak bisa membuat Zoya semarah ini. Bahkan, perempuan yang tak pernah berkata kasar itu sudah membentaknya.
"Aku tidak ingin itu lagi, mulai saat ini aku tidak akan meminta apapun padamu, Mas." ucap Zoya dengan lantang. Tanpa mengatakan apapun, Zoya kemudian melangkah menuju walk ini closset, sontak saja itu membuat Hans mengekor di belakang tubuh Zoya.
__ADS_1
"Zoy, ada apa?" tanya Hans, dia masih semakin bingung saat Zoya membuka tas dan memasukkan beberapa pakaiannya.
"Zoy!" Bentak Hans. Suara bariton itu terdengar menggelegar hingga membuat perempuan hamil itu berjingkat kaget. Wajah datar itu terlihat memerah menahan emosi.
"Aku akan pergi!" jawab Zoya masih dengan mengemas pakaiannya. Rasa marah melunturkan rasa takutnya. Tidak lagi menunggu lama, Hans langsung menahan tangan mungil itu untuk berhenti memasukkan pakaian ke dalam tas.
"Masalahnya apa?" tatapan tajam itu penuh selidik, Hans tidak bisa memahami situasinya.
"Kenapa, disaat aku hamil Mas Hans selalu menyakitiku? Ji- jika-a-aku memang tidak ada artinya untuk Mas Hans. Biarkan aku pergi saja!" Masih dengan nafas tersengal, Zoya meluapkan amarahnya. Dia juga sudah sesenggukan karena tangisnya yang tidak bisa berhenti.
Tangannya terus saja meronta, hingga jari jari besar itu melepasnya. Saat melihat kulit pergelangan tangan putih itu sudah memerah, emosinya mulai menyurut.
"Aku akan mencarikan martabak saat ini." ucap Hans.
"Tidak usah, Aku sudah tidak menginginkannya!" Suara Zoya berangsur tenang tapi terdengar tajam di telinga lelaki yang belum bisa mencerna situasinya. Tas berisi pakaian itu pun sudah siap untuk dibawa.
"Biarkan aku pergi, Mas! Mas Hans bisa bersenang-senang di club malam bersama wanita manapun yang Mas Hans inginkan." Kalimat Zoya membuat Hans tercengang. Lelaki itu seketika mematung. Dia tidak menyangka, Zoya bisa mengetahui jika dia pulang dari club malam. Rasa bersalah mulai mendera, bukan karena ucapan Zoya tapi perasaannya sendiri yang tidak jujur dengan istrinya.
"Buka, Mas! Mas Hans tidak lagi punya beban jika aku tidak ada di sini." Mata Zoya tidak berhenti mengalirkan air mata.
"Zoy, bukan seperti itu maksudku. Aku ke club hanya karena undangan Ryan dan teman teman." bela Hans.
"Mas Hans yang berkuasa atas semua, jadi tidak perlu bicara apapun denganku. Aku tidak ada artinya dalam rumah tangga ini." Hans sedikit kewalahan saat perempuan yang biasanya hanya terdiam dan menangis saat ini menyelanya terus. Tangis Zoya pun tidak juga berhenti.
"Zoy!" Hardik Hans, saat melihat Zoya yang seolah lepas kendali.
"Iya bentak terus! Kalau perlu pukul aku." Zoya berusaha mengambil tangan Hans mengarahkan ke arah wajahnya. Tapi, Hans masih menahannya agak tak mengena sedikit pun di kulit istrinya.
Lengan itu pun mulai memeluk tubuh mungil yang sudah lepas kendali. Hans tahu, Zoya tidak mampu lagi mengontrol emosinya, bisa jadi itu pengaruh kehamilannya. Zoya yang dia kenal, jika marah hanya akan diam, bahkan sebentar saja dia bisa memaafkan.
Zoya berusaha meronta untuk bisa lepas dari dekapan lengan kekar yang memeluk dan mengalung dari belakang, " Zoy, dengarkan alasanku melakukannya!" pinta Hans. Tapi tangan Zoya semakin histeris saat Hans semakin erat memeluknya.
__ADS_1
"Siapa lagi yang lebih jago membuat alasan Jika bukan Mas Hans." pekik Zoya dengan mencakar lengan berotot yang tidak juga bergeming itu.
"Aku datang hanya karena undangan Ryan. Sebentar lagi dia akan mengakhiri masa lajangnya. Dia sahabatku sejak kecil, Zoya." Han mencoba menjelaskan dengan tenang. Jika dia ikut memanas semua akan bertambah runyam.
"Wanita seksi yang memelukmu, Mas!" Zoya masih saja memojokkan Hans. Saat mendengar wanita yang memeluknya Hans mengerutkan dahi, dia baru menyadari ada sesuatu yang sedang diledakkan dalam rumah tangganya.
"Kenapa diam?" Saat tidak mendapat penjelasan dari Hans, emosi Zoya kembali memuncak. Dia kembali meronta sekuat tenaga. Zoya menolehkan sedikit wajahnya dan menggigit lengan Hans yang masih mengalung menyilang memeluk tubuhnya.
"Arrrghhh... " Hans mengeram. Wajahnya meringis menahan rasa sakit. Tapi, tetap saja dia tidak melepaskan tubuh perempuan yang saat ini mengandung anaknya.
"Apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskanmu, Zoy. Sejak awal, sekarang bahkan nanti aku tidak akan melepaskanmu." ucap Hans masih dengan memeluk tubuh istrinya bahkan saat lelaki itu mendaratkan ciuman di kepala istrinya membuat Zoya malah semakin tergugu. Rasa hatinya bercampur aduk.
"Dengarkan penjelasanku, Zoy... " Kalimatnya menggantung saat tubuh Zoya meluruh dengan dalam dekapannya. Hans terlihat cemas saat menyangga tubuh istrinya yang sudah lembab karena keringat dan air mata.
"Zoy... Zoya!" panggil Hans mencoba menyadarkan Zoya. Hal pertama yang dilakukannya adalah membuka jilbab yang membingkai wajah pucat Zoya. Dengan panik dia mencari minyak kayu putih.
"Zoya...buka matamu, Zoy!" Hans membalurkan minyak kayu putih di hidung Zoya. Tangannya juga tidak berhenti menggosok tangan dingin istrinya. Keringat pun mulai membasahi tubuh lelaki yang di serang panik itu.
"Sayang..." panggil Hans saat melihat Zoya mengerjapkan matanya. Itu pun masih menangis.
"Zoy, sumpah Demi Allah aku tidak mengenal perempuan itu. Dengarkan aku! Habis magrib aku masih di apartemen. Itu aku sempat tidur sampai pukul delapan, aku merasa kurang sehat, Zoy. Habis itu aku memang pergi di club malam." jelas Hans masih dengan menggenggam tangan istrinya.
"Perempuan itu, sumpah aku tidak kenal. Bahkan aku tidak peduli. Jika aku berniat nakal di luar sana. Aku akan menyewa private room." lanjut Hans, argumen lelaki itu menyurutkan tatapan Zoya yang sedari tadi mengintimidasinya.
"Percayalah padaku, Zoy. Seperti aku selalu percaya padamu. Aku yakin ada seseorang yang mencoba ingin membuat hubungan kita retak!" Mendengar kalimat Hans membuat hati Zoya melemah. Dia seharusnya lebih mengenal suaminya dengan baik. Matanya berkaca kaca tapi dengan sorot mata bersalah.
"Astagfirullah, ya Allah... aku sudah membiarkan hawa ***** membakarku dalam amarah." gumam Zoya menyesal, air matanya kini meluruh tanpa henti karena merasa sangat buruk. Dia sudah membentak suaminya, bahkan menyakitinya secara fisik.
"Ya Allah maafkan aku. Maafkan aku Mas." Tangisnya kembali meledak dengan memeluk lengan berotot itu. Rasa berdosa membuatnya tidak bisa berkata kata kecuali menangisinya.
Bersambung
__ADS_1