
"Biar bagaimanapun, aku lelaki normal yang juga punya syahwat. Jika selama ini aku bisa menahan. Tapi, tidak untuk saat ini." Wildan langsung berbalik. Mencondongkan tubuhnya ke arah Nilla yang sudah panik. Semakin dia menghindar, tubuh kecil itu malah terjatuh di tempat tidur itu hingga membuat kesempatan Wildan untuk lebih mudah menjamahnya.
"Bang, jangan lupa berdoa!" lirih Nilla ,suaranya terdengar bergetar dengan tangan menahan dada Wildan.
Meski tak menjawab. Tapi, lelaki yang sudah membenamkan wajahnya di tengkuk istrinya itu pun menggumamkan doa. Dengan lembut Wildan mulai mencumbui istrinya. Meski, ini pertama kali buat keduanya tapi Wildan mampu memimpin dengan baik. Perpaduan dari insting dan sebuah kitab yang pernah dia pelajari membuatnya begitu menguasai permainan di atas ranjang.
"Bang, pelan!" pinta Nila dengan nada lirih, kedua tangannya sudah mencengkeram seprei dengan kuat karena sudah merasakan sedikit nyeri.
"Tahan sebentar, ya!"
Setelah melontarkan jawaban itu. Wildan menghujamkan miliknya ke arah istrinya hingga pekikan terdengar di ruang kamar mereka. Tidak hanya itu saja, kedua sudut mata Nilla itu sudah meneteskan air mata.
Dengan pelan dan ritme untuk bisa saling mereguk kenikmatan mereka mengakhirinya tepat pukul sebelas malam.
"Terima kasih, Nil." ujar Wildan dengan mencium wajah istrinya yang memejamkan mata meski dia tidaklah tidur. Tulangnya terasa lemas semua setelah dua kali penyatuan yang dilakukan oleh suaminya.
"Maafkan aku, Bang. Aku tidak bisa menyenangkan Abang." ucap Nilla saat membuka matanya menatap mata sayu suaminya. Ada rasa kurang percaya diri saat mengingat berapa pasifnya dia di atas ranjang.
Wildan hanya tersenyum, "Kamu yang terbaik, Sayang." jawab Wildan, dengan mencium kembali wajah lembab istrinya. Dia sangat senang. Miliknya yang sulit menembus milik istrinya dan air mata istrinya membuat Wildan yakin jika dia adalah laki laki pertama yang memiliki kegadisan istrinya.
"Sayang, mau ke mana?" tanya Wildan yang ikut bangkit saat melihat istrinya berlahan bangun.
"Aku lapar, Bang." jawab Nilla sedikit menggeser duduknya ke tepi. Bagian bawahnya masih terasa nyeri dengan tulang kaki yang terasa tak bertenaga.
"Sayang, tunggu Abang!" Wildan langsung berjalan memutar menghampiri Nila yang akan berdiri.
"Aduh... " Hampir saja Nilla kehilangan keseimbangan jika saja Wildan tidak langsung menyambar dan menahan tubuhnya.
"Astagfirullah, Nil. Ayo, Abang bantu!" Wildan langsung menggendong Nilla masuk ke kamar mandi. Dia merasa kasihan juga karena dia sempat menuntut Nilla mengimbangi permainannya pada tempo akhir dari penyatuan mereka.
Hanya dengan mengenakan celana boxer Wildan menyiapkan secangkir coklat hangat. Sambil menunggu Nilla selesai membersihkan diri, dia juga sempat memanggang roti dengan cerres dan keju di dalamnya.
"Sayang, susah selesai?" tanya Wildan saat melihat Nilla berdiri di pintu kamar mandi.
Lelaki itu membawa nampan berisi coklat hangat dan roti ke dalam kamar dan meletakkannya di atas nakas. Menghilangnya selimut tebal membuat mata sayu itu menangkap bercak darah yang cukup banyak di seprei berwarna biru muda tersebut. Sekali lagi, itu membuat Wildan tersenyum. Ada kebanggaan sendiri bagi lelaki itu karena memiliki istrinya seutuhnya.
"Bang, kepalaku pusing!" Terlihat Nilla menggelengkan kepala, tangannya pun sudah bertumpu pada rangka pintu untuk menahannya agar tetap berdiri.
Dengan langkah cepat, Wildan menghampiri istrinya dan menggendongnya untuk kembali ke tempat tidur, meskipun masih dengan seprei yang sama, bekas pergulatan mereka.
"Sementara makan ini dulu, ya?" Wildan menyodorkan nampan yang barusan dia bawa dari dapur.
"Tadi siang pasti kamu belum makan?"selidik Wildan dijawab anggukan Nilla. Dia sudah hafal kebiasaan istrinya.
__ADS_1
Sejenak dia tertegun menatap istrinya yang menyesap coklat hangatnya, mungkin sejak dulu dia sudah mencintai Nilla. Saat dia masih mengejar Zoya. Hanya saja dia tidak menyadarinya. Mengetahui banyak hal kecil tentang gadis itu dan mencarinya di kala hatinya sedang kacau adalah yang kini review ulang untuk perasaannya.
"Jangan membiasakan telat makan! Jika uang yang Abang beri masih kurang, bilang saja."
"Abang Mandi dulu, nanti kita nyari makan di luar. " Wildan mengusap rambut Nilla sebelum dia beranjak ke kamar mandi. Ada rasa bahagia sendiri dalam hati lelaki itu.
Nilla menatap punggung suaminya hingga menghilang. Wildan memang sosok yang perhatian dan penyayang. Sejak dulu, saat mereka masih berteman. Dia selalu memberikan jatah makan siang di sepedanya. Bahkan, terkadang dia sengaja memesan go food untuk mengirimkan batagor atau siomay saat hari libur ke kosnya. Lelaki itu tahu jika uang saku istrinya saat itu tidaklah cukup jika harus makan tiga kali sehari.
###
"Sayang, motornya bagus nggak ini? " tanya Hans saat Zoya baru saja keluar dari kamar mandi. Hans menunjukkan pada Zoya sebuah motor Honda Retro yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Iya bagus, Mas." jawab Zoya dengan meliriknya sebentar. Tangannya masih sibuk menyisir rambut panjangnya yang masih basah. Sebentar lagi, Zoya berniat akan turun ke bawah untuk membuat susu.
"Beliin ya, Zoya! " pinta Hans membuat Zoya menatapnya penuh tanya.
"Mas Hans, kan, sudah ada motor?" Zoya mencoba mengingatkan jika masih ada motor yang jarang sekali di pakai.
"Sayang, itu kan motor lama. Ini model terbaru, lo. Biar suamimu tambah keren!" Di depan cermin Hans memeluk istrinya untuk merayu. kedua tangannya melingkar di tubuh mungil istrinya. Dia terus saja merengek seperti bocah balita yang sedang menginginkan mainan.
"Ini limited edition, lo." Hans mencoba menjelaskan sekali lagi untuk meyakinkan istrinya. Tidak hanya pelukan, dia juga menghujani Zoya dengan ciuman, membuat Zoya malah terkesan risih dengan kelakuan suaminya.
"Mas Hans, ah!" Protes Zoya.
"Kalau mau, motor lamanya dijual dulu, baru beli motor baru." tegas Zoya. Membuat Hans mengurai pelukannya.
"Janganlah, Zoy! Itu motor kenangan." Hans sudah mulai putus asa menatap istrinya.
"Iya kenangan bersama mantan mantannya Mas Hans, kan?" Zoya meraih jilbabnya kemudian berjalan meninggalkan hans yang masih mematung dengan rasa kecewa.
"Zoy, mantanku, kan, cuma dua saja, nggak banyak kok!" Zoya tidak menggubris pembelaan Hans, saat ini dia lebih fokus untuk menuruni tangga.
"Mas, cobalah berlatih hidup sederhana! Motor Mas Hans yang lama juga fungsinya masih bagus. Masih bisa untuk perjalanan panjang." jelas Zoya
"Kita sebagai orang tua harus bisa memberi contoh hidup yang sederhana untuk anak anak kita kelak." Zoya masih berusaha memberi pengertian pada suaminya.
"Ayolah, zoy! Prestige kadang penting juga dalam hidup." Hans masih mencoba membujuk Zoya. Di bawah tangga, mereka masih saling beradu argumen. Tangan besar Hans memegang kedua bahu istrinya menuntut persetujuan.
"Mas, jika kita hanya untuk gaya-gayaan dan hidup mewah, kita tidak perlu belajar, tidak perlu latihan. Tapi, jika kita sebenarnya mampu tapi masih bisa hidup sederhana, itu yang butuh latihan dan kesadaran jika semua milik Allah. Tidak ada yang bisa kita sombongkan."
"Aku ingin anak anak kita kelak menjadi pribadi yang bersahaja dan rendah hati. kita sebagai orang ... "
Seketika Zoya terbungkam dengan ciuman bibir tipis lelaki di depannya. "Cerewet sekali." rutuk Hans.
__ADS_1
"Uhuk uhuk... " Mama shanti terbatuk batuk saat meletakkan cangkirnya. Batinnya ingin berteriak dan menjerit. Dari balik kaca mata bacanya, beliau melihat anaknya ******* bibir menantunya. Sedari tadi dia sudah melihat drama itu, tapi yang bikin dia hampir jantungan adalah reaksi Hans yang mendadak membungkam istrinya.
Zoya yang udah tahu keberadaan mertuanya pun meninggalkan Hans yang sedang melirik mamanya yang mengintip. Zoya merasa malu, mamanya pasti sudah melihatnya."Ah... gimana ini." pekik Zoya salam batin, wajahnya merona menahan malu.
"Zoy... "panggil Hans dengan mengejar istrinya.
"Kalau begitu Mas Hans beli saja pakai uangnya Mas Hans." Zoya sudah terlihat kesal , saat ini dia sudah berada di pantry untuk membuat susu.
"Zoya, uangku kan cuma lima puluh juta mana dapet buat beli motor itu! " jelas Hans.
"Buat pelihara simpanan saja nggak cukup duit segitu." lanjut hans membuat Zoya menoleh. Tatapan tajam dia layangkan pada suaminya. Mulutnya itu sungguh menyebalkan.
"Maksudnya simpanan kayak peternakan kuda dan kawan kawan." Hans menelan salivanya dengan kasar kala salah mengeluarkan kata kata.
"Besok kita lihat barangnya ya?" Hans memang pantang menyerah.
"Mas, apa yang Mas Han katakan jika suatu saat motor motor itu akan di hisab?" jawab Zoya. Dia masih mencoba membuat Hans mengerti maksud pemikirannya.
Niar yang sudah menidurkan anak anak pun keluar dari kamar. Melihat mamanya yang masih betah melirik dua orang di pantry, membuatnya bertanya, "Ada apa sih, Ma? " Kemudian dia memilih duduk bersama mamanya di kursi meja makan.
"Cinta itu memang bikin orang bodoh." Sahut Mama Shanti sekenanya. Mendengar jawaban mamanya, Niar pun mengerutkan dahinya, dia belum mengerti apa yang dibicarakan mamanya.
"Maksudnya apa, Ma? " tanya Niar.
"Adekmu itu. Mama denger tadi dia minta dibeliin motor sama Zoya. Tapi, Zoyanya enggan."
"Lihatlah dia masih mohon mohon kayak gitu. Padahal, sebenarnya dia bisa beli sendiri." jelas Shanti membuat Niar baru mengerti.
"Otaknya mendadak raib di depan istrinya." jelas Niar yang ingin tertawa melihat kebodohan adiknya.
"Tapi, tidak masalah sih. Mama malah senang, karena Mama juga lebih percaya Zoya dari pada Hans." lanjut Mama Shanti, beliau kembali menatap layar ponselnya.
"Anak anak sudah tidur? "
"Sudah, Ma. Ale tidurnya sama kaka besar." Jawab Niar yang membuat julukan untuk anak sulungnya dengan sebutan kakak besar.
Merasa tidak enak karena belum menyapa mama mertuanya, Zoya datang dengan membawa secangkir susu dan kopi. Biar bagaiman pun dia tetap memperhatikan keinginan lelaki yang berjalan malas mengekorinya.
"Zoy, kemarin katanya periksa kandungan?" tanya Niar.
"Iya mbak, kemarin sempat bengkak kakiku. Tapi untung saja pas tes urine hasilnya negatif."
"Kata dokter hanya kecapekaan." sahut Hans dengan melirik Zoya dengan wajah manyun. Dia belum juga mendapat persetujuan istrinya. Zoya masih kuat dengan pendirian jika ingin membeli motor baru harus menjual motor lama. Karena menurut Zoya, motor lama suaminya masih bagus dan kedua Hans memang jarang menggunakan motor.
__ADS_1